Story at Pulau Jambu #7

20.12 Muthi Haura 6 Comments



Hay, Assalamua’laikum. sedang ngelakuin apa? Yang kuliah udah pada masuk kuliah dong ya? Banyak yang pengen diceritain sih sebenarnya, tapi saat ini aku lagi buru-buru buat kekampus. Oh ya, ini lanjutan kisah KKN aku di Desa Pulau Jambu. Check this out :

Tujuh …

“Jalur Sijontiok ditahan pas ngelewati Inuman,” kata bang Suardi ke Fajri. Aku mencuri-curi dengar. Kebetulan memang aku baru pulang dari masjid setelah melaksanakan sholat isya berjamaah. 

Dijalanan ramai, pemuda-pemuda dan bapak-bapak pada ngumpul. Bahkan ada yang bawa parang, ladiang, dan pisau. Usut punya usut, ternyata jalur atau kuyuangnya Sijontiok ditahan.

Hari ini tanggal 29 Agustus dan kami baru nyampai desa Pulau Jambu tadi sore. Memang kami berangkat dari Taluk sekitaran jam 12-an siang, berbarengan dengan itu jalur kami juga dibawa pulang melewati sungai pastinya dan dikawal oleh polisi.

Suasana pacu jalur di Taluk 2016

Sayangnya, untuk sampai ke Desa Pulau Jambu, sungai yang harus dilewati melewati inuman. Ternyata adapun polisi yang jaga, jalur Sijontiok tetap bisa ditahan. 
  

Kebetulan juga malam ini hujan gerimis dan mati lampus, seakan membuat suasana semakin mencekam. Kami yang cewek-cewek KKN kumpul dirumah adiknya pak kades bersama keluarga pak kades. Sedangkan pak kades sendiri memimpin rombongan kekantor polisi dan rencananya juga akan ke Inuman. Tentu saja dengan membawa ladiang. 

Rata-rata hampir semua lelaki di Pulau Jambu yang pergi ikut dengan pak kades. Bahkan juga nggak dari Desa Pulau Jambu aja, tapi juga ada dari desa lain yang masih berada dibawah kecamatan Cerenti. 

Sijontiok Lawuik Pulau Tanamo itu kebanggaannya Cerenti, jadi apapun yang berkaitan dengan Sijontiok tentu saja akan membuat masyarakat Cerenti terbangun. 

Bu kades nangis, aku juga ikut-ikutan sedih, soalnya ngerasain juga gimana perjuangan masyarakat disini untuk pacu jalur dan untuk membuat jalur Sijontiok itu. Sedangkan disini, jalur itu dijaga sebaik-baiknya, malah dikandangin, nah sekarang jalur itu ditahan, tentu saja bikin masyarakat emosi. 

“Bilang keanak-anak cowok KKN kalian, jangan ada yang ikut ke Inuman tu, bahaya. Nanti nggak tau yang mana lawan yang mana kawan. Tunggu aja didesa, jaga desa,” kata adik pak kades mengingatkan kami.

Kami mengangguk setuju, trus Bunda akhirnya menelpon salah satu anak cowok untuk menyampaikan pesan dari adik pak kades. Anak-anak cowok pada setuju. 

Kami menunggu informasi selanjutnya sampai hampir tengah malam. Lampu masih juga mati dan hujan semakin lebat. Akhirnya dengar kabar kalau jalur sudah diamankan dan tidak terjadi perang. Kata salah satu masyarakat, kalau sampai jalur Sijontiok rusak, mungkin bakal ada pertumpahan darah. 

Aku bernafas lega saat tau semuanya kembali aman. Satu hal yang dapat aku pelajari dari kejadian ini adalah menyelesaikan masalah tidak harus berakhir dengan pertumpahan darah. 

Ada cara lain yang bisa dilakukan, musyawarah misalnya, bukankah sudah tercantum juga dalam Pancasila yang berbunyi ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan/perwakilan’. Intinya, apapun bisa diselesaikan dengan cara yang baik.
*@@@*
Rabu, 31 Agustus. Ah, udah dipenghujung Agustus aja. Yang artinya, sebentar lagi kami bakal kembali kekota kami masing-masing. Kembali kekehidupan masing-masing. Ada rasa sedih dan senang yang bercampur aduk. Sedih karna bakal pisah dengan Desa Pulau Jambu dan senang bakal kembali kekehidupan sendiri.

“Mut, hari ini kita nyuci ya? Lima hari kita di Taluk kemaren nggak ada nyuci-nyuci, sekarang cucian bertumpuk,” kata Sitoh. Aku mengiyakan kata-kata Sitoh. Memang cucian benar-benar lagi bertumpuk. 

Tapi masalahnya, posko kami Cuma punya satu kamar mandi dan keempat belas kami semuanya mau nyuci, akhirnya, aku sama Sitoh ngalah. Kami lebih memilih nyuci di masjid. Selain itu, jemuran juga pada penuh semua, akhirnya Sitoh bikin jemuran dari tali rapia untuk dia dan aku.

Selesai nyuci, saat aku ngejemur kain di tali jemuran bikinan Sitoh, tiba-tiba tali jemurannya runtuh, otomatis semua baju yang aku jemur jatuh. Avi; Nety; Sitoh; Resti; Jayus; dan Iwan yang kebetulan berada diluar posko dan ngelihat kejadian itu, tentu saja terrtawa.

Aku lemas, rasanya pengen nangis. Udah capek-capek nyuci, tapi malah jatuh pula. Aku langsung jongkok sambil ngelihat ketanah, karna nggak tega, Nety bantuin mungutin kain-kain aku. 

“Ndak mau aku lagi jemur kain do!” Dengan kesal aku masuk keposko, lalu menelungkupkan diri. Sebenarnya pengen nangis, tapi ditahan-tahan karna didalam posko ada bang Kho dan beberapa teman lainnya. Malu pula kalau ketahuan nangis.

“Oii Mut, jangan merajuk-rajuk. Cepatlah keluar. Itu ha, Yudhi dibuatkannya mu jemuran baru yang lebih bagus,” teriak Nety dari luar posko. Aku masih ngedongkol, tapi akhirnya keluar juga. Benar saja, Yudhi udah ngebuatin aku jemuran, yang pastinya bukan dengan tali rapia.

Aku cengengesan senang. “Ee buayo buayo, makanya kalau tali rapia, jemur kainnya sedikit-sedikit,” kata Yudhi sok-sok kesal. Aku hanya membalas ucapannya dengan tawa. Menurut penilainku, Yudhi termasuk cowok yang baik, walau tampangnya kaya preman. Ah, betapa beruntungnya aku punya keluarga kaya mereka.
*@@@*
Hari-hari awal dibulan September diisi dengan berbagai macam kesibukan. Sempat juga saat ngumpul hal yang dibahas itu seputar apakah besok di Pekanbaru masih bisa ngumpul-ngumpul kaya gini atau becanda kaya disini. Entahlah, apapun yang terjadi nantinya, mereka tetap keluarga baruku.

Banyak banget kegiatan dipenghujung masa bakti ini, mulai dari ngedata setiap warga di dusun I dan dusun II untuk laporan, ngadain perlombaan futsal dan volley untuk masyarakat, nyari bunga bareng Sitoh dan nanamnya di halaman kantor kepala desa, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Pokoknya hari-hari awal dibulan September itu lumayan menguras tenaga, kadang juga slek dengan teman. Maklumlah sama-sama capek, jadi bawaannya pada emosi. Aku sebagai sekretarispun makin banyak yang dihandle, mulai dari surat-menyurat sampai laporan yang ditargetkan harus selesai ditanggal 3 September.

Karna laporan ini juga, aku begadang buat ngerjainnya. Yang enaknya, pas lagi ngerjain laporan, tiba-tiba bang Kho datang beliin permen. Kadang Sipen yang beliin, kadang Eko. Trus dibebaskan juga dari tugas-tugas membersihkan posko dan masak. 

Tentu saja teman-teman yang lain juga turut membantu laporan kelompok ini, tapi ya tetap aja yang paling banyak megang andil laporan ya sekretaris. Yang nggak enaknya, aku nggak boleh kemana-mana oleh kordes. 

Pernah entah malam dihari apa, Eko ngelihat kalau aku suntuk banget gara-gara laporan. Kebetulan ada acara di Sikakak, Eko ngajakin aku buat pergi. Tentu saja aku mau. Yang bakal pergi itu aku; Eko; bang Kho; Avi; Fajri; dan Asih. 

Terus aku minta izin ke Sipen mau pergi ke Sikakak bareng Eko, Sipen nggak ngizinin. Dia bilang mending malam ini ngerjain laporan. Ya udah, akhirnya aku nggak jadi ikut.

Pas, ditanggal 3-nya, pak Kepala Dusun II ngajakin anak-anak cewek buat bantu-bantu masak dirumahnya untuk pelepasan kami. Semua yang cewek pada pergi, lagi-lagi aku disuruh tinggal bareng Asih; bang Kho; Eko; Yudhi; dan Sipen. 

Sempat ngedongkol dan badmood. Akhirnya pas lagi makan, mereka ngajakin aku ngomong, aku Cuma jawab dengan anggukan dan gelengan. Nasinya nggak aku habisin, aku tinggal gitu aja, trus jalan ke wc. “Ngapa ke WC tu Mut? WC tu tempat mandi, bukan tempat nangis,” kata bang Kho. 

Aku nggak ngerespon. Di wc aku nangis sepuasnya sampai mata bengkak. Sebenarnya aku bukan nangis gara-gara laporan sih, tapi nggak tau kenapa bawannya sedih, kesal, badmood, dan pengen marah-marah.
*@@@*
Selasa, 6 September. Hari ini hari perpisahannya kami. Sedari siang, yang cowok-cowok udah pada bantu pemuda-pemuda untuk buat pentas. Sedangkan kami yang cewek sibuk bungkusin kado dan sebagian juga ada yang kerumah bu kades untuk masak-masak.

Nanti malam kami bakal perpisahan dengan masyarakat Pulau Jambu. Dari hasil rapat dengan pemuda-pemuda dan pak kades juga, perpisahan ini akan ada Saung Dangdutnya juga. Pokoknya kayanya bakal meriah deh.

Untuk laporan kelompok, udah selesai. Lumayan lega yang artinya aku bisa bantu-bantu untuk persiapan perpisahan. “Woi, siapa nih yang bakal jadi pembawa acara untuk nanti malam tu? Asih ajalah ya? Mau kan?” tanya bang Kho.

“Ya udahlah, aku juga nggak papa. Eh, Muthi kan anak broadcasting, Muthi nggak mau do? Berdua kita jadi pembawa acara?” Asih melirik kearahku yang kebetulan ada disampingnya.

Aku diam beberapa detik. Antara mau dan nggak, tapi hati aku lebih condong kemau, kapan lagi bakal belajar dan dapat kesempatan seperti ini kan? “Eng, boleh deh, berdua kita ya, Sih.”

“Eh aku mau jugalah. Aku mau belajar,” kata Avi. Akhirnya setelah berdebat cukup lama, Avi dan Asih yang bakal jadi pembawa acara, sedangkan aku nggak.

Malamnya sekitar jam 19-an, hari gerimis, bahkan mulai lebat. Pak kades berusaha untuk mempawangi hujan, akhirnya sekitar jam 21-an, hujan berhenti dan acara bisa dimulai. 

Avi dan Asih naik keatas panggung. Entah kenapa, penampilan mereka berantakan. Bahkan mungkin bisa dibilang parah banget. Mungkin karna mereka sama sekali nggak ada latihan kali ya. Teman-teman yang lain pada geleng-geleng, trus pada bilang ‘kok kaya gitu orang tu nampil?’

Sebenarnya kalau boleh jujur, ngelihat penampilan Asih dan Avi bikin geleng-geleng, tapi aku nggak mau langsung menyalahkan orang itu. Mungkin saja kalau aku diposisi orang itu juga lebih hancur. 

Satu hal yang dapat aku pelajari adalah bahwa jangan hanya pandai berkomentar. Jangan hanya pandai mengkritik, tapi saat disuruh ngelakuin apa yang dikritik itu justru nggak bisa. Sama-sama introfeksi diri aja. 

Pas sesi pak kades yang ngasih kata sambutan kami udah mulai nangis. Aku nggak sih, masih bisa ditahan.
“Mereka ini anak-anak kita. Ibarat anak yang baru balek dari rantau dan sekarang harus kita lepaskan lagi untuk pergi kerantau. Salah-salah mereka, itu wajar, namanya juga anak, kita maafkan saja. Merekapun disini baru belajar. Kita doakan saja semoga mereka baik-baik disana, dimudahkan segala urusannya, dan menjadi orang sukses. Semoga mereka bisa kembali kesini lagi, bukan sebagai anak KKN, tapi anak-anak kami. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian,” kata pak kades panjang lebar.

Jujur saja, aku merinding mendengarnya. Air mata udah nggak bisa ditahan lagi, akhirnya berkali-kali ngusap air mata. Begitu juga teman-teman yang lain. 

Malam itu diisi dengan haru. Tangis sedih. Sedih itu menggelayuti hati. Sedih harus pisah dengan suasana Pulau Jambu. Sedih harus pisah dengan keluarga pak kades yang udah dianggap kaya keluarga sendiri. Sedih harus pisah dengan masyarakat Desa Pulau Jambu. Sedih harus pisah dengan teman-teman KKN. 

Tinggal hitungan jam, kami bakal balik kekehidupan kami masing-masing. Ninggalin semua yang ada disini. Ninggalin segala kenangan dan pembelajaran yang nggak akan bisa terulang dua kali. 

Sempat terbesit penyesalan didalam hatiku. Penyesalan kenapa nggak dari awal tiba disini langsung dekat dengan masyarakat. Kenapa nggak dari awal ikutan warga menakik. Kenapa nggak dari awal menjalankan program dengan sebaik-baiknya. Kenapa nggak dari awal belajar masak makanan khas Pulau Jambu. 

Ya, memang pada nyatanya penyesalan itu selalu berada diakhir. Nasi sudah menjadi bubur, tinggal bagaimana caranya membuat bubur itu tetap enak dinikmati. *bersambung

Gimana? Gimana? Seru nggak cerita KKN aku? Untuk part selanjutnya, itu part terakhir, tungguin ya :D Oke deh, salam sayang, @muthiiihauraa
Kamis, 23 Februari 2017. 10.16 WIB.

 

Baca Artikel Populer Lainnya

6 komentar:

  1. Sudah capek-capek nyuci sambil rebutan tempat tapi kemudian cucian jatuh itu rasanya pasti bener-bener jengkel, saya juga pernah ngalamin seperti itu waktu di pondok pesantren

    BalasHapus
    Balasan
    1. jengkel banget mbaak huhu. kesal kan yah mbk? senasib kita berarti pernah ngalami hehe

      Hapus
  2. KKN pasti bikin pangalaman jadi seru ya, ngomong2 dapet jodoh nggak mbak disana hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha dapat nggak ya mbak? ayo tebak :p

      Hapus
  3. Lho, baca ceritanya sampai akhir kok yang kebayang justru: Mumu kok cengeng ya, gampang ngambekan. Dikit2 merajuk, dikit2 pengen nangis. Hahahaha. Tapi mungkin efek capek, jauh dari rumah, pressure dan temen2nya juga kali ya.

    KKN kemarin aku juga nyesel di akhir, pas malam perpisahan. Soalnya berasa masih kurang approachnya ke masyarakat, masih banyak yang belum dilakuin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku emang cengeng anaknya, Ma huhu. Tulah emang penyesalan itu datangnya diakhir ya kan Ma

      Hapus