KKN

Story at Pulau Jambu #4

18.49




Haai, Assalamua’laikum. Lagi apa? Kemaren aku agak ngedown gara-gara satu dan lain hal. Selain itu, rasa malas kian menjadi-jadi. Hari ini kembali kutepis rasa malas. Susah sih, tapi bukan berarti aku nggak bisa kan? Tahun ini rasa-rasanya banyak banget yang ingin dikejar dan dicapai. Semoga Allah selalu membuka setiap langkah untuk impian-impianku. Amin.

Oke deh, kali ini aku pengen ngelanjutin cerita aku ditempat KKN. Semua yang aku ceritain ini memang real ya. Nggak ada yang ditambah-tambah atau dibuat-buat. oke langsung saja, check this out :



Empat …
            Rabu, 3 Agustus, sekitaran jam 5 pagi-an, aku udah bangun. Bantu-bantu beres-beresin posko dan siap-siap pergi ngajar. Hari ini memang dapat jadwal ngajar ke SD 003 Pulau Jambu bareng salah satu teman cewek yang sebut saja namanya A dan Fajri. Pas lagi siap-siap itu, agak tertegun ngelihat pakain A yang bajunya ketat, kalau menurut aku bukan baju yang pantas untuk ngajar.
          

     Aku dan teman-teman lain pengen negur, tapi segan. Ngajarin adik-adik SD itu sebenarnya asik. Ada kesenangan tersendiri disana, walau terkadang tingkah-tingkah mereka bikin geleng-geleng kepala. Masa pada lari-larian dikelas, trus teriak-teriak, sempat-sempatnya juga berantem sama teman.
        
    Pokoknya tingkahnya nauzubillahlah, sempat aku mikir juga jadinya, apa aku dulu pas sebaya mereka kaya gini juga, rasa-rasanya nggak separah inilah. Itulah mengapa guru atau pendidik harus memiliki stok kesabaran yang banyak. 

            Selesai ngajar, aku; A; dan Fajri photo-photo bareng adik-adik cowok kelas VI Desa Pulau Jambu. “Udahlah, capek aku. Kalian aja yang photo-photo lagi.” Aku menjauh dari kerumunan, lalu duduk sambil melihat mereka yang masih asik melanjutkan sesi photo-photo.
            Fajri juga masih asik mengambil photo dengan A dan adik-adik itu sebagai obyek photonya. “HEEY! SIAPA YANG TADI MEGANG TU? NGGAK SOPAN KALIAN!” Tiba-tiba A keluar dari kerumunan sambil teriak marah-marah keadik-adik kelas VI itu.

            Aku sama Fajri mengerutkan kening bingung sambil nanya kenapa ke si A. Kata A, ada yang megang pantatnya pas photo-photo itu. Aku geleng-geleng kepala ngelihat adik-adik kelas VI SD itu. Entah mereka sengaja atau bagaimana, aku sama sekali nggak tau.

            Yang pasti, satu pelajaran pula yang dapat aku ambil dari kejadian ini adalah bahwa kalau kamu ingin jadi perempuan yang dihargai, hargai dulu dirimu sendiri. Salah satu cara menghargai diri sendiri adalah dengan tidak memakai pakain yang ketat. 

Bagaimana mungkin orang lain bisa menghargaimu kalau kamu tidak menghargai diri sendiri kan? Mungkin adik yang megang itu salah, tapi tidak sepenuhnya kesalahan itu dilimpahkan kedia, coba introfeksi diri. Ah, ini nasihat buat aku pribadi sebenarnya.
*@@@*
Kamis, 4 Agustus. Hari ini kami ke Kecamatan Pangean buat nonton pacu jalur. Tentu saja jalur kami Sijontiok Lawuik dari Pulau Tanamo ikut main. Dari Cerenti ke Pangean itu membutuhkan waktu satu jam lebih.
 

Selfie di Pix up
Selfie di pix up
Lagi-lagi kami kesana pulang pergi naik pix up. Pas pulang dari Pangean itu, Nengsih dan Avi yang benar-benar pemabuk udah mulai mual-mual. Tiba di kompang, mereka pada muntah. Aku coba nguruti tengkuk mereka dan ngasihin minyak kayu putih. 

Malah sempat-sempatnya si Avi jatuh, akhirnya Avi dianterin duluan keposko bareng bundo. Nengsih juga udah mulai loyo-loyo. Aku nuntun dia buat angsur jalan sampai ada yang ngejemput. 

“Neng bisa kan?” tanyaku, sedangkan dia cuma ngangguk lemah. Beberapa kali juga aku ngurutin tengkuk dia pas dia mual, tapi muntahannya yang keluar Cuma air. Akhirnya Ipad ngejemput, aku sama Nengsih naik kemotor. 

Dimotorpun Nengsih udah nggak ada tenaga, akhirnya pas sampai dihalaman posko, turun dari motor, Nengsih jatuh dan teriak-teraik manggil mamaknya. Aku ya pasti bingunglah, mau gendong dia nggak mungkin, soalnya Neng lebih berat dari aku. 

“Ipad, gendonglah Neng sampai keposko. Kasihan ha. Cepatlah!” kata Resti yang kebetulan baru sampai juga dihalaman posko. Ipad natap bingung dengan sedikit sungkan. “Ha? Ipad gendong ni? Iya?”

“Iya! Cepat!” 

Akhirnya Ipad gendong Nengsih sampai keposko sambil lari-lari. Kami ya tentu khawatirlah, apalagi Neng terus-terusan manggil mamaknya. Dia juga ngeluh kalau badannya lemas kali, semua badannya sakit-sakit.

Posko saat itu mati lampu, Avi juga terbaring didalam, sedangkan bundo teriak-teriak khawatir ngelihat Neng kaya orang kesurupan. “Istigfar Neng istigfar. Bawa ngucap! Aduh gimana ni woy? Aku takutlah kalau kaya gini, aku panggillah ibu-ibu dimasjid ya, kebetulan banyak yang belum pulang.”

Bundo kemudian lari-lari ke masjid, bertepatan dengan itu lampu hidup. Nengsih masih teriak-teriak nggak jelas kaya orang kesurupan. Cewek-cewek lain yang udah sampai posko tentu juga khawatir, sempat-sempatnya pula Sitoh nangis, aku juga sih. 

Ibu-ibu di masjid pada datang keposko ramai-ramai. Mereka pada bilang kalau Neng ‘keteguran’. Kalau di Desa Pulau Jambu, keteguran itu ya kaya kesurupan gitu. 

Akhirnya dipanggillah ino yang bisa ngobati orang yang lagi keteguran. Ino itu entah bawa ramuan kaya apa, trus dijampi-jampinya. Kata Ino, pas magrib tadi makhluk halus itu nyapa Neng. Kebetulan pula Neng ini kondisi fisiknya lagi lemah dan pikirannya entah kemana-mana.

Satu hal yang dapat aku ambil pelajaran dari kejadian ini adalah bahwa apapun yang sedang terjadi dengan diri kita, jangan pernah lupakan Allah. Jangan pernah kosongkan fikiran dari mengingat Allah. 

Kita nggak akan pernah tau apa yang bakal terjadi kedepannya, yang pasti jangan pernah lupakan Allah dari segala aspek hidup kita. Ya, itu nasihat untuk diriku sendiri. Untuk diriku yang masih sangat sangat sangat lalai akan perintah-Nya.
*@@@*
Jum’at, 5 Agustus, masih ikutan nonton pacu jalur di Pangean. Pas lagi ngelihatin atlet Sijontiok Lawuik dari Pulau Tanamo latihan fisik, tiba-tiba ada dua orang bapak-bapak yang nyamperin pelatih Sijontiok Lawuik sambil marah-marah.

Atlet sijontiok lagi latihan

“Mana mereka? Kalian sembunyikan dimana tiga orang tadi? Jangan sok hebat kalian disini!” kata salah seorang bapak berbaju merah dan membawa peluit. Kami sama-sama bingung, termasuk pelatih Sijontiok. 

