Arti Gagasan Bagiku

12.34 Muthi Haura 3 Comments



ArtiGagasan Bagiku- Pergi. Mungkin itu kata yang tepat untuk saat ini. Pergi bukan berarti karna tak sayang. Pergi bukan berarti karna tak cinta. Pergi bukan berarti tak peduli. Cuma memang ‘masa’nya sudah habis. Waktu memaksa untuk pergi. Mau tidak mau suka tidak suka.

Pergi bukan menjauh. Pergi bukan berarti melupakan. Tidak sama sekali! Pergi disini kudefinisikan sebagai ‘tak sesering dulu’ untuk datang. Tak sesering dulu untuk stay. Kalian mungkin bertanya-tanya maksud dari kalimatku di atas bukan?

Jadi ditanggal 22 Desember lalu tepatnya hari Jum’at, organisasi yang aku ikutin, Gagasan mengadakan musyawarah bersama alias mubes. Guna mubes ini adalah mencari pimpinan-pimpinan baru untuk melanjutkan estafet perjuangan dikepengurusan setahun kedepan. 


Aku yang saat itu menjabat sebagai Pimpinan Redaksi, mau tidak mau harus merelakan puncak jabatan itu berpindah. Dua periode kepengurusan dipercaya sebagai pimpinan redaksi, bukan hal yang mudah bagi aku untuk melepaskannya.

Bukan karna aku masih menginginkan jabatan, tidak sama sekali. Toh aku juga di UIN sudah hampir usai. Hanya saja, ada sedikit ketidakpercayaan kepada mereka melihat kondisi mereka saat aku masih menjabat. Ah, semoga ketidakpercayaanku ini segera memudar. Mereka pasti bisa. Mereka pasti bisa memajukan Gagasan, pasti bisa.

Bagiku, Gagasan segala-galanya. Bagiku, Gagasan lebih dari sekedar organisasi. Lebih dari sekedar lembaga. Gagasan ngajarin aku banyak hal. Ngajarin sesuatu yang nggak aku dapatkan dibangku ruang kuliah. Akan kuceritakan sedikit awal mula aku berproses di Gagasan.

Sejak PNDK 2013 Universitas saat Gagasan mempromosikan diri, aku langsung tertarik. Kebetulan juga saat SMA, aku pernah dipercaya sebagai Ketua Jurnalistik Rohis MAN 2 Model. Aku bertekad untuk bergabung di Gagasan. Tapi sampai hari pendaftarannya usai, aku tak kunjung juga mendaftar.

Baca juga: LPM Gagasan


Maklumlah mahasiswa baru yang masih takut-takut. Waktu itu juga, aku ngikutin beberapa organisasi di fakultas. Di semester dua, aku kembali berniat untuk bergabung di LPM Gagasan, tapi ternyata Gagasan belum buka open recruitment lagi. Waktu itu bareng Lelek, aku menemui Pimpinan Umum Gagasan bang Gilang. Saat itu juga Pimpinan Redaksinya Kak Wil.

Singkat cerita, aku dan Lelek diberi kesempatan bergabung di Gagasan. Dan hal yang aku sayangkan dulu itu saat magang adalah dimana aku jarang aktif di Gagasan. Aku jarang datang. Jarang ngasih berita. Pokoknya, aku sama sekali nggak ngemanfaatin dengan sungguh-sungguh proses belajar di Gagasan. 

saat magang
 
Saat magang
 
masak-masak di sekre




Aku nyesal. Nyesal kenapa nggak dari pas magang rajin nyari berita. Nyesal kenapa nggak ikutan kelas yang diadain Gagasan. Nyesal kenapa nggak dari magang nyari link. Ya, aku sangat sangat sangat menyesal. Makanya aku selalu tegas dengan adik-adik magang agar mereka rajin nyari berita. Agar mereka sungguh-sungguh berproses di Gagasan. Aku nggak pengen mereka ngerasain penyesalan seperti yang aku rasain.


diklat di Bahana





Semester tiga saat kepengurusan bang Hafiz dan bang Saan, aku tiba-tiba diangkat jadi redaktur. Surprise? Banget! Aku yang jarang datang dan jarang nyari berita tiba-tiba dikasih kepercayaan untuk jadi redaktur. Parahnya, beberapa bulan pertama saat menjadi redaktur, aku masih cuek bebek dengan Gagasan.

Pertama kali wawancara dengan rektor


Aku masih seolah acuh dan tak peduli sampai akhirnya beberapa minggu setelah diklat dasar adik-adik angkatan 2015, aku diberangkatin PJTL ke Sumbar di UNP Ganto. Lagi-lagi surprise. Lagi-lagi nggak nyangka. Gagasan begitu baiknya dengan ngasih aku kesempatan. Pulang PJTL, waktu itu aku ingat banget kalau kak Wil bilang gini: “Muthi udah PJTL, kasih lagi yang terbaik buat Gagasan. ibaratnya itu, Muthi punya hutang dengan Gagasan.”

PJTD Ganto UNP 2015
 
Panitia diklat dasar Gagasan 2015
Peserta diklat dasar Gagasan 2016


Baca juga: PJTL Ganto


Tertohok? Banget! Sejak itu mulai deh aktif datang, walau masih juga jarang nyari berita. Beberapa bulan setelah PJTL itu mubes dan yang nggak aku nyangka banget, aku terpilih sebagai Pimpinan Redaksi. Gila! Sumpah demi Allah, sejak awal di Gagasan, aku nggak pernah berpikir untuk bisa menjadi Pimpinan Redaksi. Aku sama sekali nggak punya bayangan untuk jadi Pimpinan Redaksi.

Siapa aku bukan? Pulang mubes itu, aku nangis. Nggak bisa tidur. Serasa ada beban berat yang langsung nimbukin pundak. Aku yang saat itu nggak peka isu. Aku yang saat itu nggak ngerti gimana caranya ngurus organisasi. Aku yang nulis berita masih ancur-ancuran. Bagaiamana mungkin aku bisa jadi Pimpinan Redaksi sedangakan diri aku sendiri belum bisa aku pimpin?

Aku? Pimpinan Redaksi? Jadi orang nomor dua terpenting di organisasi? Dan lagi, di lembaga pers itu, Pimpinan Redaksi itu posisinya sangat sangat sangat penting. LPM tanpa Pimpinan Umum, masih bisa jalan. LPM tanpa Pimpinan Perusahaaan, masih bisa jalan. LPM tanpa Pimpinan Redaksi? Rasanya berat ya. Itu bukan kata aku, tapi kata beberapa alumni.



Saat awal menjabat sebagai Pimpinan Redaksi itu, aku masih semester enam. Masih terbilang masih terlalu muda untuk menjabat sebagai Pimpinan Redaksi. Aku juga saat itu orangnya masih moddy-an. Masih plin plan, bahkan untuk nentuin atau ngambil keputusanpun aku nggak bisa.

Tapi seiring waktu, aku belajar. Aku ‘dipaksa’ untuk berkembang terlalu pesat. Aku ‘dipaksa’ untuk terus berproses menjadi lebih baik. Dan aku mulai menikmati semua proses itu. Aku bacain semua majalah LPM lain agar bisa peka isu. Aku latihan terus-terusan untuk nulis berita.

Aku baca buku-buku berkaitan dengan jurnalistik yang sama sekali nggak relavan dengan jurusan kuliahku. Aku belajar mengambil keputusan. Aku semakin belajar mengatur waktu. Menjadi pimpinan bukan hal yang mudah bagiku. Apalagi harus mimpin organisasi sebesar Gagasan. Belum lagi tingkah laku anggotanya yang seribu satu. Menjadi pimpinan itu harus banyak rela berkorban. Harus rela saat diomongin belakang hanya karna aku yang menyampaikan kebijakan tersebut. Mereka hanya nggak tahu kalau kebijakan itu sudah didiskusikan dengan litbang dan pimpinan lainnya.

