Story At Pulau Jambu#3

23.29 Muthi Haura 7 Comments



Haay, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya? Yang kuliah, apa saja yang sudah dilakukan selama liburan semester ini. Seminggu kemaren, aku rada sibuk ngerjain sesuatu yang belum bisa aku ceritakan disini. Selain itu, aku-Ika-Ijah lagi ngecoba bangun bisnis.

Jadi ceritanya kami bisnis brownies, baik secara online dan nitip diwarung-warung. Udah start sejak awal Januari, tapi lebih sering gagal buatnya ketimbang yang jadi. Susah juga ya nemu resep yang benar-benar pas. Kemaren ditanggal 18, sempat nyoba langsung nitip ke warung jual donat, tapi lakunya Cuma satu. Kata ibunya, memang lagi sepi, soalnya kan mahasiswa pada libur.

Trus ditanggal 18 itu juga, aku-Ijah ngebawa brownies plus cupcake kekampus. Yang brownies harganya dua ribu, sedangkan cupcake seribu lima ratus. Ngejualnya sekitar PKM, eh tapi pada banyak yang nawar, kata mereka kemahalan. Nggak tau mereka kalau modal kami belum balek huhu ;’( Tapi Alhamdulillah cupcakenya habis, sedangkan browniesnya Cuma sisa empat. Kalau kaya gini jadi semangat jualannya haha. Ohya, follow instagram bisnis kami ya di @dapur_kita. ;))

Eh, kok malah cerita jualan ya. Oke skip! Kali ini aku pengen ngelanjutin cerita semasa KKN dipertengahan 2016 lalu. Ini awalnya aku jadikan novel trus diikutin lomba, berhubung Cuma dapat juara harapan dan nggak akan diterbitkan, aku post disini aja. Oke langsung saja, check this out :


Tiga …
Minggu pertama di desa Pulau Jambu masih berasa asing. Minggu pertama ini kami isi dengan ngedekor posko dan buat jemuran. Kenalan juga dengan adik-adik yang datang ke posko. Kami juga sempat rapat untuk ngelistkan barang-barang apa saja yang diperlukan untuk posko.


Malah ruang belajar yang dijadikan posko cewek itu dikasih terpal hitam ditengahnya. Kaya pembatas gitu, tapi bisa dibuka tutup. Guna terpal ini agar kami yang cewek-cewek mau buka jilbab bisa bebas. Soalnya posko cewek ini posko utama, kami masakpun disini, anak cowok sering juga berlalu lalang diposko cewek, makanya dikasih terpal. 

Kami didepan posko

Jadi kalau mau tidur atau buka jilbab, tetap terjaga auratnya. Di minggu pertama ini juga, kami berkunjung kerumah kepala dusun dua. Trus bakal ada juga acara serah terima dikedua masjid didesa pulau jambu. Serah terima ini maksudnya kaya acara yang memperkenalkan kami gitulah. 

Kami juga sempat-sempatnya diajak nonton latihan pacu jalur. Di desa Pulau Jambu, ada kuyuang atau jalur yang cukup terkenal, nama jalurnya ‘Sijontiok Lawuik dari Pulau Tanamo’. Sijontiok ini jalur dari Desa Pulau Jambu dan pastinya juga kebanggaan Cerenti.
Atlet sijontiok Lawuik dari Pulau Tanamo

Di tahun 2015 lalu, saat pacu jalur nasional di Taluk, Sijontiok ngeraih rangking 4, luar biasa bukan? Saat latihan pacu jalur, ini pertama kali aku ngelihat momen seperti ini. Rasanya pengen aku videokan, tapi apalah daya handphone aku kameranya nggak bagus. 

Oh ya, ditanggal 19 Juli-nya, sempat ada tragedy, jadi ceritanya kami yang cewek-cewek semuanya pada nangis. Semuanya bermula karna anak-anak cowok satupun nggak ada yang tidur diruang guru dekat kami. Mereka pada ngotot buat balik keposko mereka. 

Siangnya kami sempat dengar cerita-cerita dari salah seorang adik yang suka keposko bernama Jayus. Jayus bilang, posko yang cewek ini dulunya ladang, memang ada jugalah penunggunya, tapi nggak suka gangguin. Sedangkan di posko cowok pun ada, nama hantunya hantu buruk. 

Hantu buruk ini sukalah gangguin. Kata Jayus, badannya manusia, sedangkan kepalanya babi. Pas anak-anak KKN Unri tahun lalu sebenarnya poskonya digedung bekas kantor kepala desa juga, tapi anak KKN dulu itu minta change tempat, kata mereka nggak nyaman.

“Iya loh. Kami juga ngerasain. Pas malam pertama kami tidur disana, hawanya udah nggak enak. Masa tali yang terikat tu bisa bergoyang-goyang. Goyangnya nggak wajar loh. Trus kipas angin tiba-tiba jatuh,” Kata Ipad sembari bergidik ngeri. 

Jayus menatap kami satu persatu, lalu kemudian kembali melanjutkan ceritanya. “Dulupun ada keluarga yang tinggal disitu, tapi Cuma sebentar karna nggak nyaman. Dengar-dengar sih ada yang mati nggak wajar disana.” 

“Pantaslah pas awal kita tidur di gedung lama kepala desa tu, pak kades dan beberapa warga nanyain ‘aman-aman aja kan? Nggak ngerasa ada yang aneh-aneh kan?’ Ternyata ini penyebabnya.”

Kami semakin bergidik ngeri. Jam sembilanan malam, anak-anak cowok semuanya pada balik keposko mereka. Kami yang cewek-cewek masih duduk sambil meluk selimut diposko kami. Pokoknya kami semua yang cewek ngerasa takut, apalagi si Sitoh kaya ngelihat ‘hantaran’ gitu terbang ngelewati posko kami. 

“Kalau kaya gini ceritanya aku mau pulang aja. Nggak mau aku makin lama disini nanti tinggal nama,” kata Asih. Akhirnya kami yang cewek-cewek pada nangis. Sitoh nelpon bang Kho sambil nangis juga. Akhirnya mulai malam itu, anak-anak cowok pindah posko diruangan guru dan dekat dengan kami. 

Ya, satu atap, tapi beda ruangan. Pak kadesnya pun nggak marah, mungkin pak kadesnya juga udah tau apa yang kami alami. Pak kadesnya cuma pesan agar pergaulan dengan lawan jenis itu dijaga. Jadilah ruang guru yang kecil itu sebagai posko cowok.

*@@@*
20 Juli 2016, ini hari pertama aku dan Sipen ke MDA. Kami sosialisasi. Sebenarnya yang pergi itu aku, Sipen, dan Bundo. Tetapi karna satu dan lain hal, akhirnya yang pergi Cuma kami berdua. MDA-nya lumayan jauh. Dari posko kami kalau berjalan kaki sekitaran 2 kilo. 

Saat tiba di MDA dan setelah cerita-cerita dengan gurunya, kami tiba-tiba langsung disuruh ngajar. Gregetlah aku, secara sama sekali nggak ada persiapan. Untungnya aku ngajar adik-adik kelas 2 yang lumayan bisa diatur. Murid-murid kelas duanya pun cuma 8 orang. 

Awalnya aku suruh mereka satu-satu kedepan buat ngenalin diri, setelah itu baru deh aku terangin sedikit tentang sejarah nabi Muhammad. Pas lagi ngajar itu, adik-adik kelas lain pada ngeliatin dari jendela. Ada juga yang tiba-tiba nyelonong masuk, ada juga yang keluar masuk.

Ternyata ngajar itu nggak mudah ya, dari sini aku belajar bahwa perjuangan guru-guru itu luar biasa. Aku juga pengen minta maaf sama guru-guru saat aku SD sampai SMA dan dosen-dosen. 

Pulang ngajar langsung flu, badan udah nggak enakan, dan sandal putus. Tapi cukup senang bisa ketemu dengan adik-adik baru. Bukan mereka yang belajat banyak dari aku, tapi aku yang belajar banyak dari mereka. Belajar untuk terus memperbaiki diri pastinya. 

Sedangkan ditanggal 21 Juli-nya, kami semua sosialisasi di SD 003 Pulau Jambu. Lokasi SD-nya lebih jauh daripada lokasi MDA. Dari posko kami ke SD itu jarak tempuhnya 4 kilo. Motor yang kami punya cuma dua, jadi satu motor itu tarik tiga dengan beberapa kali bolak-balik. 

Jadi sistemnya itu, satu cowok yang bawa motor, trus diboncengannya itu dua orang cewek. Selebihnya kalau motor belum nyampai, ngangsur jalan kaki. Perjalanannyapun ngelewati rumah warga yang masih jarang-jarang dan juga ngelewati perkebunan warga. 

Dijalannya, banyak sekali sapi-kerbau-kambing peliharaan warga yang berkeliaran. Dua puluh satu tahun aku hidup dan tinggal di Pekanbaru, baru kali ini aku ngerasain tinggal ditempat yang benar-benar terpelosok seperti ini.

Ini semua hal baru bagi aku dan aku menyukainya. Aku menyukai suasana pedesaan seperti ini ketimbang suasana kota yang penuh polusi. Selain itu, hal yang aku kagumi dari Desa Pulau Jambu ini adalah keramahan penduduknya. 

Penduduknya ramah-ramah, murah senyum, dan care. Lagi-lagi kalau bisa dibandingin dengan Pekanbaru, jauh banget, masyarakat Pekanbaru udah mulai individualis. Jarang ada yang saling menyapa kalau berpapasan dijalan.
*@@@*
Memasuki minggu kedua disana, udah mulai kelihatan aslinya teman-teman KKN. Ada yang pandainya nyuruh-nyuruh aja,  ada yang kerjaannya tidur-tiduran aja, ada yang cuma pandai ngomongin orang, padahal dirinya sendiri seperti itu juga. Pokoknya ‘asli’nya mereka udah kelihatanlah, nggak ada jaim-jaiman lagi.
 

Rahma-Tia


Program-program yang dicanangkan juga udah mulai jalan, walau memang belum semuanya. Kadang juga, sering ikutan nonton volley. Masyarakat pulau jambu, selain terkenal dengan jalurnya, mereka juga punya atlet-atlet volley yang hebat-hebat. 

Hampir setiap sore para remaja putri dan ibu-ibunya main volley. Sedangkan remaja putranya hampir setiap sore main bola dilapangan belakang gedung kantor desa yang baru. 

Kami yang cewek-cewek sering juga nontonin mereka main volley. Kadang juga diajakin gabung, pernah sih Avi sama Nengsih ikutan main, tapi Cuma sekali itu aja. Setelah itu, kami dilarang ikutan main sama anak-anak cowok. Kata Yudhi sih nggak usah ikutan, mainnya sama kaya judi, dosa.

Jadi system main volley disana itu, para pemain tiap team sebelum mulai pertandingan harus bayar dulu dua ribu. Nah uangnya dikumpulin kesatu orang. Nanti kalau salah satu team menang, maka semua uangnya itu dikasih ke team yang menang. Kurang lebih gitulah sistemnya. 

Kami juga sering beberapa kali mampir kerumah warga, nggak semuanya sih. Hanya beberapa warga yang udah tua dan tinggal sendirian. Di Desa Pulau Jambu ini, banyak nenek-nenek yang tinggal sendirian, padahal nenek-nenek ini memiliki banyak anak. 

Rata-rata anak nenek-nenek ini berkisar lima sampai Sembilan. “Anak Ino ado sambilan. Ado yang la maninggal, salobiohnyo marantau. Ado yang di Batam, di Pokanbau. Biaso pas ayo bau baliak kasiko[1],” cerita salah seorang nenek pada aku dan Sitoh saat kami berkunjung kerumahnya.

Memang didesa Pulau Jambu ini, ino itu sama artinya dengan nenek. Pas ngobrol-ngobrol dengan nenek-nenek ini, aku jadi keingat almarhumah nenekku. Kadang juga aku berfikir, sebanyak itu nenek-nenek ini punya anak, tapi satupun nggak ada yang menemani hari tua mereka.

Anak-anak mereka pada sibuk semua. Entah kenapa kadang juga sedih pula rasanya hati ini. Satu hal yang dapat aku ambil pelajaran, begitu besar pengorbanan orang tua kita. Begitu tulusnya mereka. Bahkan saat diri kita sudah berumur pun, tetap mereka nganggap kita sebagai anak.

Yang mereka inginkan dari kita Cuma satu, kita bahagia, meski kebahagiaan itu harus kita cari diluar sana dengan meninggalkan mereka, mereka ikhlas. Padahal mungkin jauh dilubuk hati mereka yang terdalam, mereka sedih berpisah dengan kita, anak-anaknya. 

Orang tua mana coba yang nggak sedih pisah dengan anaknya kan? Apalagi diusia senja mereka. Diusia dimana mereka tak ingin berada didalam kesepian. Tapi itulah, demi anak, mereka ikhlas, walau mungkin sang anak jarang mengingat mereka. Intinya, sayangi orang tuamu selagi ada. Harta yang kita beri kepada mereka sebesar apapun itu, tak kan pernah bisa mengganti apa yang mereka beri.

Kasih ibu dan ayah, kepada beta. Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia.
*@@@*
            Rabu, 27 Juli, sekitaran jam 9-an pagi, aku; Sitoh; Nety; dan Bundo pergi kerumah bu kades. Kami disuruh bantu bu kades untuk masak bakwan. Bakwan ini nantinya bakal dibagiin buat atlet Sijontiok yang hari ini bakal pacu jalur di Baserah.

            Memang sejak tanggal 25 Juli, aku dan teman-teman KKN diajak pak kades nonton pacu jalur di daerah Baserah. Untuk berangkat kesana, kami disewakan mobil pix up. Dari tempat kami ke Baserah itu kira-kira membutuhkan waktu sejam-an lebih. 

            Kembali keacara masak bakwan. Beberapa kali bu kades memuji Sitoh karna keligatannya. Akupun ngelihat Sitoh ngurus rumah ligat gini juga jadi terkagum-kagum. Dia gadis yang lincah. 

            “Teman-teman yang lain mana?” tanya bu kades sembari memblender bawang. Kami terdiam, bingung mau jawab apa. Pasalnya teman-teman yang lain pada masih tidur diposko. Dibangunin, tapi malah nggak mau. 

            “Ada pekerjaan diposko bu,” jawab bundo sedikit menutupi. Kami kembali asik dengan pekerjaan membuat bakwan sambil sesekali berbagi cerita dengan bu kades. 

            Siangnya, kami on the way ke Baserah. Ini hari terakhir pacu jalur di Baserah. Dua hari yang lalu, Sijontiok selalu menang. Istilahnya itu, ini hari final menentukan posisi juara. 

            Masyarakat Desa Pulau Jambu ramai yang menyaksikan pacu jalur ini. Diputaran pertama Sijontiok Lawuik melawan Siposan dari Kecamatan Pangean. Hampir saja Sijontiok kalah, tapi akhirnya menang juga. 

Diputaran kedua, Sijontiok kalah. Bu kades nangis, begitupun masyarakat Desa Pulau Jambu. Tapi tetap keren, Sijontiok berhasil duduk dirangking VI. Ini kali pertama aku nonton pacu jalur. Aku baru tau ternyata pacu jalur ini sangat berarti bagi masyarakat Kuantan Singingi. 

Dengar-dengar, sejarah pacu jalur ini ada sejak awal abad ke-17. Pada masa penjajahan Belanda, pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat, kenduri rakyat, dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda Wihelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. 

Dari menonton pacu jalur inipun, ada pelajaran yang dapat aku ambil yang mungkin bisa diterapkan dalam kehidupanku. Salah satu pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa untuk memenangkan sesuatu dibutuhkan kerja keras, kekompakan, kedisiplinan, dan fisik yang sehat.  

Begitupun dalam organisasi bukan? Untuk memajukan sebuah organisasi maka membutuhkan kerja keras, kekompakan, kedisiplinan, dan fisik yang sehat juga. Nggak hanya organisasi, bahkan setiap lini kehidupan kitapun, kita membutuhkan keempat dasar itu.
*@@@*
Jum’at, 29 Juli. Hari ini hari pertama diadakannya program KKN Mengajar dan Magrib Mengaji. Program KKN Mengajar ini adalah program dimana kami ngajarin adik-adik yang datang keposko. Biasanya yang kami ajarkan itu yang berkaitan dengan PR mereka.

KKN Mengajar ini biasanya ada tiap sore. Sedangkan program Magrib Mengaji itu adalah program dimana kami ngajarin adik-adik Desa Pulau Jambu tentang tajwid. Tapi yang menjalankan program ini, orangnya itu-itu aja, sedangkan yang lainnya sok sibuk dengan hp masing-masing. 

Malam itu, sekitaran jam 21-an, adik-adik Desa Pulau Jambu udah pulang kerumahnya masing-masing. Aku; Ipad; Avi; Nengsih; Sipen cerita-cerita diluar posko. Hal yang dibahas seputaran jodoh dan nikah. 

Ngebahas soal jodoh dan nikah, entah kenapa bikin aku tersadar soal umur. Fakta bahwa ternyata aku bukan anak-anak lagi. Bahwa aku bukan remaja ingusan lagi. Ah, ternyata waktu terlalu cepat berlalu dan sekarang usiaku sudah memasuki usia yang bakal ditanyain ‘kapan nikah?’ dan ‘kapan wisuda?’.

Terlalu cepat waktu berlalu ya? Tapi masih banyak target dan mimpi-mimpi yang belum terwujudkan. Malam itu menyadarkanku untuk terus memperbaiki diri. Bukankah lelaki yang baik hanya untuk perempuan yang baik? Begitupun sebaliknya. Malam itu juga, kami cerita-cerita horror, bang Kho pun ikut-ikutan. || Bersambung.


Gimana? Gimana? Penasaran nggak dengan lanjutannya? Sabar dan stay tune terus ya. :D Oke mungkin segini dulu. Mau tidur. Salam sayang, @muthiiihauraa. 23.55 WIB.


[1] Anak nenek ada Sembilan. Ada yang udah meninggal, selebihnya merantau. Ada yang di Batam,  di Pekanbaru juga. Biasanya pas hari raya baru pulang kesini.




Baca Artikel Populer Lainnya

7 komentar:

  1. Jangan lupa tidurnya baca doa.. Tutul gorden.. Kog tiba2 ada suara yang ketuk2 jendela.. *jeng jeeeengg... Hehehe

    Seru yak PkN ke pelosok.. Aku bacanya sambil ngebayangin.. Apalagi naek motor bonceng 3.. Bayanganku jalanan masih tanah merah, becek pula.. Duuuhh duuh..

    BalasHapus
  2. Serruuu banget mbak ya, bisa bagi ilmu dan interaksi sama masyarakat baruu. . apalagii bisa sambil jalan". . heheeh salam kenaal :D

    BalasHapus
  3. hhehe..memang namanya juga KKN mba..selalu ada saja yang tidak sejalan mba wajarlah...hehhe

    salam blogger yah mba

    BalasHapus
  4. Seru yah kkn nya. Semangat jg jualan browniesnya. Senang liat anak muda kreative dan semangat tinggi *tiba2berasstua

    BalasHapus
  5. wow, seru banget pengalamannya.
    mau dong baca kisah selanjutnya :)

    BalasHapus
  6. Ceritanya makin seru, lanjut ke yang kedua :D gapapa baca dari belakang :D

    Salam,
    Oca

    BalasHapus