Lelaki itu...

23.47 Muthi Haura 6 Comments

Hay guys, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya? Wah udah Oktober aja. welcome Oktober! Duh cepat banget waktu berlalunya ya. Sebelum aku ngebahas judul entry ini, aku mau curhat dulu deh ya? Boleh kan? Boleh dong!

Hari ini ya seperti biasa ngampus. Cuma satu mata kuliah. Retorika. Aku pernah cerita kan tentang retorika? Sedikit mengulas, retorika itu adalah seni berbicara yang dimana pembicaranya itu tunggal. Ah, suka banget sama mata kuliah ini, apalagi dosennya mantap banget dalam menyampaikan materinya.

Minggu kemaren pas pelajaran retorika, aku dibikin nangis. Iya, bapak itu ngasih motivasi gitu, trus nyangkut-nyangkutin ke orang tua, tersentuhlah hati aku. Dan hari ini retorika juga nyenengin. Pas aku selesai tampil, bapak itu bilang gini : “Muthi ini dari awal masuk sampai sekarang paling berani tampil. Untuk minggu depan bapak harapkan saat maju Muthi bisa berjalan kesayap kiri atau sayap kanan. Bla bla bla.”

Oke pak, siap dilaksanakan! Bisa Muth? Pasti! Kalau jelek atau salah ya nggak papa, namanya juga belajarkan? Broadcast C ini beda banget dengan F, dulu anak kelas F pada aktif-aktif, sedangkan BR C kurang, tapi hari ini udah mulai banyak yang aktif dibanding hari-hari sebelumnya.

Tadi juga pas belajar retorika ada fenomena yang sangat menggugah hati. Ceritanya gini, ada teman aku cewek disuruh maju kedepan. Dia cerita tentang masalahnya sama sahabatnya. Intinya dia berantem sama sahabatnya hanya gara-gara hal sepele hingga sampai sekarang kedua sahabatnya itu nggak mau bertegur sapa dengan dia. Parahnya mereka sekelas juga di BR C. Bapak dosen nyuruh sahabat-sahabat si cewek ini maju. Setelah sahabat-sahabatnya maju, cewek ini nangis sambil meluk sahabat-sahabatnya. Kami sekelas terharu banget.

Sebenarnya aku tau masalah mereka sebelum belajar retorika ini. ya ada diantara mereka yang cerita sama aku. Senang ngelihat mereka bisa baikan lagi. :D Aku juga sempat motoin pas mereka pelukan, pengen ngeletak di blog, tapi kayanya nggak deh soalnya itu dijadiin privasi kelas aja.

Satu hal yang aku ambil dari peristiwa itu bahwa memang dalam persahabatan pasti bakal ada pasang surutnya. Bahkan hal ‘kecil’ pun bisa jadi masalah.  Tapi bukan berarti masalah kecil itu bikin kita menjauh dari sahabat kita kan? Jangan bersifat childish yang dimana kamu harus selalu benar atas sahabat kamu. Jangan childish juga Muth ngelihat sahabat kamu dekat dengan orang lain atau punya sahabat baru. Jujur sih kemaren aku sempat kesal karna ada orang baru diantara Mumun-Ulan. Orang baru itu langsung mendeskripsikan nama mereka bertiga tu WUNAMU. Wulan-.......-Mumun.

Ah maafin aku yang childish ini ya woi! Kalau pun WUNAMU itu memang ada, aku nggak papa kok. Setiap orang berhak punya sahabatnya sendiri kan? Trus bapak dosen kami juga tadi bilang kalau : “Punya 1 musuh itu terasa banyak, sedangkan punya 1000 sahabat masih terasa sedikit.”

Aku setuju banget. Aku juga nggak pengen punya musuh, makanya aku selalu berusaha buat bersikap baik atau ramah sama semua orang. Tapi kalau memang masih ada juga yang nganggap aku jahat, sombong, kadang kalau ketemu nggak nyapa, atau sifat buruk lainnya, maka dengan sangat aku minta maaf. Minta maaf banget. Nggak ada niat buat sombong atau sebagainya, maklumlah aku manusia biasa, kadang kalau ketemu juga nggak ngelihat. Maafinkan yah? :D

Dan kalau memang masih ada rasa benci dihati kalian buat aku, mungkin karna kalian nganggap aku perusak hidup kalian, aku nggak tau mau gimana lagi. itu terserah kalian. ya, mau gimana lagi, aku juga nggak bisa buat maksa semua orang buat suka aku kan? siapa aku gitu? Haters itu emang selalu ada. Dan buat kalian, aku nggak pernah nganggap kalian jahat kok :D kalian itu siapa Muth? Entahlah, aku juga nggak tau. Kali aja ada.  

Tadi pas ketemu Mumun, langsung peluk Mumun. Trus aku cerita hal yang nggak penting, salah satunya cerita tentang retorika. Endingnya aku bilang gini ke Mumun : “Aku nggak mau kehilangan kamu.” Aaa, cwit kan? cwit apaan tuh? Lebai iya Muth!

Wah curhatannya kepanjangan. -__- oke, langsung ke tentang lelaki itu...
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*
Lelaki itu...



Lelaki itu adalah lelaki terbaik dalam hidupku. Lelaki yang tentu saja sangat aku cintai. Aku mencintainya-menyayanginya. Sangat! Tapi terlalu sering aku menggoreskan luka dihatinya. Menggoreskan kesedihan didalam batinnya, padahal sedikitpun nggak ada niat untuk menyakitinya, karna lelaki itu berharga. Teramat berharga. Bahkan jika ada penawaran untuk menukarkan dengan emas seiisi bumi pun, aku nggak akan mau.

Lelaki itu mengajarkan aku banyak hal. Memberikan berjuta kisah dalam hidupku. Lelaki itu jugalah yang membuatku  termotivasi untuk maju. Lelaki itu ayahku. Abaku. He is my father. Lelaki terbaik dalam hidupku.



Terlepas dari persepsi orang tentang ayahku, tetap saja bagiku dia lelaki terbaik. Dia memang nggak pernah memberiku harta benda, tapi dia memberikan lebih dari itu. Dia ajarkan kami untuk mandiri, untuk bersabar dalam mendapatkan apa yang kami inginkan, untuk terus mendekati Allah. Dia memang belum bisa membelikanku mobil atau motor atau  kamera dan atau atau lainnya seperti ayah-ayah kalian, tapi percayalah dia telah memberikanku lebih dari sekedar harta benda itu. Dia membentukku dan adik-adikku menjadi orang yang mandiri. Menjadi orang yang minta sesuatu nggak langsung dapat, tapi harus usaha sendiri dulu, itulah membuatku untuk terus termotivasi untuk maju. Untuk sukses.

Dia selalu bilang bahwa sesuatu yang didapat dengan usaha sendiri itu jauh lebih nikmat. Jauh lebih kerasa. Lelaki itu benar. Aku ngerasainya. Ngerasai kepuasan saat aku mendapatkan barang atas hasil usahaku sendiri. atas keringatku sendiri. Rasanya itu luar biasa! Sedikit apa pun sesuatu yang aku dapat, jika itu usaha sendiri rasanya beuh (y)

Lelaki itu juga nggak pernah memarahi disaat kami mendapatkan nilai jelek. Aku masih ingat saat masa sekolah dulu. aku sering banget dapat nilai rendah yang mengakibatkan aku telah meletakkan lelaki itu diurutan sepuluh terakhir saat pembagian lapor. Jadi pas sekolah itu, orang tua dipanggil berdasarkan urutan rangking anaknya. Kalau anaknya juara, berarti orang tuanya dipanggil diurutan awal. Dan aku dengan teganya meletakkan lelaki diurutan sepuluh terakhir.

Setelah pembagian lapor, aku menghampirinya. Tak sedikitpun ada rasa kecewa diwajahnya. Lelaki itu hanya tersenyum, aku yang bahkan ingin menangis dibuatnya. Dan dia malah menenangkanku. “Udah nggak papa. Nilai itu nggak berarti apa-apa kok, asal kakak jadi anak sholehah aja. Ngapain bangga nilai tinggi dimata manusia tapi rendah dimata Allah, ya kan?” ujarnya waktu itu. Sejak itu aku berjanji, aku akan membahagiakannya. Aku harus membahagiakannya!

Engkaulah nafasku
Yang menjaga didalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik

I love you Aba! You are my everything for me. Thanks for all. Makasih untuk semuanya. Semua yang telah Aba ajarkan didalam hidup kami. I love you so much! Izinkan aku membahagiakanmu. Mencetak senyum diwajahmu.

Mungkin sekian dulu dari aku, salam sayang untukmu Aba dari anakmu ini yang bukan siapa-siapa tanpa kehadiranmu, @muthiiihauraa.
2 Oktober 2014. 13.27 WIB


Baca Artikel Populer Lainnya

6 komentar:

  1. Nyentuh ceritanya, nyampe gue keinget sama ayah. Emang ayah dan ibu adalah sosok yang paling spesial kedua setelah Tuhan.

    BalasHapus
  2. Bahahak muth, aku ngakak begitu baca 'wah curhatnya kapanjangan ya"

    Iya nih jadi ke inget sama ayah. Kurang akrab soal nya, apa apa selalu sama orangtua perempuan hmm. Nice post muth.

    BalasHapus
  3. Ayah kamu tau bagaimana cara membuat anaknya merasa tenang dan nyaman, saat dapet nilai jelek bahkan ayah kamu pun tetap memberikan supportnya...
    semoga ayah kamu sehat selalu.. dan berjuanglah terus buat bikin ayah bangga~

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Membaca ini, gue jadi inget momen-momen bersama bokap. Sewaktu masih kecil, ketika bokap pulang kerja, gue selalu aja berteriak kegirangan "Papa, pulang... Papa Pulang". Dan sekarang rasanya udah banget kayak dulu.

    Ayahmu beruntung sekali punyak anak seperti kamu muth, yang selalu bangga dan ingin selalu membanggakannya. Dan kamu punya juga berutung mempunyai ayah yang selalu mensupport kamu, Muth. :')

    BalasHapus
  6. mbrebes mili mbak kalau ngomongin kedua orang tua, jasanya begitu besar dan tidak bisa dinilai dengan apapun....
    salam kenal yuli...

    BalasHapus