Kecolongan

18.38 Muthi Haura 6 Comments



Umurku saat ini 22 tahun. Aku udah sering bertemu berbagai macam rupa jenis dan sifat orang, apalagi aku juga berkecimpung di pers kampus. Tapi ternyata seringnya aku bertemu orang masih belum bisa membuatku membedakan mana yang tulus mana yang nggak.

Aku kecolongan, setidaknya begitu yang aku rasa. Aku sudah sering menemukan orang yang membenciku secara terang-terangan. Wajar! Namanya juga manusia, mana mungkin bisa memuaskan semua orang. Mana mungkin bisa nyatuin banyak kepala untuk satu tujuan. Setidaknya, aku bisa waspada dengan orang yang tidak menyukaiku secara terang-terangan. Aku bisa membuat strategi untuk bisa mengalahkan mereka yang tidak menyukaiku. 

source: google

Tapi kali ini berbeda. Aku menemukan orang yang teramat baik didepanku, tapi ternyata nusuk dibelakang. Ini yang bikin aku emosi. Aku nggak pernah sefrontal ini berani ngelabrak orang depan umum, tapi justru aku lakuin ke mereka. Aku memang pernah ngelabrak orang, tapi baru kali ini didepan umum.


Akan aku ceritakan kronologinya. Ada dua orang, cewek dan cowok, sebut saja si cewek ini A dan si cowok B. A dan B ini ngejelek-jelekin aku dibelakang aku. Sebenarnya aku udah tau sifat A ini gimana dari kasus Desi. Jadi A ini bisa dikatakan sahabatan dengan Desi, tapi yang nggak aku habis fikirnya, dia bisa ngejelek-jelekin Desi ‘sahabat’nya sendiri didepan aku. Kalau bagi aku, semakin seseorang ngejelekin orang lain didepan aku, semakin kelihatan ‘busuk’nya dia.

Si Desi tau kalau dia dijelek-jelekin, dia nangis. Dia bilang nggak bisa lagi buat dekat dengan si A, padahal udah aku bilang mungkin si A khilaf. Tapi sekarang aku ngerti perasaan Desi. Setelah kasus Desi, bukan berarti aku membenci A. Sama sekali nggak. Bagi aku, kalau seseorang punya masalah dengan orang lain dan lagi kelahi, bukan berarti aku harus ikut-ikutan didalamnya dengan memihak kepada salah satu. Aku sebagai penengah aja dan cukup tau seperti apa sifat mereka masing-masing.

Aku juga nggak langsung menjudge A negative, hingga akhirnya aku sama A bisa dikatakan dekat. Mungkin bagi aku saja kalau kami dekat, entah menurut dia kami ini gimana. Aku dekat dengan Desi, Payung, dan adik-adik Gagasan lainnya itu karna mereka ingin belajar tentang Gagasan padaku. Semua yang kami bicarakan berkaitan dengan Gagasan. Tetapi kedekatan aku dengan A ini berdasarkan hal-hal pribadi. Hampir empat tahun aku di Gagasan, nggak ada satupun teman-teman dan adik-adik di Gagasan tau siapa lelaki yang benar-benar aku suka, tapi Cuma A yang tau. Cuma sama A aku cerita. Bahkan Ika pun nggak tau.

Saat ngumpul dengan adik-adik Gagasan, yang diceritain tentang Gagasan. Saat sama A, yang diceritain masalah pribadi. Kurang percaya apa aku sama dia? Aku bukan type yang gampang nyeritain masalah pribadi kesembarang orang, tapi entah kenapa aku bisa cerita ke si A. Dia juga curhat tentang lelaki yang dia suka. Tentang mantan dimasa lalunya. Ya, Cuma dia.

Dulu-dulu, si A pernah minta tolong buat di koreksi naskah novelnya, aku bantu koreksi sampai tengah malam. Si A pengen nerbitin naskahnya juga, aku tunjukin beberapa penerbit yang mau nerima naskah para pemula. Si A nanya-nanya perihal blog, aku bantu jawab sebisa aku. Saat aku nerima job di twitter, aku selalu ngambil bagian untuk A, sehingga dia juga dapat uang lewat twitter.

Ya, Cuma si A. Apa pernah aku memperlakukan adik-adik lain sama seperti A? Nggak! Betapa percayanya aku sama dia, tapi ini ternyata yang aku dapat. Dia ngejelek-jelekin aku didepan si B. Si B juga ngejelek-jelekin aku sih. Jadi mereka nggak suka ngelihat tinggkah aku yang sembarangan gonta-ganti admin instagram Gagasan. Mereka nggak tau aja kalau keputusan itu tu sudah dirundingkan dengan Pimum dan litbang. 

source: google


Mereka bilang aneh-aneh tentang aku, salah makanlah- like a dog lah- nggak bisa dikritiklah – dunia berpusat di aku lah- dan lain sebagainya. Kecewa? Banget! entah kenapa ditanggal 11 kemaren, hati aku tergerak untuk membaca chat mereka. Langsung naik emosi. Langsung seketika kecewa. Diluar kendali, aku langsung labrak mereka.

Aku kesal dengan si A. Banget. Aku benci! Kenapa kesalnya dengan A aja? B kan juga ikutan. Aku juga kesal dengan B, tapi nggak separah kesalnya aku dengan si A. Aku tau sifat B. Dia kalau nggak suka memang kelihatan dari wajahnya. Aku udah kenal B sejak lama, aku tau sifat dia gimana. Kami juga dulu sempat dekat. B kalau kesal sama aku, dia pasti ngomong dan kelihatan dari wajahnya. Tapi A ini didepan aku selalu baik, teramat baik malah. A orang yang mau dengerin curhatan aku. A orang pertama di Gagasan yang ngucapin selamat ulang tahun padaku saat mungkin teman-teman yang lain pada lupa. Ini yang bikin aku merasa kecolongan banget. Aku merasa tertipu. Ternyata sikap baiknya itu tidak menunjukkan isi hatinya. Itu hanya fake.

Aku berasa dibohongi oleh orang yang aku percaya. Aku merasa ditusuk dibelakang oleh musuh yang awalnya aku anggap orang terdekat. Dan itu sakit. Aku benci. Benci kepada diri sendiri yang terlalu polos dengan kebaikan orang. Benci kepada diri sendiri yang ternyata belum bisa membedakan mana yang tulus mana yang nggak. Benci kenapa harus percaya dengan A padahal jelas-jelas aku melihat kasus yang terjadi pada Desi. Aku benci dan kesal pada diri sendiri.

Mungkin kalau aku nggak deket dengan si A, aku juga nggak akan terlalu marah untuk hal ‘sepele’ kaya gini. Dijelek-jelekin itu mah biasa. Nggak usah jadi pimpinan kalau nggak mau dijelek-jelekin. Nggak usah masuk organisasi kalau nggak mau dijelek-jelekin. Tapi masalahnya aku dekat dengan si A. Dikecewain orang terdekat itu sakit. Beda rasanya saat dikecewain orang yang nggak dekat dengan kita.

Baru kali ini aku nemuin orang seperti A. Kalau aku telaah, si A ini kalau ngedeketin seseorang pasti dengan menjatuhkan orang lain. Ya, setidaknya aku tau gimana dia. Setidaknya juga, aku belajar banyak dari kasus ini. Kalau katanya Ika : “Seharusnya ang bersyukur, awak jadi tau gimano sifat inyo. Dari pado berlawik-lawik ang dokek jo inyo.” (Seharusnya kamu bersyukur, setidaknya kita tau sifat si A yang kaya gitu. Dari pada udah lama dekat, trus baru ketahuan, itu lebih sakit).

Kalau katanya bang Hafiz: “Nggak usah dipikirin orang yang kaya gitu. Lagian kan instagram itu hak pimpinan. Followers kalian banyak ya karna kalian sering nyari berita. Kalau nggak ada berita, apa yang mau dinaikin di instagram tu? Nggak usah dipikirin, kalau mau pecat aja orang yang kaya gitu.”

Ika benar. Bang Hafiz benar. Semuanya udah terjadi. Rasa sakit itu akan selalu ada. Kepercayaan itu sudah lenyap. Life must be go on. Saatnya melanjutkan kehidupan. Alhamdulillah aku tau gimana sifat dia lebih cepat. Allah memang maha baik. Sekarang aku nggak perlu lagi berbagi job twitter ke dia, biar uangnya semakin banyak buat aku.

Aku bersyukur banget belum banyak ilmu seputar penerbitan buku dan ngeblog yang aku sharing ke dia. Kayanya harus selektif buat ngajarin orang, tapi aku akan tetap berusaha sharing lewat blog ini kok. Bukan pelit, hanya saja buat apa ngasih ilmu ke orang yang nggak peduli sama kita kan?

Buat B, makasih ya. Setidaknya aku juga belajar rasa sakit dari kamu. Aku nggak pernah berubah seperti yang kamu bilang sore itu, kamu mungkin yang berubah. Aku nggak terlalu marah sama kamu bukan karna apa-apa, hanya saja, aku memang sudah tau sifat kamu yang kaya gini. Aku kenal kamu sudah lamalah. Pesan aku, jangan cari cewek bermuka dua, bahaya!

Udah ah segini dulu. Salam sayang, @muthihaura1.
Senin, 14 Agustus 2017. 23.16 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

6 komentar:

  1. semangat ya mutth..
    btw,udah lama g nulis tulisan bebas seperti ini....
    mau mulai lagi ah ...

    BalasHapus
  2. Mba MUt, tetap semangat ya. Jadilah diri sendiri dan semoga menemukan sahabat sejati ya :)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. pukpukpuk... tetap semangat ya :)

    BalasHapus
  6. semangat yaa mbak hehee ...
    kunbal : www.molzania.com

    BalasHapus