“Ini masalahnya apa pak? Coba ceritakan, mungkin kita bisa cari solusi sama-sama.” Kata pak Ayub selaku pelatih Sijontiok. Bapak berbaju merah itu dengan muka galak menceritakan bahwa tadi pagi ada tiga orang pemuda yang memakai seragam Sijontiok yang berarti mereka adalah atlet sijontiok.

Salah seorang dari tiga pemuda ini memegang salah satu bendera dari jalur Pangean sambil berkomentar, “Emangnya jalur ini pernah menang? Manalah mereka pernah menang.” 

Rupanya pembicaraan ketiga pemuda tersebut didengar oleh pelatih jalur yang mereka ceritakan itu. Pas ketahuan, ketiga pemuda ini lari, sedangkan pelatihnya dan bapak berbaju merah itu ngejar sampai-sampai dicariin di poskonya Sijontiok. 

Si bapak pelatih dan bapak berbaju merah marah-marah, pokoknya sampai narik perhatian masyarakat sekitar. Sampai-sampai salah satu dari kedua bapak itu bilang kalau dia berani ngebunuh ketiga pemuda yang jelek-jelekin jalurnya itu.

Setelah kedua bapak yang marah-marah itu pergi, pak Ayub menyuruh beberapa atlet Sijontiok untuk mencari ketiga pemuda itu. Saat ketiga pemuda itu diketemukan pak Ayub menggeleng-gelengkan kepala.

“Lepaskan baju sijontiok tu dan pergi kalian pulang!” ucap pak Ayub tegas. Ya, itulah konsekuensi yang didapat oleh ketiga atlet sijontiok itu, dikeluarkan dari sijontiok.

Aku Cuma bisa menghembuskan nafas pelan. Satu hal yang dapat aku ambil pelajaran dari kejadian itu adalah saat kamu memakai pakaian berlambang suatu organisasi, organisasi apapun itu, kamu tidak hanya sedang mempertaruhkan nama baikmu sendiri, tapi juga mempertaruhkan nama baik organisasi tersebut. 

Saat memakai pakain berlambang organisasi, memang akan ada kebanggaan, tapi sebenarnya esensi dari lambang bukan hanya itu. Bukan hanya soal kebanggan, tapi soal tanggung jawab besar yang dipikul. 

Selain itu, pelajaran lainnya, saat kamu telah menjadi public figure, apapun perkataan dan tindakanmu akan menjadi sorotan, maka berhati-hatilah dalam berkata dan bertindak. 

Malamnya, aku; Sipen; Resti; Ipad; bang Kho; dan Nengsih nonton film Barat yang lumayan sadis dilaptop Sipen. Filmnya bikin aku greget sendiri. Soalnya satu keluarga di film itu ditindas. 

“Apalah anak broadcasting ni, dia pula yang heboh,” kata Ipad sambil tertawa. “Entahlah. Mungkin kalau Muthi yang buat film, pasti filmnya Cuma lima menit, soalnya tokoh jahatnya langsung dimatiin sama dia.” Bang Kho ikut-ikutan berkomentar.

Aku hanya tertawa, tapi entah kenapa mengiyakan juga. Aku orangnya nggak tegaan, kalau bikin film yang penindasan gini kayanya nggak sanggup. Aku lebih suka bikin film yang bisa memotivasi orang lain.
*@@@*
“Ooh ini anak-anaknya Kukerta Pulau Jambu ya?” Seorang bapak berseragam PNS berkomentar saat kami duduk-duduk dengan bapak-bapak kepala desa di Kecamatan. 

Memang hari ini ditanggal 9 Agustus, aku; Asih; Eko; Bunda; dan Sipen ke Kecamatan. Kami ikutan upacara dan nanti juga ada agenda rapat. Oh ya, dari Desa Pulau Jambu untuk sampai ke Kecamatan harus melewati sungai juga dengan Kompang. Kira-kira sekitar tujuh kilo.

“Bukan! Mereka bukan anak Kukerta Desa Pulau Jambu, tapi mereka anaknya pak kades Pulau Jambu,” jawab pak Rusmelli selaku Kepala Desanya Pulau Jambu. Mendengar jawaban dari pak kades, entah kenapa hati aku langsung tersentuh. Bayangkan, kami dianggap anaknya. 

Ah, pak kades kami memang baik. Ia juga sering ngasih kami patuah-patuah yang bermanfaat. Salah satu yang aku ingat adalah jadi perempuan itu jangan mudah memberi apa yang dipunya, karna yang paling menyesal nantinya perempuan itu sendiri.

Setelah ngumpul-ngumpul dengan bapak-bapak kades dari berbagai desa, kami ke masjid dekat kantor kecamatan. Disana kami nunggu teman-teman dari desa lain yang sama-sama berlokasi di Kecamatan Cerenti. 

Ya, kami memang akan rapat kecamatan untuk acara tabligh akbar yang akan kami adakan sekecamatan. Bertemu dengan teman-teman KKN dari desa lain, entah kenapa ada kesenangan tersendiri. Rasa-rasa ketemu teman seperjuangan. 

Pas event pacu jalur di Baserah dan Pangean yang kami ikuti pun, sering juga jumpa anak-anak KKN dari desa lain, baik dari UNRI ataupun UIN. Biasanya kalau jumpa, kami saling melempar senyum atau kalau sempat juga saling berkenalan bertukar nama.

Malamnya, kami bantu-bantu salah satu warga yang anaknya bakal ngelangsungi pernikahan. Aku; Avi; Bundo; Nety; dan Sitoh dapat kerjaan makaikan inai untuk pengantin lelakinya. Pas ngelihat kesibukan-kesibukan pesta pernikahan gini, sempat juga terbesit, akunya kapan nyusul ya?

Ditanggal 10 Agustusnya, kami ikutan pengantin laki-laki untuk pawai sampai kerumah pengantin perempuan. Di Desa Pulau Jambu, memang tradisi nikahannya ada pawai-pawai gini. 

Pas dinikahan. Pengantin prianya mana Mut?


Siangnya, aku; Avi; Nengsih; Resti; dan Asih kerumah adik pak Kades untuk buat bubur kacang hijau. Bubur kacang hijau ini nanti malam akan dibagikan kepada atlet-atlet sijontiok yang lagi latihan fisik. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk event pacu jalur nasional di Taluk.

Sempat-sempatnya juga setelah masak bubur, kami photo-photo didekat sungai Kuantan. Puas photo-photo dengan berbagai posisi, akhirnya kami mutusin buat balik ke posko. Nyampai posko udah surprise ngelihat Sipen dan bang Kho masak.

Tapi parahnya, pas bang Kho masak cabe, kami seisi posko dibuat bersin dan batuk-batuk. Kayanya itu cabe nggak dikasih bawang atau minyaknya kurang. Tuh kan, kerjaan perempuan itu nggak mudah. Jangan menyepelekan pekerjaan perempuan, memasak itupun bukan hal yang mudah.** BERSAMBUNG.

Oke deh segitu dulu. Salam sayang, @muthihaura1.
Sabtu, 28 Januari 2017. 08.02 WIB.

You Might Also Like

9 komentar

  1. wah sepertinya kenangan di pulau hambu tak kan terlupakan ya... seru nampaknya

    BalasHapus
  2. Seru ya mbak kegiatannya, apalagi pergi naik pick up, jadi ingat kenangan bersama teman2 ku dulu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak seru :)) ayo nostalgia :p

      Hapus
  3. Jadi pengantin prianya mana? hihi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. duuh pertanyaannya mbak haha. masih di lauhul mahfuz mbak :)

      Hapus
  4. Wah, salah langkah nih, saya baca dari awal ah :D

    Salam,
    Oca

    BalasHapus
  5. Ngeri kalau sampai kesurupan gtu ya mbak, untung gpp :)
    TFS

    BalasHapus