Belajar Bersyukur

17.19 Muthi Haura 3 Comments

Setiap manusia pasti memiliki kecendrungan untuk selalu ngelihat ‘keatas’. Ngelihat apa yang nggak dimiliki. Ngelihat betapa ‘indah’nya hidup orang lain. Membanding-bandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain. Ya, kecendrungan untuk jarang bersyukur. Mungkin, nggak semua manusia, hanya aku pribadi.

Hari ini dan kemaren, aku bertemu orang-orang yang aku anggap sahabat. Kemaren meet up bareng Dila dan Fadhilah. Mereka sahabat aku sejak SD dan kami membuat target impian untuk tiga tahun kedepan. Sedangkan hari ini, aku-Ulan-Mumun keliling SKA dan panties pizza.



Baca juga: Panties Pizza

Dari mereka aku banyak belajar. Pertemuan dengan mereka menghasilkan banyak ilmu-ilmu baru. Terutama sharing tentang kisah kehidupan seseorang yang lebih ‘wah’. Salah satu hal yang patut aku syukuri dalam hidup ini adalah aku dikelilingi sahabat-sahabat yang baik. Orang-orang yang mengerti apa adanya aku.

Orang yang selalu seolah berlapang dada saat aku selalu sok sibuk atas ajakan ngumpul mereka. Maaf dan trimakasih udah selalu ngerti. Terkadang kita sebagai manusia jarang sekali bersyukur. Jarang sekali berterimakasih untuk hal-hal yang Allah kasih dalam hidup kita, walaupun mungkin kita menganggapnya hal itu remeh temeh.

source: google

Percayalah, sekecil apapun hal yang kita syukuri, Allah makin akan memberi lebih dan lebih. Susah sih, aku aja ngerasaian susahnya, tapi kalau bukan dimulai dari sekarang, lantas kapan lagi? Mau nunggu sampai kapan lagi? Allah kasih kamu sahabat-sahabat yang baik disekitarmu, syukuri dan jangan pernah khianati kepercayaan mereka. Sekali kamu hancurkan kepercayaan itu, seumur hidup kamu tak akan mendapatkannya kembali.

Baca juga: Kecolongan

Kalau kamu terlahir dari keluarga sederhana, maka syukuri jugalah. Loh kok gitu, Mut? Iya, sejauh pengamatanku, seseorang yang terlahir dari keluarga sederhana, motivasi untuk suksesnya jauh lebih besar ketimbang seseorang yang terlahir dari keluarga kaya. Nggak semuanya sih yang seperti ini, tapi sejauh pengamatanku begitu.

Seseorang yang terlahir dari keluarga sederhana sangat menghargai barang-barang yang dia miliki atas usahanya sendiri. Akan semakin ngepush semangat untuk sukses.

Akan semakin bekerja keras ngewujutin semua mimpinya. Kalau seseorang yang terlahir dari keluarga kaya yang semuanya sudah disediakan, dia bakal terlena, lantas kemudian jadi tidak memiliki semangat apa-apa, karna dia sudah punya semuanya. Sekali lagi nggak semuanya, itu hanya aku amati dari beberapa orang yang aku temui.

Intinya, apapun kondisi kamu saat ini bersyukurlah. Belajarlah untuk bersyukur. Syukuri hidupmu dan ikhtiar untuk lakukan yang terbaik. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, yaiyalah, itu tetangga kamu sibuk nyiramin dan ngerawat rumputnya, lah kamu Cuma ngelihatin. Gimana kamu bisa punya apa yang dimiliki tetangga kamu sedangkan kamu Cuma hanya menjadi ‘penonton’ atas kesuksesan dia?

Bersyukur dan ikhtiar, itu beberapa kunci sukses dari sekian banyak kunci yang kita tahu sejak duduk di bangku sekolah. Yuk mulai introfeksi diri. Perbaiki kesalahan dan perbaiki diri. Percuma kamu iri-irian atas pencapain orang lain kalau nggak ada tindakan nyata. Iri mah bikin makin sakit hati, mending langsung ‘action’.

Kita tidak akan bisa mengubah hidup kita kalau kita nggak mensyukuri hidup kita. Mending syukuri dulu hidup yang dimiliki dan langkah selanjutnya adalah berfokus terhadap apa yang ingin kita capai. Oke mungkin segini dulu, see you on the top! Salam sayang, @muthihaura_blog.
Sabtu, 2 Desember 2017. 22.12 WIB. 


Baca Artikel Populer Lainnya

3 komentar:

  1. Nice sharing Mut
    Klo slalu compare hidup dgn org lain bakal kurang bahagia klo ada iri dengki. Harusnya jadi trigger buat kita ya biar lebih smangat lagiii..

    BalasHapus
  2. kalau bandingin sama orang dan kitanya dengki maka syukur itu menguap jadinya mengeluh :)

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah kalo aku selalu berusaha buat positive mind, jadi ikut mendorong buat bersyukur juga hihi
    Makasih reminder post nya

    BalasHapus