[Review Buku] : Rindu

18.26 Muthi Haura 0 Comments



Hay, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya? Beberapa hari yang lalu, aku baru saja menyelesaikan sebuah novel Rindu yang ditulis oleh Tere Liye. Sebenarnya novel ini udah aku baca sebelum berangkat KKN, tapi belum sampai tamat. Awalnya aku kira novel ini ngebosenin, soalnya aku kurang suka novel yang kalimatnya bertele-tele, tapi makin dibaca sampai akhir, ternyata keren.

Memanglah ya jangan pernah memandang sesuatu dari apa yang terlihat diawal, karna kita nggak pernah tau ujungnya itu seperti apa. Novel ini mengagumkan dan kayanya diangkat dari kejadian nyata kisah hidup Gurutta alias Ahmad Karaeng. Aku dibuat berdecak kagum dan penasaran saat membacanya, juga sempat menitikkan air mata saat tokoh eyang putri di novel ini meninggal.

Masing-masing tokoh dalam novel ini punya peranan penting. Dan juga masing-masing tokoh punya alur kisah hidupnya sendiri. Terkagum-kagum dengan imajinasi Tere Liye yang seolah pandai menempatkan peran setiap tokoh. 

Dari novel ini juga, aku mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang hidup. Ada beberapa kalimat yang aku suka dari novel ini, check this out :
Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus coretan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, dengan apapun. Tapi tetap akan tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong. Buka lembaran baru, tutup lembaran yang pernah tercoret. Jangan diungkit-ungkit lagi. Tutup lembaran yang tidak menyenangkan itu. Apakah mudah melakukannya? Tidak mudah. Tapi jika kau bersungguh-sungguh, jika kau berniat teguh, kau pasti bisa melakukannya. (Rindu-halaman 375)

Yap, setuju banget aku. Kita nggak akan pernah bisa menghapus setiap luka yang orang lain torehkan dalam hidup kita. Sebesar apapun luka itu disembuhkan atau berusaha dihapus, tetap akan meninggalkan bekas. Ibarat gelas yang awalanya utuh, tiba-tiba dibanting hingga pecah. Sekuat apapun orang itu menyatukannya kembali, tidak akan bisa. Bisa sih, tapi tidak akan sama seperti semula.




Ada dua hal yang dapat diambil pelajaran dari paragraph halaman 375 itu. Pertama, jangan pernah menyakiti perasaan orang lain. Berusahalah menjaga perasaannya, layaknya kamu yang juga tak ingin disakiti, begitu juga orang lain. Sekali kamu menyakiti perasaannya, belum tentu orang itu bisa menghapus dan melupakannya dengan mudah. Jangan sampai hal ini menjadi boomerang dalam hidupmu untuk kedepannya.

Kedua, jadilah orang yang pemaaf. Belajarlah memaafkan orang lain. Sekuat apapun kamu menyimpan dendam, yang akan rugi kamu sendiri. Kamu jadi akan berfokus membalas dendam itu ketimbang berfokus untuk menggapai semua impianmu. Belajarlah untuk  memaafkan. Untuk membuka lembaran baru yang lebih baik. Nggak mudah, tapi bukan berarti nggak bisa.

Trus kalimat lainnya adalah ‘Lepaskanlah, Ambo. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu’ (Rindu-halaman 492)

Ngomongin soal cinta memang tak ada habisnya ya. Selalu jadi topic menarik. Melepaskan seseorang yang kita cintai? Berat, tapi apa yang disampaikan dinovel Rindu halaman 492 itu ada benarnya.

Trus dihalaman 493 juga dikatakan ‘Dalam cinta, jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama, menodai cinta itu sendiri. Cinta itu ibarat bibit tanaman. Jika dia tumbuh ditanah yang subur, disiram dengan pupuk pemahaman yang baik, dirawat dengan menjaga diri, maka tumbuhlah dia menjadi pohon yang berbuah lebat dan lezat. Tapi jika bibit itu tumbuh ditanah yang kering, disiram dengan racun maksiat, dirawat dengan niat jelek, maka tumbuhlah ia menjadi pohon meranggas, berduri, berbuah pahit. Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tercapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar.’

Ngomongin soal cinta gini, aku jadi ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Seseorang menyatakan perasaannya padaku. Aku nggak tau entah dia hanya bercanda atau serius, tapi saat itu, aku melihat keseriusan dimatanya. Ya, dia hanya sebatas menyatakan perasaannya, karna buru-buru aku tangkis dengan jawaban ‘oh’, lalu aku tertawa dan berlalu.

Umur aku saat ini 21 tahun. Bukan zamannya lagi main-main pacaran nggak jelas. Bukan zamannya lagi nyari seseorang untuk sehari dua hari dan happy-happy sesaat. Umur 20-an keatas itu menurut aku udah nyari seseorang yang memang pantas diperjuangkan dan diajak kepelaminan #eaak.

Tapi aku belum sanggup juga kalau disuruh menikah dalam jangka waktu dekat ini, karna saat ini aku sedang belajar. Sedang memperbaiki diri. Sedang menyiapkan bekal untuk jadi istri dan ibu yang baik. Iya lho aku lagi belajar. Aku lagi suka-sukanya baca blog atau buku yang berkaitan dengan rumah tangga dan parenting. Oke, jangan diketawain. Nggak ada salahnya kan nimba ilmu seputar itu?

Okelah skip! Overall, novel ini keren. Pesannya dapet dan jelas. Recommended-lah pokoknya, walau bahasanya sedikit bertele-tele. Diakhir ending dinovel ini, aku langsung berujar ‘keren’. Serius loh. Mungkin segini aja dulu. Salam sayang, @muthiiihauraa
Jum’at, 28 Oktober 2016. 13.07 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: