Story At Pulau Jambu #1

01.24 Muthi Haura 5 Comments



Haay, Assalamua’laikum. Sedang ngelakuin apa? Yang semester muda udah pada liburan ya? Apa saja yang sudah dilalui diawal tahun 2017 ini? Alhamdulillah diawal tahun ini, aku dapat kabar yang mengembirakan. Naskah novel KKN yang aku ikutkan lomba dikampus menang.

Iya menang! Walau Cuma harapan III, tapi tetap Alhamdulillah lah. Pembukaan prestasi diawal tahun 2017, semoga nantinya, akan banyak prestasi hebat yang bakal aku raih. Amin. Jujur saja sebenarnya agak kecewa, karna nggak masuk tiga besar, tapi ya udahlah, kecewapun nggak akan ngubah apa-apa kan?

Jadikan pelajaran dan introfeksi diri. Aku sadar kemaren nulisnya nggak maksimal. Aku nulis Cuma dalam waktu 10 hari, itupun disela-sela tugas kuliah-tugas di Gagasan-tugas dan job tulisan.

Nah berhubung naskah novel ini nggak bakal diterbitkan oleh LPPM UIN Suska, aku pengen sharing isi novel KKN diblog ini aja. Apa yang aku tulis ini real memang terjadi, nggak ada yang direka-reka adengannya. Ini pengalaman selama aku KKN di desa Pulau Jambu Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi. Semoga aja dapat bermanfaat dan bisa jadi referensi buat adik-adik yang bakal ngelaksanain KKN nantinya. Oke langsung aja, check this out :



Satu …
            Hidup itu ibarat sebuah novel. Setiap bab perbabnya pasti saling berhubungan hingga nanti akan berakhir dengan sad ending atau happy ending. Kamu tidak akan bisa memilih terlahir seperti apa, dari keluarga mana, tapi kamu bisa memutuskan akan menjadi seperti apa. 

Ini tentang sebuah cerita kehidupan. Sebuah cerita kisah pengabdianku di Desa yang sama sekali belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Desa yang benar-benar belum tergambar dibenakku. Sebelumnya, perkenalkan, namaku Muthi’ah Al Haura, mahasiswi semester VI konsentrasi broadcasting jurusan Ilmu Komunikasi. Teman-teman biasa memanggilku Muthi atau Mute atau Mutui.
           
Sebelum memasuki semester VII nanti, seperti tahun-tahun sebelumnya, LPPM UIN Suska mengadakan Kuliah Kerja Nyata selama kurang lebih dua bulan. Beruntungnya, untuk tahun ini, Kuliah Kerja Nyata tidak diadakan saat bulan Ramadhan, tapi diadakan setelah lebaran Idul Fitri.
           
Masih terekam jelas saat momen-momen pengisian lokasi KKN, teman-teman dikampus dan di organisasi pada sibuk nyari lokasi KKN. Kalau ngumpul, yang dibahas pasti seputar KKN dan segala tetek-bengek persiapannya.

Jujur saja, aku sama sekali nggak ada kepikiran bakal KKN dimana, bagi aku waktu itu, dimanapun diletakkan, pasti itu tempat yang terbaik oleh Allah. Dan yang pasti, aku bakal belajar banyak ditempat itu.
           

Ayu, salah seorang temanku di organisasi mengajakku untuk satu tempat KKN bersamanya. Aku mengiyakan ajakan Ayu, why not kan? Walau sebenarnya sejak awal aku udah niatin untuk nggak satu tempat KKN dengan orang yang udah aku kenal. Aku pengen nyari teman baru. Aku pengen nyari link baru. Lagian dengar-dengar cerita dari senior, biasanya yang awalnya dekat dikampus, ditempat KKN bisa malah berantem.
           
Setelah menerima ajakan Ayu, aku mempercayakan Ayu untuk mengisinya, tapi sampai H +1 pengisian tempat KKN, Ayu belum juga menginput lokasi KKN-ku, sedangkan dirinya sudah. Sempat ngerasa greget juga karna berkali-kali situs pengisian lokasi KKN itu error. Wajar sih, yang diinput oleh system itu bukan satu dua orang, tapi banyak!

Pagi itu entah ditanggal berapa, Ayu me-missed call-ku sampai 16 kali. Yang namanya orang tidur, pasti nggak bakal ngeh dengan suara hp. Setelah sholat subuh dan ngecek hp, aku surprise dengan misscal-an Ayu dan PM teman-teman yang mengatakan bahwa situs pengisian lokasi KKN bisa diakses sejak tengah malam tadi, tetapi hanya bisa diakses pakai wifi UIN.
           
Bm-an juga dengan teman-teman, mereka udah pada milih dan parahnya rata-rata lokasi KKN yang di daerah-daerah dekat Pekanbaru udah penuh. Baru deh aku khawatir dan buru-buru kekampus sekitaran jam 9-an pagi. Dikampus udah janjian dengan kedua sahabat aku sejak Semester satu, Ulan dan Mumun.
           
Sempat berkali-kali juga system pengisian itu error, tentu saja makin bikin kami khawatir. Akhirnya setelah 30-menitan lebih nyoba ngisi, kami sama-sama dapat lokasi KKN di Kuantan Singingi. Lokasi KKN aku lebih tepatnya di Desa Pulau Jambu Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi.
           
Dua puluh satu tahun aku hidup, sama sekali belum pernah aku menginjakkan kaki ke Kuansing. Belum pernah tau tentang Desa Pulau Jambu. Nyari di internetpun, informasi tentang Pulau Jambu sangat minim.  Waktu itu aku bilang kediri aku sediri, bagaimanapun tempatnya, apapun yang terjadi, aku akan berusaha ngasih yang terbaik. Aku yakin disana nanti bakal belajar banyak hal.
*@@@*
            1 Juni 2016, ini kali kedua aku bertemu dengan teman-teman KKN. Bertepatan dengan hari ulang tahunku. Pertemuan kedua ini lebih lengkap, hanya minus dua orang. Beda dengan pertemuan pertama yang mendadak dan hanya ada aku, Yudhi, Eko, Tika, Sitoh, Nety.
           
Dipertemuan kedua ini, kami membahas siapa yang bakal jadi kordes, sekretaris, dan bendahara. Plus juga ngebahas proker-proker kerja disana dan juga barang-barang yang akan dibawa. Pokoknya dipertemuan kedua ini pembahasannya udah sampai keinti-intilah. Senang juga bisa jumpa dengan teman-teman KKN, teman-teman yang selama dua bulan nantinya bakal menjadi keluarga baru buat aku. Bakal menjadi sahabat baru yang nemenin dua puluh empat jamku di Desa Pulau Jambu nantinya.
           
Awal-awal jumpa, semuanya pada pendiam-pendiam. Dan dipertemuan kedua itu juga, aku dipercaya sebagai sekretaris. Sempat nolak, soalnya kata senior-senior, nanti kordes sama sekretaris itu paling banyak tugas dan paling azab. Tapi mereka meyakinkan aku untuk tetap sebagai sekretaris.
           
Selama ikutan berorganisasi dikampus atau dikelas, aku belum pernah dipercayakan sebagai sekretaris. Aku juga kurang paham tugas sekretaris itu seperti apa, tapi akhirnya aku mengiyakan juga. Aku pikir kapan lagi dapat pengalaman baru sebagai sekretaris kan? Mana tau dengan aku menjadi sekretaris, aku bisa belajar banyak. Mana tau banyak hal baru juga yang aku dapatkan. Bukankah pengalaman itu adalah guru terbaik?
           
Awal bertemu dengan teman-teman KKN, beberapa kali aku sempat menilai mereka. Menilai dari cara mereka berbicara, dari cara mereka brpakain, tapi pada nyatanya saat setelah bersama mereka selama kurang dua bulanan, ada penilain yang meleset. Memang pada nyatanya, jangan pernah menilai seseorang itu dari covernya. Don’ judge by a cover. Cover itu nggak 100 % ngambarin isi.
           
Sebelum becerita lebih lanjut, aku pengen ngenalin teman-teman KKN aku. Teman-teman yang udah aku anggap sebagai keluarga. Ini mereka, Masyithah, gadis kelahiran tahun 1994 berdarah Minang dan Batak. Tingginya sekitaran 148 cm.
           
Kami di posko memanggilnya dengan panggilan sayang ‘Citoh’ atau ‘Sitoh’. Sitoh orangnya ligat. Aku selalu suka ngelihat dia ngerjain pekerjaan-pekerjaan rumah, keligatannya itu patut diacungi jempol. Sitoh salah satu sahabat terbaik yang aku dapat saat KKN. Darinya juga aku belajar banyak hal, terutama masalah pekerjaan rumah tangga.
           
Muthi-Resti-Fajri-Avi-Sipen-Ipad-Bang Kho
Selanjutnya ada, Nety, gadis yang juga kelahiran 1994 ini kalau ngomong laju banget, kaya tanpa jeda. Kadang juga apa yang dia ucapkan itu jadi sesuatu yang popular dikalangan kami. Misalnya nih dia nemu kata-baru yaitu ‘haw’. Nah, sepanjang hari dia bakal gunain kata itu sampai akhirnya kami juga keikut-ikut.
           
Trus ada Avi, mahasiswi psikologi yang super duper ceroboh. Bisa tuh handphone baru dipegang sama dia, beberapa menit kemudian dia udah lupa naroh dimana. Walaupun ceroboh gitu, Avi dipercaya sebagai bendahara I.
           
Selain ceroboh, hal unik lainnya dari Avi adalah suka nangis untuk masalah-masalah kecil. Bisa lho gara-gara makan cabe aja dia nangis karna kepedasan. Bareng Avi sering banget berantem untuk hal-hal kecil juga, tapi berantemnya cuma sebentar, beberapa menit kemudian udah baikan lagi.
           
Kalau Nengsih orangnya pemabuk berat. Belum masuk mobil aja dia udah mual. Awal-awal tiba di posko, sempat dekat juga dengan Neng, tapi cuma sebentar, karna dia type teman yang suka nyuruh-nyuruh. Diantara kami yang cewek-cewek, Neng yang paling mudah ketawa. Belum apa-apa, dia udah ketawa.
           
Pokoknya hidupnya kaya tanpa bebanlah, ketawa trus. Trus selanjutnya itu Tika. Kami biasa memanggilnya dengan sebutan bunda dan Tika senang dengan panggilan itu. Bunda itu gadis mungil yang super duper cerewet. Pokoknya sepanjang hari diposko penuh dengan cerewetannya.
           
Kadang sakit kepala dengar koarannya. Anak-anak cowok juga sering dongkol dengan bunda, kata mereka, bunda kaya nenek-nenek cerewetnya. Dibalik kecerewetannya itu, bunda sebenarnya sosok yang care dan mentel.
           
Trus ada Resti. Gadis berkulit hitam manis ini jarang banget keluar posko. Orangnya agak-agak suka ngatur juga dan gampang ketawa, ya hampir samalah sifatnya sama Nengsih.
           
Selanjutnya ada Asih. Awal kenal sempat dekat dengan Asih, tapi pas dua mingguan kenal Asih, ada sifat yang nggak aku suka dari dirinya, akhirnya aku menjauh. Tapi dipenghujung masa bakti KKN, sempat dekat lagi, walau nggak terlalu. 
           
Nah itu dia cewek-ceweknya, sedangkan yang cowoknya ada Sipen. Sipen ini kordesnya kami. Awal kenal Sipen, dia orangnya care dan lucu, tapi semakin jauh kenal dia, dia kadang orangnya cepat emosian juga, apalagi kalau sedang capek-capeknya.
           
Ipad-Bang Kho-Fajri-Sipen-Eko
Dia adzan bisa, ceramah bisa, jadi imam pun bisa. Trus ada Eko. Kalau yang ini Korcam kami. Dia juga bisa adzan, ceramah, dan jadi imam. Eko type yang disiplin, tapi kelemahannya, dia orangnya penyegan, padahal dia ketua. Eko ini orang jawa, jadi sama sekali nggak ngerti bahasa Cerenti.

Setelah Eko, ada Fajri. Fajri ini orangnya slengean. Kerjaannya ketawa-ketawa nggak jelas plus ngusilin orang. Awal kenal Fajri, aku pikir dia anaknya sombong, tapi setelah kenal cukup lama, dia bisa dibilang lumayan asik orangnya.

Trus juga ada Ipad. Ipad orangnya care dan gampang bergaul, walau terkadang juga usil. Diantara teman-teman cowok KKN, Ipad satu-satunya yang kelahiran 1995, sedangkan teman-teman cowok lainnya itu ada yang kelahiran 92, 93, dan 94.

Selain itu, diantara para cowok-cowok, Ipad satu-satunya yang paling bersih.  Selanjutnya, ada Khoidi yang biasa kami panggil bang Kho. Kalau lagi rapat, bang Kho kelihatan dewasanya, tapi diluar rapat, bang Kho cowok yang paling sering bikin ketawa.

Pokoknya kalau ada bang Kho, suasana posko itu nggak bakal garing deh, penuh dengan celotehannya yang bikin ngakak. Bang Kho juga termasuk cowok yang rajin setelah Eko. Pokoknya kalau disuruh bantu-bantu pekerjaan rumah, bang Kho itu mau.

Dan yang terakhir itu ada Yudhi dan aku memanggilnya buayo. Entah sejak kapan panggilan itu disematkan padanya dan aku juga lupa asal muasalnya. Buayo ini yang paling sering bertentangan dengan Sipen.

Diantara cowok-cowok, kalau pergi sama buayo ini paling aman, soalnya tampangnya sangar, jadi nggak ada yang berani gangguin. Itulah mereka, keluarga baruku.
*@@@*

        Untuk bab duanya, tungguin aja ya. Oke mungkin itu saja dulu, salam sayang, @muthihaura1.
Senin, 9 Januari 2017. 08.57 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

5 komentar:

  1. Masa kuliah dan KKN itu masa paling bahagia hihihi...
    Semangat yaaaah adek cantiiik

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa bener banget tuh mbak.
      makasih mbak cantik :D

      Hapus
  2. Duh baca "pemabuk" kok konotasinya jelek hehe ternyata bukan mabuk yg itu.. Hehee

    BalasHapus
  3. Akhirnya kelar juga bacanya, thanks udah sharing hal yang menyenangkan dan bikin aku senyam-senyum di kantor mbak :D

    Salam,
    Oca

    BalasHapus