#MondayClass : Belajar dari Film Pinocio

01.09 Muthi Haura 10 Comments


Hay, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya? Kemaren aku-Nafi-adrial-Arul jejalan ke Siak. Sebenarnya tujuannya bukan jalan-jalan biasa sih, kami mau ngeliput untuk buat feature. Mungkin untuk cerita perjalanan selengkapnya, aku post di entry yang lain :D
Kali ini aku balik lagi di #MondayClass. Bagi yang belum tau apa itu #MondayClass, bisa baca disini. Iya, jadi #MondayClass itu tempat aku sharing-sharing tentang dunia jurnalistik dan broadcasting. Kebetulan aku berkecimpung didua bidang itu. Tentu saja aku mencintai dua bidang yang aku geluti, walau aku sadar banget kalau aku masih banyak kurangnya. Aku masih harus banyak belajar. Menurutku, broadcasting dan jurnalistik adalah dua hal yang saling berkaitan.
Udah pernah nonton film Pinocio dari Korea belum? Nah di #MondayClass kali ini, aku pengen bahas tentang film Pinocio. Aku bukan penggemar Korea, tapi entah kenapa film Pinocio ini rasanya dapat banget feelnya. Film Korea yang pertama aku suka! Recommended lah buat teman-teman yang ingin mendalami dunia broadcasting atau bahkan jurnalistik. Jujur saja, aku belajar banyak dari film ini.
Pinocio di film Korea ini nggak kaya pinocio di Indonesia yang hidungnya bakal panjang kalau bohong. Pinocion di film Korea, kalau bohong bakal cegukan. Entah hal ini beneran terjadi entah nggak, yang pasti, filmnya kerennya kebangetan. Mungkin karna filmnya memang bersinggungan dengan dunia yang aku geluti kali ya?
Emang ceritanya tentang apa, Mut? Film ini menceritakan tentang dunia reporter TV. Tentang keluarga bahagia yang hancur karna sebuah pemberitaan yang benar-benar salah. Pemberitaan yang dilakukan oleh seorang reporter hingga belasan tahun kemudian membuat ‘berita’ itu kembali terkuak bahkan menimbulkan banyak masalah besar.
Aku belajar banyak dari film ini. Selain penyajiannya yang memakai alur maju-mundur, juga jalan ceritanya yang tidak gampang ditebak. Aku acungi jempol untuk scriptwriternya (y) Juga produser, artis, sutradara, dan semua yang terlibat dalam produksi film pinocio ini. Ada beberapa poin yang aku garis bawahi dari film ini. Poin yang mudah-mudahan bisa diterapkan bagi seorang wartawan-reporter TV-reporter radio-dan orang-orang yang berkecimpung didalam dunia media. 

Poin pertama, seorang wartawan/reporter, harus jujur dalam pemberitaan. Nggak boleh menulis berita hanya berdasarkan opini yang sama sekali belum tentu kebenarannya. Berita bagi wartawan/reporter, tapi hidup bagi orang lain. Ya, berita yang kita tulis atau kita siarkan, akan mengubah ‘obyek’ yang kita beritakan itu.

Misalnya nih kaya di film Pinocio, sebuah keluarga yang awalnya bahagia dan dihormati, karna sebuah berita yang salah, tiba-tiba saja keluarga tersbeut hancur. Semua media pemberitaan menuduh ayahnya sebagai orang yang tidak bertanggung jawab kepada 9 anak buahnya sehingga 9 anak buahnya tersebut mengalami kematian. Istrinya bunuh diri karna dikucilkan. Dua anaknya terpisah. Kedua anaknya ini membenci dan jijik terhadap wartawan/reporter.

See? Pemberitaan mampu mengubah hidup ‘obyek’ yang diberitakan. Public atau masyarakat percaya dengan apa yang disajikan wartawan/reporter, walaupun itu belum tentu kebenarannya, maka berhati-hatilah dalam menulis atau memberitakan sesuatu. Ibaratnya itu, senjatanya wartawan/reporter terletak pada kamera-mic-pena.

Poin kedua, Nggak boleh mencampur adukkan urusan pribadi. Saat sedang bertugas, jadilah wartawan/reporter yang baik. Seperti halnya Ha Myung di film Pinocio yang pada awalnya sangat dendam dengan ibu In ha, tapi saat ia menjadi reporter, ia mampu untuk tidak membawa masalah pribadinya. Ha Myung mampu meredam ‘dendam’nya saat mewawancarai ibu In ha.

Bukankah begitu seharusnya wartawan/reporter? Karna publik sudah menaruh harapan besar terhadap sebuah pemberitaan kepada wartawan/reporter dan jika disalahgunakan, tentu saja akan berakibat fatal. Dunia wartawan/reporter itu adalah ‘makan’ atau ‘dimakan’.

Poin ketiga, independent. Wartawan/reporter harus independent dalam pemberitaan. Tidak boleh adanya keterpihakan. Ibu In ha adalah seorang reporter, tapi dia melakukan kesalahan dalam tugasnya. Ibu In ha dalam pemberitaannya berpihak pada sipemilik saham tempat dia bekerja. Keberpihakannya itu membuat dia melaporkan berita-berita bohong.

Seharusnya seorang wartawan/reporter harus independent. Jangan membuat/menyiarkan berita bohong dan mengkambing hitamkan orang yang tak bersalah. Mungkin bagi wartawan/reporter ini hal biasa, tapi efeknya bagi orang lain tidak.

Keempat, kritis! Seorang wartawan/reporter harus kritis. Harus jeli dalam melihat sebuah permasalahan. Kalau wartawan/reporter tidak kritis, maka akan susah untuk mendapatkan sebuah berita yang akan ditulis dan disiarkan. Salah satu cara mengasah sikap kritis ini adalah dengan rajin-rajin membaca. Poin kelima percaya diri. Bagaimana orang lain akan percaya dengan apa yang kamu tulis/ kamu siarkan, jika kamu saja tidak percaya dengan dirimu sendiri?

Keenam a.k.a poin terakhir, check and ricek! Ini penting! Kroscek data pada pihak yang memang berwenang atau tau terhadap data tersebut. Jangan ‘nelan’ data begitu saja tanpa di cek terlebih dahulu. Bisa jadi data yang kita dapatkan itu belum tentu benar, jadi cek and ricek dulu ya sebelum disajikan! ;)
Sebenarnya masih banyak yang bisa dijadikan pelajaran dari film Pinocio ini, tapi lebih baik ditonton sendiri saja dan simpulkan sendiri. :v Pokoknya menurut aku, nggak nyesal nontonnya. Dari film ini juga, aku jadi tau bagaimana proses sebuah berita TV itu sebelum muncul. Banyak tahapan yang harus dilalui dan aku tau itu semua nggak mudah.
Ah, jadi semakin tertantang buat rajin belajar dalam bidang broadcasting dan jurnalistik. Ayo semangat, Mut! Oke deh ini dulu, salam saying, @muthiiihauraa.
Senin diliburan semester, 25 Januari 2016. 10.31 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

10 komentar:

  1. Bener tuh, aku juga udah sempet nonton (padahal aku sebenernya nggak suka drama korea hehe), intinya sih gimana media bisa memutarbalikan fakta supaya masyarakat percaya, yang paling seru disini adalah konflik sama stasiun tipi merah sama tipi biru, udah kaya di Indonesia aja ya

    BalasHapus
  2. Ini salah satu drama korea favoritku! Temanya emang seleraku banget. Aktor-aktrisnya juga cakep, hehehe

    BalasHapus
  3. Saya ngk suka film korea loh muth.. tapi setelah baca tulisan ini kayaknya awesome deh... banyak pelajaran yg bisa diterapkan dalam realita kita...

    Kereen muth... sukses atas cita citanyaa
    Keliatan mutia anaknya cerdas^^

    BalasHapus
  4. point paling pentingnya sih jujur yak :-)
    ini yang kalau boong cegukan ya? udah sering denger tapi nggak berniat nonton. agak males nonton drama, ngantuk.. lebih suka film yang langsung abis. tapi kalau drama, satu2 nya drama yang gue suka cuma love rain.

    BalasHapus
  5. Park Shin Hye <3 <3 (wkwkwk gagal fokus)

    skrg di dunia broadcasting toh? nah, semoga jadi jurnalis yang idealis !! amin

    BalasHapus
  6. Wah, posting drama pinocio, ini kesukaan saya, he..he...
    Drama ini memang patut diacungi jempol cerita sangat bagus, tapi juga cukup mengharukan buat saya.

    Saya setuju dengan point pertama, pemberitaan yang jujur. Jangan sekali-sekali memberitaan informasi yang salah karena itu adalah pembohongan massal dan dapat mengakibatkan hal negatif, yah seperti dalam drama ini, gara-gara berita bohong keluar sang tokoh utama menjadi hancur, kan kasihan...

    BalasHapus
  7. Park shin hyeeee.....
    Tiba-tiba kangeng nonton drakor the heirs hahahaha :))

    Jadi pembawa berita yang jujur dan tidak memberitakan hal-hal yang salah. Kalau tidak tau lebih baik diam. Hehehehe

    BalasHapus
  8. eh aku juga suka ini drama hahaha jong suknya sih utamanya, tapi ternyata emang seru ceritanya. tapi tetep ga pengen jadi reporter, pusing ngeliatnya -_-

    BalasHapus
  9. Aku nonton sampe dua kali tapi tetap aja nggak bosan. drama yang paling ku suka nih. Suka sama konfliknya.

    kalimat yang ngena banget dengan berita-berita sekarang adalah: Berita jangan hanya fokus dengan dampak dari informasi yang disampaikan. Tapi juga harus mementingkan fakta.

    itu loh dek yang adegan reporter sung lagi ngisi seminar. heheheh XD

    BalasHapus
  10. pernah nonton drama ini, tapi cuma beberapa kali pas ditayangin di RCTI.
    Setelah baca, ternyata banyak sekali pelajaran yang didapat dari drama tersebut ya.
    kapan-kapan deh nonton, hehe

    setuju sih sama poin, poin yang ditulis.
    terutama yang tidak boleh berpihak itu.
    soalnya ada beberapa stasiun TV di indonesia sekarang yang suka berpihak jadi bingung antara percaya atau enggak di stasiun tv tersebut.

    BalasHapus