KKN

Story At Pulau Jambu #end

17.58



Haay, Assalamua’laikum. Lagi apa? Sejauh mana target-target 2017-nya mulai terealisasikan? Sudah banyak yang terwujudkah? Akhir-akhir ini aku gampang banget down. Gampang banget emosi. Rasanya pengen marah-marah aja ngadepin semua yang nggak sesuai dengan apa yang sudah aku targetkan.

Aku lelah, aku letih, aku…ah sudahlah. Tak kan pernah ada yang mengerti. Sepanjang apapun aku bercerita, mereka tak akan mengerti. Fighting lah Mut. Ingat target, ingat impian! Harusnya segala hambatan itu bikin kamu makin termotivasi untuk sukses. Oke oke, dekatkan diri ke Allah biar hati ini bisa tenang.

Oh ya, hari Sabtu kemaren, tepatnya ditanggal 26 Februari, Gagasan jualan di ajang wisuda. Lumayan capek juga, soalnya aku yang pergi belanja bareng Ika-Ijah, aku yang motong-motong bareng Ijah, dan aku juga yang masak bareng Linda. Ditambah lagi e-paper Gagasan. Duh, kalau udah capek gini, aku bawaannya emosi sendiri. -_-

Okelah skip! Kali ini aku pengen ngelanjutin pengalaman KKN aku di Desa Pulau Jambu. Tentu saja ini real story ya. Yang nggak real palingan Cuma ada beberapa nama yang dirubah dan detail kejadian yang nggak rinci. Langsung saja, check this out :

Delapan …



Kita. KKN Desa Pulau Jambu


Kamis, 8 September. Hari ini bakal pulang! Travel udah dipesan, mobil pix up untuk barang udah fix, packing barang-barang juga udah, pokoknya pulang! 


Malamnya, kami tidur dirumah pak kades. Beberapa kali pak kades juga ngasih patuah-patuah yang tentu saja berguna buat kami. Aku menghembuskan nafas, ini hari terakhir di Pulau Jambu. Sedih bakal pisah kaya gini. Ah, pada nyatanya memang setiap pertemuan pasti ada perpisahan. 

Mau nggak mau, suka nggak suka, setiap kata ‘hello’ pasti akan berujung dengan kata ‘good bye’. Nggak nyangka ternyata semuanya udah terlewati. Nggak nyangka KKN sudah berakhir. Semuanya telah selesai. 

Aku memandangi teman-teman KKN-ku. Teman-teman yang udah nemenin selama 53 hari dengan segala tingkah polah mereka. Cekcok, dongkol, marahan, kesal, itu pasti ada. Tapi bukankah itu semua hal yang wajar? Dalam sebuah pertemanan, kalau happy-happy tanpa masalah saja ya mana seru. Harus ada bumbu, biar pertemanan itu makin terasa.

Besok-besok setelah hari ini, nggak bakal ada lagi ngorokan Avi dan Nengsih yang terdengar saat malam hari. Nggak bakal ada lagi cerewetan bunda sepanjang hari. Nggak bakal ada lagi anak-anak cowok yang ngomel-ngomel nyuruh kami cepat selesai mandi.

Nggak akan ada lagi ngegosip atau curhat dikamar mandi. Nggak akan ada lagi edisi nyuci baju bareng. Nggak akan ada lagi kedengaran ribut-ributnya adik-adik yang datang ke posko. Nggak kan ada lagi celotehan lucu bang Kho.

Nggak kan ada lagi usilnya Fajri dan Yudhi. Nggak kan ada lagi sapi-sapi, kerbau-kerbau, dan kambing-kambing yang berlalu lalang didepan posko. Nggak akan ada lagi edisi ngusir-ngusir sapi yang masuk kehalaman posko buat ngancurin jemuran.

