Gadis Penjual Goreng

19.36 Muthi Haura 7 Comments



Haay, Assalamua’laikum. Sedang apa? Akhir-akhir ini lagi disibukkan dengan berbagai deadline tugas dan deadline di organisasi, ditambah lagi aba sedang sakit, rada-rada susah bagi waktu buat nulis blog. Nah, untung tadi sebelum berangkat kantor ini ngubek-ngubek laptop nyari tulisan untuk di posting. Untung ada tulisan lama ini. Sejenis feature. Dari pada mendem doing di laptop, mending aku post disini aja.

Gadis Penjual Goreng
Created by : Muthi Haura

Namanya Desrida Wati. Gadis berkulit sawo matang berwajah manis yang biasa disapa Ides itu salah seorang penjual gorengan keliling di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDK). Berjualan gorengan mulai ditekuni Ides saat dirinya masih duduk dibangku kelas 5 Sekolah Dasar (SD) hingga sampai gadis itu duduk dibangku kuliah. 


Desrida Wati


          Sesekali gadis itu mengumbar senyum saat diwawancara pada Senin (30/11/2015). Kebisingan disekitarnya pun tidak menyurutkan semangatnya untuk bercerita perihal seluk beluk dirinya memulai berjualan goreng. Dengan semangat, gadis yang memakai jilbab coklat dipadukan dengan baju berwarna ungu itu beralasan berjualan adalah untuk membantu meringankan beban orang tua. Selain itu, Ides mengakui bahwa berjualan merupakan hobbynya. “Kalau nggak jualan, rasanya kaya kehilangan sahabat dekat.” 

 
Ides mempunyai saabat dekat yang menjadi panutan dalam menjalankan usaanya. Sama al dengannya, temannya itu berjualan empek-empek dengan berjalan kaki keliling kampus. Ia seperti ditularkan semangat.  “Meelihat kak Lovy dengan semangatnya berkeliling Fakultas untuk berjualan empek-empek,”kata gadis kelahiran 1 Dessember dua pulu satu tahun yang lalu.
“Bagi aku berjualan itu udah kaya hobby. Kalau nggak jualan, rasanya kaya kehilangan sahabat dekat. Pernah diawal ngampus, aku nggak jualan, trus ngelihat kak Lovy dengan semangatnya berkeliling Fakultas untuk berjualan empek-empek, semangat itu kembali timbul lagi.” Ujar gadis kelahiran 1 Desember itu. Sesekali juga saat ia berbicara, tangannya ikut bergerak-gerak mengikuti irama kata-katanya.
Ides sempat mengagumi sosok Lovy yang berjualan empek-empek. Di mata Ides, sosok Lovy adalah sosok inspiratif dan energik. “Kagum aja sama kak Lovy itu. Semangatnya patut diacungi jempol. Selain kak Lovy, aku juga punya teman anak FEKON yang namanya Wahyu. Dia jualan donat keliling fakultas juga. Dia yang sering nyemangatin aku pas aku lagi down.”
Ayahnya bersumber penghasilan dari kebun milik keluarga mereka, salah satu yang di tanam di kebun itu adalah lengkuas. Biasanya saat panen, Ides kebagian tugas untuk mencuci lengkuas dan mengantarkannya ke pasar. Selain itu, sesekali Ides juga ikut membantu ayahnya mencari lidi yang diikat hingga 100 batang, kalau di jual akan di hargai Rp.30.000. Sedangkan ibunya, seorang ibu rumah tangga yang baru-baru ini membuka kedai lontong didekat rumah yang mereka diami.
Kesibukannya dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiah, tidak menyurutkan anak ketiga dari enam bersaudara ini untuk aktif berorganisasi. Tidak tanggung-tanggung, Ides mengikuti empat organisasi sekaligus. PMI, English Club, Kumpulan Pemuda-Pemudi Desa Rimbo Panjang, dan Komunika.
Bertumpuknya tugas kuliah pun tidak membuat Ides lantas mengeluh dan menyerah pada keadaan begitu saja, justru itu semakin menjadikannya pelecut semangat untuk terus berkarya dan berproses menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya. 
Berbicara masalah membagi waktu, Ides memiliki cara dan trik sendiri agar tidak keteteran dalam kuliah, organisasi, maupun berjualan goreng. “Aku nargetin kediri sendiri untuk mulai jualan jam 7 pagi sampai jam 9. Biasanya sampai jam 9 itu, gorengan sudah habis. Setelah itu kalau nggak ada jam, biasanya aku ngerjain tugas di perpustakaan.” Ceritanya dengan senyuman yang masih terpampang diwajahnya.
Indeks Prestasinya pun tidak bisa di sepelekan, gadis bertubuh lumayan berisi ini pada semester yang lalu mampu mengondol IP 3,50. Sejauh ini, untuk nilai-nilai akademik tiap semesternya, IP Ides selalu naik. Terbukti, kesibukannya dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiah dan aktif berorganisasi disana-sini, tidak membuat nilai kuliahnya ‘terjun bebas’.
Biasanya, Ides membawa gorengan ke kampus sebanyak 100 gorengan. Ia menentengnya ditangan kanan dan kirinya sembari menawarkan gorengan dagangannya kepada siapa saja yang ia temui. 100 gorengan perhari yang ia bawa itu, ia targetkan agar selalu habis. Kalau saat berkeliling di fakultas peminatnya sedikit, maka Ides akan berjualan di fakultas lain.
Suasana kelas semakin riuh, pasalnya dosen yang seharusnya masuk tidak datang. Suara celotehan sana-sini sama sekali tampaknya tidak mengganggu jalannya proses wawancara. Ides masih asik dengan cerita pengalamannya dengan gaya berbicaranya yang khas. Ides mengaku sama sekali tidak malu saat berjualan goreng. “Awalnya sih malu jualan dan nenteng-nenteng gorengan itu. Trus aku coba bawa happy dan bersiul. Lama kelamaan jadinya terbiasa kok.”
Ides memajukan tubuhnya saat ditanya suka duka dalam berjualan goreng, lantas kemudian gadis itu kembali tersenyum hangat, menandakan dirinya yang ramah. Menurut Ides, dalam segala hal itu pasti ada suka-dukanya, termasuk juga saat berjualan gorengan. Sukanya tentu saja dapat uang jajan tambahan, bias nolongin orang tua, bangga karna bisa beli sesuatu dengan hasil keringat sendiri, jadi bisa kenal dengan teman-teman yang tidak hanya sefakultas tapi juga diluar fakultas, dan pastinya juga bakal nambah pengalaman.
Sedangkan dukanya menurut Ides adalah disaat dirinya dipandang remeh dan ada juga yang mengejek. “Sedih pas ada yang ngejek gitu. Pas aku teriak ‘goreng-goreng’, trus ada yang ngikutin kata-kata aku, rasanya lain aja. Agak ngena dihati. Tapi aku ya nggak openin. Anggap lalu aja. Trus juga awal jualan goreng dikampus, sempat ada konflik dengan ibu CS, tapi sekarang udah amanlah.”
Terlepas dari suka duka yang di alami gadis berusia 21 tahun itu, Ides memiliki planning untuk kedepannya ingin mengembangkan usaha gorengannya. Tidak hanya itu, Ides juga ingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi dalam segala bidang yang ia tekuni. []

Gimana? Gimana? Tanggapannya dong. Oke, mungkin segini dulu. Sukses terus buat kita semua yaa. Salam saying, @muthiiihauraa.
Kantor, Sabtu, 10 Desember 2016. 10.31 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

7 komentar:

  1. Whoahh... cakep bener mbak Ide ini...
    terus semangat kuliahnya ya mbak.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa dia keren mbak. oke sip mbak ;D

      Hapus
  2. Salut banget dg semangatnya, sangat menginspirasi dan patut diapresiasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbak, aku juga salut dengan semangatnya :D

      Hapus
  3. Wah.., kisah mbak Ides, benar2 inspiratif, ngapain harus malu kalau itu usaha sendiri, malunya itu kalau masih minta duit sama orangtua! Semangat mbak ides., aku suka banget orang-orang kayak mbak! Salam kenal mbak Muthi, aku Yelli blogger Asal Aceh. Mampir ke rumah ku juga ya., yellsaints.com

    BalasHapus
  4. Gapapa mbak ides, mau jualan apa kek selama halal ya jalanin aja, mbak malah keliatan keren karena tetap usaha dan gak ngeluh sama idup

    Salam,
    Ara

    BalasHapus
  5. hebat euy, buang gengsi tapi prestasi gak surut sama sekali :))
    emang deh cari inspirasi hanya perlu melihat orang disekeliling . .

    BalasHapus