PKJTLN SKK Ganto 2015 #2

18.20 Muthi Haura 0 Comments



Haaay, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya? Sehat? Barusan aku ngelihat-lihat photo pas PKJTLN seminggu yang lalu, trus juga bm-an dengan beberapa teman PKJTLN, entah kenapa rasa rindu itu muncul. Kangen ribut-ributnya geng body, kangen kalemnya Grace, kangen narsis plus alaynya Riani, kangen rebutan tempat tidur dengan Nanik, kangen tidur seranjang dengan Sita, kangen olahraga pagi, kangen materi, kangen dibangunin panitia, kangen pintu kamar diketuk-ketuk panitia dengan panggilan khasnya, kangen cerewetnya kak Khorik, kangen ributnya Afni, kangen semuanya! {}

Astaga, ternyata aku merindukan kebersamaan dengan mereka. kebersamaan yang hanya berselang kurang lebih seminggu, tapi membekas. Aku rindu O.O Kapan ketemu lagi ya woi? Ah, sudah! Tak ada gunanya ngegalau nggak jelas. Hidup akan terus berlanjut, mereka juga akan semakin berkembang jadi lebih baik dan aku juga tak ingin ketinggalan lagi. Baiklah, lanjut cerita perhari aja kali ya. untuk yang belum baca bagian pertamanya, bisa baca disini. Check this out : 


Minggu, 8 November 2015
Setelah seminar ‘Menguak Sastra’ bersama Seno Gumira, kami disuruh panitia buat kenalan dengan semua teman-teman dari LPM lain plus juga makan bersama. Setelah makan, kami balik kesekre Ganto untuk siap-siap perjalanan ke Bukittinggi, soalnya di rundown acara, jam 16.00 udah OTW. Saat menunggu keberangkatan, aku-Riani dari LPM Wasillah Makassar- Fitri dari Aceh- Fia dari Aceh- dan kak Putri Rahmi dari SKK Ganto UNP keliling-keliling UNP. Kak Rahmi yang jadi tur guidenya =))  Kak Rahmi nerangi setiap gedung yang ada di UNP.

setelah seminar photo bersama peserta {}


Di UNP tiap gedung fakultasnya itu berbeda warna, misal nih gedung Fakultas Sosial, warnanya pink. Ada kolam berenangnya juga, trus tiap sudut dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang sekedar diskusi biasa atau latihan nari atau bahkan ngerjain tugas bareng. Dimata aku, suasana kampusnya itu ‘hidup’. Kalau boleh membandingkan dengan kampus sendiri, bisa dibilang UIN masih harus banyak belajar. Tak lupa pula pastinya kami photo-photo disetiap sisi kampus UNP, tujuannya ya pasti ngebekuin kenangan. Kami photo pakai kamera si ratu narsis alias Riani, aku udah minta photonya sejak kemaren, tapi juga belum dikasih huhu. Satu hal yang aku pelajari jika hendak jalan-jalan adalah berpotolah dengan kamera pribadi. Kalau nggak punya kamera, pakai hp pribadi dan jangan lupa pula sediain charger dan powerbank. Penting itu diingat, Mut!! Soalnya kalau nebeng photo dengan kamera orang, susah minta untuk pribadi.

Setelah capek plus senang keliling-keliling UNP, kami balik ke sekre Ganto. Ternyata udah mulai materi sharing-sharing dengan mas Surya Mahendra selaku redaktur Bisnis Indonesia. Beberapa menit setelah sharing, kami otw Bukittinggi yang kalau dari Padang sekitar 2 jam-an perjalanan. Di bus, aku duduk berdua dengan kak Khorik dan disepanjang perjalanan juga, panitianya pada nyanyi-nyanyi untuk memeriahkan suasana.

Nyampai di Bukittinggi kira-kira jam 21-an. Masing-masing kami untuk kamarnya dibagi perkelompok. Untuk peserta ada 4 kamar, ada kamar Chaniago yang diisi oleh kurang lebih sembilan cowok termasuk Ferdy. Didepan kamar Chaniago itu kamarnya si Kumbang yang personilnya yaitu Indah dari LPM Catatan Kaki Makassar-Kak Khorik-Kak Vani dari LPM Teropong UMSU Sumut- Fitri dari Aceh- dan Wilingga. Sedangkan disamping kamar Chaniago, itu kamarnya geng body. Iya, jadi nama kamar yang aku tempati itu ‘BODY’ yang personilnya itu aku- Isnaini Wulandari a.k.a Nanik dari LPM Dinamika UIN Sumatra Utara- Very Andriani dari LPM Dinamika UIN Sumatra Utara- kak Zakiyah Rizki Sihombing dari LPM Pijar USU- dan Dede Mutiara Yaste dari LPM Aklamasi UIR- Anggun Sita dari LPM Suara USU.

Personil geng body, minus Sita. Heey,  rindu! 

Entah kenapa nama kamar yang kami tempati itu ‘BODY’. Agak nganu, soalnya badan kami pada nggak ada yang ‘sempurna’. Nanik- Very- Kak Zakiyah-Dede bisa dibilang lumayan berlemak atau gendut, sedangkan aku- Sita bisa dibilang kekurangan lemak alias kurus. -____- Jadi nama body itu serasa ngena banget dikami. Semua jenis body dari kurus sampai gendut ada dikamar itu -_- Sempat kami pikir kalau panitiannya itu sengaja masuin kami kekamar body karna body-body kami yang ‘aduhai’, tapi pas ditanya sama panitia-panitianya, kami dimasuin bukan unsur kesengajaan, lagian body itu dalam arti Minang adalah suku tertua. Hfft, tetap aja agak-agak jadinya, jadi bahan tertawaan anak-anak cowok -_-

Didepan kamar body, ada kamar Biliang yang personilnya yaitu Nurafni Sitepu dari LPM Dinamika UIN SU- Ulfia Dara dari Aceh- Andriani dari LPM Wasillah Makassar- Grace Kolin dari LPM Pijar USU- Shinta dari LPM Suara USU. Di rundown acara, setibanya di Bukittinggi itu seharusnya kami perkenalan antar peserta dan panitia plus sharing LPM, tapi nggak jadi lantaran mungkin panitia tau kalau kami capek. Akhirnya malam pertama di Bukittinggi, kami diperbolehkan untuk istirahat, walau pada nyatanya, geng body malah asik cerita-cerita berbagi canda tawa dikamar. Ah, mungkin nggak hanya geng body, tapi juga dikamar-kamar lainnya :D

Sempat rebutan tempat tidur sama Nanik, karna kami sama-sama mau tempat tidur yang dibagian bawah, sampai akhirnya Nanik ngalah ;D
 

Senin, 9 November 2015
Pas adzan subuh, kamar peserta udah diketuk-ketuk oleh para panitia. Iya, jadi kami disuruh sholat subuh berjamaah di mesjid, trus setelah sholat, semua peserta dan panitia ngelakuin senam. Beuh udara pagi di Bukittinggi itu dingin brrrrr banget -__- Nyentuh air itu rasanya mesti mikir-mikir. Entah aku yang terlalu lebai atau bagaimana, yang pasti teman-teman sekamar aku juga ngerasain hal yang sama kok. Setelah acara senam-senam, kami para peserta disuruh balik kekamar lagi untuk siap-siap. Biasanya sesi siap-siap ini adalah sesinya rebutan kamar mandi. Kalau udah Very yang dikamar mandi, lamanya nauzubillah -_- Bikin anak-anak geng body neriakin terus dari luar kamar mandi.

Taulah kan kalau cewek selesai mandi itu banyak banget segala tetek bengeknya yang dipakai, bedaklah-parfumlah-handbodylah-dan lain sebagainya sehingga waktu sejam dikasih untuk siap-siap itu kurang. Imbasnya, panitia akhirnya ngetukin pintu kamar sambil ngomong : “Bodyyyy, makan lagi yuk?”. Bukan hanya kamar body aja sih sebenarnya, tapi juga kamar-kamar cewek lainnya seperti kamar kumbang dan biliang.

Selesai siap-siap, kami akhirnya makan. Sesi makan ini juga adalah sesi perkenalan lebih dekat dengan teman-teman peserta dan panitia. Makanan orang Sumbar itu enak-enak, taulah kan kalau orang Sumbar itu jago masak, tapi entah kenapa ada beberapa makanan yang dilidah aku asin. Bukan hanya dilidah aku aja sih, tapi juga dilidah teman-teman yang lain. Apa memang aslinya masakan Padang itu asin atau bagaimana? Tapi terlepas dari semua itu sempurnalah.

Setelah kenyang, masuk sesi kelas tunggal. Iya, jadi di PKJTLN SKK Ganto ini ada kelas tunggal dan ada kelas A/B. Untuk pembagian kelas A/B, kebetulan aku masuk kelas A yang personalnya adalah Kak Khorik-Riani-Fahru-Bang Agus-Bang Awal-Fitri-Wilingga-Dede-Very-Kak Zakiyah-Kak Vany-Sita. Selebihnya masuk kelas B, termasuk Ferdy.

Sebelum kelas tunggal dimulai, tentu saja kami perkenalan secara formal dengan para pemateri-peserta-panitia. Setelah sesi perkenalan, barulah masuk materi Jurnalisme Dasar yang dibawakan oleh kak Chik Rini. Kak Chik Rini menyarankan kami untuk membaca buku ‘9 Elemen Jurnalisme’. Kata kak Chik Rini, buku 9 elemen jurnalisme itu adalah pedomannya para wartawan. 



