Cerpen : Jelita sahabatku

22.32 Muthi Haura 0 Comments




Haaay, Assalamua’laikum. Hay haaay ;D kali ini aku pengen ngepost cerpen karya aku. cerpen ini aku buat saat kelas 2 SMA dan aku ikutin dalam lomba yang diadain aksi dan Alhamdulillah berhasil jadi juara 2. Hihi.

 Okeh, lest check this out :

Cerpen : Jelita sahabatku



 Aku terdiam, kupandangi tubuhku didepan cermin, hmmm.aku manis ya,tapi rada-rada kurus,lebih tepatnya sih emang aku kurus ujarku sambil tersenyum super duper manis, sesekali aku bergaya didepan cermin seperti seorang model. aku meraih sisir, lalu aku mulai menyisir rambutku yang cepak. Aku tersenyum sinis, entah apa yang aku rasakan saat ini. Harusnya hari libur seperti ini diisi bersama sahabat-sahabat, tapi itu ga bisa aku lakuin Karena aku ga punya seorang sahabat pun, jangan kan sahabat teman aja mungkin aku ga punya. aku tertawa getir. Mana ada orang yang mau jadi teman cewek aneh sepertiku ujarku dalam hati.

 “Cla. Kak mau ke mall ni. Mau jalan bareng teman-teman. Mau nitip sesuatu ga?”Tanya Nia, kakakku. Aku terdiam sambil menatap kakakku, ada sebersit perasaan iri padanya.. ‘Cantik’pikirku.

“hey. Kok malah bengong gitu. Mau nitip ga? Kak da telat nih”ujar kak Nia membuyarkan lamunanku.

“ga deh kak”, kak Nia segera berlalu meninggalkanku. enak banget ya jadi kak Nia. Udah cantik, pintar, supel, gaul lagi dan pastinya kak Nia punya banyak sahabat dan teman. Pasti menyenangkan mempunyai sahabat. Bisa saling berbagi cerita, berbagi keluh kesah dan berbagi banyak hal lainnya. Kapan ya aku punya sahabat? Aku pengen punya sahabat! Sahabat yang ngerti aku. Sahabat yang selalu ada dikala ku suka dan duka sahabat yang selalu mengigatkanku pada kebenaran cerocos hatiku sambil membayangkan diriku bercanda ria dengan seorang sahabat. aku meraih diary-ku dari meja belajarku. Ku buka halaman demi halaman diary yang berisi semua keinginanku termasuk keinginan untuk mempunyai seorang sahabat. Suatu hari nanti aku pasti punya sahabat!. Ku rebahkan tubuh kurus ini ketempat tidur, ku pandangi langit-langit kamarku yang mungil, berbagai pernyataan dan pertanyaan berkelabat dalam memori otakku. Oh Tuhan, aku bener-bener merindukan seorang sahabat, kirimkan lah seorang sahabat untukku. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang sahabat walau hanya sebentar. Secercah tetesan bening jatuh dari kelopak mataku, ga bisa ku bendung lagi.
***

 Ku pandangi hujan yang turun dari jendela kamarku. Hujan itu turun begitu anggun seperti pantulan manik-manik. Aku suka hujan. Saat hujan aku bisa menangis sepuasnya dan berteriak sesukaku tanpa takut kedengaran oleh orang-orang. Aku suka suasana hujan yang begitu kontemplatif. Hari ini hari terakhir liburan, aku ga ingin menyianyiakannya, nanti setelah hujan reda aku ingin ke taman kota melihat suasana setelah hujan. Pasti sangat mengasikkan pikirku. Ku raih jaket dari lemari pakainku. Hujan kali ini membuat tubuh kurusku kedinginan, ku rapatkan jaket itu. Aku kembali menatap hujan. Sungguh indah, Terimakasih ya Allah. Berkat-Mu aku bisa ngelihat hujan. Hujan sudah mulai reda, aku segera berlari keluar rumah dengan cepat, tak ku hiraukan panggilan ibu yang keheranan melihat tingkah aneh ku. Ku percepat langkahku menuju taman yang tidak jauh dari rumahku. Aku ingin cepat-cepat duduk dibangku kesayanganku pada taman itu. Aku ingin merasakan hawa dingin ditaman itu. Sesampainya ditaman, ku hempaskan pantatku pada kursi taman itu, tak ku hiraukan rasa sakit di pantatku. Aku tersenyum sambil menyandarkan tubuhku pada kursi itu. Mataku mulai bergerilya menatap pemandangan taman disekelilingku. Tanpa sengaja mataku tertuju pada seorang cewek yang tengah menangis dikursi taman paling pojok. Aku menghampiri cewek itu, aku merasa ga tega melihatnya seperti itu.

