PBAK 2017

00.05 Muthi Haura 8 Comments



Aku pernah duduk disitu sembari mendengarkan materi yang disampaikan. Aku pernah duduk disitu. Menatap dengan kagum senior-senior yang merangkap sebagai panitia. Aku pernah duduk disitu sambil mengangguk-angguk mendengar materi yang disampaikan sosok-sosok luar biasa.

Aku pernah duduk disitu dengan rok hitam baju putih dan jilbab putih. Aku pernah duduk disitu sembari menerka-nerka dunia kuliah itu akan seperti apa. Menebak-nebak dengan penuh rasa ingin tahu akan dibawa kemana alur cerita part kuliah ini. Aku pernah duduk disitu sambil sesekali bertepuk tangan kagum dengan penampilan UKK/UKM. Aku pernah duduk disitu dan mendapatkan koran LPM Gagasan, saat itu juga aku bertekad, aku ingin masuk pers kampus!

Aku pernah duduk disitu, penasaran hebat dengan penampilan Sanggar Latah Tuah. Aku pernah duduk disitu, menatap kagum para panitia dan bertekad juga ingin suatu hari nanti menjadi panitia. Ya, aku pernah duduk disitu sama halnya seperti adik-adik maba angkatan 2017. Aku pernah duduk disitu, di Islamic Centre UIN Suska, merasakan menjadi maba, 2013 lalu.

Kini, sudah empat tahun lebih aku berada di UIN Suska. Sudah ngerasain banyak  macam rasa. Impian-impian sederhana yang aku niatkan sejak memasuki fase ‘mahasiswa’ satu persatu mulai mewujud. Aku punya mimpi untuk masuk konsentrasi jurnalistik, tapi ditengah jalan perkuliahan semester satu, aku jatuh cinta dengan dunia broadcasting hingga akhirnya memilih broadcasting sebagai konsentrasi. Aku di penjara oleh broadcasting dan dibebaskan oleh jurnalistik, tapi percayalah, aku mencintai keduanya. Aku mencintai proses saat menulis berita. Aku mencintai proses saat menghasilkan sebuah video. Ya, aku mencintai keduanya.


Baca juga: #MondayClass


Aku punya impian untuk bergabung di pers kampus Gagasan, siapa sangka justru kini aku menjabat sebagai Pimpinan Redaksi LPM Gagasan selama dua periode. Siapa sangka? Bahkan menjadi Pimpinan Redaksi sama sekali tak ada dalam angan-angan mimpiku. Dan kini, 2017 ini, salah satu mimpiku untuk menjadi panitia PBAK yang di kampus lain dikenal sebagai ospek akhirnya terwujud.

Jadi ceritanya sebelum ke Medan, masuk surat permintaan pengiriman anggota untuk menjadi panitia PBAK. Informasi tersebut aku sebar di grub organisasi, tapi satupun nggak ada yang ngerespon. Ada sih yang PC aku secara personal, cowok, trus aku rekomendasikan nama dia ke Hanif. Kata  Hanif: “Nggak usah dia, susah orangnya dipercaya. Pas dikirim PJTL aja nggak berangkat. Kakak aja atau Payung atau yang lainnya.”



Setelah diskusi sana sini, akhirnya sebelum keberangkatan ke Medan, aku masukin nama aku dan Ayu. Pas H min PBAK, ternyata nama Ayu di blacklist karna satu dan lain hal. Nggak enak juga harus jadi panitia perwakilan organisasi sendirian, apalagi bareng Ayu kemaren ngurus-ngurusnya. -_-

name tag panitia

Terlepas dari semua itu, aku bersyukur bisa dikasih kesempatan untuk berpartisipasi sebagai panitia. Dari sini juga aku ngelihat plus minus acara ini yang dimana kepanitiaannya lebih dikuasai oleh satu kelompok. Seolah-olah, kami panitia yang di SK-kan ini kalah dengan panitia yang nggak ada SK Rektornya. Pokoknya gitulah, nggak pengen ngebahas permasalahan ini terlalu jauh di blog. Entar aja dijadiin tulisan buat organisasi.

Banyak hal yang patut aku syukuri selama menjadi panitia ini. Walau jujur saja, capeknya itu kebangetan. Aku termasuk bagian dari panitia absen. Tugas kami nyebarin absen dan mastiin absen itu diisi semua oleh adik-adik yang datang. Kami juga diharusin berdiri disamping tempat duduk adik-adik maba untuk memantau jalannya absen agar tidak terjadinya kecurangan.

Absen ada dua kali sehari, jadi kerja kami kebanyakan berdirinya. Trus juga setelah kepanitiaan selesai, kalau panitia bidang lain nggak perlu capek-capek lagi, capeknya Cuma di hari H, sedangkan kami panitia absen harus ngerekap hasil absen. Iya, jadi kami harus ngerekap absen yang ditanda tangani hampir 3 ribuan maba UIN Suska. Beuh lelah harus bolak balik rektorat.

Tapi ya mau gimana lagi kan? Ini pula perjuangannya. Aku mah capek-capek fisik nggak masalah, asal jangan hati aku yang dikenakin. Fisik dengan istirahat capeknya bisa hilang, kalau udah hati yang kena, akupun ga tau cara nyembuhinnya gimana.

Baca juga: Kecolongan


Hal yang aku syukuri juga selama kepanitiaan ini adalah, aku kenal dengan banyak teman baru. Mereka berasal dari berbagai organisasi. Kami yang anak UKK/UKM ini jarang ngumpul lengkap, di kepanitiaan ini kami jadi ngumpul dan saling kenal. Ada Dila dari Pramuka, Lisa dari Kasimiah, Ali dari Latah Tuah, bang Yusuf-bang Octo-Fauzan dari BLM, Gito dari LDK, Albert-Rahmat dari Kopma, bang Emil dari BEM, Dina-Ayu dari KSR, dan Adit dari FKII. Selain itu juga banyak teman-teman lain yang aku lupa namanya.


Tim absen

Lelah-lelahnya saat bergabung sebagai kepanitiaan ini semoga Allah balas dengan sesuatu yang lebih baik. Allah nggak tidur. Allah selalu ngebalas apa yang udah kamu buat. Sekecil apapun yang kamu usahakan, nggak akan ada yang sia-sia. Kamu akan dapatkan sebesar apa yang kamu usahakan.



Untuk adik-adik maba 2017, selamat datang di UIN Suska Riau. Belajar baik-baik. Kenalan dengan banyak teman. Rasakan banyak pengalaman. Ikuti organisasi. Seimbangkan organisasi dan belajar di bangku kuliah, tapi jangan pernah lupakan Allah. Jadilah mata air inspirasi yang diletakkan dimana saja tetap akan tumbuh dengan baik.
 
pic by Gagasan

Selamat berproses. Selamat menjadi ‘mahasiswa’. Selamat menikmati masa yang berbeda dengan masa sekolah. Dan ingat, bukan kampusnya yang bikin kamu sukses, tapi diri kamu sendiri. Kampus Cuma pelantara. Kalau dari diri kamunya malas, sekeren dan sehebat apapun kampusmu, tetap kamu nggak akan ada apa-apanya. Begitu juga sebaliknya.

Jangan nyerah dengan keadaan. See you on the top! Karna tiap orang ada masanya, tiap masa ada orangnya. Salam sayang, @muthihaura_blog
Minggu, 10 September 2017. 12.47 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

8 komentar: