[Review Buku]: Maryam

07.00 Muthi Haura 1 Comments


Jika kamu ingin melihat dunia, maka membacalah. Dan jika ingin dunia mengenalmu, maka menulislah. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Itu salah satu kenapa aku sangat menyukai membaca. Selain itu, sejak kecil, aku dan adik-adik juga dibentuk dengan bacaan. Almarhumah umikupun merupakan seorang guru Bahasa Indonesia.



Tapi ada masa dimana aku sama sekali tak menyentuh buku. Ya, sok sibuk istilahnya sampai melupakan hobby membaca ini. Kalau boleh jujur, sejak kecil kalau ditanya apa hobbyku, dengan sangat pedenya, aku akan menjawab, membaca. Beberapa bulan terakhir ini, aku kembali merutinkan diri untuk membaca.

Aku rasa, otakku perlu dikasih makan. Otakku perlu dinutrisi agar tetap ‘waras’. Kenapa nggak baca lewat internet saja, Mut? Kan banyak banget sekarang ebook-ebook keren berterebaran. Iya memang, tapi ada ‘rasa’ yang berbeda antara membaca buku cetak dengan virtual. Ada rasa yang sulit dilukiskan saat membaca buku cetakan.

Entah hanya aku yang merasakan hal seperti itu, atau apa kamu juga ngerasainnya? Nah, beberapa minggu yang lalu, aku menyelesaikan novel Maryam dengan penulis Okky Madasari. Buku ini aku pinjam dari salah seorang adik di Gagasan, Bagus namanya. Aku selalu suka karya-karya Okky.



Menurutku karya-karyanya open minded dan menceritakan beberapa bagian sejarah Indonesia. Memang buku-bukunya Okky rata-rata agak memojokkan kaum lelaki, misal kaya di buku Pasung Jiwa, tapi banyak juga yang bisa dipelajari dari karya wanita kelahiran Magetan 30 Oktober 1984 ini.
 

buku maryam
  

Baiklah, aku akan review dar cover. Covernya didominasi warna hijau tosca dengan gambar cewek. Menurutku covernya simple dan bagi aku kurang menarik. Gambar cewek di cover itu kurang aku suka. Mungkin kalau aku ke took buku dan ngelihat cover ini tanpa tau siapa penulisnya, jujur, aku nggak akan berniat beli haha.

Novel ini terdiri dari 275 halaman yang menceritakan tentang kisah hidup seorang Maryam yang dilahirkan di dalam keluarga Ahmadiyah. Keluarga Maryam sangat taat. Maryam tumbuh sebagai gadis cantik nan independent, juga taat pastinya dengan keyakinan yang keluarganya anut. Sampai akhirnya ‘jalan’ hidup membawa Maryam jatuh cinta dengan seseorang yang bukan Ahmadi.

Banyak rintangan yang dialami Maryam untuk menyatukan cintanya pada laki-laki bernama Alam yang bukan Ahmadi. Pertentangan dengan kedua orang tuanyapun dialami oleh Maryam.

Ah, aku nggak mau spoiler banyak. Takutnya kalau aku ceritakan dengan runut, kalian nggak akan penasaran lagi dengan buku ini haha. Alur yang dipakai dinovel ini adalah alur maju mundur dengan lumayan banyak tokoh, tapi tenang saja, kita nggak dibikin bingung kok. Dalam penceritaan dinovel ini, menurut aku bahasanya terlalu belibet, tapi tetap bisa dimengerti kok.

Ada beberapa hal yang aku dapatkan atau pelajari dari buku ini, pertama, jangan pernah menghakimi orang lain apapun yang mereka anut. Apapun yang mereka ‘yakini’, selagi mereka tidak mengganggu kita, why not kan? Bukankah Indonesia negara demokrasi? Yang membebaskan setiap individunya untuk menyatakan pendapat dan bebas beragama pastinya.

Bukankah rasulullah juga pernah berkata bahwa haram hukumnya membunuh darah non muslim selagi ia tidak mengganggu. Perkataan Rasullullah ini pasti sumbernya dari Allah jugakan? Ah, aku bukan orang yang terlalu mengerti agama, tapi aku akan selalu belajar untuk terus memperbaiki diri. Jadi kalau ada salah dalam penyampain aku ini, mohon dikoreksi.

Darah non muslim aja haram dibunuh, apalagi sesama muslim walau ada beberapa keyakinan yang berbeda. Pelajaran kedua dari buku ini, aku jadi tau tentang seluk beluk Ahmadiyah. Tentang apa yang Ahmadiyah alami di kotanya sendiri, terusir dari rumahnya sendiri dan tidak mendapatkan keadilan. Sayang sekali!

Ketiga, jangan pernah melawan pada orang tua. Ini point penting menurutku. Sukses tidaknya seseorang, baik itu dalam hubungan percintaan atau karier atau lain sebagainya, tergantung restu dan doa kedua orang tua. Kalau kamu berbeda pendapat dengan kedua orang tuamu, coba diskusikan. Coba duduk bareng dan saling sharing dengan pikiran terbuka.

Pasti deh bakal dapat titik temu, tapi jika kedua orang tuamu tidak juga merestui, ikuti kata orang tua, mungkin saja, apa yang mereka pilihkan selagi itu dijalan Allah, pasti itu yang terbaik. Tidak ada orang tua yang ‘menjerumuskan’ anaknya pada suatu hal yang tidak baik. Apalagi bagi kalian yang masih memiliki orang tua, hormatilah. Karna nggak punya kedua orang tua itu nggak enak coy ;(

Yang keempat, jika kamu punya sesuatu dan sesuatu itu diambil secara paksa oleh orang lain, perjuangkanlah. Jangan nerima-nerima atau pasrah gitu aja. Perjuangkan jika itu memang hak kamu. Tidak ada yang salah. Justu yang salah itu, kamu tidak mau memperjuangkan untuk sesuatu yang memang punya dan hak kamu.

Dan yang terakhir a.k.a yang kelima dari buku ini adalah bahwa setiap orang itu punya jalan hidupnya sendiri. Terlepas dari apapun keyakinan kamu, jadilah penganut yang taat. Jadilah Islam yang taat. Berikanlah yang terbaik untuk hidupmu, hidup keluargamu, dan lingkunganmu. Dimanapun kamu berada, mau itu satu lingkungan dengan ‘orang-orang’ yang memiliki paham sepertimu atau tidak, tetaplah berlaku baik. Hormati tetangga.

Oke deh, mungkin segini dulu review dari aku. Oya, buku ini cocok menurut aku dibaca oleh remaja keatas. Kalau remaja kebawah, kayanya perlu bimbingan orang tua saat membacanya. Oke mungkin segini dulu. Salam sayang, @muthihaura1.
Sabtu, 15 September 2018. 10.06 WIB.


Baca Artikel Populer Lainnya

1 komentar:

  1. Membaca cara mereview buku mbak maura saya jadi sadar akan satu hal.. selama ini saya ngawur kalo ngereview.. hahhaa.. makasih ilmunya mbak..

    BalasHapus