Jurnalistik

Kenapa Masuk LPM?

20.09



Haai,Assalamua’laikum. Gimana kabarnya dan sedang ngerencanain apa? Minggu-minggu terkhir ini banyak banget pengalaman yang greget sebenarnya pengen diceritakan, tapi baru sempat nulis sekarang dan itupun kayanya nggak semuanya bisa diceritakan. Pokoknya aku lagi ngerencanain sesuatu. Do’akan aja kewujud. Selain itu, tugas juga lagi numpuk-numpuknya.

Kali ini pengen sharing aja alasan aku gabung di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), bukan alasan aja sih, tapi pengen sharing juga pengalaman-pengalaman apa saja yang aku dapatkan selama  bergabung di LPM Gagasan. kali-kali aja apa yang aku share ini dapat bermanfaat buat teman-teman :D

Sejak awal masuk kuliah, aku udah tekadkan diri untuk berubah kearah positif. Aku pengen aktif, pengen punya banyak kenalan, pengen ngerasain banyak hal, pengen berprestasi, dan pengen-pengen lainnya. Dari kecil, aku mencintai kegiatan menulis. Sangat bahkan. Hal itulah salah satu alasan aku ingin bergabung dengan LPM Gagasan UIN Suska Riau. 




Sejak awal bergabung, aku sama sekali tak pernah bermimpi atau sekedar berplanning untuk menjadi redakturnya LPM Gagasan, karna aku sadar kalau aku masih banyak kurangnya. Tulisan aku lebih ke sastra ketimbang jurnalistik. Cirri khas tulisan seseorang itu tidak gampang untuk dirubah, apalagi cirri khas itu sudah ada sejak lama. Tapi aku saat ini lagi belajar dan pastinya akan selalu belajar untuk menghasilkan tulisan-tulisan jurnalistik yang ‘menggigit’. Nggak mudah memang, tapi bukan berarti nggak bisa bukan?

Banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan sejak selama dua tahunan lebih berada di LPM Gagasan. ya, banyak! Tentu bukan dalam hal materi, karna yang namanya organisasi internal kampus itu tempatnya belajar. Tempatnya menimba ilmu. Tempatnya mengenal diri. Tempatnya belajar bersosialisasi. Tempatnya mengasah skill. Dan itu semua aku rasa lebih berharga ketimbang uang bukan? Lebih berharga ketimbang materi. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik?

Kalau boleh jujur, banyak sekali perubahan yang aku rasakan antara aku yang dulu dengan aku yang sekarang. Tentu saja perubahan kearah yang lebih positif! Di LPM, aku belajar banyak hal, mengenal teman-teman dari berbagai latar belakang, belajar bergaul, bertemu dengan orang-orang nomor satu di Universitas, makin ngasah skill, punya keluarga baru, jadi up to date karna selalu dituntut untuk mencari berita. LPM, ruang kuliah kedua bagiku.

Kalau aku nggak masuk LPM, apa aku bisa berani bertemu rektor? Kalau aku nggak masuk LPM, apa aku berani menggkritik rektor dan para penjabatnya? Kalau aku nggak masuk LPM, apa aku bisa ke Sumbar untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut? Kalau aku nggak masuk LPM, apa aku bisa menulis berita dengan benar? Kalau aku nggak masuk LPM, apa bisa aku ngerasain capek dan lelahnya menjadi seorang redaktur?

Kalau aku nggak masuk LPM, dari mana aku tau informasi-informasi terbaru tentang kampus? Kalau aku nggak masuk LPM, bagaimana aku tau proses-prosesnya peliputan berita itu hingga bisa dinikmati khalayak dalam bentuk majalah? Dari mana semua itu kalau aku nggak tergabung dengan LPM? Apa kesempatan itu bisa aku dapatkan selain dari organisasi ini? Tentu saja tidak!

Terlalu banyak hal yang aku dapatkan di LPM, apalagi menjelang deadline-nya majalah. Yang paling greget majalah edisi 100 yang baru terbit akhir Maret lalu. Di majalah itu, aku kebagian dalam tim laporan utama (laput) dan juga ikut ngebantu tim laporan khusus (lapsus). Memang bukan PJ sih, tapi greget juga. Aku yang bikin tor wawancaranya, aku ikut turun ngewawancarai. Bolak-balek sana sini buat nemuin narasumber. Capek? Off course, tapi disitulah sensasi menyenangkannya. 

 Cover majalah edisi 100

 Cover majalah edisi 100


Majalah edisi 100 halaman tengah
Majalah edisi 100 halaman tengah. taken by Aqib Sofwandi

Apalagi topic yang diangkat dalam laput dan lapsus ini adalah topic ‘sensitif’. Pas dilaput ini, berkali-kali ketemu narasumber satu-nya, tapi narasumber satu selalu ngehindar, sampai tujuh kali nyamperin keruangannya, tetap aja nggak bisa dijumpai. Sedangkan narasumber kedua, itu malah senang banget diwawancarai. Narasumber kedua cerita dengan nada semangat dan sedikit emosi.

Yang paling menggregetkan itu narasumber ketiga. Masa disaat wawancara malah mengintervensi a.k.a ngasih tekanan kekami. Pakai ngancam segala kalau berita ini naik, kaminya bakal dipenjara. Pokoknya nadanya ngomong nggak enak bangetlah. Dia sampai nunjuk-nunjuk aku lagi, aku paling nggak suka kalau ada orang ngomong sambil nunjuk-nunjuk kewajah si lawan bicara.

Setelah ngewawancara narasumber ketiga, aku dan salah seorang teman aku langsung balik kesekre. Langsung down. Haha! Tapi ‘WAW’ lah pengalamannya. Kalau di laput lain lagi ceritanya. Di laput udah mulai start ngebantuin pas liburan semester. Jadi sepi mahasiswa, tapi dosen tetap stay. Nemuin narasumber satupun untuk wawancara rada ribet. Berkali-kali kami kesana, tapi dianya selalu bilang kalau lagi sibuk. Dia Cuma nyuruh kami ninggalin nomor, tapi menjelang deadline cetak majalah, tak ada juga ditelpon. -___-

Menantang eeuy pokoknya! Ditambah lagi aku sebagai redaktur yang ditugasin buat minta tulisan-tulisan teman-teman. Segan sih sebenarnya, tapi ya mau gimana lagi kan? Kalau nggak ditagihin kapan selesainya majalah? Setelah tulisan-tulisan dari berbagai rubric ada ditangan aku, aku editin satu persatu, kalau udah selesai baru deh kasih ke Redaktur Pelaksana atau Pimpinan Umumnya,

Kalau boleh ngeluh, aku mau ngeluh aku capek, tapi rasanya pengalaman-pengalaman berharga ini tidak pantas untuk dikeluhkan bukan? Aku belajar banyak dari proses-proses pembuatan majalah ini. Setelah sirkulasi majalah pun, kalau ada yang complain, pasti Pimpinan Umumnya nyalihin aku juga.

Tidak hanya itu, di LPM aku belajar mengenal sifat-sifat teman satu organisasi. Yang namanya organisasi, pasti diisi oleh berbagai orang yang berbeda latar belakang, di organisasi itulah kita harus belajar mengenal mereka. Sifat dan sikap setiap orang kan berbeda-beda, ada yang mudah diatur, ada yang ngebangkang, ada yang hanya kebanyakan omdo, ada yang gampang badmood-an, ada yang ngebetein, dan ada ada ada lainnya. :D

Iya itu semua wajar kok, namanya juga manusia kan? Tapi malam ini aku belajar satu hal, bahwa kamu tak perlu berkoar-koar di PM tentang apa yang kamu lakukan atau sedang dimana kamu atau tentang prestasi kamu, karna tak semua orang ingin mendengarkan kabar itu. Ada orang-orang yang mungkin tidak senang dengan PM kamu itu. Bbm itu kan aplikasi chat yang personal, rasanya kurang etis kalau terlalu memamerkan diri disana.

Lho apa salahnya? Itu kan hak pribadi? Iya memang, dulu pun aku berfikiran begitu, tapi yang namanya aplikasi chat personal, pasti tak semua orang ingin mengetahui apa yang kamu rasakan-apa yang kamu tengah lakukan-apa yang kamu raih, mending kicau di twitter deh atau blog sekalian. Ya nggak?

Gimana sih maksudnya, Mut? Aku nggak ngerti. Aku terangkan lewat cerita aja ya? Pas aku ikut PJTL, aku sering banget update PM atau gonta ganti dp tentang apa yang aku lakukan disana. Memang itu hak aku, wong namanya juga bbm aku. Tapi saat itu aku nggak mikir perasaan teman-teman seorganisasi aku yang belum berangkat PJTL. Aku seolah cuek dan terlalu ‘sombong’ memamerkan ‘aku udah kesini lho’, ‘aku udah PJTL lho’, aku blab la.

Secara nggak langsung, teman-teman yang nggak ikut PJTL ngerasa gimana gitu kan? Dan akhirnya ada jarak diantara kami. Sekarang  aku udah jadi senior di LPM, saat ada junior yang dengan ‘sok’nya agak pamer gitu tentang Gagasan atau saat dia ikut dikdas di LPM lain, aku jadi ngerasa gondok pula. Aku jadi berfikir ‘ih ini anak sok banget sih,baru juga junior. Bla bla bla’. Padahal nggak boleh gitu kan? Trus apa juga yang bakal dipikirkan oleh teman-teman si junior yang nggak ikut ini?

Bikin status itu hak individu masing-masing, tapi kita hidup didalam masyarakat. Kita berada didalam satu organisasi yang sama, jadi mau nggak mau, suka nggak suka, kita dituntut untuk menjaga perasaan teman seorganisasi kita. Dari situ aku belajar, hindari membuat PM yang berlebihan, karna orang lain tak butuh mendengar kabarmu-tak butuh tau kamu sedang berada dimana-tak ingin tau apa saja yang sudah kamu capai, bagi orang lain itu nggak penting.

Mending kicau ditwitter atau curhat di blog. Kawan-kawan terdekatmu nggak mungkin kan sampai ngestalkerin twitter dan blog kamu, kecuali kalau dia ngefans sama kamu. Haha! =))

Intinya gitu deh, pokoknya banyak banget pelajaran berharga yang aku dapat. Tetap semangat belajar Mut! Postingan ala curhat-curhatan ini udah sedikit banyaknya menjabarkan alasan aku masuk LPM kan? Udah ngejawab pertanyaan di judul postingan kan? Udah deh kayanya. Oke segitu dulu, salam sayang, @muthiiihauraa.

You Might Also Like

5 komentar

  1. asik tuh, bisa belajar jadi wartawan n menulis

    BalasHapus
  2. wah keren, jadi redaktur lagi.
    gue juga anak LPM loh.
    salam persma!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hay, Salam persma dan salam kenal :D

      Hapus
  3. Halo, salam persma! Aku bukan anak LPM (krn di kaampus ga ada) tapu jatuh cinta sama jurnalistik dan suka ikut nimbrung bareng LPM temen.
    Asik yaa bisa terjun ke kegiatan yg sesuai passion dan banyak temen2nya juga hihi semangat trs yaa, makin banyak ilmunya ^^

    BalasHapus