Ini beberapa poin materi yang disampaikan kak Chik Rini : “Berita lama masih bisa ditulis, tapi untuk narasumbernya harus cari narasumber yang baru yang memiliki hubungan dengan persitiwa tersebut. Seorang wartawan harus memiliki loyalitas yang tinggi dan loyalitasnya itu adalah kepada kepentingan masyarakat, bukan kepada pemerintah, apalagi satu organisasi tertentu. Yap, wartawan harus independent! Tapi dizaman sekarang ini, keobyektifan seorang wartawan patut untuk dipertanyakan.”

“Seorang wartawan yang bagus adalah wartawan yang lepas dari mencari iklan. Kenapa? Karna jika seorang wartawan sudah nyari iklan kesana-kemari, pastilah nanti jika ada masalah dengan sipengiklan, si wartawan akan ragu untuk memberitakannya secara independent. Usahakan juga memiliki hubungan yang baik dengan narasumber. Dapatkan kepercayaan narasumber, karna mungkin saja dilain waktu kita akan membutuhkan si narasumber itu lagi.”

“Dalam sebuah berita, narasumber resmi juga terkadang tidak terlalu diperlukan. Narasumber yang melihat kejadian tersebut secara langsunglah yang diperlukan. Jadi kalau ingin meliput sebuah berita, jangan nyari narasumber yang tidak ada dilapangan, walaupun mungkin narasumber tersebut memiliki jabatan disana. Jika ada masalah dalam berita yang ditulis oleh wartawan bagi yang diberitakan, maka ada hak jawab yang bisa dipakai oleh orang yang merasa dirugikan tersebut.”

“Dalam setiap berita juga, harus ada nama wartawannya, jangan malah Cuma makai inisial aja. Dengan adanya nama wartawan di berita yang ia buat, maka mendorong si wartawan tersebut untuk menulis lebih baik. Jika ingin membuat berita tentang pemerkosaan/penculikan, sebenarnya korban tidak penting diwawancara. Kenapa? Kasian korbannya, lagi dalam tekanan batin dan sebaiknya tidak usah diwawancara. Dalam sebuah berita juga tidak boleh ada sumber anonim. Kalaupun memakai sumber anonim, harus memenuhi kriteria ini : Dia akan terancam, maka boleh memakai sumber anonim- Dia adalah saksi pertama dari peristiwa- dan kalau saksi mata tidak ingin disebutkan namanya, maka wajib meminta 2 orang yang bisa bercerita seperti sisumber pertama itu, karna sumber anonim bisa dipakai jika ada 3 orang saksi yang bercerita hal yang serupa. Laporat reporting investigasi harus punya data yang akurat.”

Paham kan? Pastinya dong! :D Nah, itu dia ilmu dari kak Chik Rini. Sebenarnya masih banyak, Cuma itu ringkasan dari yang aku catat. Memasuki jam 10, kak Chik Rini digantikan oleh bang Surya Mahendra selaku redaktur bisnis Indonesia. Masih dalam kelas tunggal dengan tema materi ‘Riset Interview’.

“Sebelum melakukan wawancara, riset terlebih dahulu. Penting!!! Jangan datang kepada narasumber dengan kepala kosong. Saat bertemu narasumber, jangan membaca pertanyaan, usahakan hanya melihat pertanyaan beberapa kali. Background/latar belakang narasumber juga perlu diriset. Setelah selesai riset dan hendak wawancara, jangan ditanyakan kepada narasumber hasil riset kita, tapi lebih baik menggali data tersebut lebih dalam.”

“Wartawan harus menjadi observer dan memiliki tape recorder plus note kecil. Untuk jurnalistik sastrawi, detail harus diceritakan. Saat wawancara dan narasumber keluar konteks, maka boleh diingatkan. Wartawan juga wajib berpakain rapi saat ingin menepui narasumber, karna pakain itu mengapresiasi orang-orang yang ingin ditemui. Maintain eye contanct juga perlu diperhatikan saat wawancara, jangan terlalu dilihat matanya dan juga jangan terlalu dicuekin. Seorang wartawan tidak boleh memperlihatkan kalau tidak sependapat dengan si narasumber.”

Udah 6 halaman word ajaaa. Nggak kerasa :D Terlalu banyak yang pengen diceritakan sih sebenarnya. Terlalu banyak kisah yang sebenarnya ingin diabadikan, tapi entar deh dilanjut lagi. Semoga bisa mengambil manfaat! ;)) salam sayang, @muthiiihauraa
Selasa, 24 November 2015. 07.48 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: