Juara 1 Cerpen ;))

18.03 Muthi Haura 3 Comments



Haay, Assalamua’laikum. Lagi ngapain nih? Pada sibuk ngerjain deadline-deadline tugas ya? Sama, aku juga :D Hampir dua mingguan ini aku menyibukkan diri dengan tugas feature majalah. Bolak-balek nemui narasumber bareng Ika-Ijah, tapi lebih sering bareng Ika sih. Keselnya itu pas tiba-tiba narasumbernya ngebatalin atau bahkan ngajak ketemu pas kitanya ada jadwal, beuh harus banyak-banyak sabar ;’)

Dan semua itu udah terlewati, bahkan featurenya juga udah selesai. Alhamdulillah. Terakhir kemaren nemuin rektor. Fristtime nih nemuin dan wawancara rektor. Grogi? Pasti! Yaiyalah, siapa juga yang nggak grogi ketemu orang nomor satu di kampus kan? 


with Pak Rektor :D

Ternyata berkecimpung di pers kampus itu asik ya! ;) Ketemu teman-teman baru, belajar kesabaran, belajar memahami orang lain, dan pastinya pengalaman baru. Aku sadar kalau aku masih banyak kurangnya disana-sini dan aku pengen belajar lebih giat lagi!!

Hari ini hampir seharian disekre. Bukannya sok rajin datang kesekre, Cuma tanggung jawab memang lagi banyak-banyaknya menjelang acara semarak 22 tahun LPM Gagasan. Lagi-lagi aku masuk divisi acara. Ngebikin konsep acara, nyari MC-pembaca doa-pembaca Qur’an, ngedekor, bla bla bla yang sebenarnya jujur bikin capek. -_- Iya capek, sampai kerjaan dirumah nggak keurus ;’) Tapi nggak papa, pengalaman baru dan pembelajaran baru, lillah. :D

Jam 2-an siang, aku pulang kerumah. Niatnya mau istirahat plus nyelesain tanggung jawab dirumah. Tapi aku ditelponin sama panitia acara komunika sampai dua kali, tapi nggak keangkat. Pas aku sms-in, ditelponin lagi. Dari suaranya kayanya aku kenal. Iya, suara Nazlah dan suara Mumun. Memang mereka termasuk panitia. Ternyata aku disuruh ke Islamic centre karna aku juara 1 lomba cerpen. Alhamdulillah! ;))

Jadi ceritanya seperti yang pernah aku tulis disini kalau aku lagi giat-giatnya ngikutin banyak perlombaan dibidang menulis. Bukan apa-apa, Cuma pengen ngukur kemampuan diri aja. Kemaren juga pas ulang tahun suska FM, aku juga ikut lomba menulis surat untuk ODHA dan nggak menang. Kapan-kapan deh aku masuin ke blog tulisan aku untuk lomba suska FM itu. Trus juga di acara komunika ini, aku nggak hanya ikut lomba cerpen, aku juga ikut lomba nulis feature. Menang? Lombanya dibatalin soalnya yang ngirim tulisan feature Cuma aku doang haha! Entar juga deh aku masuin tulisan featurenya. ;)

Setelah ditelponin panitia komunika, aku langsung siap-siap buat balek lagi kekampus, padahal baru aja ngerebahin tubuh diatas kasur. Nyampai disana panitianya udah pada bubar, tapi untung kenal dengan ketua panitianya si Reza. Jadi minta hadiah ke Reza plus photo-photo sebagai kenangan. Hadiahnya sertifikan plus uang 200.000. Beberapa minggu yang lalu, aku juga habis menangin lomba menulis blog. Cuma juara favorit 1 sih dan hadiahnya dapat uang 200.000 juga. Alhamdulillah rezeki bulan ini. Makasi Allah. :D
 
Photo kenang-kenangan juara 1 lomba cerpen :D Abaikan muka kusam aku karna nggak sempat bedakan haha!
 
Screenshot pengumuman lomba blog juara favorit 1. Untuk entry yang menangnya, bisa baca disini

Cie, dapat uang. Jangan boros-boros, Mut!  Haha, nggak lah. Aku lagi berhemat ini. Sejak ngewawancarai adik-adik mahasiswa untuk tugas feature majalah tentang UKT, aku jadi sadar tentang banyak hal. Terutama soal betapa susahnya nyari uang. Adik-adik yang aku wawancarai masalah UKT itu memiliki banyak saudara, bahkan salah satu narasumber merupakan anak keenam dari enam bersaudara. Sedangkan aku anak pertama dari enam bersaudara. Adik-adikku masih banyak yang sekolah dan biaya sekolah semakin semakin semakin mahal ;’) Almarhumah umi pernah berpesan kalau kami semuanya harus sarjana dan aku juga nggak mungkin tega nyuruh aba buat bayar biaya sekolah kami terus-terusan ;’)

Makanya mulai sekarang lagi berhemat ;’) Trus juga lagi mikir-mikir bisnis apa yang cocok untuk digarap. Salah satu plan ditahun 2016 nanti udah punya bisnis.

Saat ini lagi semangat-semangatnya buat ikutan lomba! Walau sering kalahnya. Didalam sebuah perlombaan, menang atau kalah itu biasa kok. Wajar! Justru pas kalah, kita jadi bisa belajar banyak hal. Bisa introfeksi diri dimana letak kurangnya. Tapi jangan ditargetin buat kalah terus-terusan ya. Oh ya, ini dia cerpen yang dapat juara 1, aku post disini, mana tau ada yang pengen baca :D

Impian Ve
Created by : Muthi Haura

            “Kamu terlalu sibuk akhir-akhir ini! Apa yang kamu cari?” Davi menyandarkan tubuhnya pada tembok sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Gadis yang baru saja disapanya dengan pertanyaan itu seolah acuh tak acuh. Bukannya menjawab pertanyaan Davi, gadis itu malah asik merapikan buku-buku diatas mejanya.
            Davi mendengus kesal. “Ve! Aku ngo—”
            “Dav, please! 5 menit lagi aku ada rapat di organisasi, jauh lebih penting ketimbang perdebatan kita ini.” Ve memotong omongan lelaki berwajah rupawan dihadapannya. “Jadi rapat kamu itu jauh lebih penting ketimbang tentang kita? Fine!” Davi berlalu meninggalkan Ve, membuat Ve memijit keningnya perlahan.
            Maaf, Dav! Tapi kamu perlu tau juga bahwa aku punya mimpi. Aku juga punya sesuatu hal yang ingin aku raih. Aku punya suatu hal yang ingin aku kejar. Yah, aku masih memiliki banyak mimpi yang ingin aku wujudkan, ketimbang menghabiskan banyak waktu bersamamu.
            Ve menghela nafas. Bukannya ia tak mencintai Davi, hanya saja bagi Ve, impiannya lebih penting untuk diwujudkan terlebih dahulu. Ve melangkahkan kakinya meninggalkan kelas. Setitik rasa bersalah muncul dihatinya untuk Davi.
*@@@*
            Davi memainkan senar gitarnya dengan nada tak beraturan. Sesekali lelaki bernama lengkap Davino Ghazali itu menghembuskan nafas, kesal. Ini entah untuk yang keberapa kali baginya, Ve tidak mempedulikannya.
            Apa yang kamu cari lagi, Ve? Kamu udah punya semuanya! Kamu cantik, IP tinggi, kamu bisa dapetin apa yang kamu mau dengan mudah, trus nggak bisakah untuk sedikit saja menikmati masa muda? Davi meletakkan gitarnya dengan kasar, sehingga gesekan antara gitar dan lantai menumbulkan bunyi.
            “Santai bro! kenapa sih?” Agil teman sekosnya menatap dengan tampang bingung, lalu sedetik kemudian lelaki itu tersadar. “Ve lagi? Makanya jangan nyari cewek yang seaktif Ve. Udahlah, putus aja! Cewek didunia ini banyak bro!” ujar Agil sembari tertawa.
            Davi mendengus mendengar ucapan Agil. “Cewek memang banyak, tapi yang kaya Ve Cuma satu.” Davi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Berbagai pikiran berkecamuk dibenak lelaki berkulit coklat itu.
            “Alay banget! Emang Ve cuma satu dan cueknya kebangetan! Terserah deh!” Agil tak ambil peduli, lelaki itu kembali berfokus dengan stick PS ditangannya. Davi menjatuhkan tubuhnya kekasur. Bayangan wajah Ve lagi-lagi entah untuk yang keberapa kalinya mampir dibenak lelaki berusia 21 tahun itu.
            Apa ini karma karna dulu aku suka nyakitin cewek? Pas malah bener-bener sayang kecewek, eh ceweknya cuek banget. Berasa nggak punya pacar! Batin Davi.
*@@@*
            “Aku tau kamu disitu, Davino Ghazali! Keluarlah.” Ujar Ve yang masih berfokus dengan buku bacaannya. Davi keluar dari tempat persembunyiannya dengan tingkah bersalah. Memang lelaki itu sengaja menguntit Ve hari ini, hanya sekedar memastikan dan melihat apa yang tengah dilakukan gadisnya itu.
            “Kenapa nggak sekalian bawa kamera pengintai saja?” Ve jengah. Merasa privasi dan kenyamanannya sedikit terusik. Gadis berwajah manis itu menatap tepat dimanik mata Davi, membuat Davi untuk yang pertama kalinya sama sekali tak bisa berkutik dihadapan seorang Venia Azuga.
            “Hanya ingin tau apa yang kamu lakukan, salah? Lagian ngapain sih bawa banyak bacaan ditempat kumuh seperti ini?” tanya Davi sembari matanya menatap kawasan kumuh disekitarnya.
            Belum sempat Ve menjawab, dua bocah lelaki dan tiga bocah perempuan berbaju lusuh dan berwajah kusam menghampiri Ve. “Sore kak Ve! Belajar apa kita hari ini?” sapa salah satu bocah lelaki dengan binar mata bahagia saat melihat tumpukan buku dihadapan Ve.
            “Heey, kalian sudah datang! Ayo sini-sini duduk! Hari ini kita free belajarnya ya, tapi kak Ve bawain banyak buku cerita buat kalian. Semua ini untuk kalian, silahkan dibaca.” Ujar Ve tak kalah antusiasnya. Mata gadis itu berbinar bahagia. Kelima bocah yang berumur sekitar 8 sampai 10 tahun itu berebutan mengambil buku-buku yang dibawa Ve, lalu mereka pun membacanya.
            Davi terdiam. Sama sekali tak bisa berbicara apa-apa. Sisi hati lelaki itu merasa tertampar. Ujung mata Davi menatap sosok Ve. Kamu memang berbeda! Kamu spesial! Davi membatin.
            “Mereka punya mimpi, sama seperti kita. Sama seperti aku dan kamu. Tapi sayang, mimpi mereka harus ‘dibungkam’ oleh kenyataan hidup yang pahit. Hidup secara perlahan mencoba mengikis harapan dan impian mereka.” Ve menatap Davi. Menatap tepat dimanik mata lelaki itu.
            “Mereka hanya salah satu contoh korban nasib. Dibelahan Indonesia sana, masih banyak anak-anak yang seperti mereka. Dan impian terbesarku adalah mendirikan sekolah untuk mereka secara gratis.” Lanjut Ve. Davi masih diam, seolah sama sekali tak menyela ucapan Ve.
            “Karna hidup ini bukan hanya sebatas soal cinta. Bukan hanya tentang aku suka kamu, kamu suka aku. Ada yang lebih penting dari itu. Ada impian yang harus dikejar.” Kata Ve lagi. “Ya, aku ngerti. Aku ngerti dengan semua sikapmu selama ini. Trimakasih telah menyadarkanku dan membuka mataku untuk semangat mengejar impian.” Davi tersenyum tulus pada Ve.
            “Aku melepasmu. Silahkan raih mimpi-mimpimu dan lakukan semua yang kamu suka. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Mengejar mimpi-mimpiku. Jika kamu yang memang ditakdirkan untukku, kita pasti bertemu dengan cara yang indah bukan?” ujar Davi. Entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
            Ve tercenung. Kata-kata lelaki itu entah kenapa membuatnya merasa kehilangan, tapi Ve yakin, memang inilah jalan terbaik. “Ya, pasti! Berjalan sendiri-sendiri untuk mengejar mimpi masing-masing, hingga saat yang tepat itu tiba.” Kata itu yang hanya mampu keluar dari mulut Ve.
            “Selamat mengejar mimpi dan sampai jumpa dipuncak kesuksesan.” Davi berjalan meninggalkan Ve dengan tekad baja untuk mengejar mimpi-mimpinya. Jika kamu merpati terbaik, aku tak pernah ragu melepas kamu untuk terbang tinggi, karna aku tau yang terbaik akan selalu pulang. Ve membatin. []


Gimana? Gimana? Kritik dan sarannya ditunggu. Salam sayang, @muthiiihauraa
Kamis, 17 Desember 2015. 22.03 WIB.
 

Baca Artikel Populer Lainnya

3 komentar:

  1. Kalo dia mampu, ya lepaskan. Mudah. Wkwkwk...
    Btw, kunjungin balik ya: www.mraneh.blogspot.com

    BalasHapus
  2. cerpennya bagus, pantes jadi juara satu :) biar aja di lepas saat ini, kalau jodoh Davi sama Ve bakal ketemu lagi :). wiih jadi juara favorit juga di lomba blog pojok pulsa :) selamat ya de. semoga prestasinya semakn meningkat di 2016. Setuju kok kalah menang di dalam perlombaan itu biasa. bener juga kalau kalah justru banyak pelajaran yang bisa diambil.

    BalasHapus
  3. Cerpennya bagus. Cuma ada beberapa peletakan kata di dan kata tempat yang disambung dan menurutku sih itu eyd yg salah. Tapi selamat sudah terpilih jadi juara 1 ya. Ceritanya keren.

    BalasHapus