 “kamu kenapa?”Tanyaku, cewek itu seperti terkejut melihat kehadiran orang yang tak dikenalnya secara tiba-tiba. Buru-buru ia menyeka air mata yang membasahi pipi putihnya. Lalu ia menggeleng sambil tersenyum.

 “aku ga kenapa-napa”desahnya pelan. Aku duduk disampingnya. Aku menatapnya dalam-dalam. Ia cantik! Tubuhnya sempurna, tapi kenapa dia nangis sesegukan kaya tadi tanyaku tak mengerti.

 “kenapa? Ada yang salah dengan aku?”tanyanya, sepertinya ia merasa kalau aku memperhatikannya.

 “eh, ga kok. O ya, nama kamu siapa?”

 “Jelita. Ya udah, aku pergi dulu ya? Udah dicari bunda kayanya”ujarnya sambil berlalu meninggalkanku.

 “yah. Hati-hati ya. O ya nama aku Clana. Panggil aja Cla”teriakku tanpa malu-malu, Jelita tersenyum sambil mengangguk, ia kembali berlalu meninggalkanku. Aku duduk sambil tersenyum pahit. Kira-kira cewek itu kenapa ya? Tanyaku. Sempat terpikir olehku hal yang tidak-tidak tentang cewek cantik bernama Jelita itu, tapi pikiran itu cepat-cepat ku tepis. Aku kembali menatap sekelilingku. Rasa lapar mengahantui perutku. Ku elus-elus perutku yang tengah berontak meminta jatahnya.

 “sabar ya perutku sayang. Entar lagi aku bakal ngasih kamu makanan kesukaanmu. Jangan berontak kaya gitu ya?”ujarku pada diriku sendiri. Uuhh, aku bener-bener mirip orang gila kan?. Ku tatap kesekelilingku, mataku dengan jenaka mencari-cari sesosok tubuh gendut dengan gerobak baksonya.
***

 Ku masuki gerbang SMA 1234. yah, ini sekolahku. Sekolah yang menyimpan banyak kenangan disini, terutama kenangan menyedihkan yang terjadi dalam hidupku. Aku menghela nafas. Berat. Itu lah yang aku rasakan saat ini. Andai aku punya sahabat, mungkin aku bisa membagi sedikit beban berat ini padanya. Beban berat yang selama ini telah aku lalui hampir setahun penuh disekolah ini tanpa seorang sahabat yang menemani atau pun memberi semangat.

 “hai Cla”, aku menatap cewek yang menyapaku itu dengan agak terkejut.

 “he eh. Jelita? Kamu ngapain disini?”Tanyaku sambil tersenyum menatap Jelita, Jelita membalas senyum ku dengan sangat manis.
           
“ya sekolah dong. Mulai hari ini aku resmi bersekolah disini. Hhmm. Kayanya kita sekelas deh. Kamu X.3 kan?”Tanya Jelita, aku mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba Jelita mengandeng tangan ku.
           
“ya udah, langsung kekelas aja yuk”ajaknya. Aku mengikuti saja ajakan cewek cantik itu. Setiba dikelas, Jelita meletakkan tasnya disamping tas ku.

 “aku duduk disini aja yah”pintanya, aku menggangguk dengan senang. Gimana ga senang coba? Dulu sebelum dia datang, bangku disampingku selalu kosong. Ga ada yang pernah ingin duduk sebangku denganku, aku ga tau alasannya mengapa. Mereka selalu mengasingkanku. Entah apa salahku pada mereka. Aku tersenyum sembari duduk dismping Jelita. Mulai hari ini aku punya teman sebangku dan semoga Jelita tidak terpengaruh hasutan teman sekelasku untuk menjauhiku.
           
“eh, kamu Jelita anak baru itu kan? Kok mau sih duduk disini bareng cewek aneh ini? Duduk didepan aja yuk?”ajak Kesya, teman sekelasku yang sangat anti padaku. Aku menundukkan kepala, takut menatap matanya yang seperti ingin menelan ku hidup-hidup. Hatiku sangat berharap agar Jelita tidak terpengaruh pada Kesya. Jelita menolak dengan senyuman manisnya, senyuman yang dapat membuat hati para lelaki yang melihatnya bergetar. Aku merasa lega sekali ternyata Jelita lebih memilih duduk didekatku. Kesya berlalu dengan menatapku sinis, tapi aku membalasnya dengan senyuman.

 “thanks ya da mau duduk didekatku”ujar ku tulus. Jelita tersenyum sambil menggenggam tanganku.

 “ga usah berterimakasih kaya gitu ah. Kamu kok diam aja sih diperlakukan ga adil kaya gitu? Itu namanya udah melanggar hak azasi manusia. Kamu harus ngebela diri dong, jangan mau ditindas”, aku hanya bisa berdiam diri sambil tersenyum getir. Perkataan Jelita ku benarkan juga didalam hati, tapi mau gimana lagi? Aku memang ga bisa berbuat apa-apa. Aku terlalu pengecut untuk hal seperti itu.
***

 Sudah hampir 2 bulan ini aku dekat dengan Jelita. Berbagai kegiatan kami lakukan bersama. Suka dan duka kami lewati bersama. Aku sangat senang. Kini aku sudah bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang sahabat. Jelita seperti seorang bidadari yang datang secara tiba-tiba dalam hidupku dan menemaniku menghadapi semua masalah yang datang tanpa henti-hentinya. Tapi kadang aku sering cemas ngelihat keadaan Jelita, kadang tiba-tiba ia pingsan, kadang pula ia tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya. Saat aku Tanya soal penyakitnya, ia hanya tersenyum. Aku tau dia menyimpan sesuatu dariku.

 “Cla. Ikut aku yuk?”ajak Jelita sambil menarik lengan tanganku saat bel pulang sekolah berbunyi.

 “iihh. Pelan-pelan dong. Mang mau kemana sih?”tanyaku, Jelita ga menjawab. Langkahnya semakin cepat membuat ku jadi penasaran. Aku menjejeri langkahnya. Jelita memasuki mobilnya diikuti olehku. Aku semakin ga ngerti dengan jalan pikiran cewek cantik satu ini. Mobil berjalan menerusuri jalanan kota Pekanbaru.

 “mau kemana sih?”tanyaku lagi.
           
“udah ga usah banyak nanya. Entar tau sendiri kok”ujarnya lembut. Aku mencoba tersenyum walau perasaanku mulai semberawut. Aku menghela nafas sambil menatap jalanan disekelilingku. Sepi, desah hati ku pelan. Aku mulai khawatir. Sepertinya Jelita membaca gelagat kekhawatiranku, ia tersenyum manis.

 “tenang aja, bentar lagi nyampai kok. Ga usah takut gitu ah”kata Jelita. Lalu mobil itu berhenti didepan sebuah rumah bercat putih. Aku turun dari mobil Jelita. Mataku menatap kesekeliling. Aku membaca papan besar bertuliskan ‘yayasan tuna netra’. Aku mendesah. Kirain mau diajak kemana pikirku. Jelita keluar dari mobilnya sambil tersenyum. Jelita mengajakku masuk kedalam. Kini aku baru tau kalau keluarga Jelita lah yang membangun yayasan tuna netra ini. Sungguh mulia hati keluarga Jelita, semoga Allah membalas kebaikan keluarga Jelita kataku pelan.

 “Cla. Kamu lihat kan orang-orang disekeliling kita ini? Mereka tampak bahagia walaupun memiliki banyak kekurangan. Kita jauh lebih beruntung dari mereka Cla. Jadi buat apa kita minder dengan diri kita sendiri? Harusnya kita bersukur! Dan mencoba untuk berprestasi dengan semua kelebihan yang diberikan Allah untuk kita. Ingat Cla, ga ada manusia yang sempurna didunia ini”kata Jelita panjang lebar. aku tertegun, aku merasa terpojok dengan kata-kata Jelita. Bagaimana pun yang dikatakan Jelita itu benar. Kini aku tau bahwa Jelita mencoba menyadarkanku karena aku selalu meremehkan hidupku, meremehkan diriku sendiri bahkan meremehkan kemampuan yang aku miliki. Aku ga tau mau ngomong apa. Bibirku seakan terkatup dan tak mampu mengeluarkan kata-kata. Secara spontan aku memeluk Jelita. Kini aku benar-benar sadar akan diriku. Selama ini aku membiarkan orang lain untuk merusak hidupku, ku biarkan juga orang lain menindasku. Harusnya aku memberontak, aku juga punya hak yang sama dengan mereka.

 “thanks Jelita. Kamu udah nyadarin aku akan makna sebuah kehidupan. Aku senang bisa kenal dengan orang berhati baik sepertimu. Sekali lagi makasih”

 “udah ga usah lebay gitu. Hmm. Aku punya sesuatu untukmu., tapi bukanya dirumah aja ya”kata Jelita sambil memberikan sebuah amplop biru padaku. Aku menatap amplop itu sambil tersenyum.
***


 Ku hempaskan pantatku diatas tempat tidur. Ku raih amplop biru itu dengan seksama. Dengan berlahan ku buka amplop itu yang ternyata berisi sebuah puisi. Ku baca puisi tersebut.



 Sahabat
 Apabila kau ingin bersahabat, janganlah karna kelebihannya,
 Karna mungkin dengan 1 kelemahan, kau akan menjauhinya..
 andai kau bersahabat, janganlah karna kebaikannya,
 karna mungkin dengan 1 keburukan, kau akan membencinya..
 andai kau inginkan sahabat, janganlah karna ilmunya,
 karna apabila dia kurang ilmu, kau akan memfitnahnya..
 andai kau inginkan seorang sahabat, terimalah dia apa adanya,
 karna dia seorang sahabat yang hanya manusia biasa..
 jangan diharapkan sempurna, karna kau juga tidak sempurna,
 tiada yang sempurna didunia ini..


 puisi ini ku dapat dari sebuah situs diinternet, dan aku ingin
 memberikannya untuk sahabatku yaitu kamu.
 ku harap kamu menerimanya. Dan maaf karna ku ga bisa
 membuat kan mu puisi dari imajinasiku sendiri.
 Salam hangat untuk sahabatku Clana
 ~ Jelita Aprilia ~


 Aku mengusap air mataku yang sudah mengalir sejak pertama kali membaca puisi tersebut.. Aku bener-bener terharu. Walaupun puisi itu bukan karya Jelita sendiri tapi aku tetap senang. Aku sangat bahagia. Hari ini ga akan bisa kulupain dalam hidupku. Banyak pelajaran yang ku dapat hari ini bersama Jelita. Tapi malam ini perasaanku ga enak. Aku ga tau apa yang bakal terjadi. Ku harap semuanya baik-baik saja. Ku simpan kertas puisi dari Jelita. Ku coba memejamkan mata agar semua perasaan ga enak ku hilang.
***

Aku membuka mataku. Cahaya pagi menembus jendela kamarku. Aku menggeliat. Ku raih HP ku. 1 panggilan tak terjawab dari Jelita pada jam 23.45. tumben, mau ngapain Jelita nelpon jam segitu ya? Tanyaku pada diriku sendiri. Kubuka sms yang baru masuk ke HP ku dari kakaknya Jelita yang berisi ‘Cla. Jelita meninggal karna kanker otak yang dideritanya’. Aku tersentak kaget membacanya. Tubuhku serasa tidak berada dibumi. Innalillah ucapku lirih. Terjawab sudah kegelisahanku semalam. Aku merasa pusing, sekelilingku terasa berputar-putar dengan cepat dan tiba-tiba aku ambruk diatas tempat tidur.
***

 Aku menatap gundukan tanah didepanku. Didalam tanah itu terbaring jasad sahabatku. Tetesan bening jatuh dari kelopak mataku. Ini semua terasa mimpi ucapku lirih. Jelita, dibalik tubuhmu nan anggun ternyata kamu menyimpan sebuah penyakit yang mengerikan. Dulu aku sempat iri padamu, merasa Allah ga adil akan hidupku. Aku iri karna kamu diciptakan sangat sempurna menurutku. Kamu pintar, cantik, baik dan masih banyak lagi kelebihan yang kamu miliki, sedangkan aku? Tapi ternyata dibalik tubuhmu itu tersimpan sebuah penyakit yang aku pun mungkin ga sanggup untuk menghadapinya. Sekarang baru ku sadari ternyata Allah maha adil. Jelita, aku sangat bahagia bertemu denganmu walau itu hanya beberapa bulan, kau banyak mengajarkanku akan arti sebuah kehidupan. Aku ikhlas atas kepergianmu. Karna Allah kita bertemu karna Allah jua lah kita berpisah. Selamat jalan sahabat, do’aku akan selalu menyertaimu.

The end



Gimana? masih amatir banget, jadi harap dimaklumi. Hehe. ;D no copas-copas dan hargai kreatifitas anak bangsa! Ini karyaku, mana karyamu? ;p



link gambar :
http://madanma.wordpress.com/2010/03/05/arti-sahabat-di-mata-saya/





Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: