Wanita dan Peradaban

19.14 Muthi Haura 0 Comments



Hay, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya? Sehat? Kali ini aku mau share aja artikel yang aku ikutin dalam lomba yang diadakan KPP (Kementrian Pemberdaan Perempuan) UIN SUSKA Riau. Masih ingat kan kalau aku pernah ikut lombanya dan jadi enam besar? Kalau lupa, bisa baca disini.

Dari pada file ini Cuma mendem di laptop, mending ada baiknya aku share, kali aja bermanfaat. Oh ya, tulisan wanita dan peradaban ini bukan maksud mengingatkan siapa-siapa, tapi lebih buat ngingetin diri aku sendiri. Karna jujur saja, aku masih banyak khilafnya. Karna sebenarnya seorang penulis itu adalah orang yang berusaha untuk mengingatkan dirinya sendiri. Oke langsung aja, check this out :


Wanita dan peradaban

Wanita sholehah bak mutiara didasar laut, tak selalu putih terkadang terbungkus lumut. Didalam cangkangnya ia senang berada. Menjaga diri dan tak mudah digoda. Mungkin kau harus menyelam untuk mendapatkannya, nanti kau akan tau seberharga apa ia setelah mendapatkannya.
            Masih ingatkah dengan nama Khadijah? Dengan ketangguhannya membantu Rasulullah membangun islam? Wanita pertama yang percaya tentang wahyu yang disampaikan Rasulullah. Atau masih ingatkah dengan Fatimah? Putri bungsu Rasulullah yang rela hidup sederhana. Yang sangat berbakti kepada suaminya. Atau Aisyah? Si cerdas yang juga banyak bersumbangsih terhadap perkembangan islam. Atau Muthi’ah? Masyithah? Nusaibah? Dan wanita-wanita dizaman dulu yang punya banyak sumangsih dalam kejayaan islam.
            Apakah nama-nama mereka sudah kita lupakan? Semudah itukah kita melupakan nama-nama wanita tangguh pembangun peradaban itu? Oh atau mungkin kita terlalu terlena dengan nama perempuan-perempuan Barat yang dengan keseksian dan kecantikannya mampu menyedot perhatian? Padahal perempuan-perempuan Barat itu secara tidak langsung telah menghancurkan peradaban.
            Ah ngomongin soal wanita memang tak pernah ada habisnya. Selalu menjadi pembahasan menarik. Ngelihat wanita zaman sekarang entah kenapa bikin miris. Aurat diumbar dimuka umum, seakan-akan lupa bahwa kecantikan dan auratnya itu akan dipertanggung jawabkan dihari pembalasan nanti. Waktu disia-siakan untuk memadu kasih dengan seseorang yang belum halal baginya, padahal jika saja wanita zaman sekarang mau untuk memfokuskan diri dalam berkarya, pastilah banyak hal-hal besar yang mampu ia lakukan dan ciptakan.
            Wanita-wanita, seakan lupa bahwa aku dan dirimu adalah makhluk yang berharga. Bahwa kita berharga. Bukankah juga sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an? Apakah perkembangan zaman mampu membuat kita sebagai wanita lupa dan terlena? Menghabiskan waktu muda hanya untuk kesia-siaan dan akhirnya nanti akan menyesal dikemudian hari? Ataukah dengan mudahnya kita lupa dengan wanita hebat pembangun peradaban dizaman Rasulullah? Tidakkah kita mampu belajar pada sosok wanita hebat itu?
Lupakah kita bahwa ditangan wanitalah perkembangan peradaban ini? Ditangan wanitalah nasib suatu agama dan negara kedepannya akan seperti apa. Akan dibawa kemana. Kita sudah familiar bukan dengan kata-kata ‘jika wanitanya rusak, maka rusak pulalah negaranya’. Wanita itu tonggak negara. Pembawa perubahan dan pastinya kelak wanita akan menjadi seorang ibu. Ibu yang akan mendidik putra-putrinya untuk menjadi khalifah dimuka bumi Allah. Ibu yang akan membantu dan mengantarkan putra-putrinya untuk mengenal Allah. Untuk mengenalkan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah semu dan hari akhir adalah kehidupan yang kekal.
Jika wanitanya ‘hancur’? Lalu bagaimana ia akan mendidik putra-putrinya? Bagaimana ia akan mengajarkan hal-hal sesuai rambu-rambu Allah? lalu akan jadi seperti apa putra-putrinya kelak? Jadi koruptor? Perampok? Atau apa? Makanya wanita dianjurkan untuk terus belajar berbagai hal, baik itu secara otodidak, maupun lewat jalur pendidikan. Namun sering sekali kita mendengar ucapan yang bernada seperti ini : ‘Buat apa wanita sekolah tinggi-tinggi jika nanti ujung-ujungnya hanya didapur? Hanya mengurus anak-anak?’
Dian Sastrowardoyo berpendapat bahwa seorang wanita itu entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, tetap saja ia wajib berpendidikan tinggi. Kenapa? Karna wanita akan menjadi seorang ibu. Ibu-ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas. Sedangkan menurut pendapat Desiani Yudha, setinggi apapun pendidikan seorang wanita, karir terbaiknya adalah didalam rumah. Bayaran termahalnya adalah ridha suami. Prestasi terbaiknya adalah ketika mampu mencetak anak-anak cerdas.
