Curhatan Tak Penting

00.05

search : google



Apa pernah kamu berada disebuah titik dan ngerasa semuanya sia-sia? Apa pernah kamu berada dititik terendah hidupmu dan kamu merasa ingin menyerah? Semakin dikejar, semakin lari. Semakin berusaha, semakin menjauh. Semakin mendekat, semakin banyak cobaan. Pernah?

Aku sering. Aku sering berada dititik itu. Yalah, aku Cuma manusia biasa yang bakal kesal kalau apa yang ada disekitarku tak sesuai rencana. Aku bakal marah kalau diusik. Aku bakal dongkol kalau semuanya tak sejalan. Orang-orang disekitarku minta dimengerti, lantas kapan mereka bisa ngerti aku? Mereka saja yang sibuk dan aku tidak gitu? Hah, aku tak sekuat itu. Aku nggak sestrong itu. Ada kala aku dongkol. Ada kala aku bosan. Ada kala aku jenuh. Ada kala aku letih. Lumrah. Manusiawi bukan?


Aku selalu berusaha mencoba membagi waktu untuk banyak hal. Sampai-sampai aku mengorbankan diriku sendiri. Aku mengorbankan hal-hal yang aku senangi. Sampai aku berpikir, mengapa aku melakukan ini semua? Mengapa aku berjuang untuk sesuatu yang entah apa ujungnya? Semua masalah seakan datang bertubi-tubi dan aku lelah.

Aku pengen nyerah. Pengen lambaikan tangan kekamera. Pengen bilang kesemua orang kalau aku capek. Aku pengen ini nggak dapat, pengen itu nggak dapat. Aku selalu memotivasi diri, bilang kediri sendiri : “Mut, lihat tuh, mereka aja sangat sibuk, tapi tetap mampu lulus sebagai pemuncak. Kamu juga pasti bisa.” , “Mut hidup mereka serba kekurangan, tapi mereka mampu buktikan bahwa itu semua bukan hambatan.” ,”Mut bla bla bla,”.

Tapi percayalah, semua motivasi itu nggak akan mempan jika aku berada dititik terendah. Aku sedang lelah. Aku sedang jenuh. Dan yang bisa aku lakukan adalah emosi kesemua orang. Walau emosi itu hanya aku pendam didalam hati. Dan kamu tau, memendam itu capek. Salah satu terapinya itu ya ini, mengeluarkannya lewat tulisan. Jadi maafkan tulisan curhatan super tak penting ini dan percayalah, saat ini aku sudah mulai merasa lega. Tangisan yang tadi sempat hadir, sudah mulai terganti dengan ketenangan.

Biar orang-orang yang sering bilang “Kamu itu strong, mungkin kalau aku diposisimu, aku juga nggak akan kuat.” Percayalah, aku nggak sekuat itu. Ah semua manusia memang punya titik jenuhnya kan. Oke, aku sudah mulai lega. Mari kembali melangkah Mut. Mari kembali dimulai. Nggak akan ada yang sia-sia, setetes keringatpun nggak sia-sia. Kuatlah Mut. Mutiara yang indah itu digodok habis-habisan dulu baru jadi sesuatu yang bernilai. Kuatlah. Kamu pasti bisa!

Oke, mari kembali melangkah.
Selasa, 21 Maret 2017. 09.45 WIB.

You Might Also Like

2 komentar

  1. aduuuh..postingannya...

    Semangat... be positif thinking ..bersyukur dan ikhlas dengan yg kita punya..

    Allah lebih tau yg terbaik..

    smile..

    BalasHapus
  2. Pernah merasa gini juga, dan akhirnya kita sendiri yg bisa memperbaiki pemikiran seperti ini. Tetep pikir positif

    BalasHapus