Cerita Wisuda

07.00 Muthi Haura 1 Comments



Setiap manusia cenderung untuk selalu ngelihat keatas. Untuk selalu membanding-bandingkan dirinya atau apa yang tidak ia punya dengan yang dipunyai orang lain. Hasilnya, banyak manusia yang tidak pandai bersyukur. Rumput tetangga memang selalu lebih indah. Ya iyalah, itu tetangga kamu sibuk ngurusin dan ngerawat rumputnya, lah kamu Cuma ngelihatin.

Ah, self reminder banget buat diri aku sendiri yang jarang bersyukurnya. Yang masih sering banget banget banget ngeluh. Maafkan aku Ya Allah. Salah satu part yang sering kali diisi dengan keluhan adalah part skripsi.

Baca juga: Proses skripsi#1


Ngomongin skripsi, banyak banget komentar bernada ‘Belum selesai juga lagi, Mut? Udahlah lepas lagi dari organisasi itu. Apa juga yang dikejar lagi?’ dan komentar bernada lainnya. Memang saat proses skripsi, aku masih menjabat sebagai pimpinan redaksi. Aku juga beberapa kali mendapat job tulisan dan pergi keluar daerah. 


Tapi Alhamdulillah skripsiku tak pernah dianggurin. Aku selalu berusaha untuk membagi waktu dengan sebaik-baiknya, antara organisasi-kerjaan-beresin rumah. Menurutku, organisasi tidak pernah sama sekali mengganggu proses skripsiku. Mungkin memang begitu jalannya proses skripsiku. Tidak ada orang yang lulus terlalu cepat dan tidak ada yang terlalu lambat. Semua bergerak pada porosnya masing-masing.

Setelah proses skripsi-sidang hingga revisi selesai, ada part lagi yang harus dilalui, yakni prosesi yudisium dan wisuda. Kalau di FDK, Yudisiumnya dihotel permiere 23 April 2018. Sedangkan wisudanya di PKM UIN Suska tanggal 25 April 2018.

Semua hal yang berkaitan dengan yudisium dan wisuda itu membutuhkan banyak biaya. Yup, bulan April ini rasa aku adalah bulan yang paling paling paling pusing mikirin uang. Aku kasih deh sedikit gambaran terkait biaya yang dikeluarka saat yudisium dan wisuda.

Untuk wisuda wajib bayar kekampus 400 ribu. Sedangkan yudisium kudu bayar 530 ribu. Baju wisuda dan baju yudisium itu biasanya beda. Wisuda pakai kebaya, sedangkan yudisium gaun gitu. Biasanya teman-teman aku pada beli kain, lalu dijahit. Untuk kedua baju itu membutuhkan dana kurang lebih 1 juta.

Trus baju toga wisuda 150 ribu kalau beli, sedangkan nyewa 80 ribu. Ditambah lagi bagi cewek itu make up untuk wisuda dan yudisium. Paling rendah dua kali make up itu 270 ribu. Kalau mau make upnya bagus, biasanya ditempat MUA professional itu 350 ribu sekali make up.

Bagi cewek juga, pasti beli sepatu, tas, dan segala aksesoris yang mendukung penampilan, tarohlah untuk semua ini 300 ribu. Coba hitungin semua deh. 2 jutaan lebih nggak kemana kayanya. Kalau cowok mah enak nggak terlalu rempong dan ngeluarin biaya banyak.

Beruntunglah yang lahir dari keluarga kaya, tapi nggak semua orang punya hidup seberuntung itu. Gak semua orang hidup berkelimpahan harta. Ya, mungkin aku salah satu contohnya. Kalau bagi aku, bulan ini termasuk bulan yang cukup berat. Aku numpuk utang disana-sini. Pokoknya pusing deh. Rasanya mikirin utang itu kepala nyut-nyutan.

Dan Alhamdulillah bulan ini sudah mulai terlewati. Prosesi yudisium dan wisuda telah selesai. Untuk yudisium dan wisuda, aku nggak terlalu mengeluarkan uang banyak seperti teman-teman cewekku yang lain, tapi cukup lumayanlah. Entar deh aku bikinin tips wisuda hemat ala aku haha.

Untuk mengikat kenangan, aku pengen cerita kejadian yudisium dan wisuda perharinya. Check this out:
Senin, 23 April 2018
Aku bangun jam empat-an pagi. Biasalah, mau make up dulu. Aku make up barengan sama Ulan dan Ides di mess RRI. Kebetulan Ulan memang kerja di RRI. Yang make up-in si Yudi sepupunya Ulan. Yuni ini lebih muda setahun dari pada kami, Cuma kemampuan make upnya tentu saja diatas kami.

yudisium

kesayangan
kesayangan

Yang pertama di make up in itu aku. Pas dipakain bulu mata palsu, itu kalau nggak salah tiga kali gagal. Pakai bulu mata itu berasa mata belekan, nggak enak banget pokoknya. Setelah semuanya selesai make upan, kami cau ke hotel premire. Teman-temanku pada cetar banget. Mereka cantik-cantik, pangling lihatnya.

Rabu, 25 April 2018
Hari ini bangun jam tigaan biar nggak terlambat. Tentu saja masih di make upin Yuni di mess Ulan. Make up wisuda ini kata Yuni lebih cetar ketimbang make up yudisium. Mata akupun serasa lebih berat. Sekitaran jam tujuhan, kami cau naik gocar ke UIN Suska panam.

wisuda
wisuda

wisuda

family
Family


Pas masuk gerbang UIN, asli ramai banget. Macet parah. Didekat bangunan rektorat, kami memutuskan untuk jalan kaki hingga sampai PKM. Barang-barang aku yang paling ribet, soalnya aku bawa tas ransel, helem, dan pakai sepatu hak tinggi. Trus lari-lari ke PKM biar nggak terlambat. Asli rempong banget.

Hampir mau jatuh gara-gara sepatu hak itu, akhirnya aku ambil sepatu yang biasa aku pakai dari dalam tas, setelah itu aku ganti sepatu, baru lari-lari ke PKM. Soalnya kalau telat, nggak bisa maju kedepan untuk prosesi pertukaran tali toga.

Udah cantik-cantik bermake up malah lari-lari. Lunturlah make up itu. Setelah di PKM, aku lewat pintu samping dekat sekre. Trus diam-diam manggil Aqib biar bawa tas, helem, sama sepatu aku kesekre. Sengaja diam-diam, soalnya kalau anak sekre lihat aku bermake up gitu, pasti kena bully. -__-

Setelah prosesi dan sumpah selesai, aku kesekre karna kebetulan keluarga memang disekre. Trus ngelihat ada poster lumayan besar yang bacaannya ‘turut berduka cita atas wisudanya Ika Piyasta S.Ikom dan Muthi’ah Al Haura S.Ikom. Dari keluarga besar LPM Gagasan yang ditinggalkan.’

Makasih banget loh ya adik-adik Gagasan. Makasih juga buat teman-teman yang datang. Aku kepayahan bawa barang-barang yang kalian kasi. Makasih banget deh pokoknya. Makasih juga doanya. Semoga kita semua bisa sukses kedepannya ya. Amin!

Oke mungkin segini dulu. Tungguin ceritaku selanjutnya. Salam sayang, @muthihaura_blog.
Minggu, 29 April 2018. 12.57 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

1 komentar: