Nafiri

07.00 Muthi Haura 0 Comments

Hai, Assalamua'laikum guys. Kali ini aku mosting hasil cerpen karya aku. Aku nulisin ini semester lima. Udah lumayan lama juga hehe. Boleh dikritik saran. Langsung saja, check this out:



Nafiri
           
            Aku sering kali melihatnya duduk terpaku diujung gang yang kebetulan berdekatan dengan kosku. Gadis kecil dengan baju kumal itu menatap nanar kearah jalan. Tak peduli siang, malam, hujan, panas, gadis hitam kurus itu masih terpaku diujung gang. Entah apa yang sedang ditunggunya. Sempat terpikir olehku dimana keberadaan orang tua si gadis. Tentu saja pikiranku itu tak kan pernah ada jawaban, karna sedikitpun aku tak menggelar tanya.
            

Sesekali aku mendekatinya, sekedar menyapa walaupun tak mendapatkan jawaban dari si gadis kecil itu atau kadang juga kuulurkan seplastik cemilan yang sengaja kubeli, tapi sama sekali tak berespon. Gadis itu hanya memandangku sekilas dengan nanar, lalu kemudian kembali menatap jalanan dengan sebuah benda ditangannya yang ia genggam dengan erat. Benda itu hampir mirip dengan terompet yang belakangan ini baru kuketahui bahwa benda itu adalah Nafiri. Salah satu alat musik tradisional yang berasal dari provinsi Riau. Konon katanya, nafiri digunakan sebagai alat komunikasi masyarakat melayu. Terutama untuk memberitahukan tentang adanya bencana dan berita kematian. Dan katanya lagi, pada zaman kerajaan, nafiri merupakan salah satu alat musik yang penting untuk digunakan pada acara penobatan raja.

 
           
Malam ini seperti biasa, aku menggedarkan pandangan keluar jendela. Menatap si gadis kecil yang duduk berjongkok menghadap kejalanan. Nafiri itu kini dimainkannya yang entah kenapa membuat bulu kudukku berdiri. Tatapan gadis itu kosong. Aku sama sekali tak bisa menerka apa yang tengah gadis kecil itu pikirkan dan aku sama sekali tak habis fikir dengannya.
           
Suara nafiri itu semakin melengking menusuk-nusuk telingaku dan semakin membuatku merinding. Anehnya, Anis teman sekamarku masih asik berkutat dengan tugas kuliahnya tanpa sedikitpun merasa risih dengan suara tiupan nafiri itu. Apa Cuma aku yang terganggu?

Aku kembali berfokus menatap si gadis kecil. Rasa kasihan itu lagi-lagi muncul, tapi aku bisa apa? Beberapa kali kutanya pada si gadis kecil itu apa yang sedang ia tunggu, tapi lagi-lagi tak ada jawaban. Gadis itu seperti biasa hanya menatapku kosong dengan nafiri digenggamnya erat-erat seakan takut nafirinya itu lenyap dari pandangan mata polosnya.
*@@@*
            Dua hari ini, aku tengah disibukkan dengan berbagai macam tugas kuliah yang benar-benar menyita sebagian besar waktuku. Sembari menyeduh segelas teh panas, aku memandang keluar jendela. Berharap pegal-pegal dibadan karna mengetik berlembar-lembar tugas makalah dapat hilang.

Mataku tertuju pada ujung gang. Berharap menemukan sosok si gadis kecil yang dua hari belakangan ini luput dari pengamatanku, tapi nihil. Sosok gadis kecil berbaju kumal dengan badan kurus itu sudah tidak ada lagi diujung gang. Disatu sisi aku berfikiran, mungkin saja gadis kecil itu sudah menemukan apa yang ia cari, tapi disisi lain, aku takut terjadi apa-apa dengan si gadis kecil. Diculik, misalnya.

Hatiku terasa resah. Ku letakkan gelas teh panas keatas meja dan aku langsung berlari keluar rumah kos. “Hey Nila! Mau kemana?” Teriakan tanya Anis sama sekali tak kuhiraukan. Didalam pikiranku Cuma satu, kemana si gadis kecil itu?

Aku berlari keujung gang. Mencari si gadis kecil itu seperti orang yang tengah kesurupan. Beberapa orang yang tengah berlalu lalang menatapku dengan pandangan aneh, namun sama sekali tak kuhiraukan.

Saat lelah mencari, aku akhirnya memutuskan untuk duduk sebentar diwarung yang jaraknya tak jauh dengan ujung gang. “Dari mana, mbak? Kok ngos-ngosan seperti itu?” Mpok Yem si pemilik warung bertanya ramah padaku sembari mengulum senyum.

“Mencari si gadis kecil yang sering menunggu di ujung gang itu mpok. Mpok melihatnya?” tanyaku antusias. Kening mpok Yem berkerut bingung. “Gadis kecil siapa mbak?”

“Itu lho mpok, yang sering duduk diujung gang. Ditangannya selalu memegang nafiri yang ia mainkan hampir ditiap malam.” Aku menjelaskan. Mpok Yem malah tertawa, menampakkan gigi-giginya yang tak rapi. Tawa yang tentu saja membuatku bingung.

“Oalah mbak! Nggak pernah ada gadis kecil diujung gang itu. Mpok selalu disini tiap hari mbak, tapi nggak pernah ngelihat gadis kecil, apalagi memegang nafiri. Kalau mbak nggak percaya, tanya aja sama bu Ipeh yang selalu nemenin mpok berjualan.” Jelas mpok Yem panjang lebar.

Deg! Entah kenapa penjelasan mpok Yem itu benar-benar menikam jantungku. Trus siapa gadis kecil yang aku lihat belakangan ini? Kepalaku terasa pusing dan aku memutuskan untuk kembali kekos. Saat tiba dikamar kos, aku menemukan sebuah nafiri yang sama persis dengan yang dimiliki oleh si gadis kecil diatas meja belajarku. ~

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: