Story at Pulau Jambu#2

21.02 Muthi Haura 3 Comments

Hay, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya dan sedang ngelakuin apa? Seminggu belakangan ini lagi sibuk banget buat ngurus ini-itu. Ditambah lagi BLM UIN Suska sedang ngadain kongres ke-V, aku diutus dari organisasi yang aku ikutin sebagai peserta penuh.

Jujur saja, ini kali pertama aku ikutan kongres-kongres gini. Greget? Banget! Nanti bakal aku share deh di entry berikutnya. Kemaren juga di hari Rabu tanggal 11 Januari, LPPM ngadain penyerahan hadiah pemenang lomba novel KKN.

Alhamdulillah aku berhasil mendapatkan juara harapan III, walau sedikit kecewa, tapi aku sadar bahwa aku menulis novelnya tidak dengan usaha yang sungguh-sungguh. Nggak papalah, tetap jadikan pelajaran kedepannya untuk bisa lebih baik lagi.

Pas penyerahan hadiah itu, Wakil Dekan III FDK hadir. Sempat juga bincang-bincang sedikit dengan beliau. Selain itu, aku juga kenalan dengan pemenang-pemenang lainnya, walau yang aku ingat namanya Cuma Resti-Aznil-Yada. Yang si Yada, kebetulan dia teman sekelas aku pas di MAN.

Senang kenalan dengan mereka, sempat juga tukaran kontak. Semoga bisa terus keep kontak sama mereka. ;)

Resti-Muthi-Aznil



Kalau udah menang-menang lomba gini, tiba-tiba semuanya mendadak minta traktiran. Yang ngeselinnya itu ada yang nggak ditraktir trus nyumpahin nggak menang lomba lagi -___- Yaelah, aku nraktir paling orang-orang terdekat akulah dan orang-orang yang berhubungan dengan novel itu. Kalau semua orang yang aku kenal minta traktir dan semuanya aku traktir, ya mana cukup uangnya. Ini asli gondok -__- Lagian aku ikutan lomba buat nambahin uang saku juga, kalau semuanya aku traktir, buat aku mana? Buat adik-adik aku mana? -___-



Ah sudahlah. Kali ini aku pengen ngelanjutin cerita pengalaman KKN aku di Desa Pulau Jambu. Untuk yang belum baca bagian satunya, bisa baca di Story at Pulau Jambu #1. Oke langsung aja, check this out :

Dua …
    Hari ini pembekalan KKN dan sumpah ramai banget! Aku aja sampai nggak dapat kursi karna saking ramainya itu. Awalnya diajak teman buat nggak datang, katanya, nggak bakal juga diabsen. Tapi aku tetap kepengen datang, kepengen tau apa-apa aja yang harus dipersiapkan untuk disana.
   
Yang bikin agak sedikit kecewanya, gara-gara mungkin ribut, suara pematerinya nggak kedengeran. Apa yang disampaikan pemateri itu terdengar samar-samar, mungkin karna saking ributnya suasana.
   
Pas sesi tanya jawab, handphone aku beberapa kali berbunyi. Ternyata teman-teman KKN udah pada sibuk ngajak ngumpul. Masih banyak sebenarnya pembahasan yang harus diselesaikan. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dan menemui teman-teman KKN.
   
Kami rapat disamping Puskom. Banyak hal yang dibahas dipertemuan ketiga itu. Salah satunya masalah lokasi. Kemaren dipertemuan kedua sudah disepakati kalau yang pergi survey itu Eko dan Yudhi. Nah, mereka sedikit banyaknya nyeritain lokasi yang akan kami tempati, tapi bagi aku, apa yang mereka sampaikan nggak mendetail.
   
Masih banyak tanda tanya besar tentang lokasi itu dibenak kami. Saat ditanya pun, dengan sangat tidak memuaskannya mereka bilang “Lihat ajalah nanti lokasinya tu sama kalian gimana.”
   
Dirapat ketiga ini juga, kami menyepakati untuk photo bersama setelah pembekalan khusus untuk daerah. Karna kami di Kuansing, pembekalannya itu dua hari setelah pembekalan utama ini. Untuk tanggal, aku kurang mengingat dengan jelas.
*@@@*
    “Eh Muthi. Ayolah sini barengan kita duduk.” Aku menoleh kesumber suara dan tersenyum mendapati Resti yang ternyata sudah berdiri disampingku. Hari ini pembekalan untuk daerah Kuansing. Aku sama sekali nggak ada janjian sama teman-teman KKN, tapi ternyata ketemu Resti dan Nengsih.
   
Selain ketemu Resti dan Nengsih, aku juga ketemu sahabat aku dari semester satu yang sama-sama KKN di Kuansing, namanya Ulan. Ada beberapa poin yang aku tangkap dari pembekalan ini. Lagi-lagi saat pembekalan itu, aku Cuma berharap bisa meberikan yang terbaik.
   
Sempat juga cerita-cerita sama Resti masalah uang KKN yang belum dikembalikan. Agak kecewa juga karna dengar-dengar kabar, setengah uang KKN dikembalikan diawal, sedangkan setengahnya lagi saat selesai KKN.


Padahal uang itu butuh banget. Banyak keperluan KKN yang mau dibeli sebelum berangkat, belum lagi uang SPP yang harus dibayar juga sebelum berangkat, mahasiswa-mahasiswi UIN yang akan berangkat KKN itu kan belum tentu semuanya anak orang kaya.

Setelah pembekalan selesai, kami ngumpul untuk rapat. Ada beberapa yang perlu dibahas sebelum libur dan juga kami bakal photo bersama. Aku menatap satu persatu teman-teman baruku. Teman yang kurang dua bulan setelah Idul Fitri nanti bakal nemani hari-hariku.

Apapun yang terjadi nanti disana, aku cuma berharap, nggak akan ada masalah yang serius. Nggak akan ada pertengkaran hebat, soalnya denger-denger ceritanya senior, cekcok dalam sebuah posko itu pasti ada. Namanya juga nyatuin 14 orang berbeda latar belakang, budaya, bahkan bahasa dalam satu atap kan?
*@@@*
17 Juli 2016, hari ini hari keberngkatan kami, tepat seminggu lebih setelah hari Raya Idul Fitri. Aku udah mempersiapkan semuanya yang akan dibawa. Beberapa kali juga janjian ketemu teman-teman KKN untuk belanja.

Ditanggal 15 Julinya, Eko tiba-tiba nelpon. Dia nanyain masalah spanduk dan cap untuk desa. Asli aku kaget, soalnya beberapa kali rapat, nggak ada ngebahas itu. Ada sih disinggung sedikit, tapi semua itu diserahkan ke Asih, jadi aku memang nggak ada mikir.

Parahnya, si Asih sama sekali nggak ada ngerjain apa yang ditugaskan ke dia itu. Akhirnya hari itu juga aku kekos Asih. Kami keliling UIN dan UNRI cuma buat nyari toko yang bisa bikin spanduk, cap, sama plakat dalam waktu sehari.

Akhirnya ketemu di sekitaran UNRI dan pihak spanduknya nyanggupin bakal selesai dalam satu hari. Dimalam sebelum tanggal 17 itu, Resti dan Avi kerumah ngantar koper mereka. Memang mobil pix upnya bakal ngejemput barang-barang dirumah aku sesuai kesepakatan.

Yang dari Kecamatan Cerenti, janjian pergi jam 7 bareng-bareng dan ngumpul dilapangan bola UIN Suska, tapi pada nyatanya, kami benar-benar baru berangkat kurang lebih sekitaran jam 9.

Kami berangkat menggunakan avanza. Memang kami nyewa dua avanza dan satu pix up. Awal berangkat, aku semobil sama Sipen-Fajri-Yudhi-Resti-Avi-Asih, tapi ternyata sempit, akhirnya aku pindah ke mobil satu lagi bareng bang Kho-Ipad-Nety-Bundo-Citoh.

Beberapa kali ditengah perjalanan kami berhenti. Begitupun juga dengan teman-teman KKN dari desa lain, tapi mereka ada juga yang pakai motor, sedangkan kami dari Pekanbaru yang pakai motor cuma Eko.

Disepanjang perjalanan, aku nggak tau apa yang aku pikirkan. Antara sedih, senang, pokoknya semua perasaan bercampur aduk. Aku sedih harus ninggalin ayah dan adik-adik aku dirumah. Dua puluh satu tahun aku hidup di Pekanbaru, belum pernah aku tinggal jauh dari orang tua, pernah sih sempat ngekost pas SMA, itupun ruang lingkupnya masih seputaran Pekanbaru.

Ini kali pertama aku ke Kuansing dan harus tinggal disana dengan teman-teman yang baru aku kenal. Aku sama sekali nggak tau bagaimana kondisi pasti disana. Was-was? Pasti! Perasaan takut itu muncul, takut nggak bisa bergaul dengan masyarakat disana, takut cekcok dengan teman KKN, dan takut-takut lainnya.

All is well. Bisikku saat itu didalam hati sembari menikmati pemandangan jalanan menuju Kuansing. Apapun yang terjadi, aku akan lakukan yang terbaik. Ini perjalanan baru dihidupku. Sebuah perjalanan yang aku yakin pasti memiliki pembelajaran. Sebuah perjalanan part kecil dari bagian hidupku.
*@@@*

“Perasaan aku nggak enak,” kata Ipad sembari menatap keluar jendela. Aku menghembuskan nafas pelan, lalu kemudian ikut-ikutan menatap keluar jendela mobil. Tepat beberapa meter didepan kami terhampar sungai.

“Jadi kita nyebrang sungai nih? Pakai apa? Trus barang-barang kita gimana?” Entah siapa yang berkomentar, aku masih terdiam. Kami memutuskan keluar dari mobil.

“Kepulau jambu dek? Ya harus nyebrang pakai kompang itu. Kalau mobil nggak bisa masuk. Bisa sih mutar lewat Sikakak, tapi jalanan disana parah banget! Susah diakses mobil.”

Kami yang cewek-cewek pada lemes. Pas rapat-rapat sebelumnya, yang pergi survey nggak ada ngebahas lokasi sampai sedetail ini. Benar-benar nggak tau kalau harus pakai nyebrang sungai segala.

Akhirnya kami nurunin barang-barang dari mobil dan bawa ke kompang. Awal naik kompang greget kali. Rasa terombang-ambing badan. Setelah sampai diseberang, kami nurunin barang-barang lagi. Ternyata udah ada beberapa pemuda-pemuda desa yang ngejemput kami dengan motornya.

Yang cewek-cewek didahulukan untuk diantar sampai ke posko. Nyampai posko, surprise juga ngelihat keadaan posko, apalagi pak Kadesnya bilang, ternyata posko kami dibedakan dengan yang cowok. Pas survey kemaren, kata Yudhi dan Eko, posko kami satu atap, tapi sebelahan.

Pada nyatanya, posko kami dipisahkan oleh jalan dan lapangan bola. “Mut, gimana nih? Jauh kali posko kita dengan anak cowok tu. Kalau terjadi apa-apa sama kita gimana?”

“Iya Mut. Aku takutlah. Telponlah anak cowok tu Mut. Bilang sama mereka kasih tau pak Kades kalau kita sama-sama disini ajalah.” Itu beberapa komentar teman-teman cewekku. Akhirnya aku menelpon bang Kho. Aku ceritain kondisi posko yang dipisah itu dan kami nggak mau dipisah.

Pas rapat-rapat di Pekanbaru, kami sih mau-mau aja dipisah, tapi saat ngelihat kondisinya langsung di desa, kami yang cewek-cewek ngotot nggak mau pisah.
(selfie didepan posko. In frame: )
Posko kami itu taman kanak-kanak, ada satu ruang belajar dan ada satu ruang guru. Didalam ruang guru, ada satu kamar mandi. Pas survey, kata pak Kadesnya, ruang belajar itu untuk kami yang cewek-cewek, sedangkan ruang guru itu untuk yang cowok-cowok.

 Tapi pada nyatanya ternyata nggak. Anak cowok poskonya malah digedung lama kantor kepala desa. Beberapa meter dari posko yang cewek, depannya masjid. Sebelah samping kirinya jalanan, sedangkan samping sebelah kanannya ada lapangan bola besar.

Perumahan warga disini masih jarang-jarang, dan ada juga rumah yang tak berlampu. Masjid didepan posko kami namanya masjid Thariqul Jannah dan masih 80-an persen pembangunan. Dibelakang masjid itu ada beberapa perkuburan.

Desa Pulau Jambu ini memiliki dua dusun dan dua masjid. Perumahan warganya masih jarang-jarang dan kebanyakan rumahnya papan berbentuk panggung. Di Desa Pulau Jambu hanya ada satu sekolah dan satu MDA. Yang kami tempati sebagai posko ini taman kanak-kanak yang masih dalam tahap pembangunan.

Malamnya setelah beres-beres posko dan nyusun-nyusun barang. Pak kades ngajak kami makan dirumahnya. Jarak antara posko kami dengan rumah pak kades itu lumayan jauh, apalagi motor kami Cuma dua. Untung ada beberapa pemuda yang nganterin, salah satunya yang banyak bantuin kami itu namanya bang Rudi.

Nyampai rumah bu kades, bu kades ngenalin dengan anak-anaknya. Anak bu kades ada empat dan semuanya masih kecil-kecil, apalagi sibungsu Manda. Kami juga sempat-sempatnya negosiasi dengan pak kades perihal posko, tapi pak kades bersikeras agar posko kami dipisah.

Kami yang cewek-cewek ya pasti khawatirlah. Namanya juga baru datang dikampung orang, kampung yang sama sekali nggak tau apa-apa disana kondisinya, cuma yang cowok-cowok inilah yang diharepin buat jaga kami.


“Tenanglah kalian, nanti ada dua orang ganti-gantian yang tidur diruang guru tu, selebihnya nanti diposko cowok.” Mereka nenangin kami yang cewek-cewek setelah pulang dari rumah pak kades.

Aku nggak tau mau ngomong apa, Cuma bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Aku juga bertekad bahwa mulai malam ini, aku akan menuliskan setiap kejadian yang aku alami di desa ini dilaptop yang kebetulan memang aku bawa.
*@@@*

    Nah itu dia, untuk kelanjutan atau bagian ketiganya, tungguin aja ya. Oke segini dulu, masih ada kerjaan lain. Salam sayang, @muthiiihauraa.
Jum’at, 13 Januari 2017. 08.49 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

3 komentar:

  1. Selamat ya muthi ^^ kangen masa kuliah euy jadinya hihiii

    BalasHapus
  2. Banyak cerita seru pasti selama di Pulau Jambu. Asik nih jadi ada banyak bahan untuk ngeblog.. :") Semoga baik-baik saja di sana ya.. Salam kenal.. :)

    BalasHapus
  3. Tinggal part 1 nih yang belom dibaca :D

    Salam,
    Oca

    BalasHapus