Kekerasan Terhadap Anak

23.53 Muthi Haura 3 Comments



Haaay, Assalamua’laikum. Sedang ngelakuin apa hari ini? Kali ini aku pengen sharing tulisan yang aku buat seminggu yang lalu. Jadi ceritanya salah seorang teman aku yang namanya Ryan Rahman tiba-tiba nge-BM. Dia bilang ada seseorang dari Koran Tribun Pekanbaru minta tulisan untuk rubric youngster dengan tema ‘Kekerasan Terhadap Anak’.

Karna nggak ingin nyia-nyiakan kesempatan ini, aku pun mengiyakan tawaran Ryan, walau aku nggak terlalu paham apa yang akan dibahas. Akirnya beberapa jam menjelang deadline, aku nyoba riset dan menyelesaikan tulisan.

Pas ngelihat koran Tribun di hari Minggu-nya, rada kecewa ternyata tulisan aku nggak naik. Naik sih, tapi Cuma diambil satu paragraph aja. Kecewa sih dikit, tapi nggak papa kok. Itung-itung nambah pengalaman, arsip, dan jam terbang.


Btw, makasih ya Ryan dan Tribun Pekanbaru. Sukses selalu :D Oke deh, aku sharing disini aja tulisannya, ketimbang Cuma mendam doang di laptop. Langsung saja, check this out :

Kekerasan Terhadap Anak
Penulis : Muthi Haura


source : google


            Anak adalah masa depan sebuah negara, karena pada nyatanya, 20 atau 30 tahun kedepan, merekalah yang akan memegang kendali bagaimana Indonesia kedepannya. Merekalah yang akan mengarahkan Indonesia ini akan menjadi apa. Akan seperti apa. Makanya sangat diperlukan pendidikan yang layak baik secara IQ dan EQ bagi anak. Menyeimbangkan keduanya agar anak tumbuh menjadi sosok yang tidak hanya pintar secara pengetahuan, tapi juga pintar dalam beretika.

            Selain guru, orang tua sangat berperan penting dalam pembentukan fisik dan emosional anak. Lingkungan yang akan membentuk emosi dan sikap anak itu akan seperti apa. Jadi, jika ada orang dewasa suka mukul atau emosional, coba telaah masa kecilnya. Kemungkinan besar, orang dewasa tersebut tumbuh dengan pukulan atau emosi yang tak terkendali dari lingkungan sekitarnya. Anak itu ibarat spons, dia akan menyerap apa-apa saja yang dicontohkan dan diajar oleh orang-orang terdekatnya. 

            Melihat kondisi saat ini, anak-anak yang seharusnya dilindungi, malah justru menjadi korban kekerasan. Menurut data UNICEF ditahun 2015, kekerasan terhadap anak terjadi secara luas di Indonesia. 40 persen anak berusia 13-15 tahun pernah diserang secara fisik setidaknya satu kali dalam setahun. 26 persen pernah mendapatkan hukuman fisik dari orang tua atau pengasuh dirumah dan 50 persen anak di-bully di sekolah. 

            Mengerikan bukan? Lantas bagaimana nasib Indonesia kedepannya kalau anak didik atau mendapatkan kekerasan? Kekerasan itu tidak hanya sebatas kekerasan fisik. Ada banyak ragam kekerasan, kekerasan seksual, kekerasan psikis, dan pengabain terhadap anak. Semua ragam kekerasan itu tentu saja berefek terhadap perkembangan anak secara fisik dan psikologi. 

            Ada beberapa dampak kekerasan terhadap anak. Bisa berdampak luka fisik. Anak akan menjadi individu yang kurang percaya diri, pendendam, dan agresif. Memiliki perilaku menyimpang seperti menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alcohol sampai kecendrungan bunuh diri. Pada kekerasan seksual, maka akan menimbulkan trauma mendalam pada anak, merasa rendah diri, dan takut menikah. 

            Jika anak sudah ‘rusak’, bagaimana kedepannya? Siapa yang akan disalahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Lantas akan seperti apa nasib Indonesia? Sebelum semua hal-hal buruk terjadi, ada baiknya semua elemen masyarakat saling bekerja sama untuk melindungi anak-anak. Semuanya berpartisipasi untuk menjaga dan mendidik generasi yang baik. 

            Orang tua melakukan peran seagai orang tua sebagaimana mestinya, penuh dengan kelembutan dan kesabaran, bukankah anak adalah ladang pahala bagi orang tua? Guru juga memberikan pengajaran dengan baik, bukan malah menjatuhkan atau membully anak tersebut. Pokoknya semua elemen masyarakat saling bekerja sama dan sadar bahwa perlindungan terhadap anak-anak itu penting. Jangan sampai Indonesia menyesal kedepannya. **

Gimana? Gimana? Aku masih belajar ini, bisa banget kalau mau ngasih kritik dan saran. Makasih. Salam sayang, @muthiiihauraa.
Jum’at, 17 Februari 2017. 08.49 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

3 komentar:

  1. anak-anak rentan sekali terhadap kekerasan karena anak itu korban empuk, gak bisa mengatakan kronologis serta blm mengingat jelas wajah pelaku, daya pikir masih polos dan tidak banyak perlawanan, masih bisa dibohongi juga.

    BalasHapus
  2. Sedih banget kalau anak2 jd korban kekerasan, coba kalu kita ada diposisi anak itu, apa nggak sakit juga 😈

    BalasHapus
  3. Korban kekerasan itu traumanya sampai besar dan kadang juga gak hilang2..kasian sekali anak2 itu.. u,u

    BalasHapus