[Lomba blog pegipegi] : Pulau Weh, Pulau Impian

18.04 Muthi Haura 5 Comments



Haura duduk termenung diteras rumahnya. Gadis mungil itu memeluk lututnya sendiri. Tatapan mata gadis itu menerawang pelan. “What’s wrong?” Thian yang duduk disamping Haura bertanya. Lelaki itu ikut mengedarkan pandangannya kearah apa yang dilihat Haura. Kosong. Tatapan itu tak bermakna.
“Kenapa sih?” Thian mengulang pertanyaannya sembari menyenggol pelan lengan Haura. Gadis itu tersadar dan gelagapan, lalu buru-buru merapikan posisi duduknya. “Haa? Eh nggak papa.” Haura menyunggingkan sedikit senyumnya.
Thian menghela nafas, merasa bingung. Merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis disampingnya. “Kayanya lo butuh travelling deh. Stress banget kayanya.” Thian mengajukan usul.
Haura menatap Thian. Mata gadis itu berbinar-binar. “Lo mau biayain gue?” tanya Haura polos. Thian cemberut. “Dasar mental gratisan! Ya nggaklah, emang uang gue banyak apa?”
Haura manyun, lalu kembali menatap kedepan dengan tatapan kosong. Jeda. Lagi-lagi tak ada percakapan berarti diantara mereka. Sibuk dengan pikiran masing-masing. “Gue pengen ke Jepang.” Thian kembali membuka suara setelah keheningan menghinggapi mereka. Gadis disampingnya menatap sekilas.
“Kenapa?”
“Pengen liat negara nenek moyang lo.” Ujar Thian tergelak. “Hey, gue asli Indonesia!” jawab Haura. Thian semakin mengencangkan tawanya. “Mata lo itu nggak bisa bohong.”
Haura mendesis kesal, lalu kembali hening. Thian menggaruk kepalanya yang tak gatal. Merasa bingung harus bagaimana lagi membuat gadis disampingnya tertawa. “Gue pengen kepulau Weh, lebih tepatnya ke Iboih.” Ucap Haura.




“Haa? Kenapa? Masih aja kepengen kesana.” Thian mengernyitkan dahi. Pulau Weh yang terletak di barat laut pulau Sumatra entah kenapa selalu menarik perhatian Haura.
Haura menatap Thian. “Kenapa? Ya karna gue belum pernah kesanalah. Lagi pula kata orang, matahari di Iboih itu mirip surga.” Bola mata Haura berbinar, seakan-akan gadis itu sudah merasakan sensasi berada dipulau Weh.
“Lombok juga gitu kok, Raja Ampat apa lagi.”
“Tapi aku pengennya ke Pulau Weh. Indah banget disana. Pasti asik!” Haura menerawang. Lagi-lagi dengan mata berbinar. Thian menatap gadis disampingnya, lalu kemudian lelaki itu tersenyum. “Oke, ayo kita kepulau Weh!”
“Haa?”
“Kok tanggapannya malah bengong gitu sih? Nggak ada ekspresi yang lebih indah apa?”
“Lo serius? Kepulau Weh? Kapan? Haura bertanya dengan tatapan serius. Thian menghela nafas. Mencoba sabar dengan kepolosan sahabat dari masa kecilnya ini. “Iya liburan inilah. Masa tahun depan sih? Lo ini! Entar kita ajak juga yang lain.”
“Serius?” Haura masih bertanya dengan tatapan polos, membuat Thian menepuk keningnya sendiri. “Iya!” jawab cowok itu tegas. Haura bangkit dari duduknya, lalu loncat-loncat kegirangan khas anak kecil. Thian hanya tersenyum sekilas melihat tingkah sahabatnya itu, lalu kemudian menggeleng pelan. Dasar bocah kecil!
*@@@*
“Entar kita pesan tiketnya dimana? Trus nginap dimana? Gue ajak Ulan sama Mumun ya? Aaak, gue nggak sabar kesana!” Haura berceloteh ria disamping Thian yang tengah sibuk dengan laptopnya.
“Pasti seru banget ya kan Ian? Entar gue mau nyelam ah disana, trus mau bertelanjang kaki buat ngerasain pasir putihnya. Ngelihat pemandangan malam disana, pasti seru banget! Nggak sabar-nggak sabar-nggak sabar!” ucap Haura. Pancaran mata gadis itu menunjukkan kebahagiaan.
Thian tak merespon, masih asik dengan laptopnya. “Lo dengerin gue nggak sih?” Haura menatap Thian, lalu menyenggol lengan cowok jangkung itu. Thian menatap Haura dengan kesal. “Aduh lo bawel banget! Udah sana dulu gih, gue mau cari tiket pesawat nih dan hotel penginapan.”
“Itu aja repot. Pesan aja di Pegipegi.com. Gampang, cepat, dan terjamin!” Haura berpromosi. Thian mengernyitkan dahi. “Blog apaan tuh?”
“Nah kan keliatan kalau lo itu nggak gaul. Bukan blog, tapi web. Coba deh buka webnya di pegipegi.com. Lo bisa e-mail pegipegi di cs@pegipegi.com atau BBM di 2Oc3914C atau telpon ke (021) 3000 7777.” Haura menjelaskan tanpa jeda.



pegipegi.com

“Pokoknya lo beresin semua ya. Minggu depan kita go! Gue hubungin Ulan sama Mumun dulu.” Haura memberikan ultimatum, membuat Thian menatap gemas bercampur sedikit kesal. “Memang lo itu cewek paling tega yang pernah gue kenal!”
Haura terkekeh mendengar pernyataan Thian. “Lo kan sahabat gue yang paling baik dan so sweet Ian! Makasih banget ya udah nemenin gue selama ini. Makasih juga karna lo menutup mata atas semua kekurangan gue.”
“Cih, lo sok mendramatisir!” Ujar Thian. Haura cemberut sembari memukul lengan lelaki itu. “Dasar lo cowok nggak ada romantisnya! Kasian cewek yang dapetin lo ya.” Haura mendengus kesal sembari berlalu meninggalkan Thian diteras kosnya.  
*@@@*
“Aaaak. Akhirnya kita kesini juga. Indah banget!” Haura berlonjak kegirangan setelah kakinya baru saja turun dari taksi yang dicarter dari pelabuhan Balohan menuju pantai ini. Ulan dan Mumun ikut-ikutan berlonjak kegirangan, melupakan koper-koper yang seharusnya mereka bawa.
 
                                                                Iboih


Thian menghela nafas, lalu kemudian menggeleng pelan. Ya Tuhan, mimpi apa gue ngajak jalan bocah-bocah kecil nan norak ini? Thian berguman sembari menurunkan koper-koper dari taksi carteran.
“Hooi norak! Koper-koper kalian bawa sendiri nih!” Thian menegur ketiga cewek dihadapannya yang seperti anak kecil, membuat cowok itu sedikit malu atas kenorakan sahabat-sahabatnya itu.
“Iya, lo bawel deh Ian.” Mumun meraih kopernya, lalu menarik koper berwarna hitam miliknya. “Bawain koper gue dong Ian! Gue laper nih, kepengen makan nasi goreng boga bahari nih.” Kata Haura.
“Ara! Bawa sendiri dong. Nggak lihat apa barang gue juga banyak.”
“Dih ketus banget! Cuma becanda kok!” Haura meraih koper birunya dan lagi-lagi membuat Thian menatap dengan kesal. “Untung lo sahabat gue sejak kecil, kalau nggak udah gue lelepin lo kepantai biru ini!”
*@@@*
Haura berjalan-jalan sendirian dipasir putih pantai. Menatap kearah laut biru sembari tersenyum. Air laut yang biru jernih terlihat seperti lapisan kaca yang berkilaun tertimpa sinar matahari. Gadis mungil itu mengagumi setiap inci pemandangan yang terhampar didepan matanya sembari mengucap syukur.
Alhamdulillah akhirnya bisa kesini juga! Indah banget. Sesuai dengan misi gue kesini untuk menikmati pemandangan indah dan nantinya akan gue promosikan pada teman-teman diluar negri bahwa Indonesia nggak kalah dengan luar negri. Haura berucap didalam hati.
“Besok kita ke bunker Jepang. Ngelihat matahari tenggelam disana indah banget. Perpaduan warna biru, oranye, kelabu, dan kuning dari cahaya matahari yang menyusup diantara awan adalah pemandangan yang sangat luar biasa.” Thian yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping Haura, membuat cewek itu menatap kaget.
“Thian? Sejak kapan disini?”
“Sejak tadi kali! Lo kan kalau udah ngelamun lupa semuanya. Eh Ulan sama Mumun mana?” Tanya Thian sembari menatap kebungalo tempat kami menginap yang didesain seperti rumah panggung.
“Tidur. Kecapean kali. Sayang banget jauh-jauh kesini, eh merekanya malah tidur.” Kata Haura, membuat Thian tertawa mendengarnya. Haura terpaku menatap keindahan yang terpampang luas dihadapannya. Sesekali terucap asma Allah ditengah kekaguman gadis itu akan keindahan Iboih.
Indah banget! Tuhan, izinkan gue suatu hari nanti untuk kembali kesini bersama seorang yang gue cintai dalam balutan pernikahan. Haura membatin didalam hati. Tatapan gadis itu terfokus lurus kelaut dan matahari yang hampir tenggelam.
Tanpa gadis itu sadari, sesosok bermata elang disampingnya tengah menatapnya dengan tajam. Tuhan, izinkan gue kesini lagi bersama gadis disamping gue ini yang gue cintai diam-diam. Thian berbisik penuh harap. Dua doa yang berbeda itu menembus batas kelangit bersama dengan terbenamnya matahari. Menyampaikan asa dua muda-mudi itu.
*@@@*
“Mumun! Ara! Tungguin gue dong!” Ulan terengah-engah saat menaiki tangga bunker Jepang. “Cepet Lan!” kata Mumun berteriak memberi semangat. Haura tak menjawab, pasalnya mata gadis itu kini sudah tertuju pada dinding bunker Jepang yang berisi tulisan-tulisan. Kebanyakan dari tulisan-tulisan itu adalah nama sepasang kekasih ditambah lambang love ditengahnya.
 Bunker Jepang


“Norak deh, ngina yang jomblo aja.” Komentar Mumun saat gadis itu sudah berada disamping Haura. “Kalian itu aja yang norak, makanya cari cowok dong!” Thian berkomentar.
“Lo itu cowok, sekali komentar nyelekit ya!” Haura berucap ketus sembari berlalu dari hadapan Thian dan Mumun. Haura berjalan kearah sisi terdepan bunker dan betapa takjubnya gadis itu saat bisa melihat air laut secara jelas dari atas sini, lengkap dengan gradasi warna yang terlukis membentang dicakrawala.
“Jadi dulu para penjajah Indonesia antara lain Portugis-Belanda-Jepang saling berebut untuk menguasai pulau sabang ini karna letaknya strategis diantara Samudra Hindia dan Selat Malaka.” Samar-samar Haura mendengar penjelasan seorang pemandu wisata yang berada tak jauh darinya, membuat gadis itu manggut-manggut mengerti.
“Panteslah jadi rebutan, secara ini pulau indah banget.” Komentar Haura.
*@@@*
“Siap menyelam?” Thian bertanya dengan semangat. Dibelakang lelaki itu bertiga tiga orang gadis yang juga sama semangatnya dengan Thian. Saat ini mereka tengah berada di Gapang Beach. 

Gapang Beach

sunrise di Gapang Beach


Thian meloncat kedalam laut. Semakin dalam dan dalam, hingga lelaki itu melihat sesuatu yang sangat indah. Ikan mola-mola dan red gurnard berenang didekatnya. Mola-mola adalah ikan raksasa yang biasa disebut sunfish, nyaris tidak memiliki ekor dan sirip seperti pada ikan umumnya, tapi memiliki cavus (sirip yang menyambung dari bagian atas hingga bawah perut). Ikan mola-mola ini sering mendekati manusia yang sedang snorkeling atau diving, termasuk ikan tidak berbahaya karna makanannya adalah ubur-ubur.
Sedangkan red gurnard adalah ikan bersayap yang termasuk famili Triglidae. Memiliki kepala dan mata yang besar, juga jari dibawah tubuh yang fungsinya sebagai sensor. Umumnya berwarna merah terang. Gue ngerasa seperti berenang di akuarium raksasa dengan airnya yang berwarna biru cerah. Thian berujar didalam hati.
Sedangkan diatas sana ditepi pantai, ketiga gadis sahabat Thian masih asik beradu mulut. “Lo duluan deh yang loncat kedalam Lan!” Haura memberi usul sembari mendorong tubuh Ulan.
“Eeh Mumun ajalah, kan Mumun yang paling muda diantara kita! Yang paling muda didahulukan.” Jawab Ulan. Mumun mengernyit. “Kok gue sih? Nggak mau. Lo dong, Ra! Ayo cepetan!”
“Kok gue? Eeh, mending hompimpa aja deh ya!” Haura memberi saran. “Eeh dari tadi hompimpa mulu tapi nggak ada hasilnya juga. Lo takut ya, Ra?” Mumun menyelidik sembari mengacungkan jari telunjukanya.
“Enggak kok. Si Thian aja berani, gue juga beranilah!”
“Ya udah, buruan terjun!” Kali ini Ulan ikut-ikutan memojokkan Haura. “Kok gue malah dipojokin sih? Udah ah, gue mau ke lumba-lumba diving center aja deh.” Haura meninggalkan kedua sahabatnya itu dan berlari kearah lumba-lumba diving center, salah satu sekolah menyelam di Gapang Beach.


“Eeh lo penakut Ra!” Mumun berteriak yang sama sekali tak dihiraukan oleh Haura.
*@@@*
Hari ini hari terakhir berada dipulau Weh. Saat ini keempat sahabat itu tengah asik berkeliling Tugu Nol kilometer dengan bersepeda. Tugu Nol Kilometer adalah sebuah tempat yang jadi penanda letak geografis di Indonesia. Tugu ini adalah tugu yang jadi salah satu saksi sejarah negri ini.


Haura menatap kesekelilingnya dengan pandangan sedih, gadis itu menghela nafas pelan. Suatu hari nanti gue bakal kesini lagi kok!

PLETAK!!
            “Awwwh!” Haura tersadar, lalu memegangi kepalanya yang baru saja terkena lemparan penghapus papan tulis. “Kamu kalau tidur nggak usah dikelas saya!” Seorang dosen killer dengan kaca mata tebalnya menatap Haura dengan tatapan sinis dan ketus.
            Haura menatap kesekelilingnya dengan tatapan bingung. “Eng eh, maaf pak!” Jawab gadis itu gugup sembari berharap dosen itu tak memperpanjang omelannya. Dosen berkaca mata tebal itu hanya menghembuskan nafas kesal, lalu kembali melanjutkan ocehannya yang bikin ngantuk.
            Haura kembali menatap kesekelilingnya, lalu pandangannya tertuju pada Ulan dan Mumun yang berada disamping kanan-kirinya. “Lan-Mun, si Thian mana? Kok kita ada disini sih? Pulau wehnya mana?”
            Mumun mengernyitkan dahi, lalu menatap Ulan tak mengerti. “Lo ngomong apa sih, Ra? Thian siapa? Pulau Weh apa?”
            “Kita kan lagi liburan dipulau Weh. Thian! Alexander Thian lho.” Haura menjelaskan. Ulan memegang kening Haura. “Lo sakit? Makanya jangan tidur disiang bolong dan disaat dosen lagi nerangin, mimpi aneh kan jadinya!”
            “Ulan, Mumun, Haura! Kalian keluar sekarang juga dari kelas saya!”
            GLEK.

Sumber :
https://djangki.wordpress.com/tag/pulau-weh/
http://www.indonesiakaya.com/kanal/foto-detail/menelusuri-jejak-sejarah-pendudukan-jepang-di-pulau-weh#3178
http://sardifatravel.blogspot.com/p/blog-page_9820.html
http://www.tripadvisor.com/LocationPhotoDirectLink-g1787388-d1989326-i110875615-Lumba_Lumba_Diving_Centre-Pulau_Weh_Aceh_Sumatra.html
http://santolipatricklifestyle.com/lumba-lumba-diving-center-gapang-sabang-aceh.html
http://www.hanivinside.net/2014/01/titik-nol-kilometer-indonesia.html

Baca Artikel Populer Lainnya

5 komentar:

  1. Baru tau sama tempat ini, kayaknya menarik :)

    BalasHapus
  2. Pulau Weh? Kurang familiar ya dek, harus baca nih informasinya. Suka penasaran. Semoga jadi juara ya dek :)

    BalasHapus
  3. Pulau Weh, jauh, tapi setimpal sama kerenya. Pengennya sih ke sini juga, tapi kalo udah ke Raja Ampat sama Lombok dulu. Amiin. :))

    BalasHapus
  4. Pulau Weh emang terkenal cantik, banyak traveler pun memiliki hasrat untuk berkunjung ke sana . "Wonderful Indonesia" dari ujung barat-timur terpampang segala keindahan ^_^

    BalasHapus