Tentang Cinta#5

00.45 Muthi Haura 2 Comments



Hai, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya? Sudah sejau mana impian alias target di 2017-nya? Ada yang sudah terwujud? Rasanya sudah cukup lama ya nggak sekedar bercerita disini, iya maafin akhir-akhir ini kebanyakan postingan berbayar. Alhamdulillah untuk job blog dan sosial media lancar.

Hari ini hari yang luar biasa. Tadi pagi aku dapat kabar bahagia dan belum bisa aku ceritakan disini sampai itu fix. Pokoknya doain aja ya. Hari ini juga, aku ketemu dan sharing dengan orang-orang yang luar biasa. Sharing dengan Pak Mustafa alumninya Gagasan dan kemudian cerita plus ngewawancarai adik-adik yang lolos KKN Kebangsaan. Mereka orang-orang yang punya target dalam hidupnya dan aku selalu kagum dengan orang-orang yang sepeti ini.

Dari mereka aku belajar banyak hal dan semakin semangat untuk gapai semua impian aku. Untuk target 2017 sendiri, sejauh ini Alhamdulillah sudah banyak yang mulai terealisasikan. Semoga aku tetap konsisten untuk mewujudkan semua impian aku.

Kebanyakan intro ya, oke deh langsung saja, check this out: 

Tentang Cinta#5
 

Cinta itu lumrah. Cinta akan membuat semua orang bahagia atau pun terluka.

            Farran melangkah gontai memasuki rumahnya. Tangan kanan cowok itu memain-mainkan kunci mobilnya. “Tuh dia Tan, udah pulang.” Sebuah suara mengejutkan Farran.
Cowok yang mengenakan baju kaus lengan pendek plus celana parasit itu menatap si empunya suara. Pasti nih cewek ngadu lagi ke nyokap! Dasar! Farran merutuk dalam hati sembari tangan kirinya mengacak-acak rambutnya. Kesal. 

“Apaan sih lo Gras? Norak tau nggak!” sunggut Farran sambil merebahkan tubuhnya di shofa ruang tamu. “Tante, dia marahin aku lagi!” Grasia kembali mengadu pada Mira.
“Aduh kalian ini berantem mulu dari dulu kerjanya. Sekali-kali akur kenapa?” Mira tersenyum menatap Farran dan Grasia. “Dia nyebelin sih Ma!”
“Masa aku dibilang nyebelin Tante. Tuh kan, dia nya aja tuh yang nggak pernah care sama aku.” Grasia memperlihatkan wajah cemberutnya, membuat Farran menggerutu kesal.
“Farran! Nggak boleh gitu. Turuti dong apa maunya Gras.”
“Tapi Ma, nggak se—”
“Pokoknya nggak ada tapi-tapian! Kasian nih Grasnya. Peduli dikit kenapa sih?” Farran mendengus kesal. Pandangannya tertuju pada Gras yang tengah tersenyum sembari mengulurkan lidahnya.
“Iya deh iya!” Farran menyerah. Cowok fakultas ilmu komunikasi itu melangkah dengan lesu menuju tangga kamarnya. Grasia yang melihat kepergian Farran buru-buru menyamai langkah Farran dan bergelayut manja dilengan bidang cowok itu.
Farran mendelik kesal. “Apa lagi sih Gras?” Tangan Farran menepis tangan Grasia. “Lo janji kan?” Grasia mengacungkan jari kelingkingnya. Hal yang dulu sering mereka lakuin saat masih kecil.
Mira hanya bisa menggelengkan kepala melihat Farran dan Grasia. Mereka udah semakin besar dan dewasa. Mungkin akan tiba nanti saatnya untuk memberitahukan tentang perjodohan mereka. Mira tersenyum pelan. “Ayo dong Ran!”
Farran menyerah. Ditautkannya jari kelingkingnya pada jari kelingking Grasia. Cewek itu tersenyum puas. “Gitu dong! Sekarang ayo temani gue ke mall!”
          “Haa? Apa-apaan lagi sih lo Gras?”
            “Udah temenin aja Ran.” Ujar Mira. Farran menghembuskan nafas berat. Kalau udah Mama-nya yang minta, Farran memang tidak pernah bisa menolak. Dengan langkah terpaksa, cowok itu menyiumi tangan Mira dan berlalu keluar rumah. Hal yang sama juga dilakukan oleh Grasia.
            “Gras. Pergi dulu Tante!” Mira mengangguk sembari menatap punggung Grasia dan Farran yang semakin menjauh. Maya, lihat Grasia anak kamu. Dia udah semakin besar dan cantik. Dia sangat mirip dengan kamu. Kamu yang tenang disana ya!
Mira mengusap matanya yang mulai memanas. Bayangan wajah Maya—sahabatnya terlukis jelas dimemori otaknya.

Dua gadis berseraam SMA itu kembali tertawa-tawa riang seakan tanpa beban. Maya dan Mira, dua diva Andalisia High School. Dua cewek ‘the most wanted’ yang memiliki segudang prestasi.
Maya kembali tertawa. “Sumpah, itu gokil banget. Trus trus gimana?” tanya Maya yang tampak penasaran. “Ahh! Ya gitu deh pokoknya. Dia nembaknya sweet banget tau!” ucap Mira.
“Envy deh gue! Eh eh, gue ide gila nih!” Mira terlihat antusias sembari menatap cewek berbola mata coklat dihadapannya. Maya mendekatkan bibirnya ketelinga Mira.
“Gimana kalau besok kita punya anak, kita jodohin mereka?” Usul Maya ini tentu saja disetujui oleh Mira. Dua diva itu langsung ber-tos ria sembari membuat perjanjian disebuah buku rahasia mereka.
*@muthiiihauraa*
Karla mengelilingi rak buku di gramedia. Gadis itu berkali-kali membolak-balikkan buku lalu meletakkannya kembali. Karla tersenyum pelan saat matanya tertuju pada sebuah novel teenlit.
Gadis ini memang maniak baca. Semua bacaan dilahapnya tanpa terkecuali. Karla menghembuskan nafas. Sudah ada lima buku novel ditangannya, padahal tujuan awal dia ke Gramedia adalah mencari buku rekomendasi dari dosennya.
“Lo lagi lo lagi! Lo nguntitin gue ya?” Karla berbalik kearah sumber suara. Mata gadis itu hampir keluar saat melihat sosok laki-laki berbola mata biru dihadapannya. “Adit? Gue nguntit elo? Nggak kebalik tuh?”
Adit menatap Karla dengan tatapan sinis. Entah kebencian seperti apa yang merasuki diri seorang Raditya Argana Highsmith. Adit memain-mainkan dagunya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan cowok itu menenteng lima buah komik.
Adit memang baru saja mendapatkan kiriman dari ayahnya, makanya ia bisa membeli komik. “Heh cewek aneh binti nyebelin, gue nggak suka ngelihat muka lo terus.” Kata Adit sembari melenggang meninggalkan Karla. Gadis itu hanya melongos pelan.
Karla menatap jam tangan berwarna biru muda dipergelangan tangan kirinya. Sudah hampir jam tujuh malam. “Aduh! Kak Ivin pasti khawatir banget nih sama gue. Malah Hp lowbat lagi!” Karla terlihat panic.
*@muthiiihauraa*
Gadis yang memakai celana skinny jins hitam itu terlihat sangat khawatir. Berkali-kali tatapan gadis itu mengarah pada jam tangannya dan kembali mengarah keawan hitam yang tengah menangis.
Hatinya menelisik lirih. Wajah khawatir kakaknya membayanginya. Berkali-kali gadis itu mencoba menggambil nafas dan membuangnya. Berharap ia bisa merasakan sedikit kesabaran yang masuk kedalam tubuhnya.
“Aduh! Gimana nih.” Tangan gadis bernama lengkap Karla Stefanie itu terulur pada tetesan air hujan. Bukan, sama sekali gadis itu tidak menikmati kehadiran sang hujan. Malah Karla berharap hujan itu cepat berhenti.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, membuat gadis itu semakin gelisah. “Please, hujan lo berhenti dong!” Karla berguman lirih. Kedua telapak tangan gadis itu ia gesekkan sehingga menciptakan melodi kehangatan.
Sial deh hari ini! Malah kayanya hujan bakal lama berhentinya. Apa gue harus nyari telepon umum buat ngabarin Kak Ivin? Karla memijat-mijt keningnya. Akhirnya gadis itu membuat keputusan. Dilangkahkannya kakinya untuk mencari keberadaan telepon umum.
Karla tak peduli tubuhnya yang basah kuyup oleh guyuran hujan. “Lo mau kemana sih? Hujan lebat ini!” Sebuah payung menutupi tubuh mungil Karla. Cewek itu menatap cowok yang sudah berada disampingnya. Payung cowok itu memayungi dirinya dan diri cowok itu.
Karla tampak kaget. “Dit? Lo ngapain?” tanya Karla yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan kegagetannya. Adit terlihat salah tingkah. Cowok itu menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tak gatal.
“Lo jangan GR! Gue cuma nggak tega liat cewek jelek sendirian malam-malam. Pas hujan pula!” Adit berkata ketus. Karla memukul lengan Adit. Merasa sedikit tersinggung dengan perkataan cowok disampingnya yang tingginya hanya setelinga Adit.
“Yee! Siapa juga yang GR? Gue cuma heran. Lo itu yang jelek bin aneh!” Untuk pertama kalinya Adit tertawa lepas didepan Karla. Membuat Karla terpana dengan tawa cowok disampingnya itu. Kaki mereka masih asik melangkah tanpa arah. “Kenapa lo ketawa?”
“Terserah gue dong! Lo itu emang dari dulu nggak tau trimakasih!” Karla mengernyit tak mengerti mendengar perkataan Adit. Dari dulu? nggak tau trimakasih? Maksudnya? “Maksud lo?”
“Udahlah nggak usah dibahas. Sekarang lo mau kemana? Biar gue anterin. Tapi jangan mikir macam-macam ya!” Karla menatap manic mata Adit. Mencoba mencari keseriusan dimata biru itu. “Mau nggak? Nggak mau juga nggak papa sih. Malah gue senang.”
            “Dih! Lo segitunya. Mau kok mau!”
*@muthiiihauraa*
Kevin mondar-mandir diruangan tamu. Berkali-kali matanya melirik jam dinding yang menempel gagah didinding ruang tamu. Cowok itu menghela nafas berat. Pandangan gelisah yang tersorot dari mata cowok itu tertuju keluar rumah. Seakan menembus kegelapan.
“Aya kemana sih lo?” Cowok itu meraih Hp-nya. Berulangkali menghubungi Karla, tapi tetap saja jawaban sang operator : ‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar desis area!’ Kevin mengacak-acak rambutnya kesal.
“Ck! Lo bikin gue khawatir. Kemana sih lo, Ya?” Cowok itu benar-benar tampak frustasi. Dengan kesal, Kevin berjalan menuju ruang kerja Angga.
“Pa? Jam segini Aya belum pulang.” Ujar Kevin sembari menggetuk-ngetuk pintu ruang kerja sang Papa. “Dia udah besar Vin! Nggak usah dikhawatirin.” 
“Gue nggak nyangka punya Papa yang nggak pernah lagi sayang sama anak-anaknya!” Kevin berlalu menuju ruang tamu dengan tampang super kesal sembari  berharap Karla sudah ada disana.
Kata-kata Kevin yang terakhir cukup membuat Angga tercengang. Laki-laki setengah baya itu melepaskan kaca matanya. Tatapannya masih tertuju pada jendela. Berharap melihat Karla pulang dan dia bisa bernafas lega.
Angga juga sudah mencoba menghubungi Hp Karla, tapi memang tidak aktif. Keman sih kamu Ya? Papa khawatir! Batin Angga. Angga menegak kopinya. Terasa sangat pahit dilidah. Berkali-kali kepala laki-laki itu melongok ke jendela.
Angga menghela nafas. “Cepat pulang nak! Papa khawatir.” Bisik Angga pelan dan lirih. Selirih hembusan angin yang menerpa lembut pipi lelaki itu. Ujung mata Angga menatap photo keluarga yang tergeletak pada frame photo diatas meja kerjanya.
Lelaki itu mendesah pelan.

“Maaf mas, ini udah keputusan final-ku!” Angga menatap wajah Karin dengan penuh kebencian.
“Trus hanya demi laki-laki itu kamu ninggalin keluarga kita? Ninggalin Ivin dan Aya yang masih sangat butuh kasih sayang kamu, gitu?” suara laki-laki itu penuh penekanan. Tampak jelas amarah yang menyelimuti wajah Angga. Saat itu Kevin baru duduk dikelas 3 SMA sedangkan Karla dikelas 1 SMA.
“Maafin aku mas! Dari dulu kan aku memang mencintai dia. Aku menikah dengan kamu karna paksaan orang tuaku.”
“Kamu memang tidak pantas menjadi seorang Ibu!”

Bersambung… :D

Baca Artikel Populer Lainnya

2 komentar: