cerbung

Tentang Cinta#4

00.51

Baca juga : Tentang Cinta#3



Cinta itu tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hanya bisa dijelaskan dan dirasakan oleh hati.

            Ospek udah berakhir dua hari yang lalu dan itu artinya Karla udah resmi menjadi seorang mahasiswi. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Langkah kakinya yang anggun memasuki ruang kelas kuliahnya untuk yang pertama kali. Gadis cantik itu menghembuskan nafas pelan.
            Setelah duduk dikursi yang dipilihnya, Karla terdiam sembari mengetuk-ngetukkan ujung pena di dagunya. Bayangan saat hari terakhir OSPEK kemaren  memasuki dimensi memori otak Karla. Membuat gadis itu mengerucut kesal.

            Karla datang terlambat hari ini. Ia kira tidak akan mendapat hukuman dari sang ketua BEM. Ternyata malah Farran memperparah hukumannya. Tidak, cowok itu sama sekali tidak menyuruh Karla mengelilingi lapangan seperti pertama kali bertemu, tapi dia meminta gadis itu untuk menjadi pembantunya.
            “Kar. Minuman buat gue mana?” Karla berlari tergopoh-gopoh dari kantin menuju lapangan. Tangan mungil gadis itu memegang gelas besar. Karla mengulurkan gelas  itu ke hadapan Farran.
            Farran mengernyit pelan. Lalu pandangan tajam cowok itu menatap Karla. “Kok teh? Gue kan maunya jus alpokat.”
            “Lho? Tadi katanya teh! Gimana sih kakak ini.” Karla menggerutu pelan.
            “Cepat ganti! Gue mau jus alpokat sekarang!” Karla menarik nafas kesal sembari mencoba mengatur emosinya. Sabar sabar! Batin Karla. Dengan tergopoh-gopoh Karla kembali berlari menuju kantin.
            Sepuluh menit kemudian, gadis itu sudah berdiri dihadapan Farran sembari mengulurkan segelas jus alpokat. Karla membungkuk. Merasa kecapean. Gadis itu berkali-kali mengatur ritme nafasnya.
            “Makanannya mana?” Karla melotot kaget. “Makanan apa kak? Tadi kan nggak mesan.”
            “Ya kenapa nggak inisiatif sendiri sih? Nggak kreatif amat!” Farran bersandar dikursinya dengan santai sembari menyeruput pelan jus alpukat. “Ya gimana, kakaknya nggak mesan juga! Lagian ini waktu istirahat. Yang lain pada istirahat, kenapa aku nggak?”
            “Pokoknya nggak mau tau! Buruan beli makanan atau hukuman mau ditambah?” Farran menaikkan alis kirinya. Karla mulai panas. Kedua tangannya mulai terkepal. “FINE! Gue kekantin.” Karla mendengus sembari berlari ke kantin.Tanpa Karla dan seorang pun sadari, Farran tersenyum tipis.

 

            Karla terdiam. Wajahnya menunjukkan ekspresi sebete mungkin. Pasalnya kejadian itu mengingatkannya betapa nyebelinnya seorang Farran dan betapa menyesalnya ia pernah memuji cowok itu walau hanya dalam hati.
            “Eh, lo budek ya?” Sebuah tangan yang melambai didepan wajah Karla dan sebuah suara menghentikan lamunan dari memori otak gadis berusia tujuh belas tahun itu. Karla tergagap, buru-buru ditatapnya sang pemilik tangan.
            “Lo? Bukannya lo cowok yang nabrak gue beberapa hari yang lalu ya?”
            “Iya, emang kenapa? Buruan minggir! Gue mau duduk disini.” Adit menatap sinis kearah Karla sembari tangannya menarik tas Karla dan memindahkannya pada bangku kosong disampingnya.
            Karla buru-buru berdiri. Matanya menatap tajam kesosok ganteng dihadapannya. “Apa-apaan sih lo? Mau lo itu apa hah? Kursi kosong kan banyak.” Suara gadis mungil itu naik beberapa oktaf, membuat seisi kelas menoleh kearah mereka.
            “Gue mau disini! Kenapa? Ada masalah?”  Karla menghembuskan nafas kesal dan akhirnya mengalah. Dasar cowok egois! Resek banget!
*@muthiiihauraa*
Grasia mondar-mandir dihadapan Farran. Saat ini mereka berdua memang berada diruang secretariat BEM. Farran masih asik mengetik laporan untuk rapat nanti. “Aduh gimana ini?” Lagi-lagi Grasia menggerutu sembari mondar-mandir yang membuat Farran merasa terganggu.
            Cowok berwajah cool itu menatap Grasia dari ujung matanya. “What are you doing Gras? Please, lo ganggu konsentrasi gue banget.” Grasia berhenti lalu memandangi Farran sekilas.
            Cewek itu mendekati Farran dan duduk dibangku kosong samping Farran. Grasia menopang dagunya tanda bête. Wajah gadis itu ditekuk. “Kenapa sih?” Farran menoleh pada Grasia. Merasa sedikit iba dengan gadis disampingnya.
            “Comblangin gue dong sama Kevin.” Farran menepuk keningnya saat mendengar jawaban dari Grasia. Ditatapnya wajah Grasia yang penuh harap.
            Please ya Ran. Bantuin gue dong! Lo kan dekat sama Kevin.” Grasia menangkupkan kedua telapak tangannya dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin. Farran menghembuskan nafas berat.
            “Gras, gue baru akhir-akhir ini dekat dengan dia. Dia juga nggak pernah cerita tentang cewek yang dia sukai ke gue. Cinta itu nggak bisa dipaksa tau.” Farran kembali berkutat dengan laptopnya. Jari-jari kekar cowok itu bermain indah diatas keyboard.
            Grasia kembali cemberut. “Pelit banget sih Ran! Nggak mau nolongin gue. Terserahlah! Gue aduin lo sama nyokap lo karna nggak mau bantuin gue.” sungut Grasia sambil berlalu meninggalkan Farran.
            Farran menatap kepergian Grasia sembari menggeleng pelan. Gras Gras! Lo dari dulu nggak pernah berubah. Cinta nggak bisa dipaksakan tau! Harusnya lo biarkan waktu bergulir untuk membuktikannya.
            Farran menyeka sedikit keringat dikeningnya. Cowok itu menghembuskan nafas pelan. Entah kenapa bayangan wajah Karla memenuhi ruang kepala Farran. Cowok berwajah cool dengan raut wajah tegas itu terdiam. Membiarkan pikirannya melayang ke satu cewek.
            Apa gue bener-bener jatuh cinta dengan dia? Se-simple itu? Tentu saja! Dulu pun gue selalu berjanji untuk jagain dia.
*@muthiiihauraa*
“Lo tadi kenapa sih? Masalah banget ya buat lo?” Adit menghadang jalan Karla sembari menatap cewek itu tepat dimanik mata Karla. Gadis itu terlihat sedikit kagok. Buru-buru dirapiinnya pita biru muda yang tersemit indah dirambutnya untuk menghilangkan kekagokan.
            Karla mundur selangkah dari hadapan Adit. “Lo tadi kenapa? Mau cari masalah dengan gue?” ucap Adit lagi. Karla mendengus kesal. Kejadian tadi saat dikelas berputar dengan jelas dibenak gadis cantik itu.    

Adit masih asik bermain dengan BB-nya. Sama sekali tak dihiraukannya suasana disekelilingnya. Kicaun dosen didepan pun nggak membuat Adit mengalihkan pandangannya.
            Karla yang duduk tepat diposisi samping Adit lama-lama merasa terganggu juga dengan kesibukan cowok itu yang jelas-jelas sama sekali tidak mengganggunya. “Sstt. Perhatiin dosennya dong.” tegur Karla pelan.
            Adit yang merasa keasikannya terganggu oleh teguran Karla segera menatap cewek itu dengan pandangan tajam. “Diam aja deh lo!” Karla mengernyit geram mendengar jawaban Adit.
            “Lo itu diingetin yang baik bukannya trimakasih malah marah-marah! Dasar cowok aneh!”

            “Hey! Lo budek atau apa sih?” Adit melambai-lambaikan tangannya tepat didepan wajah Karla, membuat sepenggal kenangan tadi memudar dari benaknya.
            “Lo itu kenapa sih? Kenal juga nggak! Kenapa lo malah marah-marah nggak jelas sama gue? Salah gue apa?” Karla yang sudah termakan emosi berkacak pinggang seolah menantang Adit.
            “Salah lo? BAN—”
            “Kar, temenin gue makan yuk? Cowok aneh ngapain dilayanin gitu?” Farran yang entah kapan sudah berdiri dibelakang Karla segera menarik lengan gadis itu. Karla tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti langkah kaki Farran dengan tangan yang masih ditarik Farran.
            “Ciih! Cowok norak sama cewek norak emang cocok deh lo!” ucap Adit geram. Suaranya yang besar mampu membuat Karla dan Farran mendengar dengan jelas ucapan Adit.
            Farran tak bergeming. Senyum sinis mencuat dari ujung bibirnya. Telapak tangannya semakin kuat menggenggam pergelangan tangan Karla, tanpa tau gadis itu tengah menahan sakit.
            Dengan susah payah, Karla menyamai langkah kaki Farran. Rasa perih terus terkuak dari lengan tangannya. Karla menoleh kebelakang, bermaksud menatap Adit. Namun ternyata Adit sudah tak berada ditempatnya.
            “Awwh! Kak tangan gue sakit.” Karla mencoba melepaskan pergelangan tangannya. Farran berhenti, lalu menatap Karla sembari tersenyum. Dilepaskannya pergelangan tangan gadis itu. “Sorry ya! Hm. Gue kan udah bantuin lo lari dari cowok aneh itu, so lo temenin gue makan oke?”
            Karla memegangi pergelangan tangannya. Mengelus-ngelus pelan. “Gue kan nggak minta kakak nolongin gue.” Farran tersenyum jenaka, membuat Karla sedikit mengagumi wajah cool dihadapannya.
            “Pokoknya lo harus nemenin gue. Lo nggak lupa kan kalau gue ketua BEM di—”
            “Oke-oke. Fine!” Karla buru-buru memotong perkataan Farran. Sama sekali tak ingin mendengar kata-kata sombong yang terlontar dari mulut Farran. Cowok itu tersenyum. Merasa menang.
*@muthiiihauraa*
Karla mengaduk-aduk jus jeruknya tanpa bernafsu. Sesekali dikecapnya jus itu. Dari ujung matanya, Karla menatap sosok Farran yang tengah menyantap mie gorengnya.
            Kalau aja nih cowok gayanya nggak sengak, gue pasti mungkin udah jatuh cinta sama dia. Haa? What? Jatuh cinta? Sama dia? Oh no! Karla menggeleng-gelengkan kepalanya sembari bergidik ngeri, seakan-akan apa yang apa yang ada dalam pikirannya itu adalah hal yang paling mengerikan.
            “Kenapa lo?” Farran yang menangkap gelagat aneh Karla segera menatap cewek itu. “Nggak papa kak.”
            “Eh iya, pesenin gue jus alpokat dong!” Haa? Enak banget nih orang nyuruh-nyuruh! Emang gue babu dia apa? Karla membati pelan. “Pesen sendiri dong Kak!”
            “Gue ketua BEM lho disini! Lo nggak mau nurut sama gue?” Karla menghembuskan nafas kesal. Kalau udah denger kata-kata kaya gitu, Karla hanya bisa nyerah. “Oke!” Karla berdiri dari duduknya.
            “Senyum dong!” Karla memberikan senyum terpaksanya pada Farran. Rasanya, Karla ingin sekali mencakar-cakar wajah cowok dihadapannya itu. “Gitu kan cantik. Sekalian gorengan ya!” Karla mengangguk sembari berlalu meninggalkan Farran.
            Cowok itu memandangi punggung Karla. Farran tersenyum pelan. Entah kenapa ada sensasi yang begitu menyenangkan saat bisa mengerjai Karla. Maaf ya, gue nggak maksud apa-apa! Tapi ngelihat tampang menyerah lo bikin gue makin semangat.
            Karla berjalan dengan langkah gontai. Hatinya sudah mulai memanas. Cewek itu menghembuskan nafas pelan, berharap rasa kesalnya dapat terpental.
            Iiih! Itu orang memang menyebalkan! Cowok yang menyombongkan jabatan. Kalau dia bukan ketua BEM, udah aku bejek-bejek! Aku jadiin pergedel deh tu orang! Kenapa cowok didunia ini begitu menyebalkan? Kecuali Kak Ivin!

You Might Also Like

0 komentar