Sehat Itu Mahal

03.05 Muthi Haura 3 Comments



Sehat itu mahal - Kamu tau tempat yang paling nggak ingin kukunjungi dalam hidupku? Yap, rumah sakit! Aku sebisa mungkin menghindar jika diajak ketempat ini. Bagiku, rumah sakit dipenuhi oleh orang-orang yang tatapan matanya penuh kesakitan. Yang tatapan matanya seakan tak punya semangat hidup. Dan aku lemas melihat itu semua.

sehat itu mahal



Rumah sakit juga menjadi saksi perpisahan seseorang. Entah itu perpisahan yang menyenangkan atau bahkan memilukan. Aku takut berada di rumah sakit. Aku takut mendengar orang-orang yang merintih kesakitan. Aku nggak suka mencium aroma rumah sakit. Intinya, aku nggak suka berada ditempat itu.


Tapi siapa sangka dihari Kamis 11 Januari lalu, adikku Intan asmanya kumat, sampai kejang-kejang dianya. Oksigen juga nggak ada dirumah, alhasil langsung dibawa kerumah sakit. Sebenarnya, aku paling malas nyeritain soal keluarga aku. Bagi aku, semua hal tentang keluarga itu bersifat privasi. Jarang aku bercerita semua masalah keluarga, kecuali dengan seseorang yang benar-benar aku rasa aku dekat sama dia.



Intan masuk rumah sakit dan diwajibkan nginap. Ayahku ngambil kamar bisa dibilang ekslusif, padahal Intan nggak ada BPJS. Pas Jum’atnya, ayah aku yang masuk rumah sakit dan harus nginap. Sebelumnya, ayah memang lagi sakit juga, tapi baru hari Jum’at itu periksa. Keduanya nginap, memang sih masih dalam satu rumah sakit, kamar nginapnya juga masih satu lantai, tapi ya itu ujung ke ujung.

 
Dan yang harus ngerawat keduanya itu aku, soalnya dirumah Cuma ada aku dan si bungsu, otomatis semua tugas itu jatuh ke aku. Aku bolak balek kamar keduanya buat mastiin mereka makan atau tidak. Buat mastiin apakah mereka mau buang air kecil atau tidak. Bolak-balek juga buat pulang kerumah ngambil perlengkapan yang dibutuhin. Bolak-balek jemput si bungsu yang masih harus sekolah.

Bolak balek ngurus administrasi rumah sakit yang ribet. Bolak balek deh sana-sini. Mau tidur nggak bisa, mau makan nggak nafsu. Capek? Boleh aku bilang banget? Aku capek aku lelah, banget! Pengen teriak pengen nangis pengen marah-marah pengen aah!


Aku bukan perempuan strong seperti kebanyakan yang mereka bilang tentang aku. Aku Cuma perempuan biasa. Aku bisa lelah aku bisa marah. Pengen marah ke ayah aku. Pengen marah ke adek aku. Pengen marah kesemuanya. Tapi aku urungin, walau sempat kelepasan.

Rasanya pengen marah ke ayah aku, tapi pas ngelihat wajahnya meringis kesakitan, aku nggak tega. Trus terpikir, ayah aku ngerawat aku sampai berumur segini nggak pernah ngeluh bilang capek. Nggak pernah ngeluh dengan 1001 tingkah anak-anaknya. Ayah aku nggak pernah ngeluh ;’( Tapi aku baru kaya gini aja udah banyakan ngeluhnya.

Sekarang Alhamdulillah keduanya udah balek rumah. Masih dalam proses istirahat. Si Intan karna nggak ada BPJS kena delapan jutaan. Duh uang semua itu -__- Walaupun keduanya udah balek rumah, tetap semua kerjaan aku yang tanggung. Dulu-dulu juga aku sih, tapi kalau ada anggota yang sakit gini, capeknya double-double.

Sekarang aku lagi berusaha nahan keluhan. Nggak ada gunanya ngeluh-ngeluh kan, nambah capek mah iya. Ingat wajah orang tua biar nggak kebanyakan ngeluh. Trus juga aku jadi ingat kisah Fatimah saat membuatkan masakan untuk suaminya, trus Rasulullah member nasihat gini:

“Wahai Fatimah, sesungguhnya wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya kelak Allah tetapkan baginya biji gandum yang diadonnya dan juga Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya. Wahai Fatimah, sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.”

Intinya, nasihat Rasulullah itu adalah jika seorang perempuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan ikhlas, maka Allah ganti capek-capeknya dia dengan pahala yang setimpal. Ayo Mut semangat! Semoga saja, ikhlas Mut ikhlas ;)

Trus dinasehatnya, Rasulullah juga bilang gini : “Wahai Fatimah, yang lebih utama adalah keridhaan suami terhadap istri. Andakata suamimu tidak ridha padamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.” Ngeri juga ya.

“Bang, aku siap kok diajak hidup susah, tapi jangan lama-lama ya. Dan kamu harus ridha juga sama aku.” Wkwk gabut, abaikan! Dari pelajaran di rumah sakit kemaren, aku belajar bahwa sehat itu mahal. Lebih baik ngejaga daripada mengobati.

Aku bertekad untuk ngejaga kesehatan diri. Mungkin berawal dari hal-hal sederhana seperti makan tepat waktu, menyempatkan diri berolahraga, setidaknya sekali dalam seminggu. Kurangi makan micin. Banyakin makan sayur. Banyakin minum air putih. Jangan begadang! Banyak makan buah.

Ayolah mulai hidup sehat. Semoga aku dan keluargaku bisa nerapin. Semangat perubahan menuju lebih baik. Kalian juga harus jaga kesehatan ya. Sharing dong bagaimana cara kalian menjaga kesehatan?

Oke mungkin segini dulu. Ingat, sehat itu mahal! Salam sayang, @muthihaura_blog.
(104919118)

#onedayonepost #odopbatch5

Baca Artikel Populer Lainnya

3 komentar:

  1. saya termasuk yang belum berhasil menerapkan gaya hidup sehat. Lagi gampang banget sakit :( apalagi kalo lagi hawanya nggak bersahabat begini, kalo nggak flu juga diare.. Kalau sudah flu, ngrembetnya ke asma juga kayak si Intan huhuhu.. Sadar sih kalo masih doyan makan sembarangan, jarang dan hampir gak pernah olahraga, senengannya minuman sachet.. ga terlalu suka sayur, kadang begadang.. huhuhu.. sedih tapi ya itu tadi.. cuma bisa mbatin aja belum bisa ngelakoni

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah udah pada sehat ya :) Menjaga kesehatan itu harus konsisten, kayak kita nabung atau investasi. Gak bisa tiba2 langsung sehat, mesti dijaga setiap hari. Bakal lebih mudah kalau sekeluarga atau orang yg serumah menerapkan gaya hidup sehat yang sama, jafi bisa saling support deh :)

    BalasHapus
  3. Semoga Ayah, Adik juga Mbak Muthi sehat selalu yaaa..
    Oh ya, kalau di rumah yang konsen jaga kesehatan itu suamiku Mbak..secara temen-temnenya di usia 45 sekarang sudah banyak keluhan ini itu. Alhamdulillah serumah jadi ketularan. Jaga makanan dan rutin olahraga.

    BalasHapus