curcol :)

Untukmu Calon Imamku

18.27



Entah kenapa malam ini aku ingin menuliskan perihal ini. Untuk seseorang yang aku sebut masa depan. Untuk seseorang yang akan menemani masa-masa tua. Untuk seseorang yang sketsa wajahnya belum tergambar. Untuk seseorang yang urutan abjadnya belum jelas. Ya, untuk kamu, calon imam yang entah siapa.

Untuk calon imam yang entah ada entah nggak. Perkata jodoh dan mati, siapa yang tau bukan? Mungkin saja sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah duluan dipanggil Allah. Tidak ada yang tau, begitupun kamu. Sebenarnya aku malu menuliskan ini. Aku merasa, tulisan ini akan alay. Bagaimana mungkin aku mengirimkan surat untuk seseorang yang bahkan aku tidak tau kamu siapa, kamu dimana, iya kan?

Tapi biarlah, siapapun kamu, kuharap kamu baik-baik saja. Kuharap kamu sedang semangat menjalani hari-harimu mengejar impian. Seperti halnya aku yang sedang sibuk mengejar mimpi-mimpiku. Sibuk memperbaiki diri. Sibuk belajar banyak hal. Semoga kamupun begitu. Biarlah sekarang aku sibuk dengan mimpiku, kamu dengan mimpimu, hingga takdir membawa kita untuk mewujudkan mimpi bersama. 


source: google


Sebelumnya, kuberitahukan beberapa hal tentangku padamu. Agar kelak jika kita bersama, kamu tidak menyesal telah memilihku. Aku bukan perempuan cantik. Kalau kamu mencari perempuan cantik, maaf, bukan aku orangnya. Aku bukan perempuan pintar, makanya aku selalu semangat untuk terus belajar, karna aku tau aku tidak pintar. Aku belum sholehah, makanya aku akan terus belajar untuk terus menjadi sholehah, hingga akhir hayat. 

Aku bukan perempuan yang bisa kamu banggakan didepan teman-temanmu. Aku bukan perempuan yang pandai memoles pipi dengan pemerah pipi. Aku bukan perempuan yang pandai memakai alis. Aku bukan perempuan yang pintar mematching-matchingkan busana. Aku perempuan yang terkadang masih bertingkah kekanak-kanakan, yang mungkin nantinya bakal kamu temui masih merengek-rengek memintamu membelikanku es cream.

Aku perempuan yang masih susah menahan emosi, tapi percayalah emosiku cepat reda. Mungkin kamu akan temui aku sedang menumpahkan emosi padamu, beberapa menit kemudian aku akan merasa bersalah, dan kemudian kamu akan temui aku yang meminta maaf padamu.

Jika kamu mencari alasan untuk mencintaiku, percayalah, kamu tak akan menemukan alasan apa-apa. Karna memang tak ada yang bisa dibanggakan dariku untuk kamu cintai. Aku hanya perempuan biasa. Diantara banyaknya kekuranganku dan kamu masih memilihku untuk menjadi seseorang yang menemani masa depanmu, kuucapkan terimakasih.

Kelak, jika kita sudah menikah, izinkan aku membangunkanmu dipagi hari. Membuatkanmu sarapan. Ceritakan padaku semua makanan kesukaaanmu, karna aku akan belajar dengan semangat untuk membuatnya. Izinkan aku membantumu mengenakan kancing bajumu. Menyisirkan rambutmu atau sekedar mengacak-ngacak rambutmu ketika kamu pulang kerja.

Izinkan aku menjadi pendengar saat kamu punya masalah diluar sana, setidaknya jika aku tidak bisa membantumu mencari solusi, perasaanmu sudah lebih lega karna tidak memendam masalah sendiri. Izinkan aku tetap dirumah, menjagamu, merawat anak-anak kita, membersihkan rumah kita.

Ya, aku ingin tetap dirumah. Itu impianku sejak lama. Dirumah, merawat anak-anakmu. Mungkin orang-orang menganggapku kolot. Kuliah tinggi-tinggi, bergelar sarjana, tetapi kerjaannya Cuma dirumah. Tak apa, karna bagiku, membesarkan anak-anak kita hingga mereka memiliki prestasi diluar sana adalah hadiah terbesar bagiku. Atau melihatmu sukses diluar sana juga hadiah terbesar bagiku. Bukankah dibalik suami hebat ada istri luar biasa dibelakangnya? Bukankah dibalik kesuksesan seorang anak, ada orang tua hebat dibelakangnya?

Ya, aku ingin menjadi asal usul dibalik kesuksesan kalian. Walaupun diluar sana bukan aku yang dipuji, tapi kamu dan anak-anakmu, tak mengapa bagiku. Setidaknya ada jerih payahku disana. Seperti halnya saat ini, saat dimana aku masih merawat adik-adikku. Membuatkan mereka sarapan dipagi hari. Memastikan rumah mereka bersih sebelum aku berangkat kampus. mencuci piring-piring setelah mereka makan.

Dan kini mereka tumbuh besar. Tumbuh hebat tanpa kurang apapun. Dipuji-puji, aku senang, karna ada andil diri aku dalam proses tumbuh kembang mereka, walau sedikit. Aku juga ingin punya andil atas kesuksesan kamu, walau aku tau, andil terbesar itu tentulah dari orang tuamu.

Aku akan menurunkan ego, tetap berada dirumah, walau aku bukan type yang betahan dirumah. Terbukti, saat aku kuliah ini, bisa dihitung jam aku berada dirumah. Aku akan dirumah kita, asalkan kamu mengizinkanku untuk terus menulis. Dan jikalau nanti keadaan keuangan kita tak memungkinkan, aku juga bersedia untuk bekerja membantumu meringankan beban.

Kelak jika kita sudah hidup bertahun-tahun lamanya bersama, dan kamu jumpai uban dikepalaku. Atau aku yang tak lagi seligat dulu dalam mengurusmu. Atau kamu semakin tak menemukan kecantikan apa-apa dariku, maka maafkanlah. Mungkin aku terlalu letih mengurusmu, mengurus anak-anakmu, mengurus rumahmu, hingga aku tidak punya waktu mengurus diriku sendiri. Tapi tenang, sejak saat ini aku sedang belajar mengurus diri, semoga akan bertahan sampai aku tua nanti.

Untuk segala keterbatasanku, kuharap kamu tidak terfikir untuk berpoligami. Aku tidak mengharamkan poligami. Tetapi aku ingin mencintaimu secara totalitas, seutuhnya. Begitupun sebaliknya, aku ingin kamu cintai seutuhnya, tanpa terbagi-bagi. Aku ingin seperti Khadijah yang semasa hidupnya tidak pernah dipoligami oleh Rasulullah. Walaupun aku bukan perempuan sempurna, aku juga tidak ingin membagi-bagimu dengan yang lain. Aku Cuma perempuan biasa yang punya hati, tetapi jika kelak aku meninggal duluan, dan kamu berniat untuk menikah lagi, ku persilahkan.

Semoga perempuan itu dapat merawatmu dan anak-anak kita, lebih baik dari aku merawatmu. Terlepas dari semua itu, aku adalah perempuan yang cengeng. Jika kamu menemukan kesalahan dariku, nasehati aku dengan lemah lembut.

Dan jika kamu temukan aku menangis karna suatu hal, aku ingin kamu menghapus air mata dari pipiku. Atau sekedar mengelus lembut puncak kepalaku. Atau yang lebih kuinginkan lagi, kamu mau memelukku. Membawaku kedalam pelukan hangatmu. Mengizinkan kepalaku menyender didadamu. Aku butuh itu kalau sedang menangis. Agar aku merasa nggak sendirin. Agar aku merasa ada kamu yang selalu mau menjagaku.

source: google


Agar aku merasa bahwa kamu memang orang yang tepat untuk aku mengabdikan hidupku. Ceritakan juga padaku tentang masa lalumu. Tentang perempuan yang pernah singgah dalam hidupmu. Pun aku akan begitu, menceritakan tentang cinta di masa laluku.

Kamu mau dengar ceritaku? Aku bukan type perempuan yang gampang jatuh cinta. Sampai saat aku berusia 22 tahun ini, aku baru merasakan sayang yang sebenar-benarnya sayang itu pada empat lelaki. Ya, empat. Lelaki pertama, saat aku SMP. Yang kedua, SMP kelas tiga. Lelaki ketiga, SMA kelas dua. Dan yang terakhir ini, pasa kuliah sampai saat ini.

Baca juga: Tentang kamu



Maaf, aku tidak bisa menjaga rasa hanya untukmu. Bukan salahku jika aku punya rasa cinta. Pacaran? Kamu tanya perihal pacaran padaku? Baru sekali dengan lelaki kedua yang aku cinta. Maaf tidak bisa menjaga diri. Kuharap kamu mau menerima masa laluku seperti halnya aku yang menerima masa lalumu.

Mungkin segini dulu. Terimakasih buat kamu yang sudah mau menyempatkan waktu membaca surat dariku. Siapapun kamu, trimakasih. Selamat menjaga diri, hingga Allah pertemukan kita.
Salam, Muthi Haura. 6 September 2017. 00.58 WIB.



You Might Also Like

5 komentar