[review buku] : Ranah 3 Warna

19.22 Muthi Haura 4 Comments



Hay, Assalamua’laikum! Gimana kabarnya dihari Minggu ini? Aku baru saja selesai membaca buku Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi. Buku ini adalah buku lanjutan kedua dari trilogi negeri 5 menara. Aku sudah pernah membaca buku ini jauh-jauh hari yang lalu dan aku lupa tepatnya kapan. Saat main ke kos Ama, aku ngelihat buku ini dan berniat membacanya lagi. Berharap buku ini akan memberi motivasi ditengah kemalasan yang akhir-akhir ini kian melanda. 


Entah kenapa saat membaca buku ini lagi, aku seperti terbawa dalam kehidupan seorang ‘Alif’. Aku seakan berada didalam posisinya. Aku seakan mengerti saat si ‘Alif’ kehilangan ayahnya untuk selama-lamanya. Aku tertawa, lalu mengangguk, lalu sedih, dan semuanya bercampur aduk! Bukan berlebihan, hanya saja, aku mengangguk-angguk setuju dengan apa yang disampaikan oleh Ahmad Fuadi dikisahnya lewat buku ‘Ranah 3 Warna’ ini. Aku terkagum-kagum dengan semua sosok hebat yang ada didalam buku ini. terkagum-kagum dengan semangatnya Alif untuk bisa dapat ijazah persamaan, terkagum-kagum dengan perjuangan Alif untuk lulus UMPTN, terkagum-kagum dengan semua perjuangannya hingga bisa menginjakkan kaki di Kanada. ;’)

Aku terkagum pada sosok ‘Raisa’ yang seorang mahasiswa Komunikasi. Seorang mahasiswi yang tidak hanya punya kelebihan fisik, tapi juga memiliki kelebihan intelektual. Aku selalu suka ngelihat cewek cantik plus pintar plus jago masak apalagi sholehah, entah kenapa plus-plus dimata aku. Bukan aku pecinta sejenis, hanya sebatas suka karna kagum. Apalagi Raisa menganut paham ‘nggak pacaran’ sebelum nikah. Dia perempuan yang punya pendirian, punya tujuan, punya misi-visi dalam hidupnya, pokoknya dari gambaran dibuku, dia sosok anak Komunikasi yang ideal. Sebagai sesama anak Komunikasi, entah kenapa aku tertampar dengan sosok Raisa ini. kesindir trus nanya kediri sendiri, aku bisa apa? Aku harus gimana? Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Terkagum juga pada sosok bang Togar yang telah mengajarkan Alif untuk menulis dengan benar. Sosok ‘guru’ yang tegas, tapi penyayang. Dari sosok ini aku belajar bahwa menulis itu harus dibiasakan. Bang Togar mengajarkan pada Alif (juga padaku) bahwa tidak pantas kita bermalasan, karna diluar sana masih banyak orang-orang yang nggak seberuntung kita. Masih banyak orang-orang yang jangankan untuk mengenyam pendidikan, untuk sekolah saja susah, trus masih pantas untuk mengeluh? Masih pantas untuk bermalas-malasan? Sosok bang Togar yang keras karna memang berdarah Batak tetapi memiliki hati yang lembut, ia mengajarkan bahwa tiap rezeki kita ada hak orang lain didalamnya. Sekecil apapun rezeki itu, jangan pernah lupakan hak orang lain didalamnya.

Merinding melihat perjuangan ‘Alif’. Merinding ngelihat susahnya dia. Jatuh-bangun untuk menggapai semua impiannya. Aku menangis membaca buku ini, entah seperti mendapat pencerahan baru, semangat baru untuk terus menghasilkan banyak hal lebih, untuk menghasilkan banyak karya apapun kondisinya. Dan paling penting, didalam setiap usaha lebih untuk menggapai cita-cita, jangan pernah lupakan Allah. Jangan pernah lupakan doa orang tua. Karna kedua itu termasuk kunci sukses.

Dibuku ini, aku juga merasa merinding saat pengibaran sang merah putih di tanah Kanada. Pasti rasanya akan sangat berbeda dan rasa nasionalisme itu akan lebih tinggi. Aku memang belum pernah keluar negri, tapi aku dapat merasakannya. Ah, semoga aku juga bisa merasakan hal seperti itu suatu hari nanti. Semoga Allah memanggilku dan memberiku kesempatan untuk menginjakkan kaki diluar negri plus bisa mengibarkan bendera merah-putih disana.

Buku ini mengajarkanku banyak hal. Ya, banyak sekali! Membuka mataku terang-terang bahwa kehidupan orang sukses itu pada awalnya memang tak mudah. Banyak halangan yang menantang untuk tau sekuat mana dia akan bertahan. Sama halnya seperti mutiara yang indah yang pada awalnya diberi banyak tekanan.

Ada beberapa kata-kata yang aku catat dari buku ini, yakni :

Man jadda wajadda!

Going the extra miles. I malu fauqa ma’amilu. Berusaha diatas rata-rata orang lain.

Veni vidi vici. Saya datang-saya lihat-saya menang!

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Jangan menyerah! Menyerah berarti menunda masa senang dimasa datang.

Setiap perjalanan panjang dimulai dari langkah pertama.

Mati adalah kepastian paling pasti didalam hidup. 

Tinggalkan negrimu dan merantaulah kenegri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti kawan dan kerabat. –Imam Syafi’i

Dan masih banyak kata-kata keren lainnya. Mulai hari ini aku akan kembali membenahi diri! Semakin bersungguh-sungguh untuk berusaha menggapai apa yang ingin aku gapai, apapun halangannya, apapun hambatannya! Aku akan berusaha sekuat aku, sebisa aku, dan semaksimal aku, karna aku sadar bahwa hidup itu akan selalu berputar. Hidup itu memiliki masanya masing-masing. Semangat Mut!

Buku ini recomended buat dibaca buat teman-teman yang galau atau lagi malas. Nggak rugi karna akan ada suntikan dahsyat dari buku ini. Udah gini dulu deh. Nggak kaya review sih sebenarnya. Hehe. Salam sayang, @muthiiihauraa
Minggu, 25 Oktober 2015. 12.09 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

4 komentar:

  1. Wah, aku belum pernah baca buku ranah 3 warna, baca negeri 5 menara aja gak sampai rampung. Amin, semoga apa yang kak muthia cita-citakan tercapai deh. Ayo kita bareng-bareng kejar impian kita. :D

    BalasHapus
  2. Buku ini yang menjadi salah satu penggerak kemalasan saya ketika kuliah dulu.
    yang menjadi perantara untuk memaksa kaki ini nekat untuk merantau meraih impian saya selama ini.
    Going the extra miles :-) kecepatan diatas rata-rata....

    BalasHapus
  3. Wah ada review tentang buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. :3

    Buku ini bisa dibilang pembangkit MOOD yang tadinya malas sekarang jadi bikin kita semangat. Bener2 dah, siap baca buku ini jadi pengen merubah diri ke arah yang lebih baik. Ahmad Fuadi pandai sekali membuat para pembaca bukunya terkagum-kagum dengan tulisannya. Buku ini rekomended banget bagi yang ingin merasa lelah terlebih dahulu, dan mengecap manis pada akhirnya ^^

    Btw, gue udah baca ketiga bukunya. At least, Keren!

    BalasHapus
  4. Ranah Tiga Warna. Dari judul aja udah bikin penasarann.

    Menarik.

    BalasHapus