Tidak Malukah?

18.54



Wahai kalian yang rindu kemenangan. Wahai kalian yang turun kejalan. Untuk mempersembahkan jiwa dan raga, demi negri tercinta.

Mereka bilang, mahasiswa itu agen of change. Mereka bilang, mahasiswa itu penggerak perubahan. Mereka bilang ditangan mahasiswalah negara ini kedepannya akan seperti apa. Akan dibawa kemana. Akan dijadikan seperti apa. Benarkah? Tentu saja! Sudah lupakah dengan kejadian Trisakti? Sudah lupakah dengan ucapan bung Karno yang mengatakan : “Berikan saya 10 pemuda, maka akan saya ubah dunia.”

Miris ngelihat mahasiswa zaman sekarang. Kuliah malas-malasan, tugas terbengkalai, malas organisasi, ujian nyontek-nyontekan, karya nggak ada, kerjanya pacaran. Gonta-ganti PM : “Good night sayang”, “Take care beb”, “Love you, honey”, dan kata-kata sejenis lainnya. Lupakah mereka bahwa uang kuliah mereka saja masih ditanggung orang tua? Lupakah mereka bahwa uang jajan saja masih menengadahkan tangan pada orang tua? Lupakah mereka bahwa sekalipun cintanya terbalas, masih ada Allah yang mampu mengubah skenario? Lupakah mereka pada kondisi Indonesia yang saat ini tengah memprihatinkan. BBM naik, bahan pokok naik, dan parahnya nilai tukar rupiah merosot.

Lupakah? Atau pura-pura menutup mata? Halah, sok-sokan kamu Muth! Macam kuliah betul aja. Nggak juga, tapi setidaknya aku berusaha kuliah dengan baik. Guys, Cuma pengen ngingetin aja, bukan berarti aku lebih baik dari kalian. Aku Cuma miris ngelihat mahasiswa zaman sekarang. Seakan-akan ‘agen of change’ itu sudah tidak ada lagi. Aku baru selesai ngebaca buku ‘Menembus batas waktu’. Buku ini punya bang Albert senior aku di Gagasan. Dibuku itu menceritakan tentang bagaimana perjuangan orang-orang dalam pendidikannya. Perjuangan mereka untuk kuliah. Perjuangan mereka untuk bisa meraih gelar sarjana.

Mereka bekerja keras. Berjuang dengan tetes darah dan keringat. Mereka berusaha menikmati setiap prosesnya, karna mereka yakin bahwa proses tak kan pernah menghianati hasil. Karna mereka yakin mereka mampu menembus batas waktu. Karna mereka yakin walaupun memiliki kekurangan dari segi fisik ataupun finansial, mereka tetap akan bisa sukses.

Merinding membaca kisah dibuku itu dan pastinya juga tertampar. Perjuangan mereka luar biasa. Ditengah penyakit yang mereka derita, mereka mampu bangkit. Ditengah keterbatasan finansial mereka, mereka mampu menjadi yang terbaik. Diantara keterbatasan fisik yang mereka alami, mereka mampu membuktikan bahwa mereka bisa. Mereka bahkan membuktikan bahwa mereka lebih hebat dari kita yang memiliki kehidupan yang bisa dibilang normal ini.

Guys, lihat disekitar kita. Masih banyak orang yang tak seberuntung kita yang mampu bangkit. Yang mampu menghasilkan karya. Ditengah keterbatasan mereka, mereka mampu menorehkan sejarah. Awalnya memang mereka dihina, diremehkan, tapi itu semua tidak menghalangi mereka untuk tetap maju. Untuk tetap berkembang menembus batas waktu. Tidakkah kita merasa malu pada mereka? Disaat mereka berusaha keras mencari uang untuk kuliah, sedangkan kita asik berpacaran mesra dengan dia yang belum tentu jadi jodoh kita. Disaat mereka berjalan kaki kurang lebih 15 kilometer untuk sampai kesekolah atau keuniversitasnya, sedangkan kita asik melenggang dengan motor atau mobil mewah yang HASIL PEMBERIAN orang tua kita. Disaat mereka belajar dengan tangan atau kaki yang tidak lengkap, sedangkan kita asik berhaha-hihi dengan teman disaat dosen tengah menerangkan materi kuliah.

Tidakkah kita malu? Tidakkah malu? Atau rasa malu sudah tertutup? Dan disaat mereka mencapai kesuksesan atas kerja keras mereka, kita malah menuding Allah. menuding seakan-akan kenapa kita yang ‘lebih’ tidak seberuntung mereka. Menuding dan merasa Allah tidak adil. Padahal kitalah yang tidak adil pada diri kita sendiri. Kita habiskan waktu untuk kesia-siaan. Kita habiskan masa muda bukan untuk berkarya. Kita habiskan masa-masa produktif untuk sesuatu hal yang tidak jelas. Lalu kemudian kita mengharapkan seperti apa yang mereka dapatkan? Oh, jangan harap!

Kemana mahasiswa yang katanya ‘agen of change’ itu?  Kemana? Tidak malukah kita disaat rakyat semakin menangis menderita disebabkan kenaikan harga bahan pokok dan kita malah asik dengan pacar? Tidak malukah kita disaat orang tua bekerja jauh lebih keras dari sebelumnya agar anaknya dapat hidup layak dan dengan sangat kurang ajarnya, kita bermalasan untuk kuliah? Tidak malukah?

Tidak malukah masih saja mengeluh dengan banyaknya tugas kuliah, sedangkan orang tua kita tidak pernah mengeluh dalam mencari nafkah? Tidak malukah? Tidak malukah? Tidak malukah? Tidak malukah?

Hay mahasiswa yang katanya ‘agen of change’, kemana kita saat ini? Kemana kita disaat pemerintah memporak-porandakan harga bahan-bahan baku? Aku tau masih ada mahasiswa yang peduli. Masih ada mahasiswa yang turun kejalan untuk berdemo. Aku salut pada mereka. Tapi apa gunanya kalau berdemo hanya disekitar kampus? Apa gunanya sampai harus bakar membakar ban? Apa gunanya asik berdemo sana-sini tapi lupa tugas kuliah?

Ah, semua itu tergantung pribadi masing-masing. Bukankah mahasiswa sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri bukan? Tapi kalau menurut aku, cara ampuh untuk bisa didengar dan dihormati oleh pemerintah selain berdemo adalah dengan menunjukkan karyamu. Karya apa saja, baik dalam bidang tulis menulis, menyanyi, melukis, dan lain sebagainya. Belajar yang rajin. Sukseskan dirimu, biar suaramu didengar. Biar suaramu tidak hanya sebatas teriakan dibawah panasnya mentari.

Kepada para mahasiswa. Yang merindukan kejayaan. Kepada rakyat yang kebingungan. Dipersimpangan jalan. Kepada pewaris peradaban. Yang telah menggoreskan sebuah catatan kebanggaan, dilembar sejarah manusia. Wahai kalian yang rindu kemenanga. Wahai kalian yang turun kejalan. Demi mempersembahkan jiwa dan raga. Untuk negri tercinta.

Tulisan ini bukan bermaksud menggurui siapa-siapa. Lebih buat ngingetin diri sendiri, bahwa diluar sana masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan. Yang menulispun tak lebih baik dari pada yang membaca. Yuk bareng-bareng memperbaiki diri, karna perubahan suatu bangsa itu dimulai dari merubah diri sendiri terlebih dahulu. Percuma berkoar-koar sana sini, kalau diri sendiri juga belum dibenahi.

Semangat perubahan, @muthiiihauraa
29 Maret 2015. 10.33 WIB.

You Might Also Like

2 komentar

  1. setuju nih setuju.. cuman terkadang perlu ada orang - orang seperti mereka yang turun ke jalan sebagi bentuk dukungan untuk rakyat. Nyatanya yang sekrang wakil rakyat toh kebanyakan malah balik menyerang rakyatnya sendiri.

    walah aku ngomong opo iki.. keren deh ka tulisannya.. :D

    BalasHapus
  2. Setuju mut :') ayukk berubahh....

    BalasHapus