[Cerbung] : Tentang Cinta

22.28 Muthi Haura 0 Comments



Hai Assalamua’laikum. Gimana kabarnya? Lagi nggak sempat nulis entry nih, jadi ngepost novel lama aja deh. Ini tulisan lama, aku nulisnya sekitar tahun 2015 lalu. Ini novel udah pernah aku kirim kepenerbit, tapi nggak ACC, jadi dari pada mendam di laptop, mending aku post disini aja. Langsung saja, check this out : 



1
Cinta adalah sebuah rasa yang menyangkup semua rasa yang ada. cinta tak perlu diucapkan, cukup dengan hati yang saling mengerti.

            Karla berkali-kali mematut dirinya didepan kaca besar kamarnya. Gadis manis berambut ikal kepirangan itu sama sekali tampak tak puas dengan pantulannya didepan cermin. Karla merapikan pita pink rambutnya sembari mendengus pelan. Sinar mentari membias lewat jendela kamar gadis itu.
            Gadis cantik dengan tinggi 158 cm itu merapikan rok hitam yang 3 cm dibawah lutut. Hatinya mencelos pelan. Entah kenapa keringat dingin membasahi tangannya, padahal AC dikamar Karla sudah bekerja maksimal. Mungkin karna hari ini hari pertama ospek dan itu membuat perasaannya tak kunjung enak.
            Karla menghembuskan nafas pelan sembari meraih bedak baby dan memoleskan kewajah orientalnya. Gadis berbola mata coklat terang itu memaksakan sebuah senyum dibibir tipisnya.
TOK TOK TOK! “Dek! Ditunggu makan nih. Buruan!” Kevin, kakaknya mengetuk pintu kamar Karla. Dengan terburu-buru Karla meraih tas sandang warna biru mudanya dan segera berlari keluar kamar menuju meja makan. 

Suasana dimeja makan seperti biasa kaku. Karla duduk dihadapan Kevin dan disamping Angga—Papanya. Karla menyendokkan nasi goreng kepiringnya dan meraih telur mata sapi.
“Pa. Aya boleh bawa mobil nggak?” tanya Karla dengan menyebut dirinya Aya. Angga memandang sekilas putrinya dan lalu detik berikutnya kembali memasukkan sepotong kecil burger kemulutnya. “Terserah.”
Karla menghembuskan nafas. Seharusnya ia tak perlu bertanya toh Papanya juga nggak bakal peduli. Kembali suasana hening. Suasana yang sebenaranya sangat tidak diinginkan Karla.
“Lo sama gue aja dek.” Karla memandangi Kevin dan kemudian mengangguk. Apa salahnya pergi sama kakak sendiri kan? Mereka satu universitas, tapi beda fakultas. Gadis cantik itu membersihkan sudut bibirnya dan meletakkan sendoknya.
“Kak Ivin, berangkat sekarang yuk? Gue takut telat nih.” Kevin mengangguk setuju. Cowok berwajah ganteng dengan alis mata tebal itu beranjak dari duduknya. Mereka menciumi punggung tangan sang Papa dan kemudian berjalan keluar rumah.
*@muthiiihauraa*
“Heh! Mana bunga kaktus lo?!” Grasia si gadis cantik senior Karla berdiri dihadapan Karla. Karla menunjukkan ekspresi kaget. Membawa kaktus? Sama sekali ia tak tau itu. Grasia menatap sinis kearah Karla, membuat gadis itu sedikit merinding ketakutan. “MANA?”
“Ng— nggak bawa kak!” Grasia memandang Karla dengan tatapan tajam seakan ingin menerkam gadis itu hidup-hidup. “Ran! Ini cewek nggak bawa kaktus, mau diapain?” Grasia berkata dengan sang ketua BEM yang diketahui bernama Farran.
Farran mendekat sembari tersenyum sinis. Gaya songongnya mampu membuat Karla hampir mau muntah. Cowok semester  lima itu menatap Karla dengan pandangan tajam.
“Nggak bawa kaktus ya? Kenapa nggak bawa? Lupa? Kenapa lupa?” Farran membrondong Karla dengan beberapa pertanyaan. Karla lemas. “Maaf Kak!” hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir pink tipis Karla.
“Cuma lo sendiri nggak bawa! Songong banget lo nggak matuhin peraturan yang berlaku. Emang lo nggak dengerin apa-apa aja yang harus dibawa?” Kali ini suara Grasia yang tengah berkacak pinggang. “C’mon Gras! Ini urusan gue dengan ini cewek. Mending lo sana deh!”
Grasia mendengus kesal dan dengan tampang yang dibuat sebete mungkin Grasia berlalu meninggalkan sang ketua BEM dengan Karla yang tampak ketakutan. “Siapa nama lo?”
“Karla kak. Karla Stefanie.” Karla mengutuk dirinya karna saking takutnya cewek itu menyebutkan nama panjangnya. “Lo tau kan gue ketua BEM disini? Lo mau hukuman apa dari gue?” Karla tercengang. Mau hukuman apa? tentu aja nggak mau hukuman apa-apa. “Terserah Kak.” 
“Terserah ya? Kalau jadi cewek gue mau nggak?” Karla tercengang. Itu hukuman yang paling mengerikan! Batin Karla. Matanya menatap Farran dengan pandangan yang sulit dipercaya dan sulit dimengerti.
 “Mau nggak? Gue ketua BEM lo disini. Cowok paling ganteng di universitas lagi. lo beruntung tau! Nggak ada yang bisa nolak pesona seorang Farran Darrel Al-Ghazi.”
Karla hampir muntah mendengar perkataan sang ketua BEM itu. Dih! Ganteng sih, tapi songong! Pamer diri banget. batin Karla.
“Ehm. Kak, kakak itu gantengnya pake banget deh. Baik lagi. senyumnya manis. Pokoknya Kakak perfect deh.” Ucap Karla. Farran tersenyum angkuh sembari memain-mainkan dagunya. “I know it!
“Tapi sayang banget kak, gue nggak tertarik sama kakak.”
Skak mat! Farran terdiam. Baru kali ini dia ditolak dengan cara seperti ini. Cowok itu mencoba mengumpulkan serpihan rasa malu yang sempat tercecer. “Gitu ya? Berani banget ya lo! Ini penghinaan yang amat besar buat gue!”
“Gue akan pastikan, lo yang bakal datangi gue dan ngemis-ngemis buat jadi cewek gue!” Farran menekankan kata-katanya pada kata ‘ngemis’. Karla menelan ludah. Mengetahui bahwa cowok itu melambaikan bendera perang buat dirinya.
“Sekarang juga, lo lari keliling lapangan 20 kali putaran!” suruh Farran. Karla menunjukkan ekspresi kaget sembari menatap lapangan yang besarnya nggak ketulungan. Gadis itu lemas. “SEKARANG!”
Karla mulai berlari. Baru setengah lapangan aja nafasnya sudah ngos-ngosan. Kalian bayangkan seorang cewek cantik dengan kulit putih tengah berlari mengelilingi lapangan dengan ditemani sang terik matahari.
Arght! Shit! Baru hari pertama ospek udah ketemu dengan si ketua BEM yang sangat-sangat menyebalkan! Bisa habislah gue ini. Huh! Dia pikir dia itu siapa? Cuma ketua BEM songongnya minta ampun.
Karla masih berlari dengan terengah-engah, sedangkan diujung lapangan Farran tersenyum sinis. Cowok ganteng yang  berperawakan tinggi dengan potongan perut four pact dan rambut lebat yang biasa di acak-acaknya itu mendengus kesal. Ini kali pertama baginya ditolak cewek mentah-mentah dan itu sangat memalukan baginya.
Farran masih asik menatap sosok Karla. Boleh juga itu cewek! Baru kali ini gue ditolak dan itu bikin gue semakin tertantang buat dapetin dia! Kita lihat aja nanti! “Heh ngelamun lo! Sadis juga lo ngehukum si cewek itu!” Grasia menepuk pundak Farran.
“Sadis dong! lo jagain dia ya! kalau dia udah siap bilang sama gue. Gue mau ngurus yang lain.” Farran berjalan meninggalkan Grasia. Grasia mengangguk, walau gadis itu tau Farran tak melihat anggukan kepalanya.
Langkah kaki Farran terhenti saat mendengar sebuah perdebatan antara senior dan seorang junior cowok.
“Jadi lo ngelawan hah?” Zaki sang senior berkacak pinggang geram. “Iya. Kenapa?” junior itu dengan berani menantang Zaki. “Hey, ada apaan nih?” tanya Farran sembari meminta penjelasan.
“Eh Kak Farran. Ini kak, junior ini nggak bawa pita. Gue hukum, eh malah dia nggak mau.” Zaki mengadu. Farran melipat tangannya didepan dada. Memandangi junior itu dengan tatapan sadis.
Sang junior dengan sangat berani meludah disamping sepatu Farran. Farran tertawa sinis. Perbuatan yang sangat berani dari seorang junior ingusan.
“Nama lo siapa?” Farran mendorong bahu si junior. “Penting?”
“Eh sama senior bisa sopan dikit nggak sih?! Lo itu junior belagu banget!” kata Zaki geram. Farran memandang tajam kearah si junior. Keributan kecil ini mampu menyedot perhatian banyak pihak. “SEKALI LAGI GUE TANYA NAMA LO SIAPA?” suara Farran naik sepuluh oktaf.
Junior berbola mata biru itu tertawa menyerigai. “Adit.” Jawab junior itu singkat. Farran menatap Adit dari atas sampai bawah. “Kenapa nggak bawa pita?”
“Gue bukan cewek.” Jawab Adit asal. Cowok berambut spikey itu masih terlihat santai. Sama sekali tidak merasa takut akan apa yang dihadapinya. Baginya, para senior itu tak lebih seorang pengecut yang berani menindas junior hanya dengan alasan mereka lebih berpengalaman dan lebih duluan berada dikampus ini.
“Mungkin lo bisa jalan jongkok keliling lapangan kan? SEKARANG!” perintah Farran sembari menunjuk lapangan tempat dimana Karla masih berlari. Adit mendengus pelan. “Gue nggak mau!” Jawaban yang membuat Farran geram. Dikepalnya tangannya.
Farran menghela nafas. Mungkin kalau nggak ingat dia ketua BEM disini dan harus menjaga wibawanya, pasti dia sudah menonjok cowok berwajah putih dengan dua mata elang yang dibingkai dengan alis tebal dihadapannya.
“Heh! Berani banget lo ya. cepat jalan jongkok!” kali ini perintah Zaki. Tampaknya Zaki benar-benar tidak bisa menahan emosinya saat berhadapan dengan Adit. Adit mengangkat bahunya tanda tak acuh dan detik berikutnya cowok berhidung mancung itu berlalu meninggalkan para seniornya.
Mereka pikir gue takut? Mereka Cuma bisanya sok ngatur dan gue paling nggak suka diatur-atur! Adit membatin sembari duduk dipinggir lapangan dan mengeluarkan HP BB-nya. Sedangkan ditempat Farran, Farran tengah berusaha semaksimal mungkin untuk menahan emosinya.
 “Emang kurang ajar tuh cunguk! Tenang Kak Farran, biar gue beresin.” Zaki hendak melangkah menuju arah Adit, tapi buru-buru ditahan Farran.
“Nggak usah. Biarin aja dulu. Entar kita kasih pelajaran!” 
*@muthiiihauraa*
“Ayo dong! Lari yang kencang. Buruan! Lemot deh lo.” Suara teriakan Grasia memenuhi seantaro lapangan. Adit yang masih asik dengan BB ditangannya seolah acuh tak acuh. Berkali-kali Karla ngos-ngosan. Pandangan gadis itu mulai menghitam dan kepalanya yang terasa sangat pusing. Wajahnya sudah memerah.
Karla masih berlari hingga langkahnya mulai semboyongan. Pandangannya kian mengabur. Karla jatuh tepat menimpa punggung besar Adit.
“Eh eh. Hey! Apa-apaan nih?” Adit buru-buru bangkit dari duduknya dan mendapati seorang gadis tak dikenalnya kini sudah terjatuh dilantai lapangan.
Stupid! Kenapa ini cewek tidur disini?” tanya Adit sembari meremas geram rambutnya. Entah dia bego atau memang polos. Adit menepuk-nepuk pipi gadis itu. “Woi. Wake up! Kenapa tidurnya disini? Heeey!”
“DIA PINGSAN! BAWA UKS BEGO!” Grasia berteriak histeris kearah Adit sembari menghampiri Adit dan Karla. Adit seakan tersadar dengan kebodohannya. Buru-buru diraihnya tubuh mungil Karla. “CEPAT! CEPAT KE UKS.” Grasia panic, pasalnya gadis itu juga ikut terlibat dalam pemingsanan Karla.
Adit berlari-lari menuju koridor kampus. Lalu tiba-tiba langkah kakinya terhenti mendadak. “KENAPA BERHENTI? BURUAN CEPAT, ENTAR DIA MATI LAGI!” Adit berjalan gontai menuju Grasia. “UKS dimana?”
Grasia menepuk jidatnya saat mendengar perkataan Adit. “Ikut gue!”
*@muthiiihauraa*
Never mind
I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
“Don’t forget me,” I begged
“I’ll remember,” you said
“Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead.”

Petikan gitar dan suara merdu nan indah memenuhi seantaro ruang music. Kevin masih asik menghayati lagu yang dinyanyikannya. Someone like you –nya Adele. Sebuah tepukan dibahu Kevin membuat cowok itu berhenti dan detik berikutnya menatap orang yang udah menganggu acara menyanyinya dengan tatapan kesal.
“Ganggu deh lo!” ucap Kevin sinis kearah Farran—cowok yang baru saja menepuk pundaknya. Farran hanya nyengir kuda dan duduk disamping Kevin. Cowok itu merangkul pundak Kevin dan buru-buru ditepis oleh Kevin.
Farran tersenyum melihat temannya itu, membuat Kevin bergidik ngeri. “Wah wah, sory bro gue masih normal. Gue nggak nyangka ternyata lo punya perasaan lebih terhadap gue.” Kevin menggeser duduknya agak menjauhi Farran.
Dengan kesal Farran menoyor kepala Kevin. “Lo pikir gue maho. Sory man, gue hari ini baru ketemu cewek yang beda banget. Nam—”
“Hhh. Hh.Ran! Gawat! Hh. Gawat banget Ran. Hh.” Grasia menghampiri Farran dan Kevin dengan terengah-engah. Grasia membungkuk mengatur nafasnya. Kevin menggerutkan keningnya tanda tak mengerti. “He ngomong yang jelas. Kenapa?” tanya Farran tak sabar.
“Itu! cewek yang lo hukum tadi pingsan. Sekarang di UKS!” ucap Grasia saat nafasnya sudah mulai teratur. Farran kaget dan buru-buru berlari keluar dari ruang music dan menuju UKS. Grasia merapikan rambutnya sembari mengerlingkan sebelah matanya kearah Kevin.
“Kelilipan lo?” Grasia cemberut sembari memukul pelan lengan Kevin. “Iiih. Sayang! Nggak peka amat sih!” Lagi-lagi Kevin bergidik ngeri. Kevin meletakkan gitarnya dan berjalan meninggalkan gadis cantik yang mengenakan tank-top pink soft dengan celana jins ketat itu.
Grasia berlari mengejar Kevin dan bergelayut manja dilengan Kevin. “Sayang, mau kemana sih. ikut!” ujar Grasia manja. Kevin melepaskan tangan Grasia dari lengannya.
“Dengar ya tuan putri yang cantik. Lo itu bukan siapa-siapa gue jadi nggak perlu nguntilin gue mulu!” Kevin kembali melanjutkan langkahnya.
Grasia terdiam sembari menatap punggung Kevin. Ada sebilah rasa sakit yang dirasakannya. Kenapa lo seakan menutup mata dengan perasaan gue Kev? Apa memang nggak ada celah sedikit pun dari lo buat gue? segitunyakah? Seburuk itukah gue ampe lo nggak bisa buka hati lo?
Grasia mengusap air mata dengan punggung tangan kanannya. Mencoba meraba sisi hatinya. Sakit, itu yang gadis cantik bernama lengkap Grasia Indrialani Putri rasakan.
*@muthiiihauraa*
Adit menyandarkan badannya didinding UKS. Berkali-kali tatapan matanya melirik arloji hitam dipergelangan tangan kirinya. Ekspresi bosan tercipta diwajah ganteng cowok blasteran Indonesia-Jerman itu. Kali ini pandangan Adit tertuju pada Karla yang belum juga terjaga dari pingsannya.
Wake up! Lo buang-buang waktu gue tau. C’mon! arht! Shit!” Adit melipat tangannya didepan dada. Sesekali tangan kirinya mengacak-acak rambutnya bosan.
Sedangkan dikoridor kampus Farran berlari dengan wajah khawatir. Entah kenapa ada sebilah rasa sakit saat mendengar Karla pingsan. Bukan hanya perasaan bersalah karna menghukum gadis itu, tapi sebuah perasaan lebih yang dirasakannya.
Shit! Kenapa gue segitunya buat satu cewek itu? oke, itu emang salah gue tapi apa gue harus separanoid ini?
Farran membuka pintu UKS. Cowok itu berdiri tertegun diambang pintu saat melihat sosok Adit disana. Farran menatap tajam kearah Adit, begitu pun sebaliknya. Farran mengepalkan tangannya dan berjalan pasti menuju kearah Adit. Entah kenapa emosinya memuncak.
BUGH!
Adit terhuyung. Darah segar mengalir diujung bibir tipisnya. Adit menatap tajam kearah Farran dan detik berikutnya cowok blasteran itu tertawa. Farran mengernyitkan keningnya. Merasa heran dengan reaksi yang didapatnya dari Adit.
“Oh, jadi gini ya kelakuan si ketua BEM itu!” Adit berdiri gagah, seolah menantang.
Farran diam. Tangannya masih terkepal. Rasanya, cowok itu masih ingin memberikan bogeman indahnya diwajah good-looking Adit. “Kenapa? Masih mau nonjok gue? Dasar ketua BEM nggak guna!” ucap Adit sembari berjalan meninggalkan Farran. 
Farran menghela nafasnya. Tak ingin termakan emosi lagi. Cowok berwajah manis itu menghampiri Karla yang masih belum sadarkan diri. Sebersit rasa khawatir itu lagi-lagi muncul.
Farran menatap wajah Karla dengan teliti sembari menggenggam erat telapak tangan Karla. Farran merasa wajah gadis ini begitu familiar. Ia seperti mengenal gadis dihadapannya ini, tapi sama sekali tidak ingat dimana dan kapan lebih tepatnya.


----to be continued.

Gimana? gimana? tunggu kelanjutannya.
salam sayang, @muthiiihauraa
Rabu, 19 April 2017. 12.27 WIB

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: