cerbung

Tentang Cinta #2

00.56



 
Bisakah gue +elo=kita? Entahlah! Apa memang tak kan pernah ada KITA?
*@muthiiihauraa*


Karla masih asik menatap langit malam dengan ditemani butiran bintang. Ditangan gadis itu bertengger semangkok kecil es cream yang belum juga habis dilahapnya. Es cream yang sudah mulai melumer dimakan waktu. Karla terdiam. Masih terpaku seakan ada yang menganjal dibenak gadis cantik itu. berkali-kali hembusan nafasnya terdengar lirih.

            Karla membuka matanya dengan perlahan sembari menatap sekelilingnya dengan tatapan heran. Gadis itu mulai duduk sembari memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut-denyut. “Eh, lo udah bangun? Syukurlah.”
            Karla mengernyit tak mengerti saat matanya tertuju pada seorang cowok yang sepertinya begitu lega saat mengetahui dirinya sudah sadar. “Kak Farran? Ngapain disini? Gue dimana nih?”
            “Maafin gue ya. Ini salah gue. lo lagi di UKS. Yang mana yang sakit? Masih pusing? Aduh, maaf banget!” Farran menatap Karla dengan wajah khawatir yang dipadukan dengan perasaan bersalahnya. Karla menahan tawanya saat melihat ekspresi aneh Farran.

            “Heey! Ngelamun lo dek.” Kevin menepuk pundak Karla sehingga lamunan gadis cantik berambut coklat kepirangan itu terhenti. Karla mendengus kesal saat menemukan Kevin sudah duduk santai disampingnya. “Kak Ivin, ganggu deh!” Karla menunjukkan ekspresi cemberut yang langsung disambut tawa kecil dari Kevin.
            Kevin mengelus lembut puncak kepala Karla dan dengan sadis langsung ditepis oleh Karla yang masih terlihat sangat kesal. “Maaf deh Aya. Jangan cemberut gitu dong entar makin jelek lho.” Gadis itu sontak memukul lengan bahu Kevin yang bidang.
            “Hari ini aneh tau Kak.” Karla memulai sesi curhatnya sembari menaruh mangkuk es cream itu diatas meja. Bagi Karla, Kevin adalah sosok kakak yang sangat perhatian dan paling mengerti dirinya.
Kevin menatap gadis itu dalam-dalam seakan siap mendengarkan segala bentuk ocehan yang keluar dari bibir tipis Karla. Kevin sangat menyayangi Karla. Ia seakan rela melakukan semuanya untuk gadis itu.
            “Aneh kenapa?” tanya Kevin saat melihat Karla yang masih terdiam. Karla tak menjawab. Gadis itu malah asik memain-mainkan sendok dari mangkuk es creamnya. Kevin paham bahwa Karla-nya belum siap untuk cerita dan ia tak memaksanya. Cowok yang memakai kaus ketat itu menatap Karla dengan lembut.
Gue akan selalu jagain lo dek! Gue akan selalu jagain Aya karna gue sayang sama lo. Dan gue harap, rasa sayang gue ini hanya sebatas rasa sayang kakak ke adiknya.
*@muthiiihauraa*
Farran masih asik dengan gitarnya sembari menyandarkan punggungnya ke sofa. Memain-mainkan tangannya pada senar gitar dengan nada yang tidak beraturan. Cowok itu menghembuskan nafasnya kesal sembari menaroh gitar itu dilantai begitu saja. 

            Cowok berwajah cool itu mengajak-acak rambutnya kesal. Wajah seorang gadis bernama Karla memenuhi ruang otak Farran. “Agh! Kenapa wajah cewek itu nggak bisa pergi sih?” dengus Farran sedikit frustasi. Farran meraih gelas coklat hangat yang dibuatkan Mamanya dan menegaknya hingga tersisa setengah.
            Kenapa sih wajah tu cewek nggak bisa pergi dari benak gue? Apa gue beneran jatuh cinta dengan dia? Arhgt! Shit! Cantik sih. haa? Apa? cantik? Gue bilang dia cantik. Oke, emang cantik. Wajahnya familiar buat gue, tapi dimana gue pernah ngenal dia ya?

            Ehm. bisa nggak ya kalau gue + Karla jadi kita? What the hell is this. Gue mikir apa sih? goblok! Arght!

“Gue jadi kaya orang bodoh gini deh!” Farran mendengus sendiri sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. Cowok itu lalu meraih kunci mobilnya dan bersiap-siap menuju keluar rumah. Tapi langkah kakinya terhenti saat melihat Mira—sang Ibu memanggilnya. “Ran mau kemana?”
            “Keluar bentar ya Ma.” Dengan cepat Farran meraih tangan kanan Mira dan mencium punggung tangan wanita setengah baya itu. Mira hanya bisa menggelengkan kepala saat menatap sang putra.
*@muthiiihauraa*
Kevin terduduk didepan meja kerja Angga. Entah karna apa Kevin tiba-tiba tadi mengetuk pintu ruang kerja sang Papa. Kevin menghela nafas karna sudah hampir setengah jam tak ada pembicaraan apa-apa antara mereka.
Angga masih sibuk (pura-pura sibuk) berkutat dengan laptopnya. Entah apa yang dikerjakan laki-laki berusia 45 tahun tersebut. Sama sekali tak berniat memandang wajah anaknya.
Kevin mengetuk-ngetukkan jari tangannya diatas meja kerja sehingga menimbulkan sebuah melodi bunyi yang abstrak. Angga melirik sekilas. Merasa tak suka dengan apa yang dikerjakan sang anak. Kevin mengerti dan segera menghentikan kerjaannya. “Pa.” suara lirih Kevin terdengar sedih. “Hhm?” jawab Angga tanpa menoleh.
Lagi-lagi Kevin menghela nafas. Ivin kangen Papa. Papa yang dulu. Papa yang nggak cuek gini. Pergelokan batin terjadi dihati kecil Kevin. “Sebulan lagi Karla kan ulang tahun, kita rayain ya?” Angga tak menanggapi.
Kevin mengacak-acak rambutnya karna kesal saat tak mendapati respon yang berarti dari Angga. Bahkan melirik dirinya pun tidak. Segitunyakah? Bahkan deretan piala-piala tekwondo dan olimpiade Sains saat SMA yang didapatnya sama sekali tak membuat Papanya bangga bahkan meliriknya pun tidak. Bagi Papanya itu hal yang biasa.
Kevin tercenung. Sama sekali tak tau harus bagaimana lagi untuk mengembalikan Papanya yang dulu. “Pa.” Lagi-lagi Kevin memanggil Angga. “Hhmm?” jawaban yang sama didapat oleh Kevin.
“Narkoba itu enak kan? Ivin boleh coba ya?” Sontan Angga melirik kearah Kevin dan itu membuat Kevin merasa senang campur sedih. Ternyata bukan deretan piala yang membuat Angga meliriknya, tapi Cuma dengan rentetan kalimat narkoba yang mampu membuat Angga meliriknya. Mungkin kalau dia benar-benar mencoba narkoba, Angga bakal memperhatikannya seperti dulu. Bisa jadi kan?
 Are u okay? You crazy?” Pertanyaan yang diluncurkan oleh Angga membuat Kevin tersenyum kecil. “Yes, I am crazy. What about you?” tanya Kevin lantang dan lancang. Terlihat bahwa Angga emosi menatap Kevin dan detik berikutnya berlalu dari hadapan Kevin.
Kevin tersenyum sinis. Gue nggak menyangka bahwa Bapak Angga yang terhormat bisa jadi sepenakut ini dalam menjalani realita kehidupan.
*@muthiiihauraa*
Grasia menegak minuman alkoholnya dengan setengah tak sadarkan diri. kepala gadis itu sudah terasa semakin berat. “Kevin, gue cinta banget sama lo. Cinta banget. kenapa sih lo –uhuk. Ahahah.” Cewek cantik yang saat ini memakai dress mini berwarna pink soft itu terbatuk-batuk sembari tertawa. Pandangannya buram.
“Gue sayang lo Kevin. Sayang. Gue pasti bisa dapetin lo. Pasti.” Grasia kembali meminum minuman itu sembari tertawa-tawa. Lampu night club yang remang-remang mampu menciptakan suasana berbeda. Pandangan cewek itu tertuju pada seorang cowok yang berada dimeja paling pojok.
Cewek cantik itu berjalan semboyongan kearah meja cowok yang dilihatnya dan segera merangkup wajah cowok itu. “Kevin? Lo ganteng banget. Gue cinta sama lo. Cinta banget.” Cowok itu keheranan dan mencoba menepis tangan Grasia dari wajahnya. “Lo ganteng Kevin. Gue sayang banget sama lo.”
Cowok itu mendorong tubuh Grasia sehingga membuat cewek itu terduduk di shofa. “Gila lo! Gue bukan Kevin begok!” Cowok berwajah ganteng itu meraba saku celananya, tapi ia tak meemukan dompetnya disana.
“Sial!” rutuk sang cowok dan kemudian menatap Grasia yang mencoba berdiri sembari memegang wajahnya.
Gue bisa ambil uang nih cewek. Lumayan! Pasti dia anak orang kaya deh! Cowok itu tersenyum simpul dan menarik pergelangan tangan Grasia dan meraih tas gadis itu. “Kita harus keluar dari sini.” Bisik cowok itu sembari menuntun tubuh gadis itu.
Setelah mereka berdua keluar dari night club, cowok itu mengambil dompet dari dalam tas Grasia dan buru-buru menarohnya kedalam saku celananya. “Gue sayang lo Kev. Sayang banget” Grasia bergelayut manja dilengan sang cowok.
“Kevin Kevin! Gue Adit bukan Kevin.” Adit melepaskan rangkulan tangan Grasia dari lengan bidangnya dengan kasar. Adit menatap wajah Grasia. Memandangi wajah itu lekat-lekat.
“Gue kayanya kenal lo deh. Lo yang tadi pas ospek bukan sih?” tanya Adit yang tentu saja tidak dimengerti oleh Grasia yang sudah sangat mabuk. Cewek itu hanya meracau tentang Kevin.
Grasia hendak memeluk tubuh Adit dan segera didorong dengan kasar oleh Adit sehingga membuat Grasia terjatuh menubruk tanah. “Gue pergi dulu ya. makasi uangnya.” Dengan santai Adit berlalu meninggalkan Grasia tanpa rasa iba sedikit pun.
Dipertengahan jalan, Adit membuka dompet milik Grasia. Cowok blasteran itu tersenyum simpul saat mendapati dua puluh satu lembar uang seratusan dari dalam dompet itu.
“Asik nih. bisa buat makan setahun.” Adit mengibas-ngibaskan uang itu dihadapannya sembari menikmati keindahan aroma yang tercipta dari uang-uang itu.
“Kaya juga tu cewek.” Adit tertawa kesenangan.
*@muthiiihauraa*
Farran mengendarai mobilnya tampa arah yang jelas. Pikirannya gusar mengingat wajah Karla yang tak pernah bisa lepas dari memori otaknya. Cowok itu menghela nafas dan membuangnya berlahan.
Farran mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sama sekali tak dihiraukannya makian-makian yang terlontar dari para pengemudi lain.
Farran tersenyum puas dan detik berikutnya kaki cowok itu menginjak pedal rem tepat didepan sebuah night club. Tidak, sama sekali Farran tidak berniat masuk kedalam tapi pandangannya terarah pada seorang cewek yang tertidur di aspal tepat didepan lokasi night club itu.
Farran menghela nafas. Lagi-lagi jiwa kemanusiaannya membuat cowok itu memarkirkan mobilnya dan segera keluar menghampiri cewek tersebut.
“Heey. Are you oke?” Tangan kanan Farran meraih dagu cewek tersebut. “Gras? What are you doing here?” tanya Farran kaget. Cewek itu hanya tersenyum sembari meraih wajah Farran.
“Gue sayang sama lo Kev! Kenapa sih lo nggak pernah ngerti? Kenapa? Lo ganteng tau. Gue pengen jadi bagian terpenting dalam hidup lo. Boleh ya? lo mau kan jadi pacar gue?” Grasia meracau tanpa arah. Farran menatap sahabatnya itu dengan tatapan nanar. Sebersit rasa iba itu muncul.
“Lo mabuk Gras. Ayo pulang!” Farran membopong tubuh cewek itu menuju mobilnya, sedangkan Grasia masih meracau. 

bersambung....

You Might Also Like

0 komentar