Cerpen : Pacu Jalur

18.28 Muthi Haura 4 Comments



Haay, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya? Lagi dikantor nih dan pengen update blog, tapi berhubung belum ada bahan yang ditulis, aku mau share cerpen yang aku ikutkan di ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) yang diadakan di PKM UIN Suska.

Setelah dinyatakan lulus Pekan Seni Mahasiswa Kampus (PEKSIMIKA), aku senang banget. Nggak sabar nunggu PEKSIMIDA. Ternyata PEKSIMIDA-nya diadakan seminggu pulang KKN. Nyerah deh buat ikut, ditambah satupun syarat belum ada dilengkapi. Tapi dihari perlombaan, tiba-tiba Nafi kerumah. Dia bilang, aku harus ikut dan mengenai persyaratan nggak apa kalau belum lengkap.

Setelah dipaksa Nafi, akhirnya aku memutuskan untuk ikut. aku piker kapan lagi, tahun depan mana tau udah nggak berstatus mahasiswa lagi. Ah, pokoknya gitulah. Kepanjangan intro ya, langsung aja deh, ini cerpennya, check this out :

Cerpen : Pacu Jalur

            Aku terlalu muak dengan semua ini! Terlalu muak dengan orang-orang yang selalu memakai topeng. Ah, pada nyatanya didunia ini memang tak ada manusia yang tulus. Semua busuk. Hanya mendekat disaat ada maunya saja! Merampas sesuatu yang bukan miliknya. Pengkhianat! Avil merutuk didalam hati. Berulang kali gadis berusia 21 tahun itu menghembuskan nafas, seakan ada beban berat yang tengah dialaminya.

            “Hei! Kenapa lagi? Masih memikirkan kejadian itu?” Sebuah suara nan lembut mengagetkan Avil, membuat gadis itu menoleh kesumber suara. “Kita kesini kan buat refreshing. Udahlah, yang berlalu biarlah berlalu.” 

source : google

“Nggak semudah itu, Shel! Nggak semudah itu ngelupain semuanya. Apa coba maksud mereka selingkuh gitu? Aini itu sahabat aku dan Rico itu pacar aku, trus kenapa mereka tega?” ujar Avil setengah emosi. 

            Shela menatap Avil sekilas, lalu kemudian pandangan gadis itu tertuju pada sungai Kuantan di hadapannya. “Vil, hidup itu kaya sungai, ada kalanya ngalirnya mulus dan ada kalanya pula ngalirnya tersendat. Semua itu tergantung kitanya menanggapi se—”

            Avil menatap tajam kearah Shela, lalu kemudian memotong kalimat gadis bernama lengkap Shela Dinata itu. “Kamu nggak ngerti, Shel! Kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain.” 

            Shela menghembuskan nafas, lalu menatap tepat dimanik mata Avil. “Hidup itu bukan persoalan cinta saja. Masih banyak diluar sana yang hidupnya lebih menderita dari kamu. Belajarlah untuk bersikap dewasa. Aku memang baru mengenalmu dan aku Cuma nggak ingin kamu terlalu lemah ngadepin hidup.”

            Shela berhenti sejenak, lalu kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. “Jika kamu punya 100 masalah, katakanlah pada masalah itu bahwa kamu punya 1000 alasan untuk tetap berbahagia. Masalah cintapun begitu, kamu akan dipertemukan dengan orang yang salah terlebih dahulu sampai akhirnya dipertemukan dengan orang yang tepat,” kata Shela sembari berlalu meninggalkan Avil. Membiarkan gadis berbola mata coklat itu meresapi kata-katanya.
*@@@*
        
    “Gak bisa kaya gini Gi! Jalur kita itu harga mati, jika ada sedikit saja orang luar yang merusaknya, kita harus bertindak.” Alpa mengacungkan-acungkan parangnya dihadapan Gio. Lelaki berkulit hitam legam itu berujar dengan emosi. 

            Gio menatap teman seperjuangannya itu. Sebenarnya lelaki yang tengah menyelesaikan pendidikannya di Pekanbaru itu juga teramat emosi, tapi Gio masih mengedepankan akal sehatnya. “Ngerti nyo, tapi sejak dulu dari leluhur kita kan udah diajarkan dalam menyelesaikan masalah itu harus musyawarah. Harus berkepala dingin, jangan mengesampingkan emosi.”

            Alpa mendelik kesal kearah Gio. “Jalur kita ditahan mereka, trus kita disini masih duduk diam? Masih bisa tenang saat sesuatu milik kita dirampas orang lain? Jalur sijontiok lawuik itu kebanggan desa kita. Kebanggaan Kecamatan Cerenti ini. Sesuatu yang harus dijaga dan dipertahankan sampai mati!”

            Gio menghembuskan nafas, sedangkan teman-temannya yang lain mengangguk setuju dengan perkataan Alpa. “Sekarang gini aja, kalau kamu memang nggak mau ikut ngadepin mereka, terserah! Kami yang akan berangkat!”
            Alpa berlalu meninggalkan Gio, diikuti oleh teman-temannya yang lain.
*@@@*

            “Bang Gio? Ngapain disini bang?” Avil mendekati Gio. Lelaki itu hanya menoleh sekilas, lalu kemudian kembali menatap sungai Kuantan dihadapannya sembari menghembuskan asap rokoknya.

            Avil berdiri sungkan disamping Gio sembari mengutuki dirinya yang seakan sok akrab. “Abang lahir di Desa Pulau Jambu ini, besar juga disini. Sejak kecil udah familiar dengan jalur, bahkan sempat jadi Coki depan untuk jalur sijontiok. Sijontiok lawuik pulau tanamo, jalur kebanggaannya Desa Pulau Jambu. Jalur kebanggannya Cerenti.” Gio bercerita panjang lebar tanpa diminta.

            Avil menatap bingung. Sama sekali tak mengerti dengan apa yang diceritakan Gio. Mau tak mau, akhirnya Avil duduk disamping lelaki yang baru dikenalnya dua hari yang lalu itu. Gadis bernama lengkap Avilla Zena itu hanya diam seakan menunggu kelanjutan cerita dari Gio.

            “Lantas jika sesuatu yang jadi kebanggan itu dirampas oleh orang, apa yang harus dilakukan? Kamu tau jalur kan? Kamu tau kan event pacu jalur yang tiap tahun selalu diadakan dibulan Agustus? Event pacu jalur itu termasuk kearifan local yang harus dipertahankan bangsa Indonesia. kamu tau kan kearifan local? Kearifan local adalah suatu identitas atau kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri. Kearifan local juga merupakan sebuah pengalaman panjang yang diendapkan sebagai petunjuk perilaku eseorang.” Gio kembali berceloteh tak tentu arah. Sama sekali tak peduli bahwa gadis disampingnya itu tak mengerti dengan maksud ucapannya.
*@@@*

            Shela membaringkan dirinya diatas tempat tidur lusuh dikamarnya. Bayangan wajah Avil mampir dibenak gadis yang memiliki tinggi 156 cm itu. Kamu kemana sih, Vil? Merajuk dengan kata-kata aku pagi tadi? Apa aku salah ngajak kamu refreshing kekampungku ini?

            Pintu kamar berderit, Shela buru-buru mengarahkan pandangannya kearah pintu, lalu tersenyum lega saat menemukan sosok berwajah cantik milik Avil disana. “Kamu kemana aja?”

            “Sorry Shel. Aku minta maaf untuk sikap childish-ku tadi pagi. Tadi pas aku mau pulang, ketemu bang Gio. Dia cerita banyak hal.” Mendengar nama Gio, sontan Shela duduk dari posisi tidurnya. Gio, lelaki yang diam-diam mencuri hati Shela sejak lama. Sejak gadis itu masih duduk dibangku SMP.

            “Cerita jalur, aku kurang ngerti sih. Kamu jelasin dong.”

            “Ooh jalur. Di Kuansing ini kan memiliki event nasional setiap tahunnya berupa pacu jalur. Biasanya diadakan setiap bulan Agustus sekaligus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Konon katanya sih, pacu jalur berawal di abad ke-17.”

             “Berarti pas dijajah Belanda, pacu jalur itu udah ada kan? Apa respon Belanda dengan adanya pacu jalur? Apa diboikot atau bagaimana?” Avil menatap Shela dengan tatapan penasaran. Rasa penasaran gadis itu membuatnya lupa dengan masalah percintaannya.

            Shela meraih gelas plastic berisi air putih diatas meja belajarnya dan kemudian meneguk air itu hingga habis. “Setau aku sih nggak diboikot. Malah pacu jalur tetap diadakan untuk memperingati perayaan adat, kenduri rakyat, dan bahkan diadakan untuk memperingati hari lahir ratu Belanda Wihelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus.”

            “Serius? Berarti event pacu jalur ini termasuk diapresiasi oleh Belanda ya?” tanya Avil. Pertanyaan yang sebetulnya tak memerlukan jawaban. Shela tersenyum sembari mengangguk pelan.

            “Kamu tau kan jalur, Vil? Udah pernah lihat? Jalur itu kalau disini diartikan dengan perahu yang panjangnya 25 hingga 40 meter. Sedangkan lebar bagian tengahnya sekitar 1,3 meter sampai 1,5 meter. Biasanya satu jalur dikayuah oleh kurang lebih 40 orang. Nah, kalau di Desa Pulau Jambu ini, nama jalur kebanggaannya Sijontiok Lawuik Pulau Tanamo.”

            Shela menghirup nafas, lalu kembali melanjutkan ceritanya. “Ditahun 2015 lalu, dalam event pacu jalur di Taluk, Sijontiok berhasil meraih juara 4. Pulang-pulang dari Taluk itu bawa kerbau, kambing, dan uang. Pokoknya tahun 2015 kemaren itu masa emasnya Sijontiok. Di Pulau Jambu ini akses jalanannya susah. Mobil nggak bisa masuk. Bisa dibilang masih desa tertinggallah. Nah, satu-satunya kebanggan Desa ini ya jalur Sijontiok.”

            “Aku belum pernah nonton pacu jalur, baru taunya pun pas bang Gio cerita tadi. Iya, sadar diri kok kalau aku kudet.” Avil memasang raut wajah sedih, membuat Shela tertawa. “Tenang, besok aku ajakin nonton pacu jalur. Tanggal 25 Agustus besok, pacu jalur nasional di Taluk udah mulai, kesana kita!”

            “Nggak perlu, bang Gio udah janji mau ngajakin nonton pacu jalur besok itu,” kata Avil, membuat raut wajah Shela berubah mendung. Kenapa harus Avil yang diajak? Kenapa bukan aku? Shela membatin.

            “Nggak sabar nunggu hari H pacu jalur!” Avil berujar senang sembari membaringkan tubuhnya keatas tempat tidur. Mungkin liburan kedesa ini merupakan pilihan yang tepat. Udah saatnya ngelupain mereka! Nggak mudah memang, tapi bukan berarti nggak bisa kan?  

            Avil menghembuskan nafas, lalu seakan teringat sesuatu, Avil menatap Shela. “Shel, kata bang Gio tadi, jalur Sijontiok ditahan, bener nggak? Trus gimana bakal ikutan pacu jalur kalau jalurnya aja ditahan?”

            “Tadi pagi emang ditahan, tapi barusan aku dapat SMS kalau jalurnya udah dilepas tanpa cacat sedikitpun,” kata Shela sedikit sinis. Avil hanya manggut-manggut, tanpa sedikitpun merasa curiga dengan perubahan gadis disampingnya itu.

            “Vil, apa aku boleh pergi sama kamu dan bang Gio besok pas nonton pacu jalur?” tanya Shela polos. Avil tertawa mendengar penuturan Shela, lalu kemudian mengangguk. “Ya bolehlah Shel!”
*@@@*

            Shela manyun. Beberapa kali gadis itu merasa tercueki oleh sikap Gio dan Avil. Menurut Shela, Gio seolah mengacuhkannya. Ini hari kedua mereka bertiga menonton pacu jalur di Taluk.  “Gimana pacu jalurnya, Vil? Seru bukan?”

            “Seru! Seru banget bang. Aku belajar banyak dari event pacu jalur ini,” ujar Avil sembari menggenggam kertas yang berisi nama-nama jalur dan lawan tandingnya. Gio tertawa. Tawa yang tentu saja semakin menggetarkan hati Shela.

            Apa sekasat mata itu aku sampai sedikitpun kamu tak menoleh ke aku bang? Shela membatin, lalu kemudian menghembuskan nafas. Gadis itu kembali mencoba menata hatinya. Mencoba bersikap biasa-biasa saja, seolah dihatinya memang tak pernah ada apa-apa.

            “Oh ya? Pelajaran apa yang didapat emang dari event ini?” tanya Gio. “Banyak! Pelajaran pertama, kekompakan. Setiap jalur jika ingin menang, yang harus mereka miliki adalah kekompakan. Kalau dilihat-lihat para atlet jalur ini, terutama atlet Sijontiok, mereka punya rasa kekompakan yang tinggi. Dalam hidup pun jika ingin meraih sesuatu secara cepat, maka butuh kekompakan dalam team.”

            “Pelajaran kedua, fisik yang fit. Tanpa fisik yang fit, para atlet nggak akan mungkin bisa mengayuah dengan baik. Begitu pun dalam hidup, tanpa fisik yang sehat, seberapa besarpun rencana kita untuk menggapai cita-cita kita, tetap nggak akan bisa. Tetap akan terkendala.”

            Gio manggut-manggut mendengarkan penuturan Avil. Entah kenapa, ada sebersiot rasa kagum yang bersemayam untuk gadis berlesung pipit yang memiliki nama lengkap Avilla Zena itu. “Trus?”

            “Banyak deh pokoknya bang, susah diungkapkan satu-satu. Yang pasti aku belajar banyak. Sebenarnya segala sesuatu itu jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, banyak pelajaran yang bisa diambil, termasuk event pacu jalur ini, iyakan Shela?” Avil menatap Shela.

            Shela gelagapan. Gadis itu buru-buru menetralkan dirinya. “Eng iya! Selain itu, yang bisa diambil pelajaran bahwa kearifan local di Indonesia ini sangat luar biasa dan patut diacungi jempol. Kearifan yang membuat kita semakin dewasa dalam menjalani kehidupan,” kata Shela.

           Dan satu hal juga yang pasti. Pacu jalur ini mengajarkanku akan arti menang dan kalah. Kalah bukan berarti pecundang. Kalah bukan berarti gagal. Kalah adalah salah satu proses pendewasaan untuk menjemput sesuatu yang lebih hebat dari yang ada. Termasuk kalah soal cinta. Shela membatin sembari mencoba tersenyum sok kuat.
*@@@*

           “Lari Vil, Shel!” Gio berteriak histeris. Lemparan batu sebesar kepalan tinju orang dewasa hampir saja mengenai mereka bertiga. Ini hari ketiga pacu jalur di Taluk ditahun 2016. Avil dan Shela terengah-engah. Mereka sudah berada ditempat yang aman dan jauh dari lemparan batu.

           Avil membungkuk sembari menghembuskan nafas. “Kok bisa gitu? Kenapa jalur dari I*****n itu nggak terima dengan kemenangan Sijontiok?”

           Gio mencoba mengatur nafasnya yang masih tersenggal-senggal. “Itulah yang nggak aku ngerti. Seharusnya pacu jalur ini semakin mempererat tali silaturrahmi antar atlet dari berbagai daerah, tapi ini malah rusuh. Mereka nggak mau nerima kekalahan.”

           “Di desa kita sejak kecil diajarkan tentang solidaritas. Diajarkan rasa terbuka untuk menerima kekalahan, apa mereka tidak diajarkan seperti itu? Merusak kearifan local saja!” Shela ikut berkomentar gemas.

           “Yang diajarkan nenek moyang kita tentang kearifan local sudah benar. Semua kita diajarin, termasuk mereka, kejadian ini kembali ke individu masing-masing, apakah masih mau mempertahankan ajaran nenek moyang atau tidak.” Gio berujar bijak, membuat Avil dan Shela berbarengan mengangguk setuju.

           “Ya, semua itu kembali ke individu masing-masing.”

           “Vil, kamu nggak papa? Ada yang luka?” Avil menoleh kesumber suara, lalu kemudian sedikit terkejut saat menatap sipemilik suara. “Rico? Ngapain disini?”
*@@@*

           “Aku minta maaf Vil. Benar-benar minta maaf. Kasih aku kesempatan kedua.” Rico menatap Avil dengan tatapan memohon. Tiupan angin sore nan lembut membuat ujung rambut Avil sedikit tertiup.

           Avil menatap kesekelilingnya. Suasana sore nan sunyi, hanya ada dirinya dan Rico yang masih betah menatap sungai Taluk. “Udah dimaafin kok, Co.”

           “Berarti kamu ngasih aku kesempatan kedua?” Avil tergelak mendengar penuturan Rico, lalu kemudian gadis itu menggeleng. “Nggak. Aku hanya maafin kamu, bukan berarti ada kesempatan kedua. Seminggu lebih aku ada di Desa Pulau Jambu, aku belajar banyak disini. Belajar untuk tahan banting. Belajar untuk nggak cengeng dengan yang namanya cinta. Belajar untuk nggak pantag nyerah. Belajar untuk lebih menghargai kebudayaan Indonesia.”

           “Lantas?” Kening Rico berkerut, sama sekali tak mengeryi maksud ucapan Avil. “Intinya disini aku belajar lebih dewasa dalam memaknai banyak hal, termasuk cinta. Untuk saat ini, aku belum ingin berkutat dengan cinta yang tak pasti. Masih banyak hal yang masih ingin aku raih. Masih banyak wilayah Indonesia yang ingin aku kunjungi. Aku ingin belajar banyak hal tentang kearifan local disemua wilayah Indonesia.”

           Rico tertawa mendengar penuturan Avil. “Sejak kapan kamu jadi sedewasa ini? Siapa yang ngajarin? Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakana?” ujar Rico seolah meremehkan.

           “Pengalaman yang mengajarkanku bersikap dewasa kaya gini. Aku hanya nggak ingin hatiku terluka kembali karna cinta yang tak berujung,” kata Avil sembari berlalu. Tanpa mereka sadari, ternyata sejak awal ada sepasang telinga yang mendengar percakapan Avil dan Rico.

           Sipemilik sepasang telinga bernama Gio itu tersenyum. Jika kamu merpati terbaik, aku rela melepas kamu terbang tinggi, karna aku tau yang terbaik pasti akan pulang.

Seperti halnya dalam pacu jalur, jika ingin menang, maka harus focus kedepan. Begitu juga hidup, untuk mendapatkan sesuatu, kamu harus focus terhadap tujuan kamu. Jangan pedulikan sesuatu yang negative yang akan menghambat kamu dalam proses menuju tujuan itu. ~

The end
Muthi Haura. Peksimida, 10 September 2016.
           

Gimana? Gimana? Kasih koment atau kritik dan saran ya guys! Oke salam sayang, @muthiiihauraa.

Baca Artikel Populer Lainnya

4 komentar:

  1. Sudah bagus sih. Tapi typo-nya mungkin yang perlu diperbaiki. Seperti kearah yang harusnya ke dengan arah dipisah. Di(spasi)sini dsb.

    Good luck ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, makasi atas koreksinya ya :D

      Hapus
  2. Mbak naskah ceritamu enak banget..bisa dijadikan sinetron ya :) suka endingnya buat fokus sama tujuan..proses bisa aja sulit, tapi jangan sampai menyerah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya mbak, mudah-mudahan one day ada yang mau jadiin sinetron hehe ;D

      Hapus