Etika Menerima Job untuk Blogger

13.10 Muthi Haura 4 Comments


Setiap orang dalam hidup pasti memiliki jalan hidup masing-masing. Tidak ada seorangpun yang memiliki jalan hidup yang sama, kembar sekalipun. Lantas apa yang membuat kita iri dengan hidup orang lain? Apa yang membuat kita selalu membanding-bandingkan hidup dengan hidup orang lain?

Ya, rumput tetangga memang selalu lebih indah. Sesuatu milik orang lain memang terlihat lebih ‘wah’ ketimbang milik kita pribadi. Sudahlah, membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain itu tak aka nada habisnya. Mending berfokus untuk mewujudkan semua hal yang diri sendiri impikan.

Iya nggak? Ah, kalimat-kalimat itu sejatinya untuk mengingatkan diri aku sendiri. Ya, aku yang sering galaunya membanding-bandingkan hidup. Aku yang jarang bersyukur. Sadarlah Mut, hidup yang kamu keluhkan ini adalah hidup yang orang lain impikan.



Apa kamu lupa Mut kalau banyak sekali orang yang bilang ke kamu, ‘enak ya nulis doang dapat uang’, ‘enak ya dapet barang gratis terus’, dan pernyataan-pernyataan lainnya. Apa kamu lupa, Mut? Ah iya, harusnya aku bersyukur. Btw, ngomongin soal blog, aku jadi terpikir untuk menuliskan etika menerima job untuk blogger.

Baca juga: Job-job Blogger

blog

 


Entah kenapa, aku pernah sharing dengan salah satu adik di Gagasan terkait job blogger. Waktu itu dia nanya apa aku menerima semua job gitu aja? Apa aku tidak memfilter job-job apa saja yang aku terima? Lalu kemudian dia bilang gini: “aku kalau cari review barang atau kosmetik, jarang dari blogger/vlogger/influencer, soalnya mana tau itu barang di endorse dan dalam reviewnya nggak jujur.”


Aku terangin ke dia kalau nggak semua blogger/vlogger/influncer itu kaya gitu. Masih banyak kok yang bikin review jujur. Trus juga sekitar dua minggu yang lalu, aku ngelihat instagram salah satu influencer, di instagram itu, si influencer ini di endorse paketan skincare oleh salah satu brand. Caption di ig influncer itu begini: “Mau tau rahasia kulit glowingku? Aku pakai satu set skincare dari bla bla bla”.



Dipostingan berikutnya, kira-kira di post jelang sehari dari postingan sebelumnya, si influncer tersebut ngendorse produk skincare lagi dengan kalimat yang sama, tapi beda brand. Kalau aku nilai sendiri, kelihatan banget mah itu produk nggak dicobain. Biasanya sebuah produk bakal kelihatan hasilnya kurang lebih dua mingguan.

Jadi keingat juga kata-kata adik di organisasi itu. Kalau kaya gini mah, wajar blogger/vlogger/influencer kurang dipercaya. Sekali lagi aku bilang, nggak semua yang kaya gitu ya. Masih sangat banyak yang jujur dan semoga aku salah satunya.  

Dari apa yang aku amati itu, aku jadi berpikir tentang etika menerima job review. Aku akui, kadang kalau lagi minim job, aku sembarang ambil aja, tapi aku berusaha nggak kaya gini lagi. Demi lebih baik kedepannya. Nah, kali ini aku pengen sharing etika menerima job untuk blogger yang sudah aku rumuskan dan sedang berusaha aku taati. Langsung saja, check this out:

Pertama, terima job sesuai niche blog kamu. Ini tentu saja bertujuan untuk membuat pembaca blog nggak bingung. Misal nih niche blog kamu itu tentang makananan, trus tiba-tiba kamu ngecontent placement terkait buku. Kurang masuk menurut aku. Kalau aku pribadi, niche blog aku gado-gado alias biasa dikenal dengan lifestyle blogger.

Nah, aku bakal terima job itu kalau emang ada di label  aku atau sesuatu yang emang pas di aku. Kedua, jangan takut nolak job. Iya nggak usah takut kalau memang nggak sesuai dengan niche blog kamu. Rezeki itu udah diatur Allah, percaya aja. Aku pernah nolak job content placement yang sangat jauh dari ‘ketentuan’ blog aku.
 


Bukan bermaksud sombong banget nolak job, Cuma kalau emang nggak sesuai, ya jangan diterima. Eh pas aku ngirim email balasan penolakan gitu, dari pihak agensinya nyariin artikel content placement yang sesuai dengan blog aku. Alhamdulillah, rezeki emang nggak kemana.

Yang ketiga, balaslah email dari pihak agensi dengan bahasa yang sopan. Blogger dan agensi sama-sama saling membutuhkan. Agensi butuh blogger untuk mempromosikan, blogger butuh agensi sebagai pemberi job. Jangan balas dengan jutek, bisa-bisa entar untuk project campaign berikutnya, kamu nggak bakal diajak.

ngejob


Ngebalas email dengan sopan, nggak hanya dari pihak agensi merupakan salah satu nilai plus bagi kamu. Nggak percaya? Coba deh buktikan. Keempat, kerjakaan job sesuai brief yang diberikan. Ini nih PR aku banget, soalnya kadang ada aja brief yang nggak kebaca dengan baik. Kadang ada juga job yang kelewat deadline.

Sebenarnya ini sangat nggak bagus. Ini menurunkan kredibilitas dimata para agensi. Sst, diam-diam para agensi-agensi itu punya catatan khusus loh tentang para blogger yang mungkin di blacklist. Daripada nama kita termasuk salah satunya, mending optimalkan kerjaan sesuai brief yang diberikan.

Dan yang kelima a.k.a yang terakhir, jika fee job kamu belum diberikan dan sejak awal perjanjian sudah dikatakan pihak agensinya bahwa fee dibayar sebulan setelah campaign berakhir, kamu jangan mendesak untuk dibayar cepat. Sabar. Sama-sama saling percaya aja. Sejauh ini sih, Alhamdulillah fee aku selalu dibayar, walau kadang ada yang telat.

Nah, kalau telat, ingatin dengan bahasa yang sopan. Maklumlah, namanya juga pembayaran itu nggak selalu tepat waktu. Kadang mungkin dari atas sononya ada kendala. Lagian yang diurusi agensi nggak Cuma fee kamu, jadi sabar aja jika belum terlalu keterlaluan.

Oke deh mungkin segini dulu etika menerima job untuk blogger ala aku. Bisa dikoreksi jika ada salah. Karna yang menulispun tak lebih baik daripada yang membaca. Salam, @muthihaura_blog.
Sabtu, 29 September 2018. 14.02 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

4 komentar:

  1. Betul sekali mba, saya pernah nolak job dr hal yang berbau riba. Kemudian influencer itu biasanya Selebrgam dengan follwers yg edun dimana, 1 pose cuma beda masker doang, aku aja klo udah di endorse masker yg sama akuntolak meski mahal, de

    BalasHapus
  2. Bener sih kak. Kalau pernah baca-baca masalah beginian di blog teman yang lain, biasanya yang jadi masalah tuh tentang fee untuk content placement. Kan banyak tuh yang nawarin 50k aja, beberapa sih bilang kalau itu bisa merusak harga. Tapi ada juga yang berpendapat, ya kan terserah mau ngambil atau engga. Gitu sih hehehe.

    BalasHapus
  3. wah share yg menarik mba.., saya masih awam, dan sempet ragu dan mikir pas ada job artikel tapi ga sesuai niche, bahas otomatif bukan bidang saya juga, jd saya tolak.Saya percaya rezekĊŸ ga kmn, sprt yg mba tulis. salam knl

    BalasHapus