cerpen ;D

[cerpen] about love

05.57



Haaay, Assalamua’laikum. Aku lagi pengen ngepost cerpen gaje nih. Iseng-iseng baru buat tadi. Oke langsung aja, lets check this out :

[cerpen] about love

Cinta adalah sebuah perasaan yang datang tanpa diketahui sebabnya. Cinta datang tanpa sebuah alasan, kalau cinta membutuhkan alasan dan disaat alasan itu hilang, maka cinta itu juga akan hilang bersama alasan itu.

Nika menjulurkan tangannya. Membiarkan tangan putih gadis itu terulur dibawah rintikan hujan. Gadis itu terdiam beberapa saat dan detik berikutnya menghela nafas berat. Nika menengadahkan kepalanya menatap langit. Menatap hujan-hujan yang kadang menurutnya mampu menetramkan.

“Hooi! Ngelamun. Kesambet baru tau.” Kafta menyenggol lengan Nika sehingga gadis itu menampilkan ekspresi kaget. Bibir gadis bernama lengkap Anika Talitha Azalia itu mengerucut pelan.

“Kamu datang dan dengan sukses menghancurkan semua lamunan aku.” Nika mendengus pelan, diikuti tawa berirama dari bibir merah muda Kafta. Kafta menatap sahabatnya itu. Mencoba menelisik apa yang ada didalam pikiran seorang Anika.

“Masih memikirkannya?” Nika menoleh menatap wajah Kafta. Suasana kampus semakin sunyi. Hanya ada beberapa orang yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. “Masih memikirkannya ya?” Kafta mengulangi pertanyaannya.

“Acha kemana? Udah pulang dia?” Nika memutar arah pembicaraan. Gadis itu menanyakan salah satu sahabat terdekat mereka. Ya, mereka memang selalu bertiga. “Kenapa mengalihkan pembicaraan?”

“Kenapa harus membicarakan soal dia?” tanya Nika. Kafta menghela nafas sembari mencoba memahami sedikit perasaan Nika. “Oke, mungkin kamu pengen sendiri. Aku pulang dulu. Kalau udah siap untuk cerita, ceritalah ke aku dan Acha.” Kafta berjalan meninggalkan Nika seorang diri.

Nika menatap kepergian Kafta. Merasa sedikit bersalah. “Kafta.” Panggil Nika pelan, namun tetap bisa didengar oleh seorang Kaftania Al Gazi. Kafta menoleh kebelakang, lalu mengembangkan senyumnya. “Ya?” tanya Kafta.

“Makasih.” Hanya satu kata itu yang mampu terucap dari bibir Nika. Kafta mengangguk pelan dan detik berikutnya kembali berjalan meninggalkan Nika sendiri. Nika kembali menatapa kepergian Kafta, sahabat yang baru dikenalnya kurang lebih empat bulan ini.

Entah kedekatan seperti apa yang mampu mendekatkan dirinya dengan Kafta dan Acha. Bagi Nika, Kafta dan Acha adalah orang yang benar-benar mampu mengerti dirinya. Untuk keberapa kalinya Nika menghela nafas dan kembali menatap hujan.

Bayangan seorang laki-laki berperawakan ganteng muncul dibenak Nika. Sebuah rasa yang aneh bergemuruh lebat didalam hatinya.

Namanya Rahel Raditya. Teman-temannya memanggilnya Radit. Aku nggak tau kenapa bayangan dia tiba-tiba muncul dibenakku. Dia menyedot semua perhatian dipikiranku. Awalnya aku sama sekali nggak tau kalau dia teman satu les Bahasa Inggrishku. Sama sekali aku tak mengenalnya sedikitpun!

Nika menopang dagunya dengan tangan kirinya. Mata gadis itu masih asik memandangi butiran-butiran air hujan yang turun dengan begitu anggunnya. Nika kembali melanjutkan rangkain demi rangkain kalimat yang tertera dalam benaknya.

Pertama kalinya aku ngelihat dia, saat dia bersama teman-temannya. Aku melihat wajahnya dengan jelas dan tiba-tiba aku ngerasa sepertinya  wajah dia itu familiar. Menatapnya tanpa rasa apa-apa. Entah karna keberuntungan apa ditempat les bahasa inggrish saat ada tugas sekelompok, aku sekelompok dengan dia.

Semenjak kami sekelompok itu, entah kenapa ada kedekatan diantara kami. Aku ngerasa bahwa dia adalah cowok terbaik yang pernah aku temui dalam hidupku.

“Nika?” Sebuah suara dengan aroma parfum maskulin menghentikan setiap kata dalam paragraf yang bermain indah dibenak Nika. Gadis itu tertegun saat melihat sisumber suara. Dia. Yah, dia yang baru saja bermain indah dibenak Nika.

“Radit?” Nika buru-buru merapikan duduknya. Lagi-lagi debaran jantung yang tak normal dirasakan oleh Nika. Radit mengambil tempat duduk disamping Nika, membuat Nika semakin tak karuan.

“Kenapa belum pulang?” tanya Radit. Nika hanya bisa terdiam. Saat berada sedekat ini didekat Radit, ia tidak tau harus seperti apa dan harus mengatakan apa. Selalu begitu dan hal ini begitu tidak nyaman buat Nika.

“Kamu benci ya sama aku?” Lagi-lagi suara Radit memecahkan keheningan diantara mereka. Nika menoleh menatap wajah Radit. Mencoba memberanikan menatap mata cowok beralis tebal itu. Nika menggeleng pelan.

“Kalau nggak benci kenapa selalu menjauh dan jadi pendiam banget didepan aku?” Lagi-lagi Radit yang mendominasi pembicaraan. Karna aku sangat mencintaimu. Batin Nika. Ya, hanya didalam batin. Karna nyatanya Nika tetep saja tak berbicara.

“Tuh kan diam terus.”

“Nggak kok. Nika nggak benci Radit.” Jawaban pertama yang bisa keluar dari mulut Nika. Gadis itu memain-mainkan ujung bajunya, menandakan ia tengah salah tingka. Radit tersenyum menatap Nika.

“Mau nggak Nika jadi sahabat aku?” tanya Radit. Nika menelan ludah. Sahabat? Tak bisa lebihkah. “Berjanjilah untuk selalu menjadi sahabat aku ya Nika?” Radit menjulurkan jari kelingkingnya. Mau tak mau, Nika menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Radit.

“Nika janji.” Sedikit terpaksa Nika mengucapkannya. Radit tersenyum pelan. Ya, hubungan ini akan selalu hanya sebatas sahabat. Aku bahagia? Tidak! Tapi setidaknya sampai nanti aku bisa terus dekat dengan dia.

Nika mencoba tersenyum. Mungkin ini yang terbaik.

The end

27 januari 2014. 20.57 WIB


You Might Also Like

8 komentar

  1. kejebak friendzone dah tuh. hahaha
    bagus cerpennya. tetap dikembangkan ya :)

    BalasHapus
  2. Cerita yang manis, Kak.
    Cinta memang enggak butuh alasan, tapi orang yang butuh alasan untuk tetap merasakan cinta. Dan kedua hal itu beda konteks :)

    Kalau berkenan mampir juga di cerpen yang kubuat http://jamtangan1210.blogspot.com/2014/01/kembang-gula.html
    Salam kenal, aku warga baru blog dan kancut. Hehe

    BalasHapus
  3. Cerpennya nyentuh ke hati. Soalnya dulu waktu SMP pernah juga kejebak friendzone. Lumayan nyesek juga.. udah ngarep, tapi ga di tanggep. :)

    BalasHapus