Harus rela naikin berita saat salah satu anggota tidak menunaikan tugasnya. Harus rela begadang beberapa hari untuk ngedit SEMUA tulisan Gagasan untuk dinaikin ke majalah. Harus rela ke warnet untuk naikin berita. Harus rela kena marah alumni dan litbang saat kondisi Gagasan mereka rasa tak sesuai koridornya. Atau kalau adik-adik di Gagasan nggak produktif, maka aku sebagai pimpinan juga yang kena.

Harus rela diancam penjara karna liputan. Harus rela dibentak-bentak narasumber. Harus rela ngambil alih tugas berita saat adik-adik Gagasan tak menyelesaikan tugasnya. Aku berusaha sebisa yang aku bisa, begitu juga dengan pimpinan yang lainnya.

Yang paling nyeseknya itu, saat udah berusaha sekuat yang dibisa, tapi ada yang ngecemeehin Gagasan, itu rasanya sedih. Atau ada orang yang berkomentar kalau kinerja kami gak bagus, itu rasanya sedih. Aku tau, kami belum bisa ngasih yang terbaik, tapi kami udah ngasih sebisa dan semampu kami.

Terlepas dari semua itu, aku menyayangi Gagasan. I am nothing without Gagasan. Tanpa Gagasan, aku nggak akan dapetin banyak pengalaman luar biasa. Tanpa Gagasan, aku nggak akan bisa ke Sumbar dan Yogya gratis. Tanpa Gagasan, aku nggak akan punya keluarga baru yang bikin nyaman. Tanpa Gagasan, aku nggak akan bisa ketemu dan ngomong langsung dengan banyak orang hebat.

Tanpa Gagasan, aku nggak akan bisa nulis berita. Tanpa Gagasan, aku nggak akan bisa belajar mengambil keputusan. Tanpa Gagasan, aku nggak akan bisa melakukan banyak hal. Dan masih banyak lagi. Pokoknya, aku tanpa Gagasan itu nothing deh! Atas semua yang udah Gagasan kasih, aku ngucapin banyak terimakasih.

Gagasan sangat berarti bagiku. Sampai kapanpun, Gagasan tetap rumah tempat aku pulang. Dan semoga tetap bikin nyaman hingga nanti-nanti. Selamat melanjutkan estafet perjuangan adik-adik. Jangan sungkan untuk datang padaku kalau ada sesuatu yang ingin didiskusikan. Aku cinta Gagasan, begitu juga mungkin pengurus dan pendiri Gagasan terdahulu.

Jaga Gagasan ya. Titip Gagasan. Yakin aja deh, kalau kalian berproses disini nggak akan sia-sia. Ambil semua ilmu di Gagasan dan aplikasikan! Usaha tak kan pernah mengkhianati hasil. Apa yang kamu beri untuk organisasimu, itu juga yang akan kamu dapatkan. Berikan saja yang terbaik. Kalau bukan dari organisasi itu kamu dapatkan ganti, pasti Allah ganti diluar sana.



Aku sayang Gagasan. Aku sayang kalian. Salam dariku, Pimpinan Redaksi 2016-2017. Nggak, aku bukan mantan Pimpinan Redaksi. Aku tetap Pimpinan Redaksi dimasaku, 2016-2017. Ya, dimasaku, karna tiap orang ada masanya, tiap masa ada orangnya. Selamat berproses. Sampai jumpa dipuncak kesuksesan!

Begitulah arti Gagasan bagiku. Salam, @muthihaura_blog. Kamis, 28 Desember 2017. 21.51 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

3 komentar:

  1. Aku rindu masa muda jaman masih jadi mahasiswa gara-gara baca tulisan ini ....hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pinjam kantong doraemon mbk untuk balek ke masa lalu ;))

      Hapus
  2. Selalu di hati ya, jd inget masa2 sma & kuliah...

    BalasHapus