Tahapan Proses Pembuatan Film

07.00 Muthi Haura 14 Comments



Haai, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya dan sedang ngelakuin apa? Aku stay at home aja nih. Iya, jadi sejak dua mingguan terakhir ini, aku lebih banyak kegiatan didalam rumah. Jarang banget aku keluar kecuali ada sesuatu yang penting.

Dulu, aku pikir aku itu orangnya nggak betahan dirumah, tapi ternyata setelah dijalani, aku betah kok dirumah. Dan aku mengambil kesimpulan bahwa aku itu type yang keluar rumah kalau ada tugas atau ada kewajiban yang memang harus dikerjakan. Intinya gitu deh.

Trus dirumah emangnya ngapain aja, Mut? Makan, tidur, beresin rumah, nyoba resep baru, dan lagi nyoba juga bercocok tanam. Untuk saat ini aku puas-puasin dirumah dulu sambil ngerawat aba, setelah itu, aku udah ngeplan untuk gabung beberapa komunitas dan kembali aktif diluar rumah.

Baca juga: #ilkomclass



Nah terlepas dari itu semua, dipostingan kali ini, aku pengen sharing tahapan dalam pembuatan sebuah film. Materi ini aku dapat saat aku ikut pelatihan perfilman di Medan Juli 2017 lalu. Sebenarnya ini mau aku jadikan materi #ilkomclass yang sekali sebulan itu, tapi kayanya aku nggak bisa bikin #ilkomclass sesuai jadwal. Aku bikin kapan aku pengen aja ya, maafin!



Oke deh langsung aja tahapan dalam pembuatan sebuah film. Check this out:

Pertama itu development. Di development, tahap yang harus udah fix itu menentukan siapa pemainnya. Apakah sebagai anak kuliahan atau tidak. Pokoknya segala penentuan, baik itu pemain, lokasi, dan lain sebagainya fix ditahap ini. Di development ini dirapatkan oleh sutradara (director), penulis naskah, dan produser.

Sebelum masuk ke pembahasan selanjutnya, dibahas sedikit job desk dari masing-masing triangle sistem tersebut. Sutradara adalah orang yang memiliki tugas untuk mikirin music dalam film tersebut apa. Menentukan baju dan punya otoritas tinggi. Sutradara jugalah yang bakal banyak berurusan dengan pihak luar.

Penulis naskah adalah orang yang memiliki tugas untuk menulis naskah tersebut dari awal scene hingga tuntas. Sedangkan produser adalah orang yang memiliki tugas untuk mengurus budget dalam perfilman tersebut.

Tahap kedua yakni preproduction. Tahap ini adalah tahap mencari pemain, lokasi shooting. Pada tahap ini juga, yang berperan mencari dan menentukannya adalah sutradara dan produser. Sutradara kemudian merekrut sinematografi/DOP, desainer produksi, desainer suara, dan penyunting gambar. Sedangkan produser merekrut production manager dan manajer keuangan.

Ditahap ini juga semua kemungkinan buruk sudah diantisipasi. Selain itu, semua yang terlibat sudah tau job desk masing-masing. Pokoknya semua hal sebelum melaksanakan shooting sudah clear ditahap ini.

Selanjutnya masuk ketahap produksi. Tahap ini adalah tahap shooting, mulai dari merekam gambar dan suara. Setelah tahap produksi selesai sesuai schedule, maka masuk ketahap post production. Pada tahap ini, sutradara tidak ikut campur lagi karna tugas sutradara hanya sampai pada tahap pasca produksi. Tahapan ini dipegang oleh produser dan produser yang berhak mengambil keputusan terakhir.

Lanjut ke tahap yang kelima, distribution. Tahap ini adalah tahap menyebarkan film kebanyak tempat atau kemana saja. Dan tahapan terakhir adalah tahapan exhibition dimana film ditonton oleh masyarakat.

nonton
nonton film. source: google

 
Trus, kalau semisal film yang udah jadi beda dengan script yang diberikan penulis scenario atau scriptwriternya gimana, Mut? Ya nggak masalah, itu bukan tanggung jawab si scriptwriternya. Scriptwriter itu hanya nulis saja, tapi saat nulis scenario harus dipikirkan juga kemudahan team untuk produksi. Nangkap nggak maksudnya?

Jadi jangan bikin scenario yang nyusahin team. Misal nih kamu bikin scenario orang-orang terbang, kan team jadi susah. Pokoknya saat nulis, pikirkan juga kesanggupan team. Trus bagaimana sih kriteria cerita film yang baik?

Kalau menurut mas Pidi, mentor aku saat pelatihan itu, cerita yang baik itu harus dapat dipercaya. Tidak harus logis, tapi harus bisa dipercaya. Harus dramatis. Dramatis disini maksudnya mampu menggerakkan emosi penonton. Dan yang terakhir harus sinematik.

Sinematik disini maksudnya harus memungkinkan untuk bisa diwujudkan oleh sutradara dan produser. Gimana? Sampai disini pahamkan? Semoga saja ya. Aak, aku jadi benar-benar kangen bikin film. Semoga beberapa waktu kedepan, aku bisa ikutan bikin film lagi. Minimal film pendeklah. Pengen jadi scriptwriternya.

Aku masih harus belajar, jadi kalau ada yang salah dari tulisan ini, bisa banget di koreksi. Kalau kamu sendiri, suka nggak bikin film? Suka nggak berkecimpung didunia perfilman? Oke deh segini dulu sharing dari aku tahapan proses pembuatan film. Semoga bermanfaat ya. Salam sayang, @muthihaura1.
Jum’at, 16 Februari 2018. 10.23 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

14 komentar:

  1. Aku pernah jadi tim dan panitia pembuatan film waktu ngajar di Malang. Pengalaman baru,seru tapi capek haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iyaa mbak. Seru tapi capek. Aku Cuma pernah jadi tim doang, belum panitian hehe.

      Hapus
  2. Aku belum pernah terjun di dunia perfilm-an. Makasih kak Sharingnya. Membuka wawasanku banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Ayo kapan-kapan dicoba terjun didunia perfilman.

      Hapus
  3. makasih sharingnya menambah wawasan

    BalasHapus
  4. Scriptwriting itu beda ya sama nulis cerita?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda mas. Ada kaedah-kaedah tertentu ^^

      Hapus
  5. Makasih sharingnya. Jadi pengin nulis scenario lagi...:)

    BalasHapus
  6. Jadi pengen nyoba bikin film wkwk

    BalasHapus
  7. Kok aku mau nangis ya baca ini wakwakwak. Salah satu passion aku itu di film dan dunia peran. Bukan sebagai pemain, tapi di belakang layar. Tapi ga pernah bener2 nyoba bikin. Kapasitas dan kemampuannya belum ada. Tapi adik aku lagi konsen ke bidang ini juga, moga2 bener2 bisa mencapai mimpinya dia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mbak benar-benar dicoba. Aku juga passionnya dibelakang layar. Duh orang belakang haha.

      Hapus