Tentang Cinta#3

22.23 Muthi Haura 1 Comments

Baca juga : Tentang Cinta#2



Cinta akan mengerti walau tanpa diucapkan.

            Adit berjalan gontai dikoridor kampusnya. Ini hari kedua ospek dan cowok itu terlihat begitu uring-uringan. Rambut spikey-nya ia acak-acak pelan. Beberapa cewek yang berpapasan dengan Adit, menatap kagum cowok itu. Adit tak ambil pusing. Cowok itu masih stand by dengan gaya sok cool-nya.
            Adit meraih Hp dari saku celananya, tanpa sadar cowok itu menabrak seorang cewek yang dengan sukses membuat cewek itu terjatuh dengan posisi lutut membentur lantai koridor.
“Jalan tuh pakai mata!” Adit membentak tanpa merasa bersalah, padahal jelas-jelas dia bersalah. Cewek itu meringis pelan sembari memegangi lututnya.
            Adit menatap wajah cewek itu dengan tatapan kaget. “Lo?” cewek itu mengernyit pelan. sebelah alis kirinya ia naikkan beberapa senti saat menatap cowok dihadapannya. “Lo kan yang kemaren?”  lanjut Adit. 

source : google


            “Gue Karla. Emang kita pernah kenal?” tanya gadis itu dengan tampang polosnya. Karla berdiri sembari meringis pelan memegangi lututnya. Tanpa merasa bersalah cowok itu mengeram kesal. tanduk-tanduk kemarahan seakan berada diatas kepala Adit. “Lihat nih! ini semua gara-gara lo tau!” Adit menunjuk pipi lebam didekat ujung bibirnya.
Ganti Karla kini mengernyit. Cewek itu menatap Adit dengan tatapan yang sama sekali tak mengerti. “Emang itu kenapa? Kok bisa gitu? Sakit nggak?” Karla mencoba menggapai pipi cowok itu, namun ditepis dengan kasar oleh Adit.
“Ah, udahlah! Lo itu emang cewek nggak tau trimakasih?” ucap Adit kasar sambil berlalu meninggalkan Karla dengan tanda tanya besar diatas kepala gadis cantik itu. Karla menatap kepergian Adit. “Emangnya gue kenal dia? Aneh!” Karla berjalan dengan tertatih menuju kursi kosong didepan sebuah kelas.
Dengan berlahan, Karla menduduki kursi itu. lagi-lagi gadis itu meringis. Tatapannya kosong menatap kearah depan. Cowok tadi kenapa sih? emang kenal? Kapan dan dimana? Marah-marah nggak jelas itu orang! Dia kan nabrak aku sampai jatuh, kenapa aku harus bilang trimakasih?
Karla menghembuskan nafas dengan kesal. Mau nggak mau gadis itu merasakan mood-nya memburuk. Karla merapikan jepitan pita berwarna ungu muda dirambutnya. Memberikan kesan imut pada gadis berumur tujuh belas tahun itu.
Karla menatap luka kecil dilututnya akibat membentur lantai tadi. Rasa perih semakin terasa. Karla meringis pelan sembari membungkuk memegangi lututnya. “Kar? Lo kenapa?”  Karla menatap seorang cowok yang sudah berdiri dihadapannya dengan raut wajah cemas.
Karla memaksakan sebuah senyum tulusnya dihadapan cowok itu. “Nggak apa kok Kak.”
“Kok bisa gitu kakinya?”  Cowok itu menatap luka dilutut Karla sembari mensejajarkan kepalanya pada luka dilutut Karla. “Kepeleset tadi Kak.” Karla berbohong.
“Karla-Karla! Ceroboh banget sih.” cowok bernama Farran itu tertawa. Diraihnya tissue, betadine dan sebuah plester dari dalam tas ranselnya.
“Tahan dikit yah. Mungkin bakal perih.” Farran membersihkan luka gadis itu dengan tissue. Seperti berdeja vu. Farran membatin.
Karla meringis pelan. “Kaya anak kecil lo! Tahan dikit.” Kata Farran. Dengan sigap tangan Farran bekerja pada luka dilutut Karla. Kini luka kecil dikakinya sudah tertutupi plester. Karla menatap wajah Farran. Menatapi wajah itu dengan teliti. Baik juga! Ehm, handsome si.
Karla tersenyum pelan. Tatapannya masih tertuju pada wajah Farran. “Gue tau gue ganteng. Natapnya nggak usah gitu bangetlah.” Karla tergagap. Buru-buru dialihkannya pandangan matanya kearah lain. Farran tertawa renyah. Diraihnya wajah Karla agar bisa berhadapan dengannya lagi.
“Kok mukanya merah gitu? ya udah deh, udah disuru ngumpul tuh. Masih bisa berdiri kan?”
“Ya masihlah Kak! Ehm. Gue masuk kelompok dulu ya? Makasih Kak.”
*@muthiiihauraa*
Kevin berjalan gontai menuju perpustakaan. Jaket universitasnya ia lampirkan dipunggung sebelah kanannya. Kevin mendengus kesal saat mengingat bertumpuk-tumpuk tugas dari dosen yang harus dikerjakannya.
Grasia berlari-lari mengejar langkah kaki Kevin. Ditatapnya punggung cowok itu dan dengan sukses membuat detak jantung Grasia bedetak tak karuan. Saat langkah mereka telah sejajar, Grasia bergelayut manja dilengan kanan Kevin.
Langkah kaki Kevin berhenti. “Apaan sih Gras?” Dengan dongkol Kevin melepaskan kedua tangan gadis itu dengaan tangan kiri pada lengan kanannya. Grasia cemberut seksi. Beberapa pasang mata menatap mereka dengan pandangan ingin tau.
 Cewek cantik itu mendengus kesal. Belum pernah dalam sejarah hidupnya, ada cowok yang sama sekali tak tertarik dengannya. Itu Kevin. Padahal Grasia tau Kevin sama sekali tidak punya pacar. Mungkin jatuh cinta pun cowok itu tidak pernah—menurut informasi yang didapat Grasia.
“Kenapa sih Kev? Lo tau kan gue sayang sama lo?”
“Dan lo tau kan kalau gue sama sekali nggak punya rasa sama lo. C’mon  Gras! Lo cantik, bisakan buka hati lo buat cowok lain?”  Kevin menatap tepat dimanik mata Grasia. Segampang itu dia ngomong? Dia memang benar-benar nggak ngerti sedalam apa rasa gue buat dia.
Grasia merangkup pipi Kevin dengan kedua telapak tangannya. “Lo lihat mata gue biar lo tau kalau gue bener-bener tergila-gila dengan lo dan nggak mudah buat gue ngelupain lo.” Dengan kesal Kevin menyentak kedua tangan Grasia dan berlalu dengan cuek dari hadapan gadis itu.
Grasia menatap punggung Kevin yang semakin menjauh. Tak berniat sama sekali untuk mengejar. Lagi-lagi perasaan sakit menyelimuti gadis itu. Grasia bergeming. Ditahannya tetesan air mata yang berlomba-lomba ingin meluncur.
“Kuingin kau tau isi hatiku. Kau lah yang terakhir dalam hidupku. Tak ada yang lain. Hanya kamu. Tak pernah ada. Tak kan pernah ada.” Grasia berkata dengan pelan dan selirih mungkin. Tanpa nada.
Grasia tak beranjak dari tempatnya. Masih berdiri dengan tatapan lurus kedepan. Gadis itu membiarkan hatinya terkoyaki semakin dalam. Membiarkan luka itu menganga lebar.
Kalau gue bisa memilih Kev, gue sama sekali nggak pengen jatuh cinta sama lo! Gue nggak pengen jatuh cinta dengan cowok sedingin lo. Rasanya begitu sakit. Apa memang tak pernah ada tempat dihati lo sedikit pun buat gue?
Gue sakit gini terus, tapi gue lebih sakit kalau harus ngelepas lo. Gue akan terus berusaha. Sampai lo bilang cinta sama gue!
Grasia menhembuskan nafas. Berharap rasa sakit yang dirasanya terpental dari hidupnya.

Dia. Memang hanya dia
Ku selalu memikirkannya
Tak pernah ada habisnya
Benar dia. Benar hanya dia
Ku selalu menginginkannya
Belain dari tangannya
(Geisha-Tak kan pernah ada)

            Sedangkan ditempat Kevin. Cowok itu termenung. Sama sekali nggak berniat dalam hatinya buat nyakitin cewek. Buat nyakitin perasaan Gras dan sederet cewek lainnya yang menyimpan rasa lebih buatnya.
            Kevin sadar, hatinya nggak kan bisa terbuka buat cewek lain. Hanya ada satu tempat dihatinya. Satu tempat yang diisi oleh seorang gadis yang dicintainya. Sebuah cinta yang seharusnya tidak pernah dikenyam bahkan dirasanya. Sebuah cinta yang tak akan pernah menyatu sampai kapan pun.
*@muthiiihauraa*
Adit memeluk Rica dengan erat. Tak ingin dilepasnya karna ia begitu menyayangi wanita itu. Rica menatap Adit dengan tatapan tak mengerti, lalu wanita itu tersenyum pelan. Rica membelai lembut kepala Adit, membuat Adit semakin merasa nyaman.
            “Kamu kenapa sih sayang?” Adit menggeleng pelen. Dilepaskannya pelukan dari tubuh wanita setengah baya itu. “Nggak papa kok Ma. Cuma pengen peluk Mama aja.” Rica tertawa mendengar jawaban polos khas Adit.
            “Dasar kamu!” Rica mengacak-acak rambut spikey Adit. Cowok itu hanya tersenyum tulus, menampakkan deretan giginya yang rapi. “Laki-laki itu belum ngirim uang ya Ma?” tanya Adit seraya menyandarkan tubuhnya pada dinding rumahnya.
            Rica mengernyit pelan. Sedikit bingung dengan perkataan anaknya. Rica mendengus pelan, ia tau Adit-nya masih menyimpan luka. “Siapa maksud kamu? Papa-mu?”
            “Ya begitulah.” Adit merapikan rambutnya sembari menjawab cuek. Rica menatap mata biru Adit, seolah mengunci sipemilik mata. “Dengerin Mama ya? Kamu nggak boleh ngomong gitu, walau bagaimana pun dia itu tetap Papa kamu.”
            Adit mendengus pelan. Merasa sangat malas harus manggil laki-laki itu dengan panggilan ‘Papa’. “Mama kenapa baik banget sih? Dia itu udah nyakitin dan nelantarin kita lho Ma!”
            “Nelantarin bagaimana? Buktinya tiap bulan dia ngirimin kita uang kan? Raditya, Mama nggak pernah ngajarin kamu untuk tidak sopan kepada Papa-mu sendiri.” ucap Rica tegas. Rica hanya tak ingin anaknya memiliki rasa dendam kepada siapa pun.
            Adit menghembus nafas sembari merentangkan tangannya. Tanda menyerah. Direbahkannya tubuhnya pada shofa usang dan dipejamkannya matanya. Rica menatap Adit dan detik berikutnya wanita setengah baya itu berlalu menuju dapur.
            Mama itu kaya malaikat. Hatinya putih bersih, tapi memang laki-laki itu aja yang nggak tau diri. Dia pasti akan menyesal pernah nyakitin gue dan Mama! Adit mendengus kesal. Entah kenapa emosi bergejolak didalam dirinya.
            Adit melangkahkan kakinya keluar rumah. “Dit, mau kemana?” Langkah kaki Adit terhenti dan Adit berbalik sembari memberikan senyuman termanisnya. “Keluar bentar ya Ma?” ucap Adit. Cowok itu pun berlalu dari hadapan Rica.
            Adit melarikan motor sport hijaunya dengan kecepatan tinggi. Meliuk-liuk dijalanan dengan gesit. Cowok itu tersenyum saat merasakan atmosfir kebebasan. Ini baru hidup! Cowok itu semakin melajukan motornya. Sama sekali tak menghiraukan cacian orang-orang yang merasa kesal dan orang-orang yang hampir ditabraknya.
            Sejak masih duduk dibangku sekolah, Adit memang terkenal dengan dengan sebutan badboy. Keluar masuk BP dan kantor polisi, balapan liar, bolos, tawuran dan bahkan hampir saja membunuh teman yang dia anggap merusak hidupnya.
            Adit sama sekali tak pernah merasa bersalah atas apa yang ia lakukan. Baginya semua yang ia lakukan adalah benar dan tak boleh ada yang men-judge nya salah. Tapi saat dirumah, Adit langsung berubah menjadi anak yang super sopan didepan Rica.
            Selama gue senang dengan apa yang gue lakuin, kenapa nggak? Ini hidup gue, nggak boleh ada siapa pun yang ngatur kecuali diri gue sendiri.
*@muthiiihauraa*
Karla menyipitkan mata saat matanya tertuju pada sebuket bunga mawar merah yang tergeletak didalam tasnya. Cewek berambut kepirangan itu tertegun. Dengan ragu-ragu diraihnya buket bunga mawar merah yang tampak menyeruak indah dari dalam tasnya.
            Karla mengernyit pelan. Cewek itu berjalan menuju tempat tidurnya sembari menghirup sensasi aroma sang mawar merah sambil tersenyum. “Bunga dari siapa ya?” Tangan gadis cantik itu membolak-balikkan buket bunga. Berharap mendapatkan keterangan tentang sipengirim bunga.
            Mawar merah? Kenapa orang ini tau kalau aku sangat menyukai mawar merah? Bukankah yang tau tentang hal ini cuma Mama dan Kak Ivin?
            “Bodo ah! Yang penting mah gue dapat bunga!” Karla tersenyum sembari meraih pot bunga Kristal dan meletakkan buket bunga itu disana.

Baca Artikel Populer Lainnya

1 komentar: