Ngomongin Body Shamming

12.01 Muthi Haura 7 Comments


Setiap perempuan itu pasti ingin selalu terlihat cantik. Bullshit kalau ada yang bilang nggak, tomboy sekalipun. Bukan hal baru jika perempuan lama dalam bersiap-siap saat hendak berangkat kesebuah acara. Mulai dari ujung kepala sampai kaki diperhatikan, entah itu baju yang matching, make up yang pas, atau hal-hal lainnya.



Terkadang juga perempuan merasa gundah dan sedih jika ada satu jerawat yang mampir diwajahnya. Bisa-bisa saking malunya gegara jerawat, trus mutusin nggak jadi pergi. Iya segitunya. Mungkin bagi cowok atau bagi cewek-cewek yang nggak ngerasain permasalahan tersebut nganggapnya lebai, tapi itulah faktanya.


Coba deh cek disekitar kamu dan temuin perempuan yang se-insecure itu dengan dirinya. Atau coba pandang cermin, jangan-jangan cewek di dalam cermin itu juga sama. Perempuan memang ‘segitu’ bangetnya dengan tubuhnya, bahkan akupun. Dan yang paling menjengkelkan adalah saat kamu bertemu orang, entah itu cewek atau cowok, yang dikomentari adalah fisik.

‘Eh kamu makin kurus aja, nggak makan banyak?’, ‘Gendutan ya sekarang?’, ‘Makin item deh kamu’, ‘Kok jerawat kamu banyak banget?’, ‘Itu alis kamu nggak simetris deh’, dan bla bla bla lainnya. YA AMPUUUN, nggak ada bahan lain untuk basa-basi saat berjumpa apa? 

body shamming


Tau nggak sih apa yang dirasain orang yang kamu body  shamming kan itu? Sedih! Aku pribadi ngerasain sedih sih kalau digitukan dan aku kayanya sering banget dapet komentar dari orang-orang tentang fisik aku. Karna aku ngerasa sedih digitukan, aku sebisa mungkin nggak ngomentari fisik orang saat baru jumpa. Iya sebisa mungkin, walau kadang sering juga kelepasan ngomen gegara dia ngomen fisik aku duluan.

Dari apa yang aku dengar dan baca, kalau diluar negeri, ngomenin fisik orang itu adalah hal yang tabu. Adalah sesuatu yang dianggap tidak wajar, tapi di Indonesia? Basa-basi yang memang basi banget. Banyak loh topik lain selain harus ngomentari fisik orang. Kamu sadar nggak sih kalau ngomentari perihal fisik itu bikin orang yang kamu komentarin sakit hati?

Sadar nggak sih kalau orang yang kamu komentari itu jadi merasa sangat sangat sedih. Mungkin dia bakal senyum-senyum aja nanggepin ucapan kamu, tapi di dalam hatinya? Kamu tau apa yang dia rasain? Menurut aku, mending nggak usah deh ngomentari fisik orang lain. Kalau aku pribadi, aku dirumah punya cermin kok, banyak malah.

Jadi tanpa kamu komentaripun, aku udah tau kekurangan fisik aku. Tanpa kamu ‘sebutkan’pun, aku nyadar kok. Aku bisa ngelihat sendiri dari cermin yang aku punya dan aku nggak butuh sama sekali komentar kamu. Komentar kamu justu makin bikin insecure dengan diri sendiri dan secara nggak langsung, setelah nerima komentar dari kamu, aku nanya keteman aku ‘aku kurusan banget sekarang ya?’

Kamu nggak tau apa-apa tentang hidup orang lain yang kamu komentari. Bisa jadi dia habis sakit, makanya kurusan. Bisa jadi dia habis naik gunung atau kepulau, makanya hitaman. Bisa jadi dia habis melahirkan, makanya badannya kelihatan gemukan. Bisa jadi dia lagi memiliki problem berat dan melampiaskan lewat makanan, makanya jadi gemukan.

Baca juga: Aku diumur 20-an


Dan bisa jadi bisa jadi lainnya. Kamu hanya tau sekedar nama orang itu, tidak dengan cerita hidupnya. Jadi please, tolong jangan body shamming ke orang lain, siapapun itu. Ngomentarin sesuatu yang diberikan Tuhan dan susah dirubah itu adalah sesuatu yang menyakitkan bagi yang mendapat komentar tersebut.

body shamming

Kamu juga nggak pernah tau mungkin kan, orang yang kamu katain gemuk itu lagi berusaha mati-matian untuk menurunkan berat badannya. Memforsir diri untuk olahraga, nggak makan juga. Kamu nggak tau, orang yang kamu sebut makin kurusan itu udah mati-matian makan banyak. Semua dilahap. Kamu mungkin nggak tau, orang yang kamu katain hitam itu tengah berusaha mati-matian gonta-ganti skincare hanya agar bisa putih.

Iya, kamu nggak tau semua itu kan? Dan tiba-tiba kamu datang dengan segala komentar kamu tentang fisik, semua kerja keras orang tersebut jadi buyar! Jadi berasa sia-sia. Jadi berasa nggak ada hasilnya. Down? Sedih? Off course.

Secara nggak langsung, sadar atau nggak, kamu telah mematikan mimpi orang tersebut. Kamu telah mematikan segala kepercayaan diri yang telah lama ia bangun. Kamu telah membuatnya semakin insecure dengan dirinya sendiri. Kamu telah berhasil membuatnya semakin tidak mencintai dirinya dan orang tersebut bakal berfikir ‘andai body aku kaya dia’, ‘andai aku putihan’, dan ucapan senada lainnya.

Baca juga: Cantik itu..? 


Iya, sekejam itu. Hanya dengan ucapan dari daging tak bertulang milikmu bisa ‘mematikan’ orang lain. Benarlah sebuah pepatah yang mengatakan bahwa mulutmu harimaumu. Apalagi bagi sesama perempuan, please sama-sama menjaga perasaan. Kamu perempuan, kamu pasti megerti rasanya kan?

Dan yang paling tidak bisa aku mengerti adalah yang mengomentari fisik itu adalah laki-laki. Rasanya untuk ukuran laki-laki yang jalan pikirnya rasional, mengomentari fisik perempuan itu dihadapan perempuan tersebut adalah hal yang sangat sangat sangat memalukan. Wibawa kamu jatuh boy kalau ngomentari fisik perempuan, seriusan!

Hai para lelaki, apa sih urusan kamu ngomentari fisik teman perempuan kamu? Apa sih yang kamu inginkan dari ngomentari alis yang nggak rata? Hidung yang pesek dan lain sebagainya? It’s not funny! Nggak lucu sama sekali.

Ayolah sama-sama kita majukan Indonesia ini dengan mengurangi hal-hal yang nggak berfaedah. Ngobody shamming orang lain adalah salah satunya. Mungkin dari diri sendiri dulu, lalu mengedukasi lingkungan. Oke mungkin segini dulu, please stop body shamming. Salam sayang, @muthihaura1.
Minggu, 26 Agustus 2018. 20.07 WIB.   

Baca Artikel Populer Lainnya

7 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Setuju banget, mba. Sekarang saya lebih mikirin bagaimana memperlakukan orang lain sebagaimana saya ingin diperlakukan.

    BalasHapus
  3. Body shamming berpotensi menghilangkan kepercayaan diri seseorang, I know that feeling.
    Sedih juga kalo di bilang baper saat kita marah karena tubuh kita dijadikan obek atau bahan becandaan, padahal kenyataannya candaan tersebut emang bener-bener bikin kita gak nyaman:")

    BalasHapus
  4. Setuju banget nih, byk org yg menilai seseorang dr fisiknya aja, padahal harusnya kalau kita merasa lebih beruntung dr mreka kita hrs banyak2 bersyukur ya, bukannya pd nyiyir.

    BalasHapus
  5. paling sebel emang kalau dapat orang nyiyir yah, apalagi ngarah ke body shamming gtu.. huuft.

    BalasHapus
  6. Body shaming gini nih yang kadang suka nyerempet ke nyinyir. Kalo lidahnya jago sekali, mungkin bentuknya udah implisit.

    Sedih memang. Mungkin terlalu sibuk mengurus hidup orang, sampai lupa dengan aib sendiri :(

    BalasHapus
  7. Aku juga mengalami body shaming mbak, bahkan dari aku SD, dibilang dekil item, pendek dll bahkan sampai aku SMA. Aku sampe mati matian mencari cara biar aku bisa seperti yang mereka inginkan. Untungnya sekarang Uda sadar hehehe and i love my self

    BalasHapus