cerpen ;D

Antologi ke-4 (late post)

21.26


Hay guys, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya? Ramadhan udah hampir berakhir nih, tapi si tuan punya badan ini masih asik ngumpulin dosa. -_- Setan kan diiket yah? Trus kalau aku buat dosa, setannya siapa dong? Au ah! Gimana? Udah pada beli baju lebaran? Aku udah aku udah, baru sebiji. Wkwk.

Oh ya, hari ini si Mumun ulang tahun. Cieciee, ulang tahun dang! Habede yaa bebmun. Moga makin aktif, makin pintar, makin baik, dan pastinya makin sholehah. Si ‘itu’ jangan diterima ya kalau emang nggak suka dia. Makin dewasa dan makin semangat berkarya juga. Tawaran nyiar diradio jalan nangka itu trima aja. Lumayan tau! i proud of you ({})  Ah, Ulan-Mumun ulang tahunnya sama-sama Juli. Tepar nih uang aku beliin kadonya -_-  :v

Semalam sekitar jam sebelasan, aku ada di tag photo dari penerbit indis. Ternyata photo antologi ke-empat aku udah dicetak. Antologi ini bareng temen-temen kontributor lainnya. Jadi ceritanya tu aku ikutan lomba yang diadain penerbit indis. Nah, ternyata cerpen aku masuk sebagai kontributor. Ya, Alhamdulillah lah.  Covernya unyu-unyu gimana gitu. Pink. Ini dia penampakan bukunya :

Judul buku : Cinta di Batas Waktu
ISBN : 978-602-1334-17-1
Penerbit : Pena Indis
Tebal : 152 halaman
Harga : 38.000 diluar ongkir. (Bagi ada yang mau mesan bisa lewat aku :D Pre Order nya dari tanggal 23 juli s/d 12 Agustus 2014)

Ada yang berniat mesen nggak? Ayo dong mesen. Hihi. Untuk bikin kalian semakin tertarik dengan antologi ini, aku kasih cerpen aku yang ada di antologi ini deh. Ini juga bertujuan buat mengingat cerpen apa yang aku ikutkan.

*@@@*

Perjalanan Cinta
By : Muthi Haura

            Leo mengepulkan asap rokoknya. Pandangannya menatap langit malam seolah menantang. Lelaki berusia genap dua puluh tahun itu menghela nafas pelan. Ada sepenggal rasa resah disana. Disampingnya, Nika tengah asik menatap bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Membiarkan sang angin bermain-main lembut dengan rambut gadis itu.
           
Nika mematung pelan. Sudah hampir sepuluh menitan mereka berada dalam bisu. Baik Leo atau pun Nika sama-sama tak ada yang membuka pembicaraan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Angin malam Jakarta seolah menjadi saksi keberadaan dua muda-mudi itu.

            “Nik. Sampai kapan kita kaya gini terus? Gue bosan dengan hidup gue. Gue butuh ketenangan batin.” Leo menatap gadis cantik dengan rambut sebahu disampingnya itu. Nika tertawa pelan. Dibuangnya rokoknya yang sudah hampir habis, lalu kemudian menatap tepat dimanik mata Leo.


            “Bosan kenapa? Bukankah hidup seperti ini enak? Bukankah hidup seperti ini yang dari dulu kita inginkan? Freedom! Bebas!” Nika menekankan kalimatnya pada kata ‘Bebas’.  Leo menyunggingkan senyum pahit, lalu kembali menatap langit.

            “Tapi gue nggak pernah ngerasa bahagia Nik. Gue nggak pernah ngerasa sebahagia dulu. Gue–akh!” Leo menjambak kesal rambutnya. “Nik, lo pasti juga merasa gitu kan? Lo nggak pernah ngerasa bahagia kan dengan kehidupan kita yang kaya gini? Kita kaya binatang. Mungkin lebih buruk.” Leo melanjutkan kalimatnya.

            Nika menatap Leo. Mencoba mencari maksud dalam setiap kalimat yang baru dilontarkan Leo. “Nggak, gue bahagia!” Ucap Nika. Leo menatap Nika. Mencoba menelusuri wajah gadis disampingnya.

            “Gue tau lo nggak bahagia! Nik, suatu hari nanti lo bakal jadi seorang Ibu. Suatu hari nanti lo bakal menua. Suatu hari nanti lo bakal menemui yang namanya kematian. Ingat Nik, kematian itu pasti.” Leo berdiri dan kemudian mencium kening Nika. “Lelaki yang baik hanya untuk perempuan yang baik, Nik.” Ucap Leo sembari berjalan meninggalkan Nika.

            Nika tertegun dalam diamnya. Pandangannya lekat tertuju pada Leo, saudara kembarnya. Entah kenapa kata-kata Leo dibenarkannya juga didalam hati. Ya, jujur gue nggak ngerasa bahagia dengan semua ini. Nika memandangi langit malam, lalu kemudian berjalan memasuki kamar kosnya.
*@muthiiihauraa*
            Leo berdiri didepan sebuah mesjid. Entah kenapa langkah lelaki itu bisa terhenti disini. Suara bacaan ayat suci Al-Qur’an menyentuh batinnya hingga membuat lelaki ganteng blasteran Indonesia-Jerman itu ingin menangis. Kejadian seminggu yang lalu masih terekam jelas dimemori otaknya. Kejadian yang meninggalkan luka dibenak lelaki berwajah ganteng itu.


            Leo dan Fian tengah asik dengan minuman kerasnya. Dua lelaki itu tertawa sambil sesekali bertosh ria. “Gila! Lo liat nggak tampang dia tadi man! Menggenaskan banget. Gue puas.” Fian tertawa sumbang, begitu juga dengan Leo. Kedua sahabat itu begitu bahagia karna berhasil membunuh salah satu musuh bebuyutan mereka.

            Tiba-tiba lima belas motor mengepung Leo dan Fian. Wajah Leo memucat seketika, begitu juga dengan Fian. Pertempuran yang tak berimbang tidak bisa dielakkan. Dengan sekuat tenaga, Leo melawan musuh-musuhnya dan berhasil kabur. Tapi tidak untuk Fian.

            Leo berlari dan berlari. Ia dikejar oleh sebagian diantara mereka. Semua kesalahan masa lalu terngiang-ngiang dibenaknya. Wajah almarhumah ayah dan bundanya muncul, membuatnya semakin merasa bersalah.

            “Ingat Allah biar hidup kamu selalu tenang nak. Jangan tinggalin sholat. Harta bukan jaminan untuk bisa bikin kamu bahagia.” Ucap ayah dan bundanya dulu. Leo bersembunyi. Setengah jam kemudian, setelah dirasa keadaan aman, Leo kembali menuju ke lokasi. Wajah Fian sahabatnya memenuhi ruang benak Leo.

            “Fiaaan!” Leo berlari menyongsong tubuh Fian yang terkulai lemas dan dipenuhi luka-luka parah. “Maafin gue Fi! Gue bakal bawa lo kedokter.” Ujar Leo. Fian menggeleng lemah.

“Nga..nggak  usah. Gue... takut. Aapa ya..yang ba..kal gue ja..wab untuk mene...mui-Nya?” Fian berkata terbata-bata. Siratan matanya memantulkan kesakitan yang teramat sangat. Leo merinding.

Leo menghapus kejadian itu dari benaknya dan kemudian menghembuskan nafas pelan. Dengan langkah pasti, Leo berjalan memasuki mesjid. Bismillah. Tekadnya bulat.
*@muthiiihauraa*

Nika mondar-mandir dikamarnya. Mau tak mau kata-kata Leo tadi mengganggu pikirannya. Bahagiakah gue? Tidak! Pergejelokan batinnya kian memanas.  “Nika, wanita sholehah bak mutiara didasar laut. Tak selalu putih terkadang terbungkus lumut. Didalam cangkangnya ia senang berada, menjaga diri dan tak mudah digoda. Nak, jadilah wanita sholehah yang kelak akan membuat bidadari surga iri.” Kata-kata almarhumah bundanya terus terngiang-ngiang dibenak Nika.

Bayangan masa kecil menghiasi memori otak Nika. Terekam jelas disana saat ia dan Leo berlari kemesjid setiap sore untuk belajar Al-Qur’an. Jilbab yang dulu selalu menghiasi kepalanya, ia lepas begitu saja. Semua ajaran dari kedua orang tuanya seakan lenyap entah kemana.

“Kecantikan wanita itu terletak dari caranya melihat kehidupan dan berdiri pada prinsip yang sering bertolak belakang dengan prinsip dunia. Jadilah wanita yang dihargai lelaki, bukan jadi pelampiasan lelaki.” Lagi-lagi kata bundanya tergiang-giang. Tiba-tiba ada rasa sesak dihati gadis cantik itu. Semua yang ia lakukan dengan sederet mantan pacarnya membuat perasaannya kian sesak. Ya Allah, maafkan aku. batinnya lirih. Selirih hidayah yang kian menyapa hatinya dan juga hati Leo. ***

*@@@*

Itu dia cerpen yang masuk di antologi ini. Bagus nggak? Kasih kritik dan saran boleh juga ;) Cerpen aku itu Cuma salah satu isi dari antologi itu. Ada 33 cerpen lagi dari kontributor lain yang pastinya lebih bagus dan lebih menggugah. 33 kontributor dalam buku antologi cinta di batas waktu : Fathorrozi, Mukhdariah Madjid, Illah Anriani, _el Syarif, Najma al-Firdausy, Mulyono Adriansyah, Bunga Sholekha, Mujiburrahman, Widi Asokawati, Tri, Rasmah Nursira, Fitra Irena, Rifqah HK, Putri Meila, Mei Wulandari, Rere Zivago, Maula Kaia, Iral Juni, Asriana, Zulaehatus Sofiyah, Lenni Ika Wahyudiasti, Ast Ardhany, Faiyaz Aiman, Esy Suwarsih, Nifa Kurnia Fahmi, Ayu Kristiana, Elnina Zee, Rahma Hayati Harahap, Sasminal, Inayatur Rosyidah, dan Lusi Susanti.

Keren nggak tuh? Mantep kan? selain itu aku juga dapat sertifikatnya. Tetep unyu juga. Pink. 


Alhamdulillah udah empat antologi, masih sedikit sih dibandingin Kak Meykke atau kakak-kakak lainnya. Tapi tetep Alhamdulillah aja. Makin semangat Muth! Hilangkan rasa dan sifat malas tu. Orang sukses adalah orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri. Berdo’a + berusaha + yakin + disiplin + ikhtiar = sukses. Insya Allah. Selalu ada jalan buat orang yang berusaha kan?

Oke, mungkin sekian dulu dari aku. no copas-copas ya, sejelek apa pun karya aku, tetep aja nggak pengen ada orang yang mengakui-akuinya. Emang ada yang mau copas Muth? Pede deh. Entahlah. Hargai karya anak bangsa dan tunjukkan karyamu! Salam hangat, @muthiiihauraa
24 Juli 2014. 05.52 WIB.


You Might Also Like

28 komentar

  1. Muthi... selamat yaaa... keren cerpennyaaa... semangat teruss

    BalasHapus
  2. Keren mba. Asli deh serius deh :) Goodluck mba

    BalasHapus
  3. wah selamat ya kak, buat antologi yang ke 4 ini. Semoga makin suksesss, dan bisa bikin buku sendiri juga hihihi.
    Cerpennya bagusss kak, gak tau mau ngomong apa kalo udah bagus mah. :)

    BalasHapus
  4. Ciee yang baru ngeluarin antologi, bisa dong ngadsin giveaway /uhuk/ /nyari gratisan/ hha

    BalasHapus
  5. Widih selamat ya.. udah yang ke-4 aja. keren

    saya gak terlalu paham sama cerpen, kalo sebagai pembaca saya sih menikmati cerpennya. Jangan berpatokan sama si Meyyke, dia emang gak bisa dibilangin lagi deh.. liat lah kebawah, masih banyak orang yang belum punya buku. Salah satunya saya. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha. okee bang. makasiih :D
      semangat buat abang semoga bisa punya antologi jugaa :)

      Hapus
  6. wah, kerenn..
    selamat ya..
    udah yg ke 4... saya satu aja belum..

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha. makasiih yaa. semangat juga buat kamu :)

      Hapus
  7. Wahh kece nih cerpennya, udah yang ke 4 lagii, selamat ya lanjutkan sist.

    BalasHapus
  8. walaaah, udah ke empat aja nih.
    aku aja satupun beloom..
    selamat dan semangaat :)

    BalasHapus
  9. wah, hebatnya :)
    selamat ya

    lanjutkan!!

    BalasHapus
  10. keren udah antologi ke 4. aku malah belom samsek hehe
    semoga aku juga cepet nyusul deh.

    BalasHapus
  11. btw, selamat ulang tahun yaa buat si Mumun hehe.

    waaah, selamat yaa, udah nerbitin buku antologi yang keempat aja nih. tetep semangat yaa nulisnya.

    kalau boleh aku saran, sebenernya cerpen kamu yang lolos itu jangan ditulis di blog, biar mereka kepo aja sama ceritamu terus mereka beli bukunya. tapi, terserah kamu juga sih, gaada yang ngelarang juga kok hehe. tapi kalau kamu nulis cerpennya disini buat minta kritik sama saran yaa gapapa juga. sekali lagi selamat yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasii, nanti disampaikan ke Mumun :)


      aku nulis d blog emang minta kritik dan saran. hehe. makasi sarannya. :D

      Hapus
  12. Selamat yaaaa.. Ada namaku jg lhoo di karya itu hehehe

    BalasHapus
  13. yeee selamat ya. hebat ya udah 4 antologi, aku belum satu pun haha :D
    pesan cerpennya keren ;)) trus alurnya jelas juga ;))

    BalasHapus
    Balasan
    1. semangat buat kamu :)
      makasii ya :)

      Hapus
  14. hai Muthia,,, maafkan diriku yang baru sempat meninggalkan jejak di mari wah tahu2 antologi bukunya udah yang keempat aja nih... wuih saya tertinggal jauh nih hehe,,, tapi good luck semangat trus berkarya,,, cerpennya bagus,, mengalir,,, :) Wah buku antologinya samaan yah dengan kak Mei :D sekali lagi selamat^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hay kak Zie, trimakasih udah mampir :)
      makasi, kakak nyusul ya :D

      Hapus