See? Pendidikan juga penting bagi seorang wanita, karna pendidikan membantu wanita untuk menjawab pertanyaan anak-anaknya kelak. Membantu wanita untuk mendidik anak-anaknya kelak. Al-ummu madrasah al-ula, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Bukankah dari rahim perempuan cerdas akan lahir putra-putri yang cerdas juga? Pernah mendengar nama Badiuzzaman Said Nurse? Ulama besar dari Turki yang terkenal dengan kepintarannya dan kelihainnya dalam berdiskusi. Ulama yang tidah hanya hebat diilmu agama, tapi juga hebat diilmu-ilmu pengetahuan alam. Ulama yang diberi gelar ‘Badiuzzaman’ yang artinya keajaiban zaman karna kepintarannya. Ulama yang juga berpengaruh dalam perkembangan islam di Turki.
Apa hubungannya Badiuzzaman Said Nurse dengan wanita? Tentu saja ada dan sangat erat malah! Dibalik kehebatan Said Nurse, ada doa seorang ibu. Ada doa dan dukungan dari seorang istri. Bukankah dibalik lelaki hebat pasti ada wanita hebat dibelakangnya? Bukankah dibalik suksesnya dakwah Rasulullah, ada uluran tangan Khadijah yang membantu? Adanya kepintaran Aisyah yang juga berperan?
Sadarilah wahai wanita, bahwa kita berada dibelakang ‘laki-laki’ kita. Kita yang akan membantu mereka. Kita yang akan menghebatkan mereka. Lelaki itu diumpamakan sebagai layang-layang dan wanitalah benangnya. Layang-layang mampu terbang tinggi jika didukung dengan benang yang berkualitas baik. Jika tidak, layang-layang bisa putus terbawa angin entah kemana. Layang-layang membutuhkan benang untuk dia dapat terbang, tanpa benang layang-layang hanya akan terseret diatas tanah dan menjadi sampah. Benang yang berkualitas tentu saja berharga lebih mahal daripada benang biasa. Layang-layang ingin selalu terbang tinggi dan setinggi apapun ia terbang, layang-layang itu akan tetap kembali pada benang yang mengikatnya.
Jadilah benang yang berkualitas. Maka untuk saat ini, bersabarlah dan terus perbaiki diri. Upgrade diri menjadi lebih baik. Terus berkarya! Jangan terlena pada dunia, karna dunia hanya sementara. Kecantikan wanita itu terpencar dari caranya melihat kehidupan dan berdiri pada prinsip yang sering bertolak belakang dengan prinsip dunia. Syeikh Al Khawarizmi adalah seorang ahli matematika muslim. Beliau ditanya tentang wanita sholehah, lalu beliau menjawab dalam versi ilmu matematika : jika  wanita solehah dan beragama = 1. Jika dia cantik, tambah 0 dibelakang 1 = 10. Jika dia kaya, tambah lagi 0 = 100. Dan jika dia dari keluarga baik-baik, tambah lagi 0 =
1000
. Tetapi jika yang ’1′ tiada. Maka, tiada apa yang tersisa pada wanita tersebut
kecuali sekelompok ’0′.
Hay wanita! Pilih cantikmu. Pilih akan dibawa kemana jalan hidupmu. Pilih akan seperti apa kamu memaknai waktu, apakah akan diisi dengan hal-hal yang bermanfaat atau malah sebaliknya. Yang harus diingat, apapun yang dipilih akan dipertanggung jawabkan dihari pembalasan nanti. Isilah waktu mudamu untuk berkarya, karna karya itu seperti candu. Iya candu! Mungkin diawal proses pembuatannya akan sangat melelahkan, tapi saat karya itu telah jadi, pasti kita akan ingin membuatnya lagi dan lagi.
Kau digelar sebagai penyeri dunia. Hadirmu melengkapi hubungan manusia. Bukan saja dirindui yang biasa, malah Adam turut sunyi tanpa hawa. Akalmu senipis bilahan rambut, tebalkanlah ia dengan limpahan ilmu. Jua hatimu bak kaca yang rapuh, kuatkanlah ia dengan iman yang teguh. Tercipta engkau dari rusuk lelaki, bukan dari kaki untuk dialasi. Bukan dari kepala untuk dijunjung, tapi dekat dibahu untuk dikasihi. Engkaulah wanita hiasan duniawi. (wanita-Dehearty)
Wahai wanita, ayo sama-sama kita memperbaiki diri. Mengoptimalkan waktu dan menghasilkan karya. Karya dalam bidang apapun, karna hidup terlalu sia-sia tanpa karya. Semangat perubahan! Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa-siapa, tapi lebih mengingatkan diri sendiri. Karna yang menulispun tak lebih baik dari yang membaca.

*@muthiiihauraa*
Gimana? Gimana? Iya sih masih banyak kurangnya. Masih banyak yang harus diperbaiki. Sekali lagi artikel itu buat ngingetin diri aku sendiri. Oke deh, itu dulu. See you at the top! Salam sayang, @muthiiihauraa
8 Agustus 2015. 21.10 WIB.
 

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: