iseng-iseng :)

Kamu

17.03



Lagi-lagi tentang kamu. Lagi-lagi menuliskan sosok kamu pada diary dunia mayaku. Maaf untuk selalu menjadikanmu sumber insfirasi dalam tulisanku. Susah banget ngejauh dari kamu itu. Susah banget ngejauhin orang yang disayang. Alay memang. Huh!

Seharusnya kamu itu aku buang, karna kamu belum pantas memenuhin isi kepala aku. Menyemak tau nggak! Tapi aku bisa apa kalau ngebuang kamu itu susah banget? Aku tak pernah menyangka bahwa satu kelasnya kita di PB dulu membuat kedekatan kaya gini. Sesuatu yang diluar jangkaunku. Aku belum siap terbakar api cinta terlalu dalam. Aku belum ingin memunculkan angan-angan bahwa kamu lelaki yang aku pilih. Masih terlalu jauh. Aku masih ingin fokus pada mimpiku.

Membuangmu ternyata memang tak mudah. Kamu dengan celotehanmu selalu mampu membuatku senyum-senyum sendiri. Ketemu kamu dikampus aja membuatku sedikit miring. Akhir-akhir ini hobby baru kamu selain game adalah mengomentari setiap dp yang aku pakai. Kamu bilang cicaklah, trio macan, ceribele, trio kwek-kwek, dan sebagainya. -_-  Tidak penting banget sebenarnya, tapi aku malah tertawa.

Pernah waktu itu kamu minta diajarkan menulis dan aku malah tertawa mendengarkan permintaanmu sambil bergomentar seadanya. Mungkin bagi aku menulis itu gampang, tapi tidak bagi kamu. Menulis bukan passion kamu. Mungkin kamu lebih senang berlama-lama didepan game karna kamu seorang gamers atau memancing berjam-jam.

Kemaren juga saat kamu bertanya aku sedang apa, dengan PD-nya aku jawab : lagi makan, pengen gemukin badan. Hal yang tidak pernah aku ungkapkan pada siapapun, kecuali orang terdekatku. Dan respon kamu apa? Kamu malah tertawa. Menertawakanku. Anehnya aku tidak marah ataupun kesal. Diakhir malam itu, kamu memberiku saran untuk makan atau ngemil ditengah malam. Huh, aku sudah tau itu bahkan sebelum kamu mengatakannya.

Malam ini kita berdebat tentang angka satu, berawal dari dpku yang pose tanganku  berbentuk angka dua. Kamu bersikeras mengatakan bahwa angka satu itu milikmu dan aku juga bersikeras berpendapat bahwa angka satu punyaku. Ya, aku dan kamu sama-sama terlahir diangka satu. Kamu bilang, aku ikut-ikut kamu. Aku bersikeras bahwa kamu yang ikut-ikut aku lahir diangka satu, padahal kamu lahir ditahun 1994 yang berarti kamu duluan yang memiliki angka satu. Nyatanya memang aku tak mau kalah dan akhirnya kamu mengalah dengan alasan bahwa kalau jika aku yang kalah, kamu tidak memiliki permen untukku.

Sudah banyak cerita tentangmu diblog ini dan aku malu jika suatu hari nanti kamu membacanya. Apapun yang terjadi, tetaplah menjadi kamu yang aku kenal. Maukan menjadi sahabatku? Ya, cukup sahabat. Aku akan membuang rasa ini. Bukankah persahabatan lebih bagus ketimbang status lainnya? Trimakasih untuk kenangan indah yang kamu lukis. Trimakasih untuk telah menutup mata atas semua kekuranganku. Trimakasih tlah menjadi salah satu lelaki terbaik dalam hidupku. Sukses bareng-bareng ya! See u at the top! Dan jika suatu hari nanti aku sukses, nama kamu juga pasti akan ada didalamnya.

Senin, 16 Februari 2015. 23.00 WIB.

You Might Also Like

1 komentar

  1. Wah cerita unik masa muda, banyak kisahku seperti itu duu. Malu untuk mengungkapkan, tapi ada kenangan indah yang masih terasa samopai sekarang. Indah dan menyenangkan setiap saat sealu bersama :)

    BalasHapus