cerpen : tanpa judul

20.49 Muthi Haura 0 Comments


Pengen nge-note. Aku buat cerpen persembahan ini. jelek sih cerpennya, tapi ga apa ;) check this out!



Tersenyumlah! Tersenyumlah walau semua masalah kehidupan yang menghimpitmu. Tersenyumlah karna tanpa kamu sadari akan ada yang bahagia melihatmu tersenyum.

***

            Aku disini. Masih disini sayang! Aku duduk termenung di taman ini seorang diri. Menunggu sosokmu sambil berharap kamu datang dengan senyum khasmu dan patuah-patuah anehmu. Aku merindukanmu. Merindukan semua tentangmu. Salahkah? Aku rindu tawa usilmu. Aku rindu tatapan lembutmu. Akh! Semakin aku mengingatmu, semakin hatiku terasa sangat sakit.
           
Ini bukan salahmu! Aku yang terlalu banyak berharap padamu, padahal kamu hanya menganggap kita sebatas sahabat. Ya, hanya sahabat. Nggak lebih! Aku hanya ingin menjadi sahabatmu. Sampai kapan pun tetap sahabat. Aku ingin menjadi sahabatmu yang akan mengangkatmu melihat dunia disaat sayapmu patah. Aku yang akan membopongmu untuk melihat dunia saat kamu sudah tak kuat lagi melangkah. Itu katamu—dulu.
           
Perlukah kamu tau bahwa sejujurnya dulu diri ini menginginkan kata lebih di banding sahabat? Aku jujur dan aku serius! Jangan salahkan aku, salahkan hatiku yang kenapa bisa terbagi untukmu. Salahkan hatiku kenapa bisa menjatuhkan pilihan kepadamu. Oke-oke! Itu salahku! Salahku yang terlalu kelepasan membiarkan hati ini berdebar-debar saat dekat denganmu.

Ah,sudahlah! Toh kamu juga tidak tau apa-apa tentang perasaanku ini. Ya, aku hanya pelaku cinta diam-diam. Pelaku cinta diam-diam yang amat menyedihkan! Sungguh tidak enak mengalami cinta yang hanya dipendam seorang diri.

Kata orang kamu itu bad! Kamu tukang buat onar. Kamu pembolos. Kamu perokok akut. Keluar masuk BK, itu kerjamu. Balapan liar. Taruhan. Tawuran. Tapi entah kenapa tidak untuk aku! Mungkin mataku sudah tertutup olehmu. Buatku, kamu orang yang sangat baik. kamu datang disaat aku ‘sakit’. kamu datang disaat orang-orang lain mencemoohku. Kamu datang disaat orang lain menyakitiku. Bagiku, kamu itu bukan bad tapi awesome. karena aku melihatmu bukan dari apa yg terlihat dari padamu. melainkan dari hati yang seakan memilih bahwa kamu orang yang benar dalam kenyataan yang sungguh salah.


Kala itu aku tengah duduk. Mataku kosong sambil menatap matahari yang hampir tenggelam. Mataku memanas. Perlahan tapi pasti tetesan bening jatuh dengan indah di kedua pipi putihku. Kejadian tadi di sekolah mampu membuatku kembali menangis. Rasa sakit itu kian menjalar di hatiku.

“Tersenyumlah! Tersenyumlah walau semua masalah kehidupan yang menghimpitmu. Tersenyumlah karna tanpa kamu sadari akan ada yang bahagia melihatmu tersenyum.” seperti biasa, kamu datang lengkap dengan patuahmu. Aku tertegun menatapmu sembari membersihkan sudut mataku yang berair.

“Kenapa selalu menangis?” tanyamu sambil duduk disampingku. Aku menatapmu tanpa berkedip. Mata birumu yang indah mampu membiusku. “Kenapa kamu selalu datang disaat aku tengah menangis?” Kamu tertawa mendengar perkataanku. Lalu, kamu matikan rokokmu karna tau aku tidak suka mencium asap rokok.

“Mungkin aku di takdirkan buat ngapus air matamu Biru!” Aku memukul lengan bidangmu sembari tertawa. Dan lagi-lagi kamu berhasil membuatku tertawa! “Biru, kalau kamu disakitin sama orang, ya udah kamu tinggal sakitin balik orang itu. sakitin sepuluh kali lipat dari apa yang kamu rasain saat ini. kalau kamu disinisin, ya sinisin balik dong!”

