Sosial Media dan Segala Gemerlapnya

07.00 Muthi Haura 5 Comments


Belakangan terakhir ini, aku terkena sindrom galau alias baper kalau lagi mainin sosial media, entah itu instagram, twitter, bahkan whatsapp. Terutama bagi aku mungkin instagram. Kayanya bukan aku aja, beberapa kali sharing dengan teman, mereka juga ngerasain hal yang serupa.

Yah, sosial media penuh gemerlap. Seakan-akan semua hal yang ditampilkan di sosial media adalah kesempurnaan. Seakan-akan hidup semua orang itu penuh kebahagiaan dan hidup kita sendiri yang nggak. Kamu ngerasa gitu nggak sih? Di sosial media kayanya semua orang nampilin hal-hal terindah dalam hidupnya.

sosial media
source: google

Entah itu makan di restoran mewah. Travelling kemana-mana. Mamerin body yang aduhai. Nampilin produk-produk skincare yang super mahal. Mamerin entah itu mobil baru hape baru. Mamerin segudang piala dan prestasi. Ngelihatin kemesraan dengan pasangan. Ngeposting poto makanan yang bagus banget hasil masak sendiri.


Ngelihatin buku-buku yang dibaca. Pokoknya semua serba sempurna deh. Sangat jarang ditemui, isi feed seseorang yang nampilin ‘sisi’ jelek dari dirinya. Ya, sangat amat jarang! Bahkan untuk satu poto aja butuh take berkali-kali sampai mendapatkan hasil yang diharapkan.

Baca juga: Review buku


Seperti yang aku bilang diawal, aku ngerasa jengah dengan semua kesempurnaan yang ditampilkan di sosial media. Baper? Off course! Aku jadi berfikir naïf. Aku terkadang jadi membanding-bandingkan hidup aku dengan hidup orang lain. “Ya ampun, kok dia cantik ya”, “Pasangannya romantic banget”, “Ih prestasinya banyak, lah aku?”, “Bodynya bagus, panteslah, ngegym sih, udah gitu skincarenya mahal-mahal coy.”

“Dia keren banget merangkai kata”, “Buku yang dia baca wow banget”, “Banyak banget uangnya bisa gonta ganti hape”, “Ternyata si doi yang aku sayang lagi dekat sama cewek ini ya ternyata, wajar sih, cantik”, dan kebaperan lainnya.

Yap, aku ngalamin dan ngerasainnya. Bohong kalau aku bilang aku nggak baper, apalagi pas ngestalkerin orang yang aku sayang. Atau ngestalkerin sahabat-sahabat saat SD, SMP, SMA, kuliah. Kayanya hidup mereka kok gampang banget gitu. Kaya nggak ada beban. Seolah-olah hidup ini menyuguhkan banyak kebaikan untuk mereka.

Sedangkan aku masih disini. Stuck ditempat. Ngerasa hidup kok gini-gini amat. Ngerasa apa yang aku usahakan itu sia-sia. Ngerasa impian yang aku perjuangkan itu semakin menjauh. Yang salah siapa? Lantas aku begini, siapa yang harus disalahkan? Sosial media itukah? Atau oknum-oknum alias manusia-manusia didalamnya?

Nggak! Sosial media nggak salah. Individu-individu yang main sosial media itu nggak salah. Aku yang salah! Terlalu naïf kalau aku menyalahkan sosial media dan individu-individu yang memainkannya. Kalau bisa dibilang, aku bekerja di sosial media. Aku ‘hidup’ alias dapat uang dari sosial media. Secara nggak langsung, kami yang bekerja di sosial media ini dituntut untuk ‘membranding’ diri sesuai apa passion yang kami sukai.

food blogger
source: google

Maksud gampangnya gini, jika aku suka masak, maka aku harus sering memposting  semua hal terkait masak memasak. Entah itu prosesnya sampai hidangan masakan tersebut. Tentu dituntut juga untuk menampilkan poto terbaik yang pernah dibuat. Kalau aku ingin jadi travel blogger, maka secara nggak langsung, aku harus membranding diri untuk memposting semua hal terkait travelling yang pernah aku lakukan.



Kalau aku ingin jadi food blogger, aku dituntut untuk sering memposting makanan yang aku makan, entah itu dari caffe atau tempat-tempat lainnya. Kalau aku ingin dikenal sebagai blogger tekno, maka aku harus sering memposting terkait hape. Tak jarang juga, blogger tekno sering mendapatkan hape baru gratis untuk direview.

Begitu juga halnya dengan beauty blogger. Intinya tidak ada yang salah dari apa yang orang lain posting di akun sosial media mereka, terlepas dari apapun niatnya. Entah itu hanya untuk sekedar pamer atau untuk kerjaan, nggak salah. Ya, yang salah itu aku. Hatiku. Aku yang mungkin terlalu dengki.

Aku yang mungkin terlalu ngerasa rendah diri hingga tak bisa ikut ngerasain kebahagiaan yang orang lain posting. Aku yang mungkin belum bisa mengontrol emosi diri. Teramat susah bagi orang yang moodyan seperti aku.

Akhirnya, aku memutuskan untuk saat ini dan beberapa waktu kedepan, aku akan membatasi diri bermain sosial media diluar kerjaan. Aku ingin mulai menjadwalkan, kapan aku harus main sosial media, kapan waktunya untuk ngerjain kerjaan lain. Pokoknya, selama to do list perhari aku belum terlaksa untuk hari itu, aku belum bisa menyentuh sosial media, sekali lagi kecuali untuk kerjaan.

Kayanya keputusan ini lebih sehat untuk aku saat ini. Karna terlalu membanding-bandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain itu sejujurnya bagi aku menghambat impian. Menghambat gerak. Menghambat proses yang akan dijalani dan membuat diri membanding-bandingkan proses.

Baca juga: Aku diusia 20-an


Mut, harusnya kamu sadar, apa yang ditampilkan di sosial media itu tak selalu benar. Terkadang fake. Bukankah kadang kamu juga begitu? Menampilkan hal-hal bahagia, padahal sebenarnya kamu nggak lagi bahagia. Bisa saja, dibalik poto ‘wah’ yang ditampilkan orang lain itu penuh rintangannya. Entah itu harus nabung sampai nggak makan dulu untuk bisa travelling kemana-mana.

Entah itu kerja keras dulu semingguan full hingga bisa menghadiahi diri sendiri makan di caffe mewah. Iyakan, Mut? Lantas apa yang kamu baperkan? Ingat, kamu hanya tau nama orang itu, tapi tidak dengan kisah hidupnya. Kamu juga bisa seperti itu kok. Ayo focus ngejar semua impian kamu. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.

Oke baiklah. Aku akan tetap membatasi diri untuk bermain sosial media dan belajar menata hati. Ayo tetap semangat. Apapun yang kamu pilih, mari berdamai dengan sosial media dan penggunanya. Hindari menjudge orang lain terhadap apa yang dia posting selagi tidak mengganggu kenyamanan khalayak umum dan kenyamanan beragama. Mungkin segini dulu. Salam sayang, @muthihaura1.
Senin, 10 September 2018. 21.12 WIB.   

Baca Artikel Populer Lainnya

5 komentar:

  1. Dulu saya juga begitu mbak.. ngeliat sosmed kie banyak palsunya, tapi sebagian gak juga.. maka dari itu sebagian sing tak follow kebanyakan yang menginspirasiku terutama dalam ham gambar atau produktifitas. Tujuan saya bersosial mediapun juga berubah. Saya ingin akun saya itu lebih bermanfaat atau berguna dengan info-infonya, bukan untuk "saya juga bisa" atau "nie saya duluan" bukan yang pikiran begitu.

    BalasHapus
  2. Saya udah lewat banget masa2 gini.
    Sekarang udah lebih calm aja.
    Cuek aja hehehe..

    Gak pernah baper lagi saat ada yang posting foto cantik, karena tau banyak aplikasi edit foto hahaha.

    BalasHapus
  3. umum ternyata ngerasain kayak gini, orang emang dasarnya lebih nyaman menunjukkan kesenangannya dibanding keburukannya

    BalasHapus
  4. Sabar ya Muth. Terkadang aku juga ngerasa hal yang sama. Jadinya buatku, nggak semua hal bisa aku bagi di akun socmed-ku. Akan selalu ada hal yang kusimpan sendiri dan aku syukuri, bahwa hidupku di dunia nyata lebih indah dari di dunia maya.

    BalasHapus
  5. Terkadang apa yang kita lihat belum tentu seratus persen sama di media sosial. Media sosial hanyalah percikan gambaran semata di sekeliling kita. Lebih baik bagaimana memantaskan diri dengan mengambil manfaat positif dari media sosial untuk diri kita lebih baik ke depannya.

    BalasHapus