Cerpen : Cinta dalam diam

19.07 Muthi Haura 2 Comments


Hay haayy. Assalamua’laikum. Piye kabare? Apik-apik ae kan? Hihi ;p aku punya cerpen lagi nih. Adakah yang mau baca? Cerpen ini udah lumayan lama juga aku buat, dari pada Cuma mendem di laptop bagus aku share ke blogku tercinta ini kan? Hehe.


Oh yaa, mau curcol dikit dulu boleh tak? Boleh lah ya! Kemaren pas hari Rabu aku nggak masuk kuliah, bukannya nggak ada jam tapi ada kendala yang bikin aku nggak datang. Trus aku juga nggak ngasi kabar sama sekali ke anak kelas. Malamnya Mumun SMS gini :



Bisa kebaca nggak dari hp jelek aku tu? Aku jelasin deh, katanya gini : “beb kamu apa kabar? Aku kangen. Rasanya galau, satu hari ini nggak ada kabar dari kamu.” Hihi. Duuuh, bebebku lebai deh ;* makasih ya udah kangenin aku. trus tadi pas aku masuk kelas dengan tampang nggak bersalah banyak anak kelas yang nanyain gini : “kemana kemaren? Bla bla bla.” Haha! wah, jadi keberadaan aku penting yah woi? ;p


Oke, makasi. Love u F! ;* memiliki kalian adalah hal terindah buat aku *acieee. Lebeh!* waaah, curcolnya kepanjangan ya? Oke langsung aja. Lest check this out :


Bisa kebaca nggak dari hp jelek aku tu? Aku jelasin deh, katanya gini : “beb kamu apa kabar? Aku kangen. Rasanya galau, satu hari ini nggak ada kabar dari kamu.” Hihi. Duuuh, bebebku lebai deh ;* makasih ya udah kangenin aku. trus tadi pas aku masuk kelas dengan tampang nggak bersalah banyak anak kelas yang nanyain gini : “kemana kemaren? Bla bla bla.” Haha! wah, jadi keberadaan aku penting yah woi? ;p


Oke, makasi. Love u F! ;* memiliki kalian adalah hal terindah buat aku *acieee. Lebeh!* waaah, curcolnya kepanjangan ya? Oke langsung aja. Lest check this out :


Cerpen : Cinta dalam diam


Author : Muthi Haura

Rasa cinta itu normal. Mencintai seseorang itu pun normal. Yang membedakannya hanyalah, bagaimana cara orang tersebut menyikapi rasa cinta itu.

Hujan turun dengan deras bagaikan pantulan manic-manik yang membasahi bumi dengan sangat indahnya. Aku tersenyum pelan. Mataku masih asik memandangi mushaf Qur’an dan membacanya dengan penuh kenikmatan. Yah, bagiku mendekatkan diri dengan Allah adalah kenikmatan yang sangat luar biasa. Bulu kudukku merinding saat lidah ini melafazkan sebuah ayat dari surah Ar-Rahman yang berbunyi fabiayyi ala irabbi kuma tukazzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Butiran bening meleleh lembut membasahi pipiku. Teringat bahwa diri ini begitu jarang bersyukur. Begitu sering mengeluh. TEEEEEEEEEEEET! Bel berbunyi dengan nyaring menandakan waktu istirahat telah habis. Kusudahi bacaan Qur’anku dan jari-jariku dengan lihai melipat mukenah. Aku menarik nafas pelan sembari bersyukur karna bisa menikmati waktu dhuha bersama-Nya. Sesekali kurapikan jilbab panjangku. Aku melangkah ringan melewati koridor menuju kelas XI IPA 2, kelasku yang terletak paling ujung.

“Hey! Dari mana aja nih? ngilang mulu tiap istirahat.” Ujar Rasya teman sekelasku. Aku tersenyum kepada Rasya. “Biasa neng, ada panggilan hati.” Jawabku sekenanya. Rasya manggut-manggut tak mengerti. Sesekali gadis cantik disampingku itu merapikan poninya. “Aku mencintainya Fa! Aku nggak bisa hidup tanpanya. Aku nggak akan rela jika dia dengan perempuan lain.” Curhat Rasya. “Siapa?”

“Muhammad Faqih. Eh, ke-WC bentar ya. Kebelet nih.” kata Rasya sembari berlari meninggalkanku. Aku tertegun. Muhammad Faqih? Akh! kenapa aku memiliki perasaan yang sama?

Tanpa sengaja aku berpapasan dengannya. Dengan seorang cowok bernama Muhammad Faqih yang entah kenapa selalu memenuhi memori otakku akhir-akhir ini. cepat-cepat aku beristighfar dan kutundukkan kepala. Dia pun seperti itu. Sama-sama saling menundukkan kepala. Tak ada tegur sapa. Tak ada saling lempar senyum, apalagi saling tatap-tatapan.
***

Aku berjalan menuju sekre ROHIS. Sesekali kupandangi jam tangan yang melingkar indah dipergelangan tanganku. “Sebentar lagi rapat kepengurusan ROHIS akan dimulai.” Desahku pelan. setelah sampai disekre, aku segera masuk dan duduk disamping akhwat pengurus lainnya. Aku melihatnya yang tengah bersiap-siap memimpin rapat. Yah, dia memang ketua umum ROHIS disekolahku dan dia satu tingkat diatasku. Takut-takut kupandang wajah bercahaya itu. Senyumnya. Tawanya. Wibawanya. Ah! Seharusnya diri ini tak pantas memikirkan seseorang yang belum halal bagiku.

“Ya Allah. Jika dia pangeran yang tertulis dilauhul mahfuzku, maka dekatkanlah kami suatu hari nanti dengan cara-Mu yang indah dan jika dia bukan pangeran yang Engkau tetapkan untukku, maka jauhkanlah kami dan hilangkanlah rasa cinta ini untuknya.” Ucapku lirih dalam hati. Kembali kutundukkan pandangan, tak berani menatap sosok itu lebih dalam. Rapat sudah dimulai. Rasa deg-degan hadir ketika mendengar suaranya.

“Sssst. Syif, kak Faqih wibawa banget ya! Sumpah dia makin keren kalau kaya gitu.” bisik Aina padaku. Aku menatap Aina. Aku hanya diam. Ada sebuah rasa cemburu yang menyelinap masuk kehatiku. “Kamu tau nggak Shif? Aku kan masuk ROHIS biar bisa lihat Kak Faqih terus.” Lanjut Aina membuatku menggelengkan kepala.

“Baiklah akhi wa ukhti, apa ada saran atau pertanyaan mengenai persiapan untuk acara 1 Muharram?” Tanya Kak Faqih lantang. Aku hanya diam sembari menunduk. Sekali-kali mataku mencuri pandang pada Kak Faqih. “Ya Allah, semoga cintaku padanya tidak mengalahkan rasa cintaku kepada-Mu. Jangan sampai diri ini terjebak dalam cinta semu nan haram. Izinkan aku menikah tanpa pacaran Ya Allah. Jagalah diri ini selalu dan jadikanlah cinta dalam diam ini seperti kisahnya Ali dan Fatimah.” Kataku selirih mungkin.

Namanya Muhammad Faqih. Laki-laki ganteng yang menurutku memiliki prinsip hidup. Wajahnya bercahaya oleh air wudhu. Wibawa dan tanggung jawabnya dalam organisasi patut di acungi jempol. Kata-katanya santun dan banyak teman-teman cewekku yang menyukainya. Salahkah aku memiliki perasaan itu terhadapnya? Yah, mungkin salah! Salah karena menyukai seseorang yang belum halal bagiku, bahkan mungkin tak kan pernah halal untukku. Aku menghela nafas berat.
***

Malam dipenuhi bintang yang tengah bersinar dengan anggunnya. Kuraih mushaf Al-Qur’an milikku dan dengan khusuk lantunan ayat-ayat cinta itu mengalun merdu dari bibir mungilku. HP-ku berbunyi, menandakan sebuah sms masuk. Kusudahi bacaan Qur’anku dan kuraih HP-ku.


From : Rangga
Aku mencintaimu! Maukah kamu menjadi pacarku Syifa?


To : Rangga
Lha? Kenapa bilangnya ke aku? Kalau kamu serius, bilang langsung keayahku.


Segera kuletakkan kembali HP-ku. “Kak, kenapa sih kita disuruh menutup aurat?” Tanya Nada yang entah kapan sudah berada dikamarku.
           

“Kamu ini dik, kalau masuk ucap Assalamua’laikum dulu ngapa?” Nada cengengesan pelan.
“Maaf kakak. Janji deh nggak bakal ngulangin lagi.” Ucap Nada yang masih berumur 12 tahun. Nada menatapku pelan sembari mengulurkan jari kelingkingnya. Aku tersenyum.

            “Oke deh, dimaafin. Sekarang kakak punya 2 coklat nih. Terus coklat yang satu kakak bukak dan yang satunya lagi enggak. Kakak tarok kedua coklat ini dilantai yang berdebu. Kalau kak suruh pilih, Nada mau coklat yang mana?”

            “Ya pastinya coklat yang masih terbungkus rapilah kak.” Jawabnya keheranan. “Nah, gitu juga cewek dek. Kalau cewek itu menutup auratnya, maka hanya laki-laki yang sholeh yang berhak mendapatkannya.”

            “Gitu ya kak? Wah, keren dong. Nada juga mau pakai jilbab kaya kakak lah. Terus kenapa Islam ngelarang pacaran kak? Soalnya banyak teman-teman Nada yang pacaran.” Ujar Nada polos. “Nada sayang, dalam Islam pacaran itu nggak ada. Orang yang pacaran itu hanya akan mendekati zina. Buat apa coba pacaran, toh nanti belum tentu juga dia jodoh kita. Nada, kalau kita mau dapetin laki-laki yang sholeh, kita harus menjadikan diri kita sholehah dulu.” Nada manggut-manggut seakan mengerti.

            “Berarti jodoh itu cerminan diri kita ya kak?” Tanya Nada. Aku menggangguk sembari memberikan seulas senyum pada gadis kecil tersebut. “Hayo. Anak Bunda pada ngomongin apa tuh? Tadi Bunda dengar ada kata-kata jodoh segala?” ledek Bunda didepan pintu kamarku. “Ini lho Bun. Kak Syifa pengen punya jodoh.” Ujar Nada sembari berlari meninggalkan kamarku. Aku menatap kepergian Nada dengan geram.

            “Belajar aja dulu yang rajin. Jangan mikirin yang bukan-bukan.” Ucap Bunda. Aku menatap wajah Bunda yang mulai menua dimakan usia. Aku tersenyum. “Iya Bundaku sayang.”
***

7 tahun kemudian

            Aku menatap tubuh lunglai Bunda yang terbaring lemah diatas tempat tidur. Tanganku sibuk memijati kaki Bunda. wajah tirus Bunda mengambarkan kesakitan yang tengah dialaminya. Ah! Bundaku adalah wanita yang kuat. Penyakit liver yang dideritanya membuat wanita bertangan emas itu semakin lemah. Tidak seperti dulu. Aku ingin menangis melihat kondisi Bunda.

“Shifa.” Ujar Bunda menghentikan semua lamunanku. Aku menatap Bunda sembari tersenyum. sebuah senyum yang Nampak sangat dipaksa. “Ya Bunda. Kenapa Bunda nggak pernah cerita soal penyakit Bunda?”

“Sudahlah, Bunda nggak ingin membahas itu. Bunda Cuma minta 1 hal sama kamu nak. Bunda kepengen punya cucu dari kamu. Usia kamu kan sudah pantas untuk menikah.” Kata Bunda terbata-bata. Jujur, aku kaget mendengar perkataan Bunda. Sama sekali belum terpikir hal itu dibenakku. calon pun aku nggak punya dan aku belum bisa menghapus bayangan Muhammad  Faqih dari benakku. “Iya nak. Kami sudah ada calon untukmu. Insya Allah dia laki-laki yang baik agamanya dan Insya Allah dia bisa membahagiakanmu.” Lanjut Ayah. Apa yang harus aku jawab? Apakah aku harus menolak dan membuat kedua orang tuaku kecewa atau aku harus bagaimana?

“Terserah Ayah dan Bunda saja.” Ucapku. Yah, kata itu yang keluar dari bibirku. Aku nggak mungkin mengecewakan kedua orang tuaku dan aku percaya mereka pasti memberikan pilihan yang terbaik buatku. Mana adakan orang tua yang mau menjerumuskan anaknya bukan? Ayah dan Bunda tersenyum membuat hatiku bahagia. Semoga ini pilihan yang tepat Ya Allah.

“Siapa laki-laki itu Ayah?” tanyaku penasaran. “Namanya Dani nak. Dia kuliah di Al Azhar. Besok pagi Insya Allah dia akan kesini nak. Nanti malam sholat istikharahlah.” Ucap Ayah. Aku tersenyum mendengarnya. Dani? Nama yang asing dalam hidupku. Harapan untuk berjodoh dengan Muhammad Faqih seketika pupus. Ya Allah, siapa pun jodohku, semoga ia mampu membimbingku ke Jannah-Mu. 
***

Dan dimesjid inilah sekarang aku duduk. Mesjid yang akan menjadi saksi mengikatnya 2 anak manusia yang berlainan jenis. “Saya terima nikah dan kawinnya Naurah As-Syifa binti Ilham dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Ucap laki-laki itu dengan lantang  membuat dadaku bergemuruh. “Bagaimana saksi?” Tanya Pak penghulu. “Sah!” Alhamdulillah, desisku pelan. Disaat tengah berdo’a, air mataku tak hentinya mengalir dan aku telah resmi menjadi seorang istri dari Dani. Muhammad Faqih Ramadhani Saputra! Yah, kak Faqih! Seorang yang dulu pernah kucintai dalam diam. Seorang yang dulu rasanya sulit kugapai. Kini dia duduk disampingku sembari tersenyum. Dia yang Insya Allah akan menuntunku ke Jannah-Nya

The end

salam karya, @muthiiihauraa
12 Desember 2013.


















Baca Artikel Populer Lainnya

2 komentar:

  1. oooh my god.... aku jadi kepikiran sosok yang lama :'( kenapa harus cintaaa dalam diam judulnyaa? :'( aku jadi kepikiran :'( :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. kan berdasarkan cerita ko ;p

      Hapus