Tips Menulis Ala Genta Kiswara

07.00 Muthi Haura 3 Comments



Pasca wisuda, aku resmi udah nggak berstatus mahasiswa lagi. Jujur, rasanya lain banget. Rasanya ada sesuatu yang hilang. Rasanya kok tua banget. Kesibukan sekarang juga belum ada, paling Cuma beberapa job freelance nulis. Beberapa orang menganjurkanku untuk melanjutkan S2, termasuk ayahku, tapi untuk saat ini aku belum berminat.



Untuk impian, aku punya beberapa impian tersendiri dan saat ini aku sedang berproses untuk mewujudkannya. Karna tidak memiliki kegiatan wajib lagi saat ini, aku memantapkan diri untuk mengikuti banyak event dan seminar, juga banyak-banyak baca buku.


Soalnya aku berpikir kalau aku udah nggak kuliah gini, aku dapat ilmu darimana kalau nggak dari seminar bukan? Makanya, aku bakal ikutan banyak seminar. Mau itu seminar tentang pernikahan, parenting, dan tema lainnya, selagi aku suka, aku In syaa Allah jika tidak ada kendala bakal ikut. Lumayan, ilmu sayang banget dilewatkan.

Nah, kali ini, bareng beberapa adik Gagasan, Ijah-Nafi-Mbak Lin-Ika, kami ikutan seminar bedah buku Genta Kiswara. Acara ini ditaja oleh kelas Public Relations C semester enamnya UIN Suska. Kagum sama mereka yang bisa bikin acara sewah ini. Aku jadi tertarik belajar event organizer dan berkecimpung didalamnya. Moga ada waktunya nanti.

with genta kiswara
with Genta Kiswara

with genta kiswara


Sebelum aku sharing tips menulis ala Genta Kiswara, aku pengen kasih tau profil singkat tentang dia. Genta Kiswara akrab disapa dengan panggilan Gegen lahir 27 Mei 1994. Bukunya yang sudah terbit ada dua, yakni ‘Pada sebuah kata pergi’ dan ‘Evolusi Rindu’. Saat ini ia tengah menyiapkan buku ketiga tentang perjalanan travellingnya dari Sabang hingga Marauke.

Genta adalah sosok yang ramah. Saat kami mewawancarainya, ia tak segan-segan mengajak kami duduk lesehan sembari ia merokok. Beberapa kali kamijuga tertawa oleh apa yang ia tuturkan. Oke deh, mungkin langsung saja tips menulis ala Genta Kiswara. Check this out:

Pertama, tulis apa yang kamu rasakan. Tulis bedasarkan pengalaman pribadimu. Tulis sesuatu yang memang dekat dengan dirimu. Saat kita menulis, sering kali kita mengalami writers block atau mentok ide, itu karna kita tidak menuliskan sesuatu yang memang kita rasakan.

Coba deh untuk awal-awal, tulis dulu apa yang dirasakan. Tulis sesuatu yang pernah kita alami. Seperti karya-karyanya Genta Kiswara yang berasal dari apa yang ia rasain. Genta pernah merasakan patah hati dan kekecewaan, dan ia menuliskannya.

Kedua, jadikan menulis sebagai habbit. Jadikan menulis sebagai hobby dan kebiasaan. Tetapkan dalam sehari itu waktu untuk menulis dan jangan pernah langgar waktu tersebut. Biasakan diri untuk selalu menulis apapun kondisinya. Jadikan juga menulis sebagai tanggung jawab dalam sehari.

Genta juga mengatakan bahwa menulis itu bukan bakat, tapi kebiasaan. Ketiga, saat menulis, tulis aja terlebih dahulu sampai selesai. Jangan baca tulisan itu. Kangan diedit, tulis dulu sampai selesai. Setelah tulisan itu selesai, baru diedit.

Tips ini pernah juga ku tuliskan di postingan ‘Tips menulis dan menerbitkan novel’ ala aku. Kenapa gitu? Karna kalau saat menulis, lalu kita berhenti dan mengedit tulisan, percaya deh, tulisan itu nggak bakal selesai.

Keempat, banyak-banyak membaca! Ini wajib jika kamu ingin menjadi seorang penulis. Kegiatan menulis dan membaca itu sangat berkaitan. Kalau katanya Genta, menulis tanpa membaca ibarat orang yang Cuma pandai berbicara.

Sebuah pepatah juga pernah mengatakan bahwa jika kamu membaca, maka kamu bisa melihat dunia. Sedangkan jika kamu menulis, maka dunia akan melihatmu. Dan tips terakhir a.k.a kelima adalah ikuti komunitas menulis. Ini penting! Saat kamu sedang mengalami kemalasan dalam menulis, teman-teman dikomunitas yang sehobby dengan kamu itulah yang akan menyemangati.

Dari komunitas menulis juga, kamu bakal dapatkan banyak pengalaman berharga. Diakhir acara, Genta memberikan motivasi kepada kami bahwa jangan galau berlarut-larut. Jadikan kegalauan dan sakit hati itu sebagai prestasi. Teruslah berkarya. Lakukan apa yang kamu suka selagi itu baik, dan tinggalkan apa yang tidak kamu suka.

Ah, pengalaman berharga banget. Apalagi saat diwawancara, Genta sosok yang humble. Oiya, disaat seminar juga, Genta mengatakan bahwa untuk menjadi seorang penulis, aktiflah juga di sosial media. Hal ini salah satu yang memudahkan untuk menjual buku, jika kita sudah punya buku.

Selain itu, Genta juga ada menjelaskan sedikit tentang penerbit mayor dan penerbit indie. Alhamdulillah kedua naskah aku sudah diterbitkan oleh penerbit mayor. Jadi beda mayor dan indie itu adalah, penerbit mayor adalah penerbit yang menerima dan menseleksi naskah kita. Jika lolos, maka semua biaya penerbitan ditanggung oleh penerbit tersebut.

Begitu juga untuk mendisribusikannya. Sedangkan untuk royalty, penulis akan mendapatkan 7-10% dari masing-masing buku yang terjual. Sedangkan penerbit indie, kita yang membayar agar buku kita terbit. Kita juga yang akan menjualnya.

Gitu deh intinya. Kalau mau lebih jelasnya, bisa searching aja di google. Oke deh, mungkin segini dulu. Makasih untuk ilmunya Uda Genta. Makasih untuk hari ini dimana kita harus naik busway, ketaman Ruang Terbuka Hijau, pokoknya trimakasih deh.

Salam sayang, @muthihaura1
Minggu, 29 April 2018. 14.09 WIB.
 

Baca Artikel Populer Lainnya

3 komentar:

  1. Salut buat para penulis. Keren banget bisa konsisten menulis apalagi yang bukunya banyak dan dikejar dedlen mulu. Lha ngeblog aja aku kadang mandeg. Hihi

    BalasHapus
  2. Langsung aku catat nih tipsnya.
    Aku sering banget melanggar tips 3, doyan banget ngedit, :(
    Baru tahu kalau itu kurang bijak ya.
    Untung mampir sini, jadi terinspirasi.
    Ma kasih yaa, mmmuaaach :)

    BalasHapus
  3. Menulislah seperti kamu bercerita kepada orang lain dan terus mengalir sampai jauh, eh salah maksudnya sampai selesai. Dari dulu selalu kagum sama para penulis yang bisa menulis buku sampai beratus2 halaman panjangnya. Kalau saya hanya seorang blogger, nulis paling mentok di 2000 kata. Thanks buat sharingnya ya Kak...

    BalasHapus