Juara III di Ajang Peksimika

19.09 Muthi Haura 8 Comments


Haay, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya dihari ketiga puasa ini? Masih semangat? Harus dong ya! ;)) Semoga puasa tahun ini bisa lebih baik dari puasa ditahun-tahun kemaren. Amin! Kalau aku pribadi, banyak banget plan yang lagi dicanangkan dan lagi berusaha banget buat ngilangin rasa malas. Kadang berhasil dan kadang nggak sih. Haha!

Yang pasti lagi berusaha, semoga saja apa yang aku impikan ditahun ini menui hasil. Nggak mau nyia-nyiain waktu lagi, umur aku sekarang udah 21. Oh ya, dibulan Mei yang lalu, aku sempat daftar lomba cerpen di ajang Pekan Seni Mahasiswa Kampus atau biasa disebut PEKSIMIKA.  Tujuan diadakan Peksimika ini adalah untuk mencari bibit-bibit unggul yang akan dikirim ke ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida).

Kalau lolos di Peksimida, bakal dikirim untuk ikut Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) yang kalau nggak salah diadakan di Sulawesi Selatan. Aaak, pengen kesana Ya Allah! Nah diajang Peksimika ini, yang ikut lomba menulis dikumpulin dan disuruh bawa laptop. Dikasih waktu nulis kurang lebih selama delapan jam. Tema yang harus ditulis pun dikasih tau beberapa menit sebelum menulis.

Yang ikutan lomba menulis lumayan banyak, sayang banget nggak aku photo. Waktu itu, lomba menulis diadakan di lantai atas Islamic Centre dan kebetulan bagian bawah IC lagi ada acara seminar. Sumpah aku susah banget nulis ditempat yang ribut kaya gitu, tapi ya mau gimana lagi kan? Nggak ada pilihan lain juga, ya udah aku tulis semampu aku. Sempat juga diantara waktu lomba itu, aku izin masuk kelas. Ikutan lomba memang boleh, tapi kuliah tetap dinomorsatukan #eaak :D

Nah, ini dia cerpen yang aku tulis dalam ajang Peksimika. Check this out :

Tentang Indonesia di Tanah Thailand

            Kamu tau apa yang paling diinginkan saat berada dinegeri orang? Kamu tau apa yang paling dirindukan saat berada dinegeri orang? Kamu tau bagaimana rasanya saat harus survive dinegara yang benar-benar asing bagimu?
            Nailin menghembuskan nafas pelan. Berbagai pikiran berkecamuk dibenak gadis berusia 21 tahun itu. Ditangannya tergenggam sebungkus mie rebus. Sudah hampir sebulanan, Nailin berada di Pattani, Thailand.

 
            “Ngapain lo ngelamun?” Aga menyenggol pelan lengan Nailin, membuat Nailin mendengus kesal. Tanpa meminta izin, lelaki dengan tinggi 170 cm itu duduk disamping Nailin.
            Nailin menatap Aga sekilas, sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan lelaki yang baru dikenalnya saat sama-sama akan berangkat ke Thailand sebulan yang lalu. Memang Aga dan Nailin adalah mahasiswa pilihan untuk mengikuti program exchange student di Thailand dari Universitas yang berbeda.
            “Kenapa sih lo?” Aga mengulang tanya. Entah untuk yang keberapa kalinya, Nailin menghembuskan nafas. “Cuma lagi rindu Indonesia. Lagi rindu panasnya kota Pekanbaru,” jawab Nailin seadanya.
            Aga tertawa mendengar jawaban Nailin. “Gue malah bosan dengan hiruk pikuknya Jakarta. Disini lebih asik.”
*@@@*
            Nailin membolak-balikkan badannya diatas tempat tidur. Sama sekali matanya benar-benar tak ingin terpejam. Kejadian tadi sore masih terekam jelas dibenak gadis berlesung pipit dipipi sebelah kiri itu.

            “Jadi kamu nggak rindu Indonesia? nggak rindu kota kelahiran kamu, Jakarta? Sama sekali?” Nailin memberondong Aga dengan berbagai pertanyaan, membuat lelaki itu kembali mengumbar tawa. Tawa yang sebenarnya mampu membuat perempuan manapun luluh, tapi kali ini tidak untuk Nailin.
            “Buat apa merindukan Negara itu?” Aga berucap sinis yang entah kenapa membuat Nailin mendidih. Lelaki tampan disampingnya itu benar-benar sama sekali tak punya rasa nasionalisme, begitu menurut Nailin.
            “Kamu lahir di Indonesia! tumbuh dan hidup ditanahnya Indonesia. Bahkan matipun nanti ditelan Indonesia, lalu tak ada sedikitpun rasa bagimu untuk Indonesia?” tanya Nailin sinis.

            Nailin membuang penggalan kejadian itu dari benaknya, lalu kemudian gadis itu menghembuskan nafas. Bayangan wajah kedua orang tua dan teman-temannya kembali hadir, membuat rindu itu semakin menguak.
            “Selesaikan apa yang sudah kamu mulai, karna berhenti atau mundur berarti hancur! Dimanapun kamu berada, jadilah orang yang selalu bisa memberi manfaat bagi lingkungan. Tunjukkan kepribadian yang baik! Dan ingat, jangan pernah mau menjadi pemenang, tapi belajarlah untuk mengalahkan!”
            Pesan dari ayahnya kembali terngiang-ngiang dibenak Nailin. Tetesan-tetesan bening mengalir lembut dipipinya. Rindu ayah bunda! Rindu latihan tari setiap sore didepan teater kampus. Rindu rendang. Rindu kue kamboja dan asam pedas baung yang sering dimasakin bunda. Rindu janjian makai baju batik dengan teman-teman kampus.
            “Akh! Masih lama disini! Lima bulan lagi! Harus bisa survive, nggak boleh cengeng Nai!” Nailin mengingatkan dirinya sendiri sembari mengepalkan tangannya keudara. “Why, Nai? What’s wrong?” Salah seorang teman Nailin dari India bernama Sapna bertanya dengan tatapan heran.
            Nailin menyadari kesalahannya, lalu kemudian tertawa pelan menunjukkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi. “Nothing.”
*@@@*
            Aga berjalan gontai dikoridor kampus Prince Of Songkla University Thailand. Lelaki berbadan tegap itu sesekali menguap. Kelas siang tadi benar-benar membuatnya mengantuk. Tanpa sadar, sorot mata Aga tertuju pada sesosok gadis bertubuh mungil yang tengah asik mengajarkan sebuah tarian kepada teman-temannya.
            Tubuh gadis itu meliuk-liuk indah. Aga menghampiri, membuat gadis itu menghentikan tariannya. “Itu tarian apa?” tanya Aga seadanya. Gadis bertubuh mungil itu menghela nafas, lalu kemudian merebahkan badannya pada kursi. Beberapa temannya berpamitan, lalu melangkahkan kaki dan meninggalkan gadis itu berdua dengan Aga.
            “Tadi itu, aku lagi ngajarin teman-teman Thailand tarian Melemang.”
            Aga mengernyitkan kening mendengar nama tarian tersebut. Nama tarian itu benar-benar asing ditelinganya. “Tari melemang diperkirakan sudah ada sejak abad 12 dan awalnya dikenal sebagai tarian istana Kerajaan Bentan. Tarian ini memadukan unsur tari, music, dan nyanyian. Selain itu, tarian ini juga mengisahkan tentang kehidupan kerajaan.” Nailin menjelaskan panjang lebar.
            “Tarian dari Riau ya?” tanya Aga yang dijawab anggukan kepala oleh Nailin. “Kenapa sih lo kayanya cinta banget dengan kebudayaan Indonesia, khususnya Riau? Kalau di Jakarta, jarang gue nemuin cewek kaya lo gini,” ujar Aga dengan tetap memakai panggilan ‘lo-gue’.
            Nailin tersenyum tipis. Senyum yang entah kenapa diam-diam membuat Aga tak berkutik. “Sejak kecil aku selalu ditanamkan nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan. Nilai yang sampai detik ini tidak bisa aku lupakan karna mengalir didarahku.”
Nailin terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan kalimatnya. “Jangan pernah bertanya apa yang sudah Indonesia berikan padamu, tapi tanyalah apa yang sudah kamu lakukan untuk Indonesia. Jangan terlalu banyak menuntut, tapi karya yang diberi pun tak ada.”
*@@@*
Aga terpaku dibalkon mess penginapannya. Lelaki bermata tajam itu menatap kelangit malam. Kata-kata Nailin kemaren sore masih memenuhi benak Aga. Lelaki itu kemudian menghembuskan nafas.

“Aku lahir di Riau. Di Indonesia. Lalu haruskah aku tak tau terima kasih dengan melupakan kebudayaan-kebudayaannya? Lalu haruskah aku melupakan apa saja yang sudah diberikan Indonesia hingga aku bisa berada disini?” Nailin bertanya dengan menatap tajam kearah Aga.
“Apa yang bisa lo banggain dari kebudayaan Indonesia yang mulai luntur? Apa yang bisa lo banggain ditanah Indonesia yang begitu banyak manusia-manusia memakai topeng. Terlalu banyak tikus berdasi yang buat gue jijik!” kata Aga sarkatis.
“Nggak se—“
Aga memotong kalimat Nailin. “Terlalu sering gue ngelihat orang-orang miskin yang semakin ditindas di Indonesia. Terlalu banyak kejahatan disana-sini. Semua orang memakai topeng, hingga bahkan gue pun nggak tau mana sifat asli atau palsunya.”
“Nggak semuanya kaya gitu! Makanya, kalau kita ingin Indonesia berkembang menjadi lebih baik, tentu saja terlebih dahulu dari diri kita. Cintai produk didalam negri. Cintai kebudayaan dalam negri. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”
“Tapi gue terlalu jijik dengan tikus-tikus berdasi!”

Aga menghabus sepenggal episode itu. Berbagai tayangan masa lalu mampir dibenak lelaki bernama lengkap Agavni Al Masd itu. Tayangan-tayangan masa lalu yang membuatnya membenci tanah dan bahkan kebudayaan Indonesia.
Aga sangat membenci tikus-tikus berdasi. Tikus-tikus yang dengan tega menghancurkan taman bermainnya dan teman-teman masa kecilnya dulu. Tikus-tikus yang dengan tega menghancurkan mimpi teman-temannya dengan merenggut kawasan rumah dan sekolah mereka.
Dan yang paling amat ia sesalkan adalah, salah satu tikus berdasi itu adalah papanya sendiri. Lelaki yang sangat ia hormati dan kini tengah mendekam di penjara. Aga menelusuri malamnya kota Pattani lewat jendela matanya. Kota yang bisa dibilang rapi dan tertib dibandingkan kota kelahirannya, Jakarta.
Kalau saja papa nggak ngelakuin semua itu, mungkin gue nggak akan membenci Indonesia. Mungkin gue nggak akan anti dengan kebudayaan Indonesia. Dan yang pasti, mungkin gue nggak akan berhenti mainin alat music seruling.
Aga mengeluarkan seruling dari dalam tasnya. Seruling usang yang dulu pernah menjadi bagian hidupnya. Seruling yang diberikan oleh almarhum kakeknya. Setelah papanya dinyatakan bersalah oleh pengadilan, Aga benar-benar menghapus seruling dari hidupnya. Ia sama sekali tak pernah menyentuh seruling itu, walau tetap ia bawa kemana-mana.
*@@@*
Seseorang dihadirkan didalam hidup lo, entah hanya untuk sekedar singgah atau bahkan menetap pasti memiliki alasan. Dan apakah alasan Tuhan ngadirin lo dihidup gue agar gue bisa kembali mencintai kebudayaan Indonesia?
Aga menatap Nailin yang tengah asik menceritakan tentang kebudayaan Riau kepada teman-temannya dengan Bahasa Inggrish-nya yang lancar. Teman-temannya dari berbagai Negara itu mengangguk-angguk dan juga terkadang menyela. Sesekali mereka tertawa, lalu kembali melanjutkan cerita.
Aga yang ikut menyimak sesekali juga mengumbar tawa, lalu menatap kagum pada Nailin. “Indonesia itu tak kalah indah. Memiliki banyak kebudayaan dari Sabang sampai Marauke. Semuanya beragam-ragam, tapi tetap satu. Dan saya bangga menjadi warga Indonesia,” ujar Nailin dalam Bahasa Inggrish.
Nailin melirik sekilas pada Aga. Sudah hampir sebulanan lebih kenal dengan lelaki itu membuat Nailin sedikit tau tentang kepribadian Aga yang anti terhadap Indonesia. Nailin hanya berharap dapat mengubah sudut pandang lelaki itu tentang Indonesia.
*@@@*
“Dua minggu lagi 17 Agustus.” Aga berujar tiba-tiba, membuat seisi meja makan yang terdiri dari 10 orang mahasiswa asal Indonesia termasuk Nailin menoleh pada Aga. “Terus?” tanya Rina acuh tak acuh sembari menyuapkan potongan rotinya kemulut.
Aga menatap Rina tajam, lalu kemudian tatapannya tertuju kearah teman-temannya satu persatu. “Gue punya ide! Gimana setelah upacara 17-an dikantor konsulat, kita ngadain event tentang Indonesia. Tentang kebudayaan Indonesialah pokoknya. Entah itu makanan tradisional, pakai adat, tari, dan sebagainya. Gimana?”
Suasana dimeja makan sangat riuh. Semua setuju dengan usulan Aga, tak terkecuali Nailin. Bahkan Nailin sempat kaget mendengar usulan lelaki itu, tapi diam-diam, gadis itu mengumbar senyum.
*@@@*
Dua minggu menjelang tanggal 17 Agustus, mahasiswa-mahasiswa exchange student benar-benar disibukkan dengan persiapan event pertama mereka tentang Indonesia. 11 mahasiswa itu dibagi perkelompok dan disuruh menghandle beberapa makanan khas Indonesia.
Tak terkecuali juga bagi Nailin yang mendapat tugas mengajarkan teman-teman luar negrinya tari persembahan yang nantinya akan ditampilkan saat event berlangsung. Begitu juga dengan Aga yang tak kalah sibuknya. Semua sibuk dan berharap event ini benar-benar akan membekas dihati masyarakat Thailand.
“Kok tiba-tiba kamu bisa dapetin ide buat kaya gini sih?” tanya Nailin disuatu sore saat dirinya dan Aga tengah sama-sama beristirahat. Aga tersenyum pelan. “Nggak tau ya. Setelah gue pikir-pikir, apa yang selama ini lo bilang itu benar. Mungkin masa lalu gue yang membuat gue benci Indonesia dan masa lalu bukan untuk diingatkan?”
“Masa lalu itu untuk dijadikan pelajaran. Ibarat kamu sedang ngendarai motor, masa lalu itu jalanan dibelakang kamu yang sesekali harus kamu lihat lewat spion. Tapi nggak boleh juga terus-terusan ngeliat spion, entar nabrak lagi,” kata Nailin sembari tertawa.
Aga mengangguk-angguk setuju.
*@@@*
            “….. Disana tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung dihari tua. Tempat akhir menurtup mata….” Semua serempak menyanyikan lagu itu sembari berdiri hormat menatap bendera. Ini lagu kedua yang mereka nyanyikan setelah lagu Indonesia raya.
            Entah kenapa bagi mereka, ada rasa yang benar-benar berbeda di perayaan 17 Agustus kali ini. Nailin dan beberapa teman-teman lainnya pun sempat menjatuhkan air mata. Mata Aga pun tak kalah berkaca-kaca.
            Aku disini, Thailand! Dan aku begitu merindukan Indonesia. Aku merindukan semua yang ada di Indonesia. Kebudayaannya, keramahtamahannya, kemacetannya, makanan-makanannya, dan semua hal di Indonesia.
            Banyak yang bilang kalau Indonesia itu semberawut, memang! Tapi itu bukan salah Indonesia, tapi salah orang-orang yang membangunnya. Bagiku, Indonesia tetap nomor satu. Aku berjanji untuk membuat Indonesia bangga telah punya aku.
            Nailin kembali menyusut air matanya, lalu menatap sekali lagi bendera merah putih yang berkibar dilangitnya Pattani Thailand. Nailin menghembuskan nafas. Setelah ini, PR-nya akan semakin banyak. Banyak hal yang harus dibuat untuk Indonesia. banyak sekali. Nailin membatin.
            Gue memang pernah membenci Indonesia, tapi itu dulu. Bolehkan gue kembali mencintai Indonesia. kota ini mengajarkan banyak hal, termasuk juga gadis itu. Gue memang dilahirkan dari tangan salah seorang tikus berdasi, tapi bukan berarti gue akan seperti itu kan?
            Gue janji bakal belajar sungguh-sungguh tentang kebudayaan! Tentang Indonesia! Nggak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Memperbaiki Indonesia. Aga membatin, lalu tanpa sadar menatap Nailin. Begitupun Nailin yang ternyata juga tengah menatap Aga. Keduanya kemudian sama-sama tersenyum.
The End

Gimana gimana? Ngantuk ya bacanya? Haha! Nah, yang pemenang I sampai III lomba menulis, akan dilatih dan nantinya yang dianggap pantas bakal dikirim buat ikut PEKSIMIDA. Doain aku biar diutus Peksimida ya. Oke deh, salam sayang, @muthiiihauraa.
Rabu, 8 Juni 2016. 08.09 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

8 komentar:

  1. Hi Muthi, salam kenal ya.. Aku bukan cerpenis jadi kayanya bukan porsinya untuk menilai cerpen km hehehe tp aku lihat ada beberapa typo yg sebaiknya dibenerin ;) Well good luck semoga menang lombanya dan jadi ikut Peksimida ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa, makasi masukannya :))
      Amiin :D

      Hapus
  2. keren cerpennya, biasa di liput di koran ndak gan

    BalasHapus
  3. Bagus muthi cerpennya. Kayak bnr2 pengalaman pribadi.. Selamat dan sukses yaa!

    BalasHapus