Tempra, Setulus Cinta Ibu

08.57 Muthi Haura 2 Comments



Kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia~
Kalau udah ngomongin soal ibu, atau aku biasa manggil dengan tittle ‘umi’ itu bikin sedih. Aku jadi merindukan almarhumah umi. Aku kangen dipeluk umi. Aku kangen ngelihat umi. Aku kangen dimarahin umi. Aku kangen masakan umi. Aku kangen semua hal tentang umi.

Kalau bisa dibilang, dulu itu, diantara aku dan adik-adik, aku yang paling sering bikin umi marah. Aku yang paling sering mungkin bikin umi kesal. Aku anak pertama dan tau kan ego anak pertama itu gimana? Umi seorang guru di SMP 21, guru Bahasa Indonesia. Mungkin dari umi bakat nulis aku nurun. 


Sejak kecil, aku selalu bilang ke umi kalau aku ingin jadi penulis. Umi dukung? Oh tentu saja, tapi umi jauh lebih mendukung aku untuk memiliki pekerjaan pasti ketimbang penulis yang menurut umi gajinya nggak jelas, kadang ada kadang enggak. Umi bilang: “Jadi penulis boleh, tapi harus punya pekerjaan tetap. Penulis itu iya juga sebagai sambilan”.

Umi mengiming-imingiku untuk menjadi dokter atau paling tidak menjadi guru seperti dirinya. Saat SMA, aku masuk IPA dan aku rasa, aku memilih pilihan yang salah. Kaya apapun aku jungkir balik belajar waktu itu, tetap saja nilaiku selalu rendah. IPA bukan duniaku dan aku nggak suka itu.

Saat aku kelas tiga SMA disemester awal, umi meninggal. Meninggalkan kami karna suatu penyakit yang dideritanya. Sedih? Oh jangan ditanya perasaanku waktu itu. Hancur! Rasa kehilangan separuh jiwa, tapi tetap penulis masih menjadi cita-citaku.

Hal yang paling diingat tentang umi adalah, saat anak-anaknya sakit, ia menjadi orang yang paling repot. Menjadi perempuan yang paling khawatir. Menjadi perempuan yang paling sibuk menyiapkan ini itu demi anak-anaknya, mulai dari makanan, kompres, dan lain sebagainya. Kadang ia membawa kami kedalam pelukannya dan bagiku, pelukan umi selalu menenangkan.

Setelah umi meninggal ditahun 2012, semua kerjaan rumah dialihkan ke aku. Hampir semua kerjaan rumah, aku yang handle, termasuk juga ngurusin adik-adikku. Adik bungsuku saat itu masih duduk dibangku TK. Saat ia sakit, aku jadi kelimpungan. Pasalnya aku juga kurang ngeh dengan pengobatan-pengobatan gini. Maklum newbie dalam hal beginian.

Untungnya, ayah aku cukup cepat tanggap. Ia selalu memberikan obat penurun panas demam seperti tempra. Obat tempra memiliki tiga jenis kemasan yang berbeda dengan kategori usia anak. Tempra drop dengan rasa anggur untuk anak usia nol sampai satu tahun. Tempa sirup dengan rasa anggur untuk anak usia satu sampai enam tahun. Sedangkan tempra forte dengan rasa jeruk untuk anak usia enam tahun ke atas. 

source: google


Dari klaim botolnya, tempra dapat menurunkan panas dan meredakan nyeri. Cocok bagi anak usia satu sampai enam tahun. Temprasyrup mengandung paracetamol yang bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak. Tempra syrup rasanya disukai anak-anak, anggur.

Oh ya, Tempra nggak boleh diberikan bagi para penderita kerusakan hati dan alergi terhadap paracetamol ya. Untuk anak di bawah dua tahun, dosisnya sesuai petunjuk dokter. Untuk anak usia dua sampai tiga tahun itu dosisnya 5 ml. untuk anak usia empat sampai lima tahun dosisnya itu 7,5 ml, sedangkan untuk anak enam sampai delapan tahun, gunakan dosisnya 10 ml. Tempra sirup ini aman di lambung loh.

Nggak perlu khawatir dengan sirup penurun panas ini, karna dibuat oleh PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk di Depok Indonesia dan dibawah pengawasan Taisho Pharmaceutical Co.Ltd Tokyo Japan. Dikutip dari website Emisdotcom, PT Taisho ini sudah berdiri sejak tahun 1970. Tentu saja memiliki badan hukum serta quality control yang menjamin produk yang dikembangkannya terjamin kualitasnya. Nggak hanya itu, produk tempra sudah terdaftar di BPOM. Sebelum dikasih ke anak pun, tidak perlu dikocok karna larut 100%, lebih asik kan? Dosis yang terkandung di tempra pun tepat, tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis. 

source: google


Dari sini aku bisa belajar bahwa kalau adik aku sakit, pertolongan pertama selain ngompresis dan buatin dia bubur adalah beri obat penurun panas kaya tempra. Dan kelak, suatu hari nanti aku dikasih kesempatan oleh Allah untuk menikah dan punya anak, aku ingin menjadi perempuan setangguh dan setegar umi.

Aku ingin menjadi perempuan terbaik bagi suami dan anak-anakku kelak. Tak lupa juga tempra selalu disediakan dalam kehidupan berumah tangga kami. Suatu hari nanti, In syaa Allah.

Oke mungkin segini dulu. Salam sayang, @muthihaura_blog
Selasa, 12 Desember 2017. 21.12 WIB. 

(Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.)

Baca Artikel Populer Lainnya

2 komentar: