curcol :)

Tentang Pelajaran Memberi dan Menerima

00.55



Akhir-akhir ini aku belajar tentang banyak hal. Banyak sekali dan semua itu patut aku syukuri. Aku tak akan semakin dewasa kalau tidak melewati ini. Aku tak akan belajar banyak jika tidak melewati ini. Salah satu yang aku pelajari adalah perkara memberi dan menerima. 

source: google

Dulu, aku sering kali kesal jika harus mengerjakan sesuatu. Aku juga sering kesal jika mengorbankan waktuku untuk melaksanakan tugas orang lain. Rasanya kesal, benci, nyalahin diri sendiri kenapa harus rela-rela ngelakuin hal itu. Aku sering kesal kenapa semua pekerjaan rumah harus aku yang ngerjain.


Aku sering kesal saat tugas-tugas organisasi yang bukan tugas aku tapi dilimpahkan ke aku. Aku sering kesal saat teman-teman minta bantuan terhadap sesuatu padaku. Aku sering kesal saat ada orang yang Cuma datang ke aku pas butuhnya aja. Aku sering kesal saat ujian dan capek-capek belajar, tapi yang lain Cuma nyontek punya aku.

Aku sering kesal saat semua tugas makalah aku ngerjain dan yang lain Cuma nompang nama. Ya, aku sering kesal terhadap itu semua, tapi itu dulu. Sekarang aku memahami satu hal bahwa apa yang kita berikan, itu yang akan kita dapatkan. Give more than you get. Apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai.

Baru beberapa bulan terakhir ini aku menyadari, bahwa semua yang aku lakukan akan kembali ke diri aku sendiri. Aku ngerjain semua tugas makalah dikampus, kini aku ngerasain manfaatnya saat ngerjain skripsi. Aku sudah ngerti bagaimana caranya menaroh kutipan buku, membuat daftar pustaka, menerapkan margin pada halaman word, membuat kata pengantar, dan lain sebagainya. Dan teman-teman yang jarang ngerjain makalah agak kesusahan terhadap itu semua.

Aku ngerjain semua tugas rumah, mulai dari memasak-nyapu-nyuci piring-gosok kain, dan sekarang aku ngerasakan manfaatnya. Aku nggak terlalu kagok lagi untuk megang-megang kerjaan dapur. Aku bisa ngerjain semua itu dengan ligat. Aku bisa meracik masakan walau masih harus banyak belajarnya. Aku tau bumbu-bumbu dapur. Aku udah bisa memanage waktu untuk nyuci piring, waktu untuk masak, dan waktu-waktu untuk lainnya.

Jika aku tidak ‘terjun’ langsung untuk mengurusi semua itu, apa sekarang aku bisa seperti saat ini? Nggak! Lagian hal-hal dapur seperti itu bukankah hal wajib yang harus bisa dikuasai semua perempuan?

Aku ngerjain semua tugas-tugas organisasi. Aku ngedit semua tulisan. Aku nulis berita yang seharusnya bukan porsi aku lagi. Sering gondok juga kenapa hanya aku yang capek-capek nulis, sedangkan yang lain nggak nulis. Kadang juga iri, kenapa mereka Cuma nompang nama sedangkan aku yang capek-capek nulisin. Sekarang aku baru sadar, bahwa semua itu akan kembali ke diri sendiri.


Seringnya aku nulis di organisasi membuat aku semakin terlatih dalam hal tulis menulis. Capek-capeknya aku, lelah-lelahnya aku, pasti selalu Allah ganti dengan hal-hal yang lebih indah.  Allah nggak tidur. Allah maha baik. Saat lelah terhadap sesuatu, Allah berikan hadiah istimewanya.

Misal nih salah satu contoh. Ada beberapa teman-teman seangkatan aku dikampus yang tiba-tiba ngehubungi untuk minta bantuan aku ngoreksi skripsinya. Padahal kami nggak dekat, tapi mereka percaya sama aku. Aku bantuin, karna aku udah sadar bahwa setiap apa yang kita berikan itu nggak akan sia-sia. Kalaupun bukan orang yang kita bantu ini mengganti apa yang kita berikan, pasti orang lain yang ditunjuk Allah.

Nah, salah satu teman yang aku bantu proses skripsinya itu si Arifin. Tiba-tiba, di suatu hari, dia ngasih info tentang workshop perfilman di Medan. Alhamdulillah aku dinyatakan lulus mengikuti workshop ini dan berangkat Juli lalu. 





Kalau aku nggak bantuin Arifin, apa dia bakal terfikir untuk ngasih tau informasi workshop ke aku? Aku rasa nggak! Allah langsung membalas lewat workshop gratis di Medan itu. Subhanallah. Selain itu, pulang dari Medan, aku kembali berangkat ke Yogya secara gratis. Ya, mewakili organisasi yang aku ikuti, LPM Gagasan. 





Aku di Gagasan sudah hampir sekitar empat tahun. Dipercayakan sebagai redaktur satu periode dan Pimpinan Redaksi selama dua periode. Aku udah ngerasai banyak ‘rasa’ di organisasi ini. Aku pernah dicarutin. Aku nggak tidur buat ngoreksi tulisan untuk naik di majalah. Aku begadang sendirian ngoreksi tulisan. Kalau ada tulisan yang ‘salah’, yang kena marah Pimpinan Redaksinya, aku.

Kalau Gagasan bermasalah atau kurang produktif, yang kena omel itu aku. Aku ngeliput sana-sini jika tugas liputan adik-adik itu tidak selesai. Aku pernah diancam penjara saat wawancara untuk tulisan majalah edisi 100. Aku ke warnet buat naikin tulisan adik-adik ke web Gagasan. Aku sering dimarah-marahi narasumber. Aku sering di omongin belakang hanya karna aku yang menyampaikan ‘kebijakan’ kepada mereka padahal kebijakan itu sudah didiskusikan dengan pimpinan lainnya dan litbang.

Aku baca buku Jurnalistik yang sama sekali tidak relavan dengan jurusan kuliahku hanya dengan harapan berita-berita Gagasan kedepannya bisa jauh lebih baik. Aku baca majalah LPM-LPM lain agar aku bisa peka isu dan memberikan mereka isu-isu untuk diliput.

Aku nggak pernah memaksakan adik-adik Gagasan untuk nulis satu hari satu berita seperti kesepakatan saat wawancara, padahal aku punya target di diri sendiri agar web Gagasan nggak boleh dalam sehari itu kosong tanpa berita, dan akhirnya aku juga yang nyari berita. kalau nggak sempat nyari berita, aku ketik ulang rubric alumni dari majalah-majalah Gagasan untuk dinaikin ke web. Aku yang bolak-balik rektorat untuk ngurus sesuatu yang berkaitan dengan Gagasan. Aku yang kayanya susah dapat izin libur kemana-mana karna apa-apa terkait Gagasan nanyanya ke aku.  

Tiap hari aku datang kesekre, hanya buat sekedar ngecek keadaan sekre. Nyapu dan nyuci piring saat adek-adek yang lain nggak piket. Hampir semua sosial media Gagasan, aku yang ngupdate dulu. Lantas terhadap semua itu, Allah kasih hadiah buat aku untuk ke Yogya secara gratis apa itu salah?

Lantas kamu juga pengen dengan apa yang aku dapatkan, padahal untuk datang rapat saja malas, kamu sehat? Aku bukan bermaksud pamer atau ngungkit-ngungkit apa yang diberi, hanya saja ingin sedikit menjelaskan buat mereka yang agak sirik yang ngatain ‘seakan-akan semua berpusat di aku’.

Intinya, apa yang kamu berikan, itu yang akan kamu dapatkan. Kamu berikan yang terbaik buat organisasimu, itu juga yang akan kamu dapatkan. Kamu bantuin teman-temanmu, kamu juga akan dibantu oleh orang. Ini juga yang aku rasain. Aku ngebantu teman-temanku, teman-teman yang lain ngebantu aku. Investasi. Aku nggak punya koper, dipinjamin oleh Desnoy, padahal aku nggak pernah bantu dia apa-apa. Pulang dari Yogya, aku dijembut ke bandara oleh Payung, padahal aku jarang ngebantuin dia apa-apa.
Dan banyak lagi sesuatu yang ditolong oleh teman-temanku. Alhamdulillah. Ternyata memang, give more than you get. Jangan pernah pelit memberikan sesuatu kepada orang lain. Ingat, Allah nggak tidur. Percaya aja bahwa Allah bakal balas apa yang kamu beri. Kalaupun nggak saat ini, pasti dikemudian hari. Kalaupun bukan dari orang yang kamu tolong, pasti orang lainnya yang akan membantu kamu.

Ayo budayakan memberi. Itu sebuah investasi untuk masa depan. Oke deh, mungkin segini dulu. Salam sayang, @muthihaura1
Selasa, 22 Agustus 2017. 13.08 WIB.

 
 

You Might Also Like

10 komentar

  1. betul, aku juag suka bilang begini sama anaku yg suka kesel kalau negrjain tugas sendirian malah yg lain santai

    BalasHapus
    Balasan
    1. ternyata samaan nasibku sama ank mbk ya hehe

      Hapus
  2. Seperti siapa yang menanam dia juga layak mendapatkan hasil panen nya.
    Yang awalnya benih sekarang udah buah.
    Sangat mengingatkan tulisannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih mas ;))ayo semangat kitanya.

      Hapus
  3. Mungkin awalnya jengkel, kesel dsb. Tapi percayalah, semua yang dilakukan mba Muthi nggak ada yang sia-sia. Tetap semangat menjalani kehidupan ini. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak amin. mbak juga selalu semangat yaaa ;))

      Hapus
  4. memang awalnya gedeg banget mba ada diposisi kayak mba tapi justru itu buat diri kita juga dulu juga sama ada yang numpang nama doank hasilnya ya mereka yang males kendala juga dalam skripsinya. Intinya memang kita kerjakan dengan tulus karena balasannya sll ada kayak mba tau2 dpt info workshop film keren :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak. usaha tak kan pernah mengkhianati hasil. apa yang ditanam, itu yang dituai. ;)

      Hapus
  5. Iya betul....yg penting memberi dulu aja, ngga usah mikirin balesan. InsyaaAllah ada adzab baiknya ^^

    BalasHapus