Nggak akan ada lagi edisi masak bareng, nyari paku bareng, nyari kedondong bareng. Nggak akan ada lagi ketukan dipintu posko untuk bangunin sholat subuh oleh Eko. Nggak bakal ada lagi yang ngecie-ciein aku dengan seseorang. Nggak bakal ada lagi untuk kepasar harus naik kompang. Nggak akan ada lagi semua ;’) 

Ah, kenapa udah senyaman ini, harus ada perpisahan? Kenapa udah sedekat ini harus dipisahkan? Bisa waktu berhenti sebentar saja? Lima menit saja?  Aku hanya ingin sedikit mengulang semua kejadian disini, hanya untuk sekedar merekamnya kembali dalam benak.
*@@@*
“Bapak ngantar sampai sini saja. Kalau bapak ikut ngantar keseberang, bapak nggak tau bakal nangis kaya mana lagi,” pak kades mengusap ujung matanya. Mata kamipun sudah mulai berair. 

Bu kades memeluk kami erat-erat satu persatu. Tangis seketika pecah. Aku menghembuskan nafas. Lagi-lagi aku paling benci dengan yang namanya perpisahan. Perpisahan model apapun itu.
Aku membelai kepala mungil Manda. Dengan polos, gadis berusia 4 tahun itu menatap kami dan berujar, “Akak nak kemano? Bekok malam lolok di duma adek lai kan?[1]” 

Sontak kami terdiam, hanya air mata yang terus mengalir. Entah untuk keberapa kalinya, aku menghembuskan nafas. Aku beralih keadik-adik yang nganterin kami sampai kekompang. “Belajar baik-baik ya kalian,” kataku. Mereka hanya mengangguk sambil memelukku erat.

Barang-barang kami sudah diturunkan ke Kompang oleh pemuda-pemuda desa. Kami tak henti-hentinya juga mengucap terimakasih kepada abang-abang itu. “Baliok kalian, sopi disiko lai,” ucap salah seorang abang yang sering nginap ditempat cowok yang biasa kami panggil ocu.  

Untuk yang terakhir kalinya, kami berphoto dengan pemuda-pemuda Desa Pulau Jambu. Kami diterima dengan baik disini, dilepaspun dengan cara baik-baik. Walau belum bisa mengabdi secara optimal, tapi aku cukup gembira berada disini. Seakan bertemu keluarga baru.

Satu persatu kami mulai menaiki kompang. Entah apa yang dipikirkan oleh teman-teman saat ini. Yang pasti, aku tau bahwa merekapun sedih dengan perpisahan ini. Mereka juga nggak rela pergi dari desa ini. 

Saat telah duduk dibangku kompang, sekali lagi kutatap Desa Pulau Jambu dari segala sisinya. Trus benakku berputar menayangkan memori-memori indah saat berada disana. Bu kades mengusap air matanya, sedangkan Manda yang masih kecil menatap kami dengan tatapan tak mengerti. Apa gadis sekecil ini mengerti akan kehilangan? Perpisahan?
*@@@*
“Woi aku minta maaf ya,” kataku sambil memeluk beberapa teman. Saat ini kami sudah turun dari kompang. Semuanya saling bersalaman meminta maaf, tentu saja dengan tangisan yang kian mengalir. 

 Resti dan Nengsih dijemput oleh kedua orang tua mereka. Yudhi dan Eko pulang naik motor. Asih, Fajri, dan Avi di pix up. Sedangkan aku, bang Kho, Sipen, Ipad, Bunda, Nety, dan Sitoh di mobil avanza.

Mobil avanza mulai melaju. Melaju meninggalkan bayangan desa Pulau Jambu. Meninggalkan Cerenti. Pulang! Ya, memang pada nyatanya, senyaman apapun disuatu tempat, pulang adalah hal yang pasti. Seperti halnya hidup, senyaman apapun kita didunia ini, cepat atau lambat, kita bakal ‘pulang’ juga pada-Nya.

Aku lagi-lagi menghembuskan nafas. Entah untuk yang keberapa kalinya mencoba menata hati. Belum beberapa menit meninggalkan Desa Pulau Jambu, rindu itu mulai menguak. Rindu keramahtamahan penduduknya. Rindu suasana pedesaannya. Ah, betapa rindu ini susah diungkapkan.

Sebuah keyakinan muncul, keyakinan bahwa kami suatu hari nanti bakal ketempat ini. Bakal kembali ke Desa Pulau Jambu. Aku menatap keluar jendela.

Benar-benar nggak kerasa. Ternyata 53 hari bareng mereka meninggalkan begitu banyak kenangan. Bersama teman-teman KKN pun punya berjuta cerita, walau memang nggak selalu indah. Marah, kesal, benci, itu hal yang wajar. Yalah, menyatukan 14 kepala dengan isi berbeda-beda itu bukan hal yang mudah. 

Walaupun begitu, mengenal mereka betiga belas adalah sesuatu hal yang menyenangkan. Mereka keluarga baruku. Orang yang cukup tau bagaimana aku luar dalam. Aku belajar banyak dari mereka. 

Ah, memang pada nyatanya, setiap orang yang hadir dalam hidupmu, entah hanya untuk sekedar singgah atau bahkan menetap pasti memiliki alasan. Pasti ada pembelajaran yang bisa diambil dari sosok itu. 

Setiap waktu punya makna. Setiap kisah punya cerita. Setiap orang yang hadir pasti punya alasan. Desa Pulau Jambu inipun mengajarkan aku banyak hal. Banyak sekali! Tentang kehidupan apalagi. Pokoknya KKN ini edisi belajar tentang hidup secara real. 

Aku yang di Pekanbaru jarang nyapa tetangga, kalau di Desa Pulau Jambu beuh jangan ditanya! Kalau katanya Sitoh, kakak yang paling ramah itu ‘Muthi’. Kakak yang paling dekat dengan adik-adik dan paling sering dicariin itu ‘Muthi’. 

Pernah waktu itu sedang sakit diposko, kebetulan juga memang nggak ada jadwal ngajar. Sipen dan Bunda kesekolah, trus pas diposko Bunda cerita gini : “Tadi disekolah, adik-adik itu pada nanya kapan kita ngajar. Trus ditanyain juga kak Muthinya mana, kami bilanglah sakit diposko. Ndeh, udah sayang kali orang-orang ni sama Muthi, besok-besok ngajarlah lagi ya Muthi.”
*@@@*
Mobil yang membawa kami ke Pekanbaru berhenti didepan sebuah rumah makan. Rumah makan ini, rumah makan yang pertama kalinya juga kami datangi saat akan berangkat mengabdi di Desa Pulau Jambu. Seakan flashback rasanya. 

Sembari menunggu pesanan, kami berbagi cerita. Kalau diawal kemaren kami masih sungkan, kalau sekarang beda suasana. Aku tersenyum, lalu putaran-putaran memori di Desa Pulau Jambu kembali terngiang. Terlalu banyak pelajaran didesa itu. Pelajaran tentang hidup. Pelajaran tentang pertemanan. Pelajaran tentang cinta. Dan pelajaran-pelajaran lainnya.

Ngomongin soal cinta, ada beberapa temanku yang kayanya cinta lokasi gitu. Bisa dibilang selama ditempat KKN mereka dekat banget. Sudahlah, tak usah membahas cinta, terserah mereka. Aku ingin focus. Pulang dari desa Pulau Jambu, aku sadar banyaknya kurang ilmuku. Nanti, setelah kembali kekehidupan ‘real’, aku ingin belajar masak lebih rajin lagi, belajar ngatur waktu, dan belajar ilmu agama pastinya.**

Gimana gimana? Seru nggak pengalaman KKN aku? Sebenarnya masih banyak bagian yang belum aku ceritain. Nanti deh kapan-kapan aku cerita. Aku nulis dan ngepost disini bukan maksud pamer tentang pengalaman-pengalaman aku. Sama sekali nggak! Apa coba yang mesti dipamerkan kan? Hanya pengen ngarsipkan kenangan dan semoga ada yang bermanfaat yang bisa diambil. Rencananya aku bakal nulisin tips-tips seputar KKN. Stay tune ya :D Oke deh, salam sayang, @muthiiihauraa (tw) @muthihaura1 (ig).
Rabu, 1 Maret 2017. 08.24 WIB.


[1] Kakak mau kemana? Nanti malam tidur dirumah adek lagi kan?

You Might Also Like

1 komentar

  1. Haalllo kak . Seru ceritanya . :) . Ngebaca sampai akhirnya :) .
    Mau tanya kak. Temannya yg nengsih tu dekatnya dengan ipad ya ?

    BalasHapus