“Aku bukan kamu yang berani Langit! Aku terlalu pengecut untuk itu.” Kamu menatapku sambil mengacak-acak rambutku. “Jangan terlihat lemah! Kalau kamu lemah, entar mereka makin senang. Apa perlu aku kasih bogeman khasku untuk mereka?”

Kamu menunjukkan kepalan tanganmu dihadapanku. “Jika seseorang cukup kuat untuk membuatmu terjatuh, kamu lebih baik menunjukan padanya bahwa kamu cukup kuat untuk kembali berdiri lagi.”



Buru-buru aku hapus sepenggal episode itu. Bersamamu Langit, dapat membuatku bahagia. Sungguh. Tapi sebulan belakangan ini, aku kehilangan sosokmu. Aku tidak menemukanmu dimana-mana, bahkan disekolah pun tidak. Kamu kemana? Apa memang aku sudah terlupakan?

Aku menghela nafas pelan sembari merebahkan punggungku pada penyangga kursi taman. Wajahmu yang blasteran Indonesia-Jerman itu terbayang-bayang di benakku. Tanganku sibuk memain-mainkan ujung rok-ku.

Miss me?” Aku kaget dan buru-buru menoleh kearah belakang. Aku tersenyum. sesosok yang tengah aku pikirkan dan aku rindukan sejak tadi berdiri dengan kedua tangan masuk kedalam saku celananya. Cowok itu memakai celana parasit dan kaus hitam lengan pendek ngepas badan. Kalung rantainya masih bertengger setia dibadan cowok itu. Cowok yang berperawakan tinggi dengan potongan perut four pact dan rambut lebat yang biasa di acak-acaknya itu memang terlihat lebih cool.

Miss me?” ulangmu lagi sambil duduk disampingku. Aku tersenyum. “Absolutely.” Jawabku jujur. Kamu tertawa pelan. Alis matamu yang tebal dengan hidung mancung dan bibir tipis yang tengah tersenyum benar-benar membuatku tergoda. “Kemana aja sih Langit? Aku kangen! Lupa sama aku ya?”

“Nggak. Hanya pengen menyendiri Biru.” ucapmu pelan. Aku menatapmu pelan. menatap raut wajah gantengmu. Aku tau ada yang tengah kamu sembunyikan dariku. “Langit, jujur deh. Ada apa?”

Nothing!” Aku menghela nafas. Tak ingin memaksamu cerita karna aku tau kamu tak suka dipaksa. Aku memandang bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu yang indah. “Aku pengen jadi kupu-kupu.” Aku menunjuk kupu-kupu yang tengah berterbangan dengan begitu menawannya.

Kamu hanya menatapku sekilas. Hanya sekilas karna detik berikutnya kamu memandangi kupu-kupu yang aku tunjuk. “Bisa kok.” Aku mengernyit tak mengerti mendengar perkataanmu.

“Maksudnya?”

“Kupu-kupu yang cantik itu dulunya hanya seekor ulat yang sangat menjijikkan dan dengan keajaiban waktu, ulat itu pun bermetamorfosis menjadi kepompong. Dan akhirnya jadilah kupu-kupu yang indah.” Kamu tersenyum. Aku memandangimu. Masih tak mengerti.

Kamu menghela nafas. Mungkin sedikit geram dengan kebodohanku. “Mungkin sekarang kamu tuh ulat, tapi dengan usaha pasti kamu bisa bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah. Kepakkan sayapmu. Kelilingilah dunia. Saat kamu menjadi kupu-kupu akan banyak orang yang mengagumi dan ingin sepertimu.” Aku mengangguk paham.

Kamu tersenyum dan mengacungkan jari kelingkingmu dihadapanku. “Berjanjilah. Berjanjilah kalau kamu tidak akan menangis lagi. Berjanjilah kalau suatu hari nanti kamu akan sukses.”  Aku tertegun. Sama sekali tak mengerti dengan arah pembicaraanmu, tapi akhirnya aku mengangguk sambil menautkan jari kelingkingku pada jari kelingkingmu. “I promise.”

“Biru, mungkin sekarang kamu ‘nobody’ tapi suatu hari nanti kamu ‘somebody’. Mungkin sekarang kamu ‘zero’ tapi suatu hari nanti kamu ‘hero’. Tetaplah berusaha untuk menggapai bintang di langit. Aku akan berdiri di sampingmu, meski suatu hari nanti raga kita tidak akan berdekatan lagi.” tuturmu panjang lebar.

Aku menatapmu dengan tatapan aneh. Bagiku, kamu sangat aneh hari ini. “Kamu berniat meninggalkanku Langit?”

“Sudahlah. Mari kita pulang.” Kamu meraih tanganku dan membantuku menduduki kursi roda. Dengan perlahan kursi roda yang tengah aku duduki kamu dorong pelan-pelan.
***

Lagi-lagi kamu pergi tanpa kabar. Aku kehilangan jejakmu lagi setelah seminggu yang lalu kamu menjemputku di taman. Aku tertegun sembari menatap awan-awan dari balkon kamarku.

Aku meraih segelas coklat hangat dari atas meja dan menyesapnya dengan berlahan. Aku tersenyum saat ingatanku tentangmu muncul. “Kenapa pergi-pergi tanpa kabar terus sih Langit? Apa ada seorang gadis yang memikat hatimu diluar sana? Aku mengkhawatirkanmu. Sangat!” ucapku parau. Ya Tuhan, jadikanlah takdir dia adalah aku dan takdir aku adalah dia.


When you get what you want but not what you need
 When you feel so tired but you can’t sleep 
Stuck in reverse
 And the tears come streaming down your face
 When you lose something you can’t replace
 When you love someone but it goes to waste
 Could it be worse?
 Light will guide you home
 And ignite you bones
And I will try.. to fix you 
And high up above or down below
 When you’re too in love to let go 
But if you never try you’ll never know
 Just what you’re worth
 Light will guide you home
 And ignite you bones
 And I will try.. to fix you 

           
Lagu coldplay yang berjudul fiz you itu mengalun merdu dari radio kamarku. Aku terdiam sambil menikmati setiap untain nada yang terlukis dari lagu itu. Ya, memang aku penggemar lagu coldplay. Bagiku lagu-lagunya banyak yang memberi motivasi.
           
Aku meraih HP touch screen dari saku rokku. Sebuah SMS masuk. Buru-buru kubuka SMS itu.


From : Mama Langit ;D
Biru, Langit masuk rumah sakit lagi. keadaannya semakin kritis. Tante harap kamu bisa kesini karna dia butuh kamu. rumah sakit Ibnu Sina kamar III A.


            Aku tertegun membaca SMS itu. sakit? Langit sakit? sejak kapan? Dengan terburu-buru aku jalankan kursi roda.
***

            Aku lemas saat mendengar keterangan Tante Anna—Mamanya Langit. Sama sekali tak menyangka atas apa yang dialami Langit. Langit mengidap penyakit kanker. Kanker ganas yang aku sama sekali tak bisa menyebut dengan benar nama penyakitnya apa. Mataku mulai memanas, menandakan akan tangisan yang keluar. Sahabat macam apa aku ini yang sama sekali tak tau apa pun tentang penyakit sahabatnya sendiri!

            Disebelahku, Tante Anna juga mulai menangis. Aku menatap Langit yang tengah terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Badannya dipenuhi alat-alat rumah sakit. “Biru, Langit anak yang kuat. Dia sudah berulang-ulang kali kemotrapi tapi dia tetap kuat. Dia kuat Biru.” Suara Tante Anna bergetar. Tangan wanita separo baya itu menggenggam erat lengan tanganku.

            Aku menangis. Tak dapat menahan lagi semua yang ingin luruh. Aku melanggar janjiku pada Langit agar tidak menangis lagi. Aku tidak bisa. “Iya Tante! Langit kuat. Langit bakal sembuh Tante!” ujarku parau sambil berusaha meyakinkan diri sendiri. Tante Anna mengangguk. Berusaha sama-sama yakin.

            Langit, kamu sakit! lebih sakit dari semua rasa sakit yang aku rasakan, tapi kenapa malah kamu yang menyemangati aku. kenapa bukan aku yang menyemangati kamu? Maafin aku Langit. Aku memang nggak berguna!

            Tangisanku semakin kencang. Tatapanku tak henti-hentinya menatap Langit dari luar kamar rumah sakit. “Langit! Kamu harus sembuh. Kamu harus kuat. Please. Kamu harus bertahan Langit! Harus!” Aku meracau seorang diri.

            “Kamu kuat kan Langit? Kamu kuat kan? Ayo tetap semangat! Aku sayang sama kamu, pokoknya kamu harus bertahan hidup! jangan lemah gitu. Ayo bangun! buka mata kamu!!! buka Langit. Aku sayang sama kamu.” lanjutku. Aku terduduk lemas sambil menyandar didinding rumah sakit.

            Aku ingin berteriak. Berteriak menyuruh dia bangun dan menguncang-nguncang tubuhnya.
***

            Disini. Ditempat ini. Tempat peristirahatan terakhirmu aku duduk sembari menangis. Sama sekali belum percaya dengan ini semua. Aku menggenggam kertas yang kamu berikan lewat Mama-mu. Kamu pengecut! Harusnya kamu memberikan sendiri kertas ini.

            Kubuka kertas berwarna pink muda ini dengan hati-hati.


Untuk Birunia Syakilla yang cantik dan imut ;)
Mungkin saat kamu mendapatkan kertas ini, aku sudah tidak bisa lagi ada disisimu. Biru, maaf ya aku ninggalin kamu. maaf! Aku udah terlalu lelah dengan semua ini. Aku capek Biru. Kemotrapi itu sakit. sakit banget. aku udah nggak kuat dan mungkin udah saatnya aku menyerah.
Maaf, aku nggak pernah ngasih tau sakit ini ke kamu karna aku nggak mau buat kamu sedih. Aku tau kamu udah terlalu ‘sakit’ dengan kehidupan kamu. Aku Cuma pengen bilang, kamu nggak boleh nyerah ya! kamu harus kuat ngadepin hidup. mungkin Tuhan nggak ngasih apa yang kamu inginkan, tapi ngasih apa yang kamu butuhkan. Aku tau kamu cewek yang kuat Biru.
Kamu janji jangan sedih atau pun nangis lagi kan? Janji ya? buat aku ;) kalau kamu nangis lagi, aku bakal sedih. Hidupmu masih panjang, gapailah asa-mu! Seperti yang kamu tau bahwa warna langit itu biru, seperti kamu yang selalu menjadi warna dalam hidupku. Makasih sudah menjadi warna itu dan makasih telah berpura-pura buta saat melihat semua kesalahanku.
Aku sayang kamu! I Love you and always love you. Rasa ini lebih dari rasa sayang ke sahabatnya. Eh, besok kalau kamu misalnya udah punya anak. Nama anaknya samain dengan nama aku ya? ya ya ya? hehehe. Kamu beruntung tau karna disaat orang lain bersusah payah menggapai langit, tapi kamu dengan mudahnya mendapatkan aku. ;p
Udah dulu ya Biru? Aku capek! Pengen tidur. Oh ya, titip Mama ya ;)
Dari orang yang sangat mencintaimu, Langit.


            Aku menyeka sudut mataku sambil berusaha agar tetesan air mata tak keluar lagi. Aku tak ingin menangis lagi. Rasa ini pun tak pernah hilang, namun memang keadaan kita sudah tak sama seperti dulu lagi! setidaknya aku tau cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Makasih. Makasih untuk semuanya. I love you too.

            Dulu, kita juga memainkan peran ini, bukan? peran dimana akulah sebuah kertas putih yang penuh pertanyaan. Dan kamu adalah tinta yang bersedia menjawab di setiap akhir tanda tanya.Namun bahasaku tinggal rasa. Dan entah bagaimana caranya agar rasa bisa bersuara jika raga tak lagi ada. Aku hanya ingin merengkuhmu. Merengkuhmu lagi Langit. Ya, tentu saja tidak bisa.

“Terimakasih cinta untuk segalanya. Kau berikan lagi kesempatan itu. Tak terulang lagi. Semua.” Aku menghela nafas pelan. “Terimakasih telah banyak mengajarkan arti tentang hidup. bahwa hidup bukanlah kemudahan. Aku pasti bisa kuat seperti kamu. Aku janji kalau suatu hari nanti aku akan menjadi ‘somebody’! aku akan buat orang-orang yang udah nyakitin aku kagum terhadapku dan aku injak-injak mereka. Aku akan balas seribu rasa sakit yang pernah aku rasain terhadap mereka dengan balasan sepuluh ribu kali lebih sakit. Aku janji!”


The end

“Sayangilah orang-orang yang menyayangimu. Jangan sakiti mereka karna kita nggak kan pernah tau kapan mereka akan pergi.”

@muthiiihauraa

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: