Museum Sang Nila Utama

00.33



Hay, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya? Akhir-akhir ini, aku lagi berusaha nekanin rasa malas. Lagi berusaha untuk keluar dari zona nyaman. Iya, semuanya lagi diusahain. Akhir-akhir ini juga, aku dapat satu pelajaran berharga yakni ‘jangan percaya pada siapapun, kita nggak tau yang mana kawan dan yang mana lawan’!

Bukan bermaksud apa-apa. Bukan bermaksud nggak percaya dengan orang, hanya saja terlalu banyak kejadian yang bikin aku nyesek sendiri pas udah ngepercayai seseorang. Kepercayaan itu mahal harganya, sekali kamu rusak, selamanya aku tak akan percaya. ;’)

Oke skip curhatnya! Jadi ceritanya pas dikdas adik-adik angkatan 2016, dihari Sabtunya ada liputan keluar. Ditahun-tahun sebelumnya nggak ada liputan keluar, baru diadakan ditahun 2016 ini. Tempat yang dipilih, museum sang nila utama. Aku sih setuju-setuju aja, soalnya udah lama banget nggak ke museum ini.

Museum sang nila utama ini terletak di jalan jendral Sudirman dan diresmikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Prof.Dr.Edi Sedyawati pada tanggal 9 Juli 1994. Saat ini, bangunan museum sedang dalam tahap renovasi.

Aku juga sempat ngewawancarai salah seorang staff-nya, nama mbaknya Nefitriani. Bukan wawancara sih sebenarnya, Cuma sekedar kepo dan pengen tau aja. Ini nih hasil sedikit cerita-cerita a.k.a kepo dengan si mbak, check this out :




Seharusnya untuk perawatan koleksi dua kali dalam satu tahun, enam bulan sekali. Tapi sekarang nggak, soalnya semua itu tergantung anggaran yang didapat. Jadi saat ini kita perawatannya manual aja, dibersihkan. Kalau perawatan yang sebenar-benarnya, biayanya mahal. Nggak sembarangan. Perawatannya itu harus pakai asam sitritnya, airnya bukan air sembarangan. Ada banyak itu, kalau untuk kayu pakai parapit biar awet.
Koleksi di museum hampir semuanya duplikat, Cuma beberapa jenis yang asli. Yang asli salah satunya batu siput. Kalau naskah semuanya asli. Sepeda asli dari soeman HS. Setiap tahun seharusnya diganti koleksinya, tapi kita ini udah lama nggak dirobah. Kenapa nggak dirobah? Itu karna prosedurnya banyak, kalau nggak dikabulkan anggaran untuk pergantian koleksi, gimana mau ngerubahnya? Soalnya biayanya tu nggak sedikit, apalagi bahan-bahannya itu dari zat-zat kimia gitu. Mahal.
Pergantian koleksi ini maksudnya, semua yang dipamerkan disini, nanti diganti, masukin koleksi baru. Yang lama dimasukin ke gudang, yang digudang kita tukar lagi pindah kedepan. Kalau dipajang semua sekaligus nggak mudat tempatnya. Yang sekarang ini lebih banyak digudang dari pada yang dipamerkan.
Dana yang disediakan oleh PEMDA. Pernah kemalingan pedang udah lama.”

Aku kalau diajak ketempat-tempat sejarah kaya gini senang. Ilmu baru dan pengalaman baru. Sama kaya pas ke Istana Siak beberapa bulan yang lalu bareng Adrial-Arul-Nafi. Sayang banget ke museum ini nggak divideokan, jadi cepat-cepat kepengen punya kamera. 




Oh ya, saat memasuki museum, banyak spanduk-spanduk yang tertempel. Di spanduk itu diceritakan tentang sejarah Riau. Penasaran? Ini ada sedikit yang berhasil aku salin, check this out :

"Peristiwa G 30 S PKI


Situasi politik di Riau semakin memuncak ditandai bermunculannya organisasi mahasiswa, diantaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Semmi dan Mapancas.

Di Pekanbaru dilakukan berbagai kegiatan menyusun strategi dan latihan baris berbaris. Para pemimpin organisasi banyak yang ditangkap dan diamankan. Di Indragiri Hilir, PKI digerakkan MD Muchtar.

Gerakan menghancurkan PKI dilakukan sebagian besar komponen masyarakat Riau dengan membentuk Komando Aksi Bersama diprakarsai generasi muda, yang melibatkan tokoh-tokoh PII, ANSOR, HMI, SEMMI, IMM, PI PERTI, MAPANCAS, PMKRI, GMKI, dan lain-lain. Pertemuan dilakukan di Kantor Sosil pada 7 Oktober 1965 dengan menampilkan Tubagus Ishak.

Selanjutnya dilakukan demonstrasi keliling Pekanbaru menghancurkan SOBSI di jalan Sulawesi (sekarang JL.H.Agus Salim), menduduki kantor PKI di jalan Dahlia. Juga menggeledah rumah Ketua PKI Riau yakni Abdullah Alihami dan lain-lain. Gerakan ini bekerjasama dengan TNI AD dari Kodam Siliwangi.

Tahanan G 30 SPKI kategori Golongan A, diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) yang diselenggarakan di Gedung Nasional (sekarang Balai Dang Merdu), yang menetapkan hukuman mati. Sementara Golongan B dan C, ditahan di Tempat Penahanan Umum (sekarang Citra Plaza), Jalan Pepaya.

Era demokrasi terpimpin
Era ini dimulai sejak keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Sejak era ini juga muncul Partai Komunis Indonesia .

Demokrasi pada dasarnya hanya memunculkan tiga kekuatan politik utama yakni, Soekarno, PKI, dan TNI AD.

Masa Konfrontasi RI-MALAYSIA
Masa ini berdampak cukup besar bagi masyarakat Riau. 4-5 Juni 1964, Panglima Kodam se-Sumatera rapat di Pekanbaru, mengingat Pekanbaru sebagai front terdepan dan berhadapan langsung.
Dampak moneter era ini menghapuskan pemberlakuan mata uang dolar/ringgit di Kepulaun Riau dan menggantinya dengan Rupiah, yang menimbulkan stagnansi perekonomian Riau.

Sebelum kemerdekaan
Setelah menyerahkan Belanda kepada Jepang di Kalijati tanggal 9 Maret 1942, rakyat Indonesia harus menerima rezim Tentara Penduduk Jepang.
Penyerangan pertama dilancarkan Jepang terhadap Kepulaun Riau tanggal 14 Desember 1941 oleh tiga skuadron pesawat terbang. Pulau pertama mendapat serangan yaitu Terempa.serangan udara keatas kota Terempa ini diulangi lagi pada tanggal 19 Desember yang diikuti pendaratan kesatuan-kesatuan Angkatan Laut Jepang pada tanggal 15 Januari 1942.
Di Bangkinang, Jepang mengumpulkan seluruh pegawai Controleur termasuk Controleur dan Kepala Polisi untuk mengadakan serah terima kekuasaan tentara Belanda dan Jepang.
Kedatangan bangsa Jepang ke Siak tanggal 4 April 1942"

Mungkin tulisan nggak akan sempurna tanpa photo bukan? Untuk photo-photo, aku Cuma punya sedikit.














































Oke mungkin sekian dulu. Jangan malas ke museum ya! Jangan malas belajar sejarah. Orang besar adalah orang yang menghargai dan tidak melupakan jasa-jasa pahlawannya. Salam sayang, @muthiiihauraa.
Sabtu, 19 November 2016. 20.29 WIB.

You Might Also Like

11 komentar

  1. Semoga anggaran untuk pemeliharaan dan menambah koleksi museum tetap mengalir ya mbak. Biar makin banyak orang datang ke museum tersebut dan begitu banyak orang juga lebih banyak tahu tentang sejarahnya

    BalasHapus
  2. museum di Indonesia kadang suka ngga terjaga dengan baik, kondisinya pun kurang bagus, hanya beberapa museum aja yg terawat, jadi bikin orang2 malas pergi ke museum

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul tuh mbak setuju.
      Padahal kan kalau dijaga dengan baik, pengunjungnya pasti ramai ;))

      Hapus
  3. Mba Nefri ini blogger juga bukan? Kaya pernah dengar nama beliau. Saya termasuk yang menyukai berkunjung ke museum, karena itu saya merasa sedih ketika menemui satu museum yang tidak terawat. Semoga saja selalu ada anggaran khusus untuk benar-benar merawat museum di Indonesia di semua tempat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayanya bukan blogger mbak, tapi kurang tau juga hehe.
      Amin mbak, semoga saja ;)

      Hapus
  4. Saya sebenarnya suka sejarah tapi lamaaaa banget ga ke museum. Iya. Museum sering ga terawat ya, bau apek dan malas. Moga museum Indonesia makin maju dan terawat. Butuh anggaran juga ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga suka ke museum mbak. Amin ya mbak ;)

      Hapus
  5. unik2 ya muti koleksinya, banyak koleksi langka juga ya

    BalasHapus
  6. Sayang ya kalau museum gak terawat, pdhl ini adalah keayaan bangsa yg bisa diwariskan utk anak cucu kelak, TFS mbk :)

    BalasHapus
  7. Anak-anak saya suka banget kalo diajak ke museum, mudah-mudahan Indonesia bisa maksimalin museum-museum yang ada. Thanks for sharing btw

    salam,
    syanu

    BalasHapus