Hijrah (?)

10:10 PM Muthi Haura 5 Comments



Dua mingguan terakhir ini, aku mulai ngecoba banget untuk nggak pakai jilbab transparan. Lagi ngecoba juga makai jilbab tebal yang lebih lebar dan pastinya nutupin dada. Lagi ngecoba juga untuk pakai gamis. Sejauh ini bisa dibilang berhasil, walau kadang masih agak sedikit tergoda juga dengan jilbab-jilbab paris yang banyak banget dirumah.

Sejauh ini Alhamdulillah-lah. Walau beberapa kometar kerap mampir, seperti: “Syar’’ jilbab, Mut”, “Cieee Muthi”, “Hijrah, Mut?”, dan berbagai komentar lainnya. Tak jarang juga kalau kekampus sama temen-temen dilihatin. Mereka masih kaya biasa sih, nyapa-senyum-ketawa, tapi pandangan mata mereka ngelihat jilbab aku itu beda. Mereka nggak komentar apa-apa sih, tapi entahlah ya kalau di belakang. Eh kan jadi suuzon. -___-


source: google

Hijrah? Aku hijrah? Duh, kata itu kedengerannya terlalu berat. Aku berasa nggak pengen nyandang kata ‘hijrah’ dan nggak pengen juga ngedeklarasikannya. Biarlah semua ini berjalan sebagaimana mestinya. Hijrah? Mungkin, aku masih dalam tahap berproses. Aku masih dalam tahap belajar.

Dulu pas kelas tiga SMA, aku pernah pakai jilbab panjang. Jujur, itu bukan dari hati, tapi ikut-ikutan lingkungan yang nota bene temen-temen aku anak Rohis jilbabnya panjang. Aku juga dulu itu ikutan Rohis, tapi percayalah, waktu itu, keluar rumah untuk nyapu teras nggak pakai jilbab. Diluar sekolah, kalau pergi jalan juga jilbabnya paris.

Masuk kuliah, jilbab aku emang paris yang transparan. Seiring berjalannya waktu, udah lama banget aku pengen pakai jilbab yang syar’i gitu. Tapi takut. Iya takut. Takut nggak sesuailah tingkah laku dengan jilbab. Takut malah bikin buruk jilbabnya. Takut kata temen-temen di kampus. Takut di jauhi. Dan ketakutan-ketakutan lainnya.

Aku kan anaknya pecicilan. Sebenarnya nggak juga sih, aku itu anaknya pendiam, tapi kalau udah kenal banget sama aku, sering mereka bilang aku pecicilan. Nah, aku takut entar orang beranggapan jilbabnya syar’i, tapi tingkahnya nggak banget. pokoknya gitu deh.

Tapi sebulanan terakhir ini, aku ngelaluin kejadian-kejadian yang bikin aku bertekad banget untuk benar-benar berubah menjadi lebih baik. Ditambah lagi faktor usia yang bisa dibilang bukan berada di fase remaja akhir lagi. 22 itu sudah berada di usia dewasa bukan?

Nah kejadian-kejadian yang aku alami ini bikin aku makin sadar kalau hidup itu nggak Cuma untuk dunia. Ada alam lain yang lebih harus dipersiapkan. Kejadian-kejadian itu serupa ibu temenku meninggal gara-gara sakit, ada juga ibu temanku yang lain masuk rumah sakit, ada juga tetanggaku yang meninggal, trus aku juga sempat ngeliput kecelakaan di UIN Suska yang mengakibatkan si cewek itu meninggal.

Pokoknya kejadian-kejadian itu mengiring aku untuk ngingat kematian. Trus aku jadi ingat juga saat almarhumah nenekku ngalamin sakaratul maut didepanku. Aku bahkan ikut nuntun buat ngucapin kata ‘Allah’. Ngelihat semua hal itu nggak mudah buat aku. Sampai ada alarm dalam diri aku seolah mengatakan ‘Kapan lagi, Mut? Mau sampai kapan? Nunggu apa lagi?’.

Belum lagi saat aku ngelihat ayahku yang semakin menua. Ya, semakin diri kita dewasa, orang tua kitapun semakin menua, hukum alam. Jika anak perempuan yang belum menikah memperlihatkan auratnya, orang yang menanggung dosanya itu adalah ayahnya. Jika dia sudah menikah, yang menanggung dosanya adalah suaminya.

Aku nggak mau ngasih dosa ke aba. Aku nggak mau ngelihat aba menderita karna aku. Aku sayang aba banget. Akhirnya aku mutusin untuk berhijab syar’i. Jangan kalian pikir setelah aku memakai jilbab kaya gitu bakal jadi malaikat. Nggak, masih jauh malah. Aku masih sama kaya dulu, hanya saja yang berbeda Cuma pakainku. Berarti aku sedang menjalankan satu perintah Allah.

Untuk tingkah laku, masih berproses. Doain saja. Kalau suatu hari nanti kalian temukan kesalahan dalam diriku, jangan pernah salahkan jilbabku, karna semua itu murni dari diri aku sendiri. Kalau suatu hari nanti kalian temui aku masih tak pandai menjaga sikap, bukan salah jilbabnya, tapi salah aku.

Yuk sama-sama belajar untuk nggak menjudge kehidupan dan pilihan orang lain. Karna kita sedang bermain sandiwara dalam perannya masing-masing. Berfokuslah pada diri sendiri ketimbang sibuk mengomentari hidup orang lain. Self reminder buat aku pribadi.

Terlepas dari semua itu, salah satu alasan yang bikin berjilbab syar’I adalah perkara jodoh. Udah banyak banget temen-temen aku yang nikah. Ketemu temen-temen seangkatanpun seringkali yang dibahas itu perkara nikah. Allah bilang, lelaki yang baik hanya untuk perempuan yang baik. Begitupun sebaliknya. Nah, ini salah satu cara atau proses membaikkan diri.

Pokoknya gitu deh. Aku bukan orang yang terlalu ngerti agama, tapi aku akan belajar. Tolong doain aku ya. Ingatin juga. Oke, mungkin segini dulu. Salam sayang, @muthihaura_blog (ig).
Kamis, 11 September 2017. 20.44 WIB.




Baca Artikel Populer Lainnya

5 comments:

  1. ah, aku sih semau terserah masing2 pribadi ya, gak mau nyinyirin siapapun , apalagi kalau ngomentarin negatif

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, semua itu tergantung ke pribadi masing-masing